Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 160


__ADS_3

Wildan sedang duduk sambil menundukkan kepalanya,di hadapannya sudah ada David dan Edo.


"Kenapa Arumi tidak mengatakannya padaku kalo dia hamil setelah kejadian reuni dulu?" tanya Wildan sambil terisak.


"Arumi tidak mau menjadi beban hidupmu,lagi pula dia mendengar kalo kamu menjadi sang casanova dan suka gonta-ganti perempuan" jawab David.


"Aku dan Arumi tidak pernah bertemu sejak kejadian itu tapi kami tetap berkomunikasi Do,aku sering menelponnya dan curhat tentang wanita-wanita teman kencanku.Oh Tuhan betapa bodohnya aku" Wildan merutuki kebodohannya.


"Pertanggung jawabkan perbuatanmu Wildan,kalo kamu tidak mau menikahi Arumi setidaknya kamu nafkahi anakmu yang ada padanya dan berikan kehidupan yang layak untuk mereka berdua" saran David.


"Dimana mereka sekarang,aku ingin menemuinya?" tanya Wildan.


"Untuk sementara mereka tinggal di apartemenku dulu sampai kami mendapat rumah yang cocok untuk mereka" jawab Edo.


Wildan bangkit dari duduknya lalu hendak keluar dari cafe tempat dia bertemu dengan David dan Edo.


"Mau kemana kamu Wildan?" tanya Edo.


Wildan menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Aku mau menemui Arumi dan anakku" jawab Wildan.


"Kamu akan menemui anakmu untuk pertama kalinya dengan penampilan seperti itu?" tanya Edo lagi.


"Apa yang salah dengan penampilanku?" Wildan balik bertanya.


David mengerutkan keningnya,belum mengerti apa yang dimaksud oleh Edo.


"Penampilamu memang sudah oke,tapi apa kamu yakin mau menemui anakmu dengan anting di telingamu itu? kamu tidak terlihat seperti seorang ayah tapi lebih mirip preman di pasar" tutur Edo.


Wildan memegang telinganya lalu melepaskan antingnya dan membuang anting itu ke tong sampah.


"Terima kasih Do,sudah mengingatkanku" kata Wildan lalu pergi memakai mobilnya menuju tempat Arumi dan Andre tinggal.


"Apa kamu yakin dia akan berubah Vid?" tanya Edo sambil meminum jusnya.


"Entahlah,tapi aku lihat tangisannya menggambarkan penyesalan dan aku melihat itu sungguh-sungguh keluar dari hati Wildan" kata David.


"Ayo kita pulang,biarlah mereka menyelesaikan masalahnya.Tugas kita sudah selesai" kata Edo.


"Ayo" kata David.


Setelah membayar minuman dan makanan yang mereka makan Edo dan David keluar dari cafe.Mereka menuju mobilnya lalu setelah itu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing.


***


Wildan keluar dari mobilnya lalu berlari masuk menuju apartemen milik Edo yang sekarang di tempati oleh Arumi.Wildan yang sudah tau kode pintu apartemen Edo pun langsung memencet tombol nomor yang ada di samping pintu.


Klik


Kunci terbuka dan Wildan langsung masuk.


"Om siapa?" tanya Andre yang sedang duduk di sofa.


Wildan memandang wajah anak kecil yang ada di sofa,wajahnya betul-betul mirip dengan dirinya.


Grep


Wildan memeluk tubuh Andre lalu menangis sesenggukkan.


"Siapa yang da...tang?" tanya Arumi yang langsung terdiam saat melihat Wildan sedang memeluk Andre.


"Wildan" kata Arumi.


Setelah menjalani perawatan dan di rawat di rumah sakit Arumi sudah sehat seperti sedia kala.


"Kenapa kamu merahasiakannya Arumi,kenapa?" tanya Wildan.


"Andre masuk ke kamar.Ada yang mau Ibu bicarakan sama Om" perintah Arumi.


"Aku bukan Omnya Arumi,aku Ayahnya" protes Wildan.


"Ayah?" tanya Andre.

__ADS_1


"Andre Ibu bilang masuk ke kamarmu" bentak Arumi.


Andre langsung berlari masuk ke kamarnya.


"Duduklah Wildan" kata Arumi.


