
Proses pemakaman sudah selesai,semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing.Rere sedang duduk di balkon sambil menikmati angin malam.Langit terlihat mendung,sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
"Mommy" panggil Revan sambil membuka pintu kamar Rere.
"Mommy di sini sayang,Mommy di balkon" teriak Rere.
Revan masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Rere dan duduk di sampingnya.
"Daddy kemana Mom?"tanya Revan.
"Daddy keluar sebentar,ada perlu sedikit di luar" jawab Rere.
"Mommy kalo Daddy bukan Daddynya Revan,lalu siapa Daddynya Revan?" tanya Revan.
Rere terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan yang diajukan Revan.Dia bingung mau menjawab apa.
"Mommy tidak kenal,coba nanti Revan tanya sama Daddy ya" jawab Rere.
Revan mengangguk.
Ceklek
Terdengar pintu kamar terbuka dan langkah kaki mendekat ke arah Rere dan Revan.
"Kalian di sini ternyata" kata Elang.
Rere menatap Elang dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Elang.
"Ada apa?" tanya Elang.
Rere beralih melihat ke arah Revan.Elang menjongkokkan tubuhnya di depan Revan.
"Ada apa,kok pada diem semua.Daddy gak boleh tau nih ceritanya?" tanya Elang.
"Kalo Daddy Elang bukan Daddynya Revan,trus siapa dong Daddynya Revan?" tanya Revan.
"Kok Revan nanyanya gitu,Daddykan Daddynya Revan" kata Elang.
"Tapi kata Mami Silvi Elang itu bukan Daddynya Revan.Papi Revan ada tapi jauh" tutur Revan.
"Kapan Mami Silvi bilang begitu?" tanya Elang.
"Waktu Mami peluk Revan trus Mami bisikin Revan dan bilang kalo Daddy bukan Papinya Revan" jawab Revan.
"Revan anak Daddy,kan Revan dari kecil tinggal sama Daddy" kata Elang.
Revan mengangguk.
Elang memeluk Revan dengan sangat erat.
"Kita lihat Kiandra sama Winara yuk,udah tidur belum mereka berdua" ajak Elang.
Revan turun dari sofa lalu menggandeng tangan Elang menuju kamar adik kembarnya.
Hiks....
Tangis Rere pun pecah saat Elang dan Revan sudah keluar dari kamarnya.Hatinya terasa sakit sangat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Revan.
"Kasihan kamu Nak,harus mengetahui kenyataan yang pahit disaat usiamu masih kecil" gumam Rere di sela-sela tangisnya.
Rere beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muja dan gosok gigi.Setelah itu dia berganti pakaian lalu pergi ke kamar anak-anaknya.
"Sayang" Elang memanggil Rere dari pintu ruang kerjanya.
"Loh bukannya kamu di dalam kamar anak-anak" kata Rere lalu menghampiri Elang.
Elang membawa Rere masuk ke dalam ruangannya.
"Revan aku suruh tidur tadi,Kiandra dan Winara juga sudah tidur" kata Elang.
Elang mengambil sesuatu dari tas kerjanya lalu memberikannya pada Rere.
"Apa ini sayang?" tanya Rere.
"Itu buku harian milik Silvi,aku mendapatkannya dari kepala sipir tadi.Bacalah" kata Elang.
Rere membuka buku harian itu dan mulai membacanya.Sepertinya itu buku harian baru karena di buku itu hanya ada beberapa lembar yang di tulisi.
Hiks...
__ADS_1
Rere menangis saat membaca tulisan Silvi di halaman terakhir.Elang memeluk tubuh Rere dan mengusap punggungnya.
"Jadi Mbak Silvi jahat pada kita agar kita membencinya?" tanya Rere di sela-sela tangisnya.
"Menurut yang tertulis sih seperti itu" jawab Elang.
"Sudah lama dia menderita,tapi kenapa Mbak Silvi tidak bilang kalo dia sakit dan kenapa dia ingin kita membencinya,kenapa?" tanya Rere.
"Mungkin dia ingin saat dia pergi tidak ada yang menangisi kepergiannya atau mungkin juga dia tidak mau merepotkan kita" jawab Elang.
"Andai saja kita tetap membesuknya,mungkin semua tidak akan terjadi" kata Rere.
"Semua sudah kehendak Tuhan kita tidak bisa melawan kehendakNya.Kita doakan saja semoga Silvi tenang di alam sana" tutur Elang.
Rere mengangguk dan Elang menghapus air mata Rere dengan jarinya.
"Sudah malam lagian di luar sudah mulai hujan,kita tidur yuk" ajak Elang.
Rere menatap wajah Elang dengan tajam.
"Tenang saja,aku tidak akan mengganggumu malam ini.Untuk malam ini kamu aman,tapi gak tau besok pagi,aku gak janji" kata Elang sambil menyeringai.
Rere melihat jam yang ada di dinding,pukul 23.45 malam.
Huft...
Rere menghela nafasnya.
"Menuju besok tinggal lima belas menit lagi,aman darimananya?" gerutu Rere.
Hahaha...