
Langit mendung di sertai gerimis membuat penghuni rumah bermalas-malasan.Mereka memilih kembali menarik selimut daripada beraktivitas.Tapi tidak dengan Rianti,pagi ini dia sibuk memasak di dapur.Pagi ini dia mendapat tugas membuat menu sarapan untuk seisi rumah.
"Ehmm..." Haris mendehem,lalu duduk di kursi plastik yang ada di dapur.
Rianti menoleh ke arah Haris lalu kembali melanjutkan masaknya.
"Pagi-pagi dah jutek aja Neng" kata Haris.
"Biarin aja,aku emang jutek orangnya" kata Rianti sewot.
"Duh Si Eneng pagi-pagi udah sewot aja.Senyum dikit napa" kata Haris.
"Mas bisa diem gak,bukannya bantuin malah ngerecokin" Rianti mulai kesal.
Haris beranjak dari duduknya lalu mendekat kearah Rianti.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Haris dengan nada serius.
"Mas cukup duduk diam gak usah banyak ngomong" jawab Rianti.
Haris melihat ke arah kompor yang diatasnya sudah ada nasi goreng dan Rianti sedang mengaduknya .Haris menggulung lengan bajunya sampai sebatas siku lalu dia menggeser tubuh Rianti menggunakan bahunya.
"Sini Mas bantu" kata Haris langsung merebut spatula dari tangan Rianti.
"Rianti aja Mas,ini udah mau selesai kok" kata Rianti.
"Dah kamu cuci piring kotor aja tu,Mas udah biasa masak kok" kata Haris.
Rianti menuju ketempat cuci piring dan mulai mencuci piring yang kotor.
Haris mengambil sendok lalu mencicipi nasi goreng buatan Rianti,setelah menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya Haris langsung terdiam dan meneteskan air matanya.Rianti jadi salah tingkah melihat Haris menangis.
"Mas kenapa menangis? Nasi gorengnya gak enak ya atau terlalu pedas?" tanya Rianti sambil menatap wajah Haris.
Haris tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Rianti.Haris meletakkan sendoknya lalu pergi dari dapur.
Elang dan Rere baru keluar dari kamarnya dan mereka heran saat melihat Haris datang dari arah dapur sambil menangis.
"Kamu kenapa Haris?" tanya Elang.
Haris tidak menjawab pertanyaan Elang,Dia terus berjalan menuju pintu depan dan langsung masuk kedalam mobilnya lalu pergi dari sana.
"Haris kenapa sayang,kok keluar dari dapur sambil menangis?" tanya Rere.
"Gak tau,kita ke dapur aja yok.Siapa tau di dapur ada orang dan tau penyebab Haris menangis" kata Elang.
Elang dan Rere berjalan menuju dapur dan melihat Rianti sedang membersihkan dapur.
"Rianti kamu sudah dari tadi berada di sini?" tanya Elang.
"Iya Tuan" jawab Rianti.
"Haris tadi ada masuk sini gak?" tanya Rere.
"Tadi sih dia di sini tapi sekarang sudah pergi Nona" jawab Rianti.
"Kamu tau kenapa dia menangis?" tanya Rere lagi.
"Gak tau Nona.Tadi dia memaksakan diri untuk membantu saya masak,padahal nasi goreng yang sedang saya masak sudah matang.Trus dia mencicipi nasi gorengnya setelah itu dia terdiam trus nangis dan langsung pergi" tutur Rianti.
"Hanya karena nasi goreng dia menangis?" Elang bingung
Elang mengambil sendok lalu mencicipi nasi goreng buatan Rianti.
"Enak kok,gak ada yang kurang dan rasanya juga pas" kata Elang.
"Kalo begitu apanya yang salah?" tanya Rere.
"Tuan dan Nona kalo mau sarapan nasi gorengnya sudah saya hidangkan di atas meja makan" tutur Rianti.
"Iya Rianti,terima kasih ya" ucap Rere.
Elang dan Rere meninggalkan dapur dan langsung menuju ruang makan untuk sarapan,selesai sarapan Elang dan Rere pergi ke kamar Baby twins.
"Sayang kamu tunggu di sini ya,aku ke kamar dulu untuk mengambil ponsel" kata Elang.