Wildan duduk di sofa lalu Arumi pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Wildan.


"Dua bulan sejak kejadian itu aku hamil Wil,awalnya aku tidak percaya tapi setelah aku pergi ke rumah sakit dan memeriksanya ternyata benar aku hamil.Aku datang ke rumah orang tuamu untuk mencarimu tapi orang tuamu mengusirku dengan kasar dan mereka mengatakan agar aku tidak mengganggumu karena kata mereka kamu mau menikah.Sejak saat itu aku memilih pindah dari kota itu dan berakhir di kota ini.Berulang kali aku mencoba menelponmu tapi kamu mengabaikan panggilanku.Aku tidak putus asa dan terus mencoba menghubungimu sampai suatu hari aku melihatmu masuk ke dalam hotel bersama seorang wanita dan itu tidak cuma sekali dan wanita yang selalu bersamamu selalu berbeda-beda.Akhirnya aku sadar mungkin aku hanya kamu anggap sebuah boneka dan aku memilih menyimpan rahasia kehamilanku" tutur Arumi.


"Tapi terakhir belakangan ini bukankah kita saling berkomunikasi,kenapa kamu tidak mengatakannya?" tanya Wildan.


"Aku tidak mau mengganggu kesenanganmu Wil" jawab Arumi.


"Apa kamu tau Arumi kejadian malam itu adalah pengalaman pertamaku melakukkannya dan sejak saat itu aku seperti kecanduan dan selalu haus belaian dan sentuhan.Aku melakukan dengan banyak perempuan di luar sana karena aku mencari rasa yang sama saat seperti aku melakukkannya bersamamu,tapi aku tidak menemukannya" tutur Wildan.


"Kenapa kamu tidak mencariku?" tanya Arumi.


"Aku mencarimu tapi tidak ketemu sampai akhirnya aku mendapat nomor ponselmu dari guru kita dulu lalu aku menghubungimu tapi aku malu untuk mengatakannya" jawab Wildan.


Huft


Arumi menghela nafasnya.


Wildan menghampiri Arumi lalu berjongkok di depannya.


"Arumi maafkan aku yang bodoh ini,maafkan aku yang sudah membuatmu menderita.Arumi aku mohon beritahu padanya kalo aku adalah ayahnya,Arumi aku mohon" kata Wildan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Arumi diam saja sambil menatap wajah Wildan.


"Arumi kumohon" kata Wildan lagi.


Arumi menengok ke arah pintu kamar Andre dan ternyata Andre sedang berdiri di pintu yang sedikit terbuka.


"Andre kemarilah" perintah Arumi.


Andre berjalan kearah Ibunya lalu berdiri di samping sofa.


"Dulu Andre pernah berdoa dan meminta sesuatu pada Tuhan,apa yang Andre minta?" tanya Arumi.


"Andre berdoa pada Tuhan agar Ayah cepat pulang dan kita bisa berkumpul jadi satu" jawab Andre sambil menundukkan kepalanya.


"Angkat kepalamu,kamu anak laki-laki jangan lembek begitu" kata Arumi.


Andre mengangkat kepalanya lalu menatap ibunya.


Arumi memandang Wildan lalu beralih menatap Andre.


"Dia ayahmu nak,dia sudah pulang" kata Arumi,suaranya bergetar karena menahan tangisnya.


Andre diam mematung di tempatnya.


"Sini nak,peluk Ayah" kata Wildan sambil merentangkan kedua tangannya.


Andre mendekat lalu...


Bugh


Andre meninju dada Wildan.Arumi menutup mulutnya pake kedua tangannya tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh anaknya.


"Ayah jahat,Ayah udah ninggalin Ibu sama Andre.Ayah jahaaatt" kata Andre sambil menangis.


Wildan menarik tubuh Andre ke dalam pelukannya.


"Ayah memang bukan Ayah yang baik,pukul Ayah Nak hajar Ayah sepuasmu,Ayah tidak akan marah.Asal Andre bisa puas dan senang" kata Wildan.


Hu...hu...hu...


"Andre kangen sama Ayah,Andre ingin seperti teman-teman Andre Yah,pulang pergi sekolah di jemput oleh Ayahnya" isak Andre.


