Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 117


__ADS_3

Hari mulai malam,hujan sudah reda.Elang dan Rere sedang menikmati makan malamnya.Revan dan Baby twins sudah tertidur.


"Rianti kemana ya sayang,dari tadi siang kayaknya aku gak ada lihat dia?" tanya Rere pada Elang di sela-sela makannya.


"Rianti dibawa Haris ke rumahnya" jawab Elang.


"Wih gerak cepat Haris" kata Rere.


"Sudah,biarkan saja mereka menentukan pilihan hatinya" kata Elang.


"Mudah-mudahan mereka segera menyadari perasaan masing-masing" ucap Rere.


Elang dan Rere melanjutkan makan mereka,setelah itu mereka langsung masuk kamar.


"Revan sekarang lebih peduli pada adik kembarnya,dia semakin besar" kata Rere.


"Bahkan tidurpun dia tidak mau pisah kamar" kata Elang.


"Semoga selamanya mereka akur ya sayang?" kata Rere.


"Yah semoga saja...Apa dia masih menyebut Queen dengan sebutan Winara?" tanya Elang.


"Iya sayang,sepertinya nama Winara melekat pada Baby Queen" jawab Rere.


"Kamu tidurlah,aku ada sedikit kerjaan.Tadi sore Neti mengirimkannnya padaku" kata Elang.


"Hemmm...Jangan tidur larut malam sayang" pesan Rere.


Rere merebahkan tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya.Elang melangkah menuju pintu dan keluar dari kamarnya lalu menuju ruang kerja untuk mengerjakan pekerjaan yang dikirim oleh Neti melalui Email.


Elang mengerjakan pekerjaannya dengan serius hingga dia tidak sadar waktu mulai pagi.Elang baru menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara adzan subuh berkumandang.Elang mematikan laptopnya lalu keluar dari ruang kerjanya dan langsung masuk kedalam kamarnya untuk melaksanakan shalat subuh.Setelah selesai shalat Elang naik ke kasurnya dan langsung terlelap.


"Tumben jam segini belum bangun,apa mungkin dia baru tidur" gumam Rere saat melihat Elang tertidur dengan nyenyak.


Rere turun dari kasur Rere langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya,setelah selesai mandi Rere berpakaian baru setalah itu Rere keluar dari kamarnya.


"Romlah masak apa pagi ini?" tanya Rere pada Romlah yang sedang memasak untuk sarapan.


"Bikin bubur ayam" jawab Romlah.


"Wah enak tuh,perlu aku bantuin gak?" kata Rere.


"Telat,udah hampir mateng" jawab Romlah.


Rere duduk di kursi plastik yang ada di dapur.


"Rumah Romlah jauh gak dari rumah Bunda?" tanya Rere.


"Deket banget Re,orang tuaku kan kerja di perkebunan milik Bundamu" tutur Romlah.


"Benarkah?" tanya Rere lagi.


"Iya,sejak aku masih kecil orang tuaku sudah bekerja di perkebunan Bundamu" jawab Romlah.


Romlah menyusun bubur buatannya di atas meja makan.


"Suamimu gak turun untuk sarapan Re?" tanya Romlah.


"Dia belum bangun,mungkin dia baru tidur karena aku lihat dia tidur sangat nyenyak sekali" tutur Rere.


"Ya udah kamu sarapan dulu,aku mau keatas untuk membangunkan Revan" kata Romlah.


Rere berjalan menuju ruang makan lalu duduk di kursinya.


"Pagi Mommy" Sapa Revan.


"Eh anak Mommy sudah tampan" kata Rere.


"Coba sini Mommy cium,udah wangi belum" kata Rere lagi.


Revan mendekat kearah Rere dan Rere langsung menciumnya.


"Hmmmm...wanginya anak Mommy.Revan duduk ya kita sarapan" kata Rere.


Revan duduk di kursinya dan Rere memberinya semangkuk bubur.


