
Butuh waktu dua jam untuk melukis dutch Norwey dengan Lucio. Lucio sudah terlihat sedikit lelah karena harus berada posisi yang sama selama itu.
"Selesai Tuan Norwey. Silahkan dilihat" kata pelukis itu.
Dutch Norwey tersenyum puas. Louisa dan Nyonya Tie juga ikut melihat tersenyum.
"Aku ada permintaan sedikit Tuan Derby" kata dutch Norwey
"Apa itu Tuan?"
"Aku tahu anda bisa merapal mantra. Lukisan ini hendak ku kirim untuk seseorang ditempat yang jauh. Karena aku hendak mengirimnya lewat burung pengantar pesan ,bisakah anda membuat ukurannya
menjadi kecil agar bisa dibawa burung itu?"
"Maksudnya agar aku memberinya mantera?"
"Jika anda berkenan..."
"Baiklah. Itu tidak masalah. Berapa ukuran yang anda inginkan?"
"Sekitar lima centimeter"
"Apa ada kata kata yang hendak anda sampaikan kepada penerima?"
"Oh.. Ada. " kata dutch Norwey cepat sambil bibirnya tersenyum kemudian berkata "Orang tua bau, aku menang. Kau pemiliknya, tapi aku yang memilikinya. Biarkan saja yang sepi tetap dalam kesepian, dan yang bahagia tetap dalam kebahagiaan. Tak usah kau kembali lagi"
"Itu saja?"
"Benar"
Pelukis Derby mulai merapal mantra, di ikuti gerakan tangan yang rumit, Louisa berusaha mendengar tapi tetap tidak mengerti apa yang dirapal pelukis itu. Seberkas cahaya melingkupi lukisan itu, secara ajaib lukisan itu berubah menjadi ukuran yang sangat kecil. Hanya sekitar lima centimeter. Tapi tidak meninggalkan keindahan lukisan itu sendiri, tapi seolah seperti sebuah photo yang dicetak dari kamera biasa.
Ia kemudian menggulungnya, kemudian memberikan kepada Dutch Norwey. Dutch Norwey kemudian memasukkan kesebuah tabung kecil.
"Sebentar Tuan." kata Tuan Derby. Ia kemudian merapal kembali dan seperti sebelumnya, sekilas cahaya melingkupi tabung itu.
"Selesai. Nanti begitu penerima membuka tabung, lukisan akan kembali ke ukuran normalnya" katanya lagi.
"Terima kasih Tuan Derby. Mari kita menikmati secangkir teh dahulu, sebelum pelayanku mengantar anda kembali"
Dutch Norwey mengajak Tuan Derby meminum teh, di gajebo yang ada di halaman belakang. Sementara Nyonya Tie, membawa Louisa dan Lucio kembali ke dalam rumah.
Setelah makan makan siang bersama, Dutch Norwey membawa Louisa dan Lucio ke istana Gordon menggunakan kereta kuda keluarga Norwey. Sementara kereta kuda Louisa sudah dikirim pulang terlebih dahulu.
"Ingat ya Lucio, nanti di istana yang menemani kamu berkeliling adalah pelayan yang membantu pamanmu. Ibumu, walaupun memakai cadar, tetep tidak bisa bebas keliling istana. Mungkin satu dua orang akan tetap mengenalnya walaupun penampilan dan sikap ibu sudah banyak berubah"
"Iya leluhur"
"Ingat, kita di istana Gordon. Kalau Cio masih mau kembali ke Hinom, jangan buat keributan. Tujuan datang ke istana, hanya untuk melihat lihat." timpal Louisa
__ADS_1
"Aku mengerti mama"
Kereta kuda kemudian perlahan mendekati kompleks istana. Seorang pengawal turun dari kuda dan melapor kepada prajurit yang berjaga. Tidak lama mereka di izinkan memasuki kompleks istana.
Kereta kuda melanjutkan perjalanannya, dan tidak lama kemudian berhenti di depan gedung dengan tulisan departemen keuangan.
"Ayo turun." kata Dutch Norwey
Dutch Norwey turun terlebih dahulu, disusul Lucio dan terakhir Louisa.
"Leluhur, luas sekali. Betulan Raja tinggal disini ?" tanya Lucio polos.
"Tentu. Tapi bukan di gedung yang ada di depan kita melainkan gedung yang disana. Lihat disana yang tampak ada menaranya?"
"Iya... Apa Raja tinggal di menara itu?"
"Ha...ha... Satu kompleks dengan menara itu. Yang berhak tinggal di menara itu hanya mantan raja" jelas dutch Norwey.
