
Satria duduk bersandar di ruang kerja milik Edo,matanya terpejam.
" Ada masalah apa?" tanya Edo lalu duduk di samping Satria.
Satria membuka matanya lalu menghela napasnya dengan panjang,"Raisa sudah melangkah terlalu jauh, dan aku tidak punya cara untuk membuat kekasihnya bertanggung jawab pada Raisa" jawab Satria.
Edo tersenyum lalu merangkul pundak calon menantunya itu," Apa kamu mau Om membantumu?" tanya Edo dan di balas anggukan oleh Satria.
Satria menunjukkan foto yang ada di ponselnya,"Ini foto kekasih Raisa,namanya Betrand.Putra dari pemilik Jaya Abadi" tutur Satria.
" Kamu tunggu saja kabar dari om,Secepatnya Om akan mengabarimu" kata Edo.
Kriiing...
Ponsel milik Satria berdering,Yura yang menelponnya.
" Bukannya ini jam belajar Yura Kenapa dia meneleponku?" tanya Satria sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Edo.
Edo mengangkat bahunya lalu menggeleng," coba kamu angkat saja siapa tahu itu penting" kata Edo.
Satria menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya" Halo Sayang ada apa, Bukankah ini jam belajarmu?" tanya Satria kepada Yura yang berada di seberang telepon.
" Kakak bisa jemput Raisa sekarang nggak, sepertinya Raisa sakit karena dari tadi dia muntah-muntah terus" jawab Yura.
Satria menoleh kearah Edo dan Edo pun mengangguk.
" Baiklah kakak akan menjemputnya sekarang, tolong jaga Raisa sampai Kakak datang" pinta Satria.
Edo menepuk-nepuk bahu Satria untuk memberinya kekuatan," selalu aktifkan ponselmu, agar Om bisa menghubungimu" kata Edo.
Satria mengangguk lalu bergegas keluar dari ruang kerja Edo.
—————
Satria memarkirkan Mobilnya di parkiran sekolah, setelah itu Satria bergegas menuju UKS sekolah untuk menemui Raisa.
" Kak" ucap Yura saat melihat Satria berdiri tegak di pintu.
Satria menghampiri Yura kemudian menatap Raisa yang sedang berbaring di atas kasur berukuran kecil berwarna hitam," Kenapa dia?" tanya Satria pada Yura dengan dingin.
Yura menggelengkan kepalanya karena memang dia benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan Raisa muntah-muntah.
Satria menggendong Raisa lalu membawanya ke mobil, Yura mengikutinya dari belakang sambil membawakan tas milik Raisa.
"Adek nggak ikut pulang?" tanya Satria dari balik kemudi.
__ADS_1
Yura menggeleng sambil tersenyum," Enggak kak, hari ini Yura ada ujian" jawab Yura.
Satria menghela nafasnya kemudian tersenyum," semangat sayang,Doaku menyertaimu" ucap Satria.
Yura mengangguk dan Satria pun kemudian mengemudikan mobilnya keluar dari area sekolah. Satria membawa Raisa ke rumah sakit untuk memastikan bahwa yang ada dipikirannya tidak benar.
Satria menggendong tubuh Raisa dan membawanya ke UGD, Tapi sebelumnya Satria sudah menyuruh Raisa untuk mengganti pakaiannya.
" Bagaimana Dokter, Adik saya sakit apa?" tanya Satria kepada Dokter yang memeriksa Raisa.
Dokter menjawab pertanyaan Satria dengan senyuman," Dia tidak sakit, muntah-muntah wajar terjadi di awal kehamilan" jawab dokter.
Duaarrr...
Bagai tersambar petir di siang bolong, seluruh tulang-belulang Satria terasa sangat lemah dia tidak sanggup lagi untuk Berdiri tegak.
Setelah selesai urusannya dengan dokter,Satria mengantarkan Raisa pulang ke rumahnya.Setelah Raisa turun dari mobil dia kembali mengemudikan mobilnya menuju ke suatu tempat.
Sedangkan Edo beserta anggota Elang Api sudah bergerak dan berhasil meringkus Betrand.Mereka pun membawa Betrand ke Markas terdekat.
" Mengapa Om menangkap saya?" tanya Betrand.
Edo tidak menjawab pertanyaan Betrand, dia duduk di sebuah kursi sambil memainkan ponsel.Betrand yang sudah mengenal seluk beluk Edo pun memilih untuk diam.