"Mommy suapin ya soalnya ini masih panas" kata Rere.


"Revan bisa sendiri Mom,coba deh Mommy lihat" kata Revan sambil mengambil bubur lalu meniupnya baru setelah itu dia menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.


"Anak Mommy ternyata sudah besar dan sangat pintar" ucap Rere sambil mengusap kepala Revan.


Ada rasa bahagia juga sedih di hati Rere.


Dia bahagia karena ternyata Revan sangat mandiri dan tidak merepotkan Rere,sedihnya Rere takut jika besar nanti Revan akan pergi meninggalkan dirinya dan kembali pada ibu kandungnya.


"Mommy kenapa menangis?" tanya Revan saat melihat airmata Rere menetes.


Rere menghapus air matanya lalu tersenyum pada Revan.


"Mommy tidak apa-apa sayang,Mommy hanya bahagia melihat Revan tumbuh besar dan Revan juga sangat pintar" jawab Rere.


"Ayo lanjut lagi makannya,habiskan ya biar Revan cepat besar" kata Rere.


"Siap Mommy" ucap Revan.


"Siapkan hatiku Tuhan untuk menghadapi hari esok dan ikhlaskanlah aku jika esok Revan lebih memilih ibu kandungnya dari pada aku" Doa Rere dalam hati.


"Sayang" Elang tiba-tiba datang.


"Kamu menangis?" tanya Elang saat melihat ada bekas airmata di wajah Rere.

__ADS_1


"Aku tidak menangis sayang...Duduklah dan makan sarapanmu" kata Rere.


Elang duduk di kursinya,tapi dia tidak langsung makan dia hanya menatap ke arah Rere yang sedang makan.


"Kamu kenapa sayang,ada masalah?" tanya Elang.


"Sudah kukatakan,aku baik-baik saja" jawab Rere.


"Mulutmu bisa berdusta tapi matamu tidak bisa membohongiku sayang" ujar Elang.


Huftt


Rere menghembuskan nafas kasarnya,lalu menatap wajah Elang.


"Aku hanya kepikiran Revan" tutur Rere singkat.


Elang mengerti maksud Rere.


"Apa perlu meminta pengadilan agar menjatuhkan hukuman mati pada Silvy?" kata Elang.


"Tidak perlu sayang,jangan bertindak yang tidak-tidak" kata Rere.


"Atau kita harus pindah dari sini agar saat keluar dari penjara dia tidak bisa menemukan kita?" tanya Elang.


"Tidak perlu" jawab Rere.


"Jadi aku harus bagaimana? Aku tidak bisa terus-terusan melihat kamu bersedih seperti ini" kata Elang.


"Kamu tidak perlu melakukan apapun sayang,biar aku saja yang belajar menguatkan hatiku"tutur Rere.


Elang menghela nafasnya lalu beranjak dari duduknya tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.


"Kamu mau kemana?" tanya Rere.


"Aku sudah terlambat pergi ke kantor,nanti aku pulang telat jangan menungguku" jawab Elang dengan suara berat dan tanpa menoleh sedikit pun.


Elang melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah Harun siapkan di depan rumah.


"Berikan kuncinya padaku,kamu tidak perlu mengantarku hari ini" pinta Elang.


"Ini kuncinya Tuan" Harun menyerahkan kunci mobil pada Elang.


Elang menerima kunci itu dan langsung masuk ke mobilnya.


Brukkk


Elang menutup pintu mobil dengan sangat keras sampai membuat Harun terkejut.


Broommm


Elang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.Harun masuk ke dalam rumah untuk mencari Rere.


Revan hanya duduk diam disamping Rere.


Pak Harun mendekati Rere lalu duduk di depannya.


"Kalian bertengkar Re?" tanya Pak Harun.


Romlah,Nia dan Diah berdiri tegak saat mendengar pertanyaan Pak Harun pada Rere.