Banyak hal dijelaskan dutch Norwey tentang istana. Louisa hanya diam dan ikut menyimak pembicaraan keduanya. Karena beberapa hal, bahkan Louisa tidak mengetahui sejarah pembangunan istana Gordon sementara dutch Norwey dapat menjelaskannya kepada Lucio.
"Ayo kita masuk dahulu, menjumpai kakek mu Hubert dan pamanmu Merad"
"Iya leluhur."
Segera ketiganya memasuki gedung departemen keuangan. Hurbert merupakan putera dari dutch Norwey, sedangkan Merad merupakan putera dari Hurbert. Departemen keuangan adalah salah satu departemen yang paling penting, sehingga orang orang yang bekerja disana merupakan dutch yang masih memiliki hubungan kekerabatan dan loyalitas yang tinggi terhadap istana.
Seorang prajurit menyambut kedatangan mereka di lobi gedung.
"Benar. Apakah dia ada?"
"Ada Dutch. Silahkan"
"Terima kasih. Ayo..." katanya sambil mengajak Louisa dan Lucio.
Tok..
tok...
Dutch Norwey mengetuk sebuah pintu yang setengah terbuka.
"Masuk.. Ayah.." jawab seorang pria sekitar empat puluhan sedikit terkejut melihat kedatangan mereka.
Didalam ruangan terlihat empat orang sedang duduk di depan meja masing masing.
"Kakek... " sambut seorang pemuda awal dua puluhan memeluk dutch Norwey.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil" kata Hubert melihat puteranya bersikap manja pada Dutch Norwey.
"Kau juga bisa memelukku jika kau mau" balas dutch Norwey membuat Lucio dan Louisa tersenyum.
__ADS_1
"Siapa ini?" tanya Hubert yang baru sadar ayahnya tidak datang sendiri.
"Sepupu jauhmu. Ini puteranya Lucio, ia belum pernah datang ke istana Gordon. Jadi bisakah Rey atau Kim membawanya berkeliling sambil memperkenalkan istana?"
"Bisa saja ayah. Tapi ayah tahu peraturan istana, tidak bisa sembarangan memasuki bagian dalam kediaman tanpa undangan."
"Kakek, aku hanya ingin melihat lihat bagian luarnya. "
"Anak baik. Rey, Kim pergi bawa Lucio berkeliling. Kalau ada yang bertanya, katakan cucuku datang berkunjung ingin melihat istana"
"Baik tuan" jawab keduanya."Mari Tuan Muda"
"Ingat pesan mama Lucio?" tanya Louisa sebelum ketiganya menghilang dibalik pintu.
Lucio hanya mengangkat jempol kanannya.
Setelah ketiga orang itu pergi, hanya meninggalkan mereka bertempat didalam ruangan.
"Mari kita duduk dahulu, kakek, Nyonya" kata Merad sambil membawa mereka ke tempat duduk dan menuangkan segelas teh untuk mereka masing masing.
"Maaf sebelumnya ayah, ayah mengatakan saudari ini adalah sepupuku. Tapi sepupu dari cabang kota mana ? Kenapa aku kurang ingat" tanya Hubert agak bingung.
"Ha...ha... Ini memang bukan sepupu jauhmu. Tapi seseorang yang sangat kalian kenal" jawab Dutch Norwey.
Perlahan Louisa melepaskan cadarnya, memperlihatkan wajah aslinya yang penuh senyum.
"Permaisuri..!" seru keduanya terkejut.
"Stt..." jawab Louisa sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Yang tadi..?" tanya Merad
"Puteraku..." jawab Louisa singkat
"Tapi kabar yang Kudengar kalau dutchess belum menikah lagi"
"Memang belum. Lucio adalah pangeran Gordon. Karenanya ia sudah bisa mulai mengenal istananya"
"Jadi...jadi..."
"Ya...putera Raja Peter."
"Akankah Ducthess kembali lagi memasuki istana?" tanya Hurbert dengan penuh harapan
"Tidak paman. Aku tidak berminat, aku hanya akan mengantarkan Lucio saja"
"Tapi Dutchess, tanpa anda istana sungguh kacau. Sebenarnya selir Natasha lumayan cakap. Tapi selir Diana selalu membuat kekacauan. Belum lagi, Yang Mulia tidak bisa tegas pada selir selirnya"
"Sabarlah.. sebentar lagi istana akan tenang kembali. Bukankah begitu Dutch?"
__ADS_1
"Aku harap begitu. Pesan sudah kukirimkan, semoga orang tua itu segera datang"