
"Namanya Corla ketua. Jhon Muel sudah melarikan diri. Kemungkinan ke Lingkar Awan. Orang ini akan menjadi petunjuk jalan kita."
"Ternyata dugaanku benar. Ini rencana licik pangeran Hurex. Shadow... menurutmu apa perlu kita membawa orang ini?"
"Mungkin dia memang bisa menjadi petunjuk jalan. Tapi gerakan kita akan lebih lambat, karena ia tidak akan bisa mengimbangi kecepatan kita. Sebaiknya tidak perlu dibawa ketua"
"Ketua...ketua..." tiba tiba Marco datang.
"Ada apa?"
"Jhon Muel sudah melarikan diri. Aku sudah membongkar rumah tempat tinggalnya. Aku menemukan ini" katanya memberikan sebuah kertas tulis yang berisi jalan ke Lingkar Awan.
"Coba kulihat. Dimana kamu menemukan nya?"
"Disalah satu ruangan dirumah paling ujung"
"Corla, apa jalannya seama dengan jalan yang ingin kau tunjukkan?" tanya Louisa sambil memberikan kertas tulis itu.
Wajah Corla berubah ubah. Sesekali ia menggeleng kan kepalanya.
"Tidak nona. Bukan jalan yang ini. Jalan ini memang jalan umum, tapi memerlukan waktu sampai dua hari untuk sampai di perbatasan aLingkar Awan"
"Dugaan ku benar. Ia sengaja meninggalkan petunjuk palsu untuk mengulur waktu. Ada berapa orang jumlah mereka?"
"Sepuluh orang nona."
"Rumah ke delapan, penghuninya hanya lima orang. Kemana yang lainnya?"
"Masih di kota Malwa nona"
"Berarti petunjuk orang itu benar. Ada lima orang yang tidak kembali. Satu orang sudah kita tahan. Berarti ada empat lagi." kata Shine
"Shine, atur dahulu yang ada disini. Serahkan kepada Kapten Gluen untuk bertanggung jawab. Jika hanya sepuluh orang, kita ber enam sudah cukup melakukan pengejaran"
"Baik ketua." kata Shine kemudian menjumpai kapten Gluen.
"Shadow, Light apa tidak ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk petunjuk jalan ini?"
"Aku pernah mencobanya ketua. Tapi waktu itu kurang berhasil. Biar kucoba lagi" kata Shadow.
"Aku akan mencoba membantu" kata Light.
"Corla, apa kamu yakin ingat jalan yang ditempuh mereka?"
"Ingat nona"
"Karena kecepatan kurang, kami tidak bisa membawamu. Tapi kamu masih bisa membantu dengan membayangkan jalan yang akan digunakan mereka. Kau mau?" tanya Louisa
"Tentu nona"
"Cobalah duduk tegak."
Corla duduk dengan posisi tegak. Shadow duduk dihadapan nya, sementara Light duduk dibelakang Corla.
__ADS_1
"Sekarang pejamkan matamu, bayangkan jalan yang akan kita tempuh" kata Shadow.
Corla memejamkan mata nya. Shadow menyentuh dahi Corla dengan jari telunjuk nya ikut memejamkan mata.
Seketika apa yang dilihat Corla terlihat juga oleh Shadow. Tapi beberapa kali bayangan nya tampak bercampur dengan ingatan lain.
"Konsentrasi" kata Light yang ada dibelakang Corla. Ia meletakkan telapak tangan nya pada punggung Corla, membuat pria itu kembali berkonsentrasi untuk menemukan jalan.
Sepuluh menit kemudian mereka selesai.
"Bagaimana?" tanya Louisa.
"Berhasil ketua. Sekarang kita hanya berharap jika itu memang jalur pelarian mereka"
"Istirahat setengah jam. Setelah itu kita berangkat"
"Baik ketua"
"Corla, kenapa kamu mau membantu kami? Apakah karena ancaman Deep?"
"Deep?"
"Orang yang telah melukaimu"
"Iya dan tidak nona. Iya karena aku memang ngeri melihat serangan tuan itu. Tidak karena terus terang aku kecewa pada mereka yang menjadikan kami sebagai tumbal untuk pelarian mereka"
"Kamu berasal dari mana. Setahuku Bear Arrow berasal dari kerajaan Kite"
"Kerajaan Mordan? Mengapa bisa bergabung dengan Bear Arrow?"