Edo memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya, kemudian memandang wajah Betrand yang sudah memucat.
" Ti tidak Om, saya baik-baik saja" jawab Betran gagap.
Kriieeekk...
Suara pintu terbuka, Satria muncul dari balik pintu dengan wajah merah karena menahan emosinya.
Bugh...
Satria melayangkan tinjunya kepada Betrand," Aku pikir kamu adalah temanku, tapi ternyata aku salah. kamu tidak lebih daripada pecundang yang sudah menghancurkan masa depan adikku" tutur Satria.
Betrand belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi," Ada apa ini Satria, Kenapa kamu meninjuku?" tanya Betrand sambil mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Satria hendak melayangkan tinjunya kembali tapi Edo menahannya.
" Duduklah Satria,biar Om yang berbicara pada Betrand"kata Edo.
Edo menarik kursi kecil yang ada di situ lalu duduk di hadapan Betrand," Apa kamu tahu Betrand jika sekarang Raisa sedang hamil dan dia sedang mengandung anakmu" Edo menatap mata Betrand dengan tajam.
Bukannya terkejut Betrand malah gembira mendengar berita itu," Benarkah Raisa hamil, benarkah dia sedang mengandung anakku saat ini?" tanya Betrand.
__ADS_1
Betrand beranjak dari duduknya lalu menghampiri Satria yang sedang duduk di belakang Edo," Maafkan aku Satria jika caraku ini telah salah, aku terlalu mencintai adikmu hingga aku takut dia akan meninggalkanku. Aku pikir dengan cara inilah aku bisa memiliki dia seutuhnya" tutur Betrand.
" Bukan karena Om Edo ataupun kekuasaan Om Elang, tapi karena cintaku yang begitu besar padannya aku akan menikahinya sebagai tanda pertanggungjawabanku padanya" sambung Betrand.
" Tapi Raisa itu masih kecil, dia masih sekolah. Mengapa masa depannya sudah kau hancurkan?" tanya Satria dengan suara bergetar,antara menahan emosi dan tangisnya.
" Aku takut jika aku menunggu sampai dia lulus sekolah dia akan pergi jauh" jawab Betrand lirih lalu menunduk.
setelah melewati perdebatan yang cukup panjang dan menegangkan akhirnya Satria merestui Betrand untuk menikahi Raisa.
*
*
Yuna dan Yura sedang menunggu jemputan, sudah sejam berdiri di sana tapi jemputan tidak kunjung datang.
" Ayah kemana sih, Kenapa lama sekali?" gerutu Yuna.
Yura berkali-kali melakukan panggilan ke ponsel Edo, tapi Edo tidak menjawabnya. Dengan wajah kesal Yura duduk di halte yang ada di depan sekolahnya.
" Belum dijemput sayang?" Kenzi datang menghampiri Yuna dan Yura.
" Iya nih,Ayah lama banget jemputnya" jawab Yuna dengan kesal.
Kenzi turun dari motornya, lalu duduk disamping Yuna.
" Kakak kenapa belum pulang?" tanya Yuna.
" Kakak akan pulang setelah jemputan kalian datang" jawab Kenzi.
Sebuah mobil datang menghampiri mereka, kaca jendela diturunkan Edo berteriak dari belakang kemudi,"Ayo naik" seru Edo.
dengan wajah cemberut Yuna dan Yura pun naik ke mobil.
" Kenzi terima kasih Sudah menemani putri-putri Om" ucap Edo.
"Sama-sama Om" balas Kenzi.
Edo mengemudikan mobil yang menuju ke arah rumahnya, di sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang membuka percakapan. Yuna sibuk dengan bukunya sedangkan Yura sibuk dengan alam mimpinya.
" Ayah mampir sebentar ke toko buku ya ada buku yang harus kakak beli" pinta Yuna.
Edo mengangguk lalu mampir ke toko buku yang di maksud oleh Yuna.
Yuna turun dari mobil," Tunggu ya Ayah Kakak cuma sebentar" ujar Yuna.
__ADS_1
Yuna masuk ke toko buku untuk membeli buku yang dibutuhkannya. Setelah mendapatkan bukunya Yuna kembali ke mobil dan Edo pun langsung mengemudikan mobilnya.