"Iya sayang" kata Rere.
Elang keluar dari kamar Baby twins dan langsung menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.Setelah mengambil ponsel Elang keluar kamarnya dan hendak kembali ke kamar Baby twins,tapi langkahnya terhenti saat mendengar orang yang sedang mengobrol di ruang makan.
"Aku seperti pernah makan nasi goreng yang rasanya sama persis seperti ini,tapi dimana ya" ucap orang itu.
"Kitakan sering beli nasi goreng kalo malam,mungkin salah satunya mempunyai rasa yang sama seperti nasi goreng ini" kali ini Ujang yang bicara.
Elang mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar Baby twins,dia menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan.
"Eh Tuan,mari sarapan" kata orang yang ada di hadapan Ujang.
"Silahkan teruskan Eko,aku baru selesai saja selesai sarapan" kata Elang lalu bergabung dengan Ujang dan Eko di ruang makan.
"Jang kamu tau gak Haris pergi kemana?" tanya Elang pada Ujang.
"Nah itu dia,nasi goreng ini rasanya sama persis seperti buatan ibunya Haris" seru Eko salah satu anak buah Elang yang berjaga di rumah Elang.
"Serius kamu Ko? Darimana kamu tau rasa nasi goreng buatan Ibunya Haris?" tanya Elang.
"Istri saya tetangganya Haris Tuan dan Rumah orang tua Haris tepat berada di sebelah rumah mertua saya.Kalo saya berkunjung ke sana saya selalu makan nasi goreng buatan ibunya Haris" tutur Eko.
"Pantas saja Haris tadi menangis setelah mencicipi nasi goreng ini,ternyata dia ingat ibunya.Eh ngomong-ngomong bukannya Ibunya Haris sudah meninggal?" tanya Elang.
"Iya Tuan,Ibunya Haris meninggal sekitar tiga tahun yang lalu kalo saya tidak salah" jawab Eko.
__ADS_1
"Apa dia tidak punya Kakak atau adik?" tanya Elang pada Eko.
"Setau saya Haris anak tunggal Tuan,Ibunya meninggal setelah setahun Ayah Haris meninggal.Dan keluarga yang lainnya saya tidak tau" jawab Eko.
"Ujang tolong panggil Rianti di kamarnya dan antar dia pergi ke makan orang tua Haris.Aku yakin Haris pergi ke makam orang tuanya" kata Elang.
"Tapi dimana kuburan orang tuanya Tuan,saya tidak tau" kata Ujang.
"Oh iya ya,kamu tau dimana kuburannya?" Elang bertanya pada Eko.
"di TPU yang ada di kampung X" jawab Eko.
Ujang pergi ke rumah belakang lalu memanggil Rianti.
"Ada apa Pak Ujang?" tanya Rianti.
"Kamu di panggil Pak Bos" jawab Ujang.
Rianti keluar dari kamarnya dan segera menemui Elang.
"Tuan memanggil saya?" kata Rianti.
"Duduklah" perintah Elang.
Rianti duduk di hadapan Elang.
Elang menghembuskan nafasnya lalu berceeita tentang Haris pada Rianti.
"Kamu pergilah dan Ujang akan mengantarmu" perintah Elang.
"Tapi Tuan..." kata Rianti ragu.
"Percayalah padaku,Haris pria yang baik untukmu" ujar Elang.
"Baiklah Kalo begitu,saya pamit pergi Tuan" kata Rianti.
Ujang mengajak Rianti menuju garasi melalui pintu samping,setelah keduanya masuk ke mobil Ujang langsung mengemudikkan mobilnya.
"Apa kamu tidak suka pada Haris?" tanya Ujang pada Rianti ketika dalam perjalanan.
"Saya merasa tidak pantas saja Pak Ujang.Mas Haris orang berpunya sedangkan keluarga saya orang susah" jawab Rianti.
"Jika ternyata Haris mencintaimu apa kamu akan menerimanya?" tanya Ujang lagi.
"Entahlah Pak Ujang,Rianti bingung dan tidak mungkin jugakan Mas Haris tiba-tiba saja suka sama Rianti" jawab Rianti.
"Hati siapa yang tau Rianti.Tapi jika benar dia menyukaimu apa kamu akan menolaknya?" Ujang terus bertanya.