"Re?" kata Pak Harun sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Rere.


"Ehm...Pak Harun,ada apa?" tanya Rere yang baru tersadar dari lamunannya.


"Apa kamu dan Elang bertengkar?" tanya Pak Harun.


Nia,Diah dan Romlah mendekat kearah Rere.


"Loh kok Pak Harun masih ada di rumah,bukannya Pak Harun pergi bersama Elang ke kantor?" Rere malah balik bertanya.


"Pak Harun tidak ikut,Elang mengendarai mobilnya sendiri dan dia membawa mobilnya dengan kecepatan penuh.Apa kalian sedang ada masalah Re?" tanya Pak Harun lagi.


"Benarkah? Kenapa dia ngebut? Atau karena dia sudah terlambat?" Rere mencecar Pak Harun.


"Bapak sudah lama bekerja pada Elang Re dan setelah kalian menikah Elang meminta Bapak menjadi supir pribadimu,selama Bapak kenal Elang,dia tidak pernah bersikap seperti ini" tutur Pak Harun.


"Kalian sedang apa,seperti yang sedang berduka begitu?" tanya Haris yang tiba-tiba saja sudah berada di situ bersama Rianti.


"Ah untung kamu datang.Antar aku ke kantor Elang" pinta Pak Harun.


"Loh emangnya Elang sudah pergi ke kantor,aku baru saja dari sana bersama Rianti dan kata Neti Elang tidak ada jadwal hari ini dan Neti juga bilang kalo Elang izin tidak masuk hari ini karena mau mengantarkanmu ke dokter Re" tutur Haris panjang lebar.


"Jadi Elang pergi kemana Ris,dia mengendarai mobilnya dengan ngebut tadi.Aku jadi khawatir" ucap Pak Harun.


"Haris antar aku ke rumah tahanan tempat Silvy di tahan" pinta Rere.


"Untuk apa Elang pergi kesana?" tanya Pak Harun dan Haris bersamaan.


"Udah jangan banyak tanya,ayo antar aku" kata Rere.


Rere berlari menaiki tangga lalu berhenti dan menoleh ke bawah.


"Romlah suruh Sari bersiap dan bawa Baby twins dan Revan ke mobil" perintah Rere.


Rere kembali meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya,Rere masuk ke kamarnya dan cepat-cepat berganti pakaian.Setelah itu Rere mengambil tas dan memasukkan ponsel kedalamnya.Rere keluar dari kamarnya dan langsung berlari masuk kedalam mobil.


"Ayo jalan" perintah Rere.


"Tunggu...Bapak ikut" kata Pak Harun dan Haris langsung mengemudikan mobilnya setelah pak Harun masuk.


"Cepetan Haris sebelum kita terlambat" pinta Rere,penuh kekhawatiran di wajahnya.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa Re?" tanya Pak Harun.


"Elang akan meminta kepada pengadilan untuk menjatuhkan hukuman mati pada Mbak Silvy" jawab Rere.


"Apa?"


Tanya Haris,Pak Harun,Rianti dan Sari bersamaan.


Wushh...


Haris menambah kecepatan mobilnya dan tidak lama mereka sudah sampai ke tujuan mereka dan mobil Elang ada di sana.


Semua turun dari mobil dan langsung menuju pintu utama lapas.


"Maaf Tuan dan Nona,anak kecil di larang masuk" kata Penjaga.


Haris mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu lalu menunjukkannya pada penjaga.


"Oh maaf Nona saya tidak tau kalo anak-anak ini anak dari Tuan Elang.Silahkan masuk Tuan Elang ada di dalam"tutur penjaga itu.


Setelah pintu terbuka mereka langsung berlari masuk dan mencari Elang.


"Haris,sedang apa kamu disini?" tanya kepala sipir sambil menenteng sebuah benda berwarna hitam di tangannya.


"Mencari Elang" Rere yang menjawab pertanyaan dari kepala sipir itu.


