
"Terus bagaimana dengan tawaran pangeran Hurex?"
"Kau tahu Nest, segalanya diketahui Puteri Lorine. Mulai dari tawaran menjadi tabib istana, rencana pertunanganmu dengan Puteri Willow. Hah.. ayah tidak menduga akan langsung ketahuan"
"Apa Puteri Lorine marah ayah?"
"Sewaktu pertemuan keluarga, ia terlihat sedikit marah karena ayah terlalu memojokkannya. Tapi saat bertemu diluar, sikapnya biasa saja seolah tidak terjadi apapun"
"Bagaimana bisa ayah?"
"Mungkin itulah bedanya beliau Nest. Pribadinya benar benar sudah ditempah dari kecil. Bahkan beliaulah yang menyarankan untuk kembali ke Lembah Angin"
"Tanggapan paman Jendral sendiri bagaimana?"
"Pamanmu sama seperti Puteri. Beliau hanya meminta kepada ayah agar lebih hati hati menghadapi pangeran Hurex. Dan secepatnya kembali ke Lembah Angin"
"Apa mungkin karena ini hubungan kedua kerajaan akan berubah ayah?"
"Ayah kurang tahu Nest. Tapi sepertinya Lembah Angin tidak akan tinggal diam saja."
"Maksud ayah, mungkin saja akan terjadi perang?
"Dalam waktu dekat ayah rasa belum. Karena itu ayah harap kita sudah keluar dari kerajaan Lingkar Awan saat hal itu terjadi"
"Apa ayah tidak akan melaporkan hasil perjalanan ayah kepada pangeran Hurex?"
"Ayah tetap akan melapor. Tapi besok saja. Ayah masih letih setelah perjalanan jauh"
"Jika begitu, ayah beristirahatlah dahulu. Saya akan berjaga di depan, agar ibu juga bisa beristirahat" kata Nest sambil berjalan menuju ruang depan yang dijadikan balai pengobatan.
"Nest..." panggil Sidney lagi saat puteranya itu akan menghilang dibalik pintu.
"Ada apa ayah?"
"Jika nanti karena masalah ini rencana pertunanganmu dengan Puteri Willow di batalkan, apakah kamu bisa mengatasi perasaanmu?"
Nest terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Aku memang sudah mulai menyukai tuan Puteri ayah. Tapi aku juga tidak buta untuk menyadari jika pertunangan itu hanyalah hubungan politik belaka. Jadi aku akan baik baik saja, lagi pula ada hal yang harus diprioritaskan selain pertunangan."
"Menurutmu bagaimana dengan Puteri Willow"
"Ia wanita yang baik. Ia akan mengerti" jawab Nest."kuharap begitu" lanjutnya tapi hanya didalam hati.
*****
Hari berganti
Pagi yang sibuk. Sidney tengah bersiap siap menjumpai pangeran Hurex.
"Ingat suamiku, jagalah kata katamu. Dan tetap hati hati seperti kata kakak ipar Jendral. Pangeran Hurex adalah seorang pendendam" nasehat isteri Sidney sambil mengantar kepintu depan
"Iya, aku tahu isteriku. Nest kau tidak menjumpai puteri Willlow?"
"Nanti saja ayah. "
"Jika begitu aku berangkat" kata Sidney sambil naik keatas kereta kuda.
__ADS_1
Kereta kuda berjalan menuju istana Kapur Putih. Setelah melapor kepada penjaga istana, kereta terus bergerak menuju kediaman pangeran Hurex.
Didepan kediaman pangeran Hurex, kereta kuda berhenti. Sidney turun dan menjumpai pengawal yang berjaga didepan rumah.
"Selamat pagi tuan. Saya ingin bertemu pangeran Hurex. Apakah beliau ada?"
"Ada tuan Sidney. Tunggu sebentar, saya laporkan terlebih dahulu kedatangan anda"kata pengawal itu yang telah mengenal Sidney karena sering datang ke kediaman pangeran Hurex.
Tidak menunggu lama, pengawal itu kembali dengan seorang perempuan berpakaian pelayan.
"Mari tuan Sidney ikut saya" kata perempuan itu.
Sidney berjalan mengikuti pelayan itu menuju sebuah ruangan. Didalam ruangan telah menunggu pangeran Hurex.
"Salam hormat pangeran Hurex" katanya sambil membungkukkan badannya penuh hormat.
"Salammu aku terima tuan Sidney. Silahkan duduk"
"Terimakasih pangeran" jawab Sidney sambil duduk disalah satu kursi yang ada.
"Kapan anda kembali dari Hinom?"
"Kemarin sore pangeran.."