Rianti terdiam.
Tidak lama mobil mulai memasuki area pemakaman dan benar saja mobil Haris ada disana.
"Pergilah Rianti dan temui dia.Mungkin saat ini dia sedang membutuhkanmu" kata Pak Ujang.
"Tidak Rianti,Pak Ujang harus pergi dari sini.Aku akan memantaumu dari jauh" kata Pak Ujang.
Rianti turun dari mobilnya dan langsung membuka payung yang di bawanya,Pak Ujang langsung pergi dari sana.Hujan mulai deras kembali di sertai angin kencang payung yang di pegang Rianti tiba-tiba terlepas dari tangannya dan terbang terbawa angin.
Dalam kondisi basah kuyup, langkah terseok dan penglihatan yang kurang jelas Rianti mencoba mencari Haris.Dari kejauhan Rianti melihat Haris yang sedang duduk di samping makam,Rianti menghampirinya.
"Mas" Ucap Rianti sambil memegang bahu Haris.
Haris menoleh ke arah Rianti yang berdiri di belakangnya sambil menggigil kedinginan.
"Rianti,kenapa kamu bisa berada disini.Siapa yang mengantarmu kesini?" tanya Haris.
"Aku..."
Bruk!!!
Tiba-tiba Rianti jatuh pingsan.
Haris dengan cepat menangkap tubuh Rianti dan membawanya ke mobil.Setelah merebahkan tubuh Rianti di kursi belakang Haris masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.Dia tidak peduli hujan deras dan jalanan yang licin.Tidak lama kemudian dia sampai di sebuah klinik yang ada di kampungnya.Haris membawa Rianti masuk ke klinik itu.
"Iren tolong,dia tiba-tiba pingsan" pinta Haris pada Dokter yang bernama Iren.
Iren adalah teman kecil Haris yang kini menjadi dokter di kampungnya.
"Baringkan dia di situ" perintah Iren sambil menunjuk kasur khusus pasien.
"Siapa gadis ini Ris?" tanya Iren sambil memeriksa Rianti.
"Dia calon istriku" jawab Haris.
Iren terdiam mendengar jawaban Haris.Sejak lama Iren sudah menyukai Haris tapi Haris hanya menganggapnya sebagai teman.
"Dia belum makan apa-apa hari ini Ris,perutnya kosong di tambah lagi dia kedinginan akibat terkena hujan.Tubuhnya sangat lemah sekali,setelah dia siuman tolong beri dia makan.Kamu udah jadi orang kaya kasih makan satu gadis saja tidak bisa" oceh Iren.
Iren melangkah masuk ke dalam sebuah kamar kemudian keluar lagi sambil membawa pakaian ganti untuk Rianti.
"Keluarlah sebentar Ris,aku mau mengganti pakaiannya agar dia tidak masuk angin" tutur Iren.
Haris keluar dari ruangan itu dan membiarkan Iren mengganti pakaian Rianti.
Ceklek
Iren membuka pintu.
"Ikut aku" perintah Iren.
"Kemana?" tanya Haris.
__ADS_1
"Sudah ikut saja" jawab Iren.
Iren mengajak Haris ke sebuah ruangan lalu mengambil baju di sebuah lemari dan memberikannya pada Haris.
"Ganti pakaianmu, ini ambillah" kata Iren.
"Milik siapa ini?" tanya Haris.
"Punya Mas Ikhsan,Kakakku" jawab Iren lalu keluar dari dari ruangan itu.
Haris segera mengganti pakaiannya,setelah selesai dia langsung keluar.
"Taruh sini baju kotornya" perintah Iren.
Haris memasukkan bajunya kedalam plastik yang Iren berikan,didalam plastik itu sudah ada baju milik Rianti.
"Apa dia sudah siuman?" tanya Haris.
"Sudah,dia sedang duduk di ruanganku" jawab Iren.
Haris masuk ke dalam ruangan Iren dan melihat Rianti yang sedang duduk disana,wajahnya terlihat sangat pucat.
"Pergilah dan jangan lupa beri dia makan" kata Iren.
Haris memapah tubuh Rianti menuju mobilnya dan Iren mengikutinya dari belakang.