"Elang ada di halaman belakang,di tempat eksekusi mati" jawab kepala sipir itu.


Haris menarik tangan Rere dan langsung berlari ke halaman belakang.


Elang sedang berdiri tegak dan di depannya sudah ada Silvy yang sudah terikat pada sebuah tiang dan kepalanya tertunduk.


Rere diam-diam membawa Revan dan Baby twins lalu meletakkan Baby twins di tanah dan Revan berdiri di atas kepala Baby twins.Rere mengeluarkan dua senjata yagg tadi di bawanya dan disimpannya di dalam tas.Elang belum menyadari kehadiran keluarganya.


"Elang" teriak Rere dengan lantang sambil meletakkan satu pistol di dahinya dan yang satu lagi mengarah kearah ketiga anaknya.


Elang terkejut mendengar suara Rere dan diapun langsung membalikkan tubuhnya.


"Sayang apa-apaan ini?" tanya Elang.


"Kamu pilih! Tetap menjatuhkan hukuman mati pada Silvy dan kamipun ikut mati atau kamu membiarkan dia tetap hidup dan menjalankan hukumannya dan kamipun akan tetap hidup" gertak Rere.


"Tapi sayang dia sudah cukup membuatmu menderita" kata Elang.


"Bukan dia yang membuat aku menderita Elang,tapi aku sendiri yang membuat penderitaan dalam hidupku.Aku sendiri yang menciptakan rasa takut di hatiku" tutur Rere.


"Sayang lepaskan senjatamu,aku mohon"pinta Elang.


Baby twins dan Revan sudah menangis.


"Berjanjilah padaku untuk melepaskan Mbak Silvy" kata Rere.


"Aku akan melepaskannya tapi aku mohon letakkan senjatamu" kata Elang.


Rere menurunkan senjatanya dan memasukkannya kembali kedalam tas.


"Haris lepaskan ikatan pada tubuh Silvy" perintah Rere.


Haris berjalan menghampiri Silvy dan langsung melepaskan ikatannya.


Silvy berlari lalu memeluk Rere.


"Terima kasih Re,kamu sudah menyelamatkanku" ucap Silvy.


Saat semua lengah Silvy mengambil senjata dari dalam tas Rere dan langsung menodongkan senjatanya pada Rere.


Hahaha


"Dasar gadis bodoh" ucap Silvy.


Hahaha


Rere tertawa lebih keras dari tawa Silvy.


"Kau mau membunuhku,silahkan kalo bisa?" tantang Rere.


Silvi menarik pelatuk tapi tidak ada peluru yang keluar.


"Aku atau kamu yang bodoh?" ucap Rere dan secepat kilat Rere mengambil senjata dari tangan Silvy.


Klek dan...


Dorrr...


Rere menembakkan peluru ke udara.


"Belajar lagi dalam menggunakan senjata Silvy yang pintar" kata Rere sambil menepuk bahu Silvy.


"Sari,Rianti bawa anak-anak pulang" perintah Rere.


Sari dan Rianti melaksanakan perintah Rere,sedangkan Rere sudah jauh berjalan meninggalkan Elang dan yang lainnya yang sedang tertegun melihat aksi Rere.


"Gila istrimu,kok bisa dia memiliki senjata seperti itu" gumam Haris.


"Itu senjata yang di pesan langsung oleh Sintya dan hanya Rere yang bisa menggunakannya" jawab Sari sambil membawa Baby twins pergi.


Para petugas pembawa Silvy kembali kedalam tahanan.


Elang,Haris dan Pak Harun pergi meninggalkan halaman belakang.Mereka langsung menuju ke tempat mobil di parkirkan.


Rere sudah pergi menggunakan mobil milik Elang yang kuncinya lupa Elang cabut.Haris,Elang dan Harun langsung masuk ke dalam mobil dan mengejar Rere yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


__ADS_2