"Kenakalan anak muda nona. Dan kecewa pada keluarga, lari dari rumah, berpetualang sendiri. Tidak sengaja dengan pimpinan lama Bear Arrow"
"Maksud mu Loan Key?"
"Anda mengenalnya juga?"
"Tahu sedikit, tapi tidak pernah bertemu langsung. Tapi sering mendengar sepak terjangnya yang membuat pihak kerajaan Kite kalang kabut"
"Tapi dia tidak akan pernah meninggalkan anak buahnya" kata Corla mengingat pimpinan nya yang sekarang dengan geram.
"Jika hukumanmu diringankan, apa yang ingin kamu lakukan? Kamu masih sangat muda"
"Pulang ke rumah nona. Meminta maaf kepada ibuku. Dan meneruskan usaha keluarga"
"Bagus. Aku akan meminta keringanan untuk hukuman mu. Tapi kamu harus berjanji melakukan apa yang kamu katakan tadi"
"Tapi bagaimana raja Tejza akan mengabulkan nya. Aku salah satu pemanah puteri Revaline. Mungkin aku akan dihukum mati"
"Aku akan berusaha membujuk Yang Mulia. Kami akan berangkat. Floe, tolong bawa orang ini. Namanya Corla, pisahkan dia dari yang lain. Aku masih ada keperluan padanya"
"Baik tuan puteri"
Louisa berlalu dari tempat itu menjumpai Shine.
__ADS_1
"Sudah selesai?"
"Sudah ketua."
"Kita berangkat."
Segera mereka berlari meninggalkan tempat itu. Dengan petunjuk yang diberikan Corla sebelumnya, mereka menemukan jejak jalan yang dilalui Jhon Muel dan anggotanya.
*****
Di suatu tempat masih di dalam hutan kabut.
"Kita sudah berlari secepat kita bisa. Dan ini sudah empat jam, belum bisakah kita beristirahat sejenak?" tanya seorang wanita kepada pimpinan Bear Arrow.
"Bagaimana tuan Jhon Muel?"
"Apa yang dikatakan nona Lidya ada benarnya. Aku juga sudah sangat lelah, kita istirahat setengah jam sambil mengisi perut "
Rombongan yang terdiri dari sepuluh orang itu duduk dibawah sebatang pohon besar. Masing-masing kemudian mengeluarkan makanan nya dan menyantap nya dengan lahap.
"Zaine, menurut mu apakah mereka bisa mengejar kita?"
"Aku juga kurang tahu tian Jhon Muel. Kita tidak tahu kekuatan lawan. Tuan Jhon Muel bilang jika keprajuritan Fatma sangat lemah. Tapi buktinya, mereka dengan mudah menemukan markas kita"
"Aku yakin jika yang mengejar kita bukan prajurit Fatma, tapi prajurit kerajaan Lembah Angin. Kau ingat, jika tunangan puteri Revaline adalah putera Mahkota kerajaan Lembah Angin. Dan saat penyerangan yang kita lakukan, mungkin saja kita justru membunuh pangeran itu, makanya mereka ikut memburu kita"
"Puteri Revaline sendiri, apakah menurutmu dia mati?"
"Kalau pun tidak mati, pasti luka parah. Kupastikan dua anak panahku menembus tubuhnya. Belum lagi dari anggota kita yang lain"
"Cukup istirahat nya, kita melanjutkan perjalanan"
Setelah membereskan peralatan makan mereka sebelumnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka kembali bergerak secepat mungkin.
"Dimarkas, apa ada yang tahu jalan ini?"
"Hanya satu orang, Corla"
"Mengapa kau tidak mengajak dia ikut pergi. Bagaimana jika ia membuka mulutnya?"
"Dia sangat lambat, kemarin saja jika bukan karena tim pengalihan ia hampir tertangkap. Bagaimana mungkin ia kita bawa? Jika ia membuka mulut sekalipun, kalau Corla mereka bawa, gerakan mereka akan lebih lambat membuat peluang kita lebih besar"
"Kau benar juga"
"Lagipula di ruangan ku aku meninggalkan petunjuk palsu. "
"Petunjuk palsu apa?"
"He ..he... sebuah rute rencana pelarian yang lain. Walaupun kota tujuan sama, tapi dengan jalan berbeda. Jadi terserah mereka mau memakan umpan yang mana"
"Kau ternyata sangat cerdas Zaine."
"Jika aku tidak menyiapkan lebih dari satu siasat, bagaimana mungkin aku membawa anggotaku keluar dari ketajaan Kite. He ...he..."
__ADS_1