"Mulai besok Ayah akan mengantar Andre ke sekolah dan Ayah juga akan menjemput Andre saat pulang sekolah" ucap Wildan.


"Tapi besok libur Ayah,besok hari minggu" kata Andre sambil mengelap air matanya.

__ADS_1


"Benarkah? Ayah lupa karena hari ini Ayah terlalu bahagia"kata Wildan.


"Apa Ayah akan tinggal di sini bersama kami?" tanya Andre.


Wildan menggelengkan kepalanya.


Wajah Andre pun berubah jadi sedih.


"Ayah tidak akan tinggal disini,tapi Ayah akan membawa Andre juga Ibu ke rumah Ayah" jawab Wildan.


"Benarkah?" tanya Andre dengan girang.


"Bu kita mau tinggal di rumah Ayah Bu,akhirnya Andre punya Ayah seperti teman-teman yang lain" kata Andre sambil memegang tangan Arumi.


Arumi tersenyum kecut melihat tingkah bahagia anaknya.Dia tidak mungkin mengatakan pada Andre kalo sebenarnya dia dan Wildan belum menikah.Arumi memandang kearah Wildan dan Wildan hanya tersenyum saja.


"Andre sekarang pergi ke kamar dan kemasi barang-barang Andre ya,malam ini kita pulang ke rumah Ayah" kata Wildan sambil mengelus kepala Andre.


"Iya Ayah" kata Andre lalu berlari masuk ke kamarnya.


Wildan memegang kedua tangan Arumi,dia masih berjongkok di depannya.


"Kemasi barangmu dan ikut aku pulang" kata Wildan.


"Aku tidak mungkin ikut denganmu Wil" kata Arumi.


"Apa yang tidak mungkin Arumi?" tanya Wildan.


"Wil..." kata-kata Arumi menggantung begitu saja.


"Soal hubungan kita, aku akan mengurusnya dan aku akan segera menikahimu" kata Wildan.


"Tapi orang tuamu bagaimana?" tanya Arumi.


"Mereka biar menjadi urusanku" jawab Wildan.


Arumi menatap wajah Wildan.


"Jangan menatapku seperti itu,nanti aku tidak bisa mengontrol keinginanku" kata Wildan.


"Aku ke kamar dulu,tunggulah disini" kata Arumi.


Arumi beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamarnya.


"Dia masih sama seperti yang dulu,masih terlihat cantik walau sekarang tubuhnya terlihat lebih kurus" gumam Wildan.


Setelah Arumi dan Andre selesai mengemasi barang-barangnya Wildan langsung membawa mereka pulang ke rumahnya.


"Ini kunci rumahnya,buka pintunya dan aku akan menggendong Andre" kata Wildan.


Arumi turun dari mobil lalu membuka pintu rumah Wildan.Wildan menggendong tubuh Andre dan membawanya masuk ke dalam sebuah kamar.


"Tidurlah,hari sudah malam" kata Wildan pada Arumi yang masih berada di ruang tamu.


"Ini rumahmu?" tanya Arumi.


"Iya...jangan khawatir kamu perempuan pertama yang aku bawa masuk ke rumah ini" jawab Wildan.


"Silvi?" tanya Arumi.


"Aku membawanya ke rumah yang lain,ke rumah yang sering di masuki oleh para perempuan-perempuan penghiburku dulu" jawab Wildan.


Arumi hendak berjalan masuk ke kamar Andre tapi Wildan menarik tangannya dan Arumi pun terjatuh ke dalam pelukan Wildan.


"Kasur Andre kecil tidak cukup untuk kalian berdua,malam ini kamu tidur bersamaku" kata Wildan yang langsung menggendong tubuh Arumi masuk ke kamarnya.


"Tapi Wil" kata Arumi.


"Tenang saja,aku tidak akan melakukannya malam ini.Aku akan melakukkannya setelah kita menikah besok,malam ini aku hanya ingin tidur sambil memelukmu" kata Wildan.


Wildan merebahkan tubuh Arumi di atas kasurnya lalu setelah itu dia naik ke kasurnya dan berbaring di samping Arumi.


Cup

__ADS_1


Wildan mengecup kening Arumi lalu memejamkan matanya,Wildan tertidur sambil memeluk tubuh Arumi.


__ADS_2