"Dia tidak perlu di rawat?" tanya Haris pada Iren setelah Rianti masuk ke dalam mobil.
"Tidak perlu,dia hanya butuh makan dan istirahat yang cukup" jawab Iren.
"Jadi berapa yang harus aku bayar?" tanya Haris.
"Bawa saja uangmu,aku tidak membutuhkannya" jawab Iren sambil tersenyum.
Haris pamit pada Iren setelah itu dia masuk kedalam mobilnya dan langsung mengemudikkan mobilnya,meninggalkan Iren yang mulai meneteskan air matanya.
Haris melihat kanan dan kiri jalan untuk mencari rumah makan yang buka,Rianti sudah tertidur di bangkunya.Setelah melihat ada rumah makan yang buka,Haris turun dari mobilnya lamu masuk kedalam rumah makan itu dan memesan dua bungkus makanan.Haris kembali lagi kemobilnya sambil membawa makanan yang di belinya dan langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah pribadinya.
đŸ“¤Haris
"Rianti pingsan tadi dan aku membawanya ke rumahku.Kamu jangan khawatir aku akan menjaganya dengan baik"
Haris mengirim pesan pada Elang.
Tidak lama kemudian Elang membalas pesan Haris.
đŸ“¥Elang
"Oke"
Setelah sampai di rumahnya Haris menggendong Rianti menuju sebuah kamar dan merebahkan tubuh Rianti di kasur.Haris melihat jam yang ada di dinding,sudah pukul tiga sore.
"Rianti...Bangun.Kita makan dulu yok" jata Haris sambil menepuk pipi Rianti.
Hmmmm...
Rianti membuka matanya dan mengedarkan pandangannya.
"Ini dimana Mas?" tanya Rianti.
"Di rumahku" jawab Haris.
Haris keluar dari kamar untuk mengambil makanan yang tertinggal di mobil,Haris menuju kedapurnya untuk mengambil piring dan sendok lalu kembali ke kamar Rianti.
"Kenapa kamu bisa ada di pemakaman?" tanya Haris sambil membuka bungkus makanan.
"Aku juga tidak tau,tiba-tiba saja aku kepikiran dan meminta Ujang untuk mengantarku ke makam itu" jawab Rianti.
"Makanlah" kata Haris sambil menyuapkan makanan pada Rianti.
"Aku bisa makan sendiri Mas,lebih baik Mas juga makan.Mas dari pagi belum makan kan?" tanya Rianti.
"Ya sudah kalo gitu,kita makan sama-sama ya" kata Haris.
Kemudian mereka makan dengan lahap,setelah selesai makan Haris menaruh piring kotor ke dapur.Rianti mengikutinya dari belakang.
"Ini rumahmu Mas?" tanya Rianti.
"Iya" jawab Haris sambil mencuci piring kotor lalu meletakkan piring yang sudah di cucinya ke rak.
"Kamu tinggal sama siapa?" tanya Rianti.
"Selama ini sih sendiri,tapi gak tau besok-besok" jawab Haris.
Haris mengajak Rianti duduk di ruang keluarga dan Haris menghidupkan tivi yang ada diruangan itu.
"Mas tinggal sendiri di rumah sebesar ini?" tanya Rianti.
"Yah mau bagaimana lagi,Mas tidak punya keluarga,tidak ada teman jadi ya sendiri saja" jawab Haris sambil duduk di samping Rianti.
"Kamu mau gak jadi Nyonya di rumah ini?" tanya Haris.
Rianti menatap wajah Haris dan Haris membalasnya.
Perlahan Haris mendekatkan wajahnya ke wajah Rianti.Rianti hanya diam terpaku seperti terhipnotis.
Cup
Haris mengecup bibir Rianti.
"Mas kamu mencuri ciuman pertamaku" ucap Rianti sambil memukuli Haris menggunakan tangannya.Wajahnya sudah merah merona karena malu.
__ADS_1
"Benarkah,berarti aku pria yang sangat beruntung" kata Haris.
Rianti memalingkan mukanya kearah lain.Haris tersenyum melihat tingkah malu-malu Rianti.Kemudian Haris menarik tubuh Rianti kedalam pelukannya dan Haris memeluk tubuh Rianti cukup erat dan dalam waktu yang lama.