"Dan baru datang pagi ini?"kataya dengan nada tidak senang.
"Maaf pangeran, saya sangat letih setelah menempuh perjalanan jauh. Dan memutuskan beristirahat dahulu"
"Bagaimana hasilnya?"
"Walau yang kita berikan lebih banyak dari orang Gordon itu?"
"Peraturan di Lembah Angin mengatur jika penemu tambanglah yang berhak mengajukan ijin pertambangan. Jika penemu tambang tidak sanggup, baru bisa diajukan pihak lain. Dengan pembagian keuntungan dengan penemu sebesar yang disepakati"
"Tapi bukankah tuan Sidney adalah keluarga kerajaan?"
"Aku juga baru tahu pangeran, jika di kerajaan Lembah Angin yang berdiri sekarang, posisi keluarga Valley tidak bisa mencampuri urusan kerajaan. Keluarga Valley hanya bisa memonopoli di bidang pengobatan yang sudah menjadi ciri keluarga Valley sendiri."
"Jadi apa tidak ada peluang lagi untuk mendapatkan tambang itu?"
"Untuk tambang di desa Tov, sudah tidak ada pangeran , tapi ada sebuah tambang yang baru ditemukan di kawasan pegunungan Helm. Jika pangeran mau, akan saya ajukan proposal ijin proyek pertambangan."
"Bisa kau pastikan itu jatuh ketangan kita?"
"Saya akan meminta bantuan ayah saya pangeran. Bagaimanapun, ayah saya adalah seorang tetua di keluarga Valley"
"Apa seorang tetua masih dihargai?"
"Menurut beberapa orang, baik raja Landen maupun putri Lorine masih sangat menghormi orang yang sudah berumur. Apa lagi ayah saya adalah tetua keluarga"
"Baik. Jika begitu, apa yang akan tuan Sidney lakukan sekarang?"
"Besok aku akan membawa keluargaku ke kota Long Beach untuk menemui ayahku. Dengan membawa anak anak, aku kira ayah akan senang hati membantu"
"Begitu juga bagus"
"Pangeran , bagaimana dengan posisi ku untuk menjadi tabib istana?"
__ADS_1
"Hmm...nanti kita bicarakan setelah proyek pertambangan sudah ada digenggaman kita. Termasuk rencana pertunangan puteramu dengan putri Willow. Makanya tuan Sidney harus berusaha, begitu proyek pertambangan sudah ditandatangani, kita langsung mengadakan acara pertunangan mereka"
"Baik pangeran. Jika begitu, saya bersiap dahulu. Mau membeli oleh oleh untuk ayah, agar saya terlihat sungguh sungguh"
"Silahkan tuan Sidney"
Sidney keluar dari kediaman pangeran Hurex. Kemudian naik keatas kereta kuda yang telah menunggunya.
Sepeninggal Sidney pangeran Hurex memanggil pengawalnya yang tadi berdiri didekat pintu.
"Hamba pangeran.."
"Awasi tuan Sidney dari kejauhan. Katanya besok ia mau pergi kekerajaan Big Beach tepatnya ke kota Long Beach. Pastikan apa benar ia pergi ke kota itu, atau pergi ke Lembah Angin"
"Baik pangeran"
Begitu pengawalnya pergi, pangeran Hurex keluar dari kediamannya menuju istana Lingkar Awan.
Kedatangannya disambut dengan hormat oleh semua prajurit yang bertugas.
"Aku ingin bertemu ayahannda, apa beliau ada?" tanya pangeran Hurex pada petugas pos jaga.
"Ada pangeran."
Pangeran Hurex berjalan ke depan ruang kerja Raja Roxin.
Tok..tok..
"Siapa?" terdengar jawaban dari dalam ruangan.
"Saya ayahanda, pangeran Hurex"
"Masuk"
Pangeran Hurex membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.
"Salam hormat pada Ayahanda"
"Salammu aku terima puteraku. Duduklah, sepertinya ada yang ingin ananda bahas denganku"
"Ayahanda ternyata sangat mengenalku" katanya sambil tersenyum.
"Katakanlah"
"Kerajaan Lembah Angin"
"Ada apa lagi? Bukankah lamaranmu sudah tiga kali ditolak oleh janda Peter itu? Cari saja perempuan lain. Ada begitu banyak perempuan disini yang bersedia bahkan sekedar menjadi selirmu"
"Ayahanda, bukankah sudah berulang kali aku katakan maksudku menikahi Puteri Lorine, karena ingin menguasai kerajaan itu? "
.
..
... Stt.. jangan lupa like dan comment ya
..... Dukung juga karya author yang lain The Diamond and Minasa .
__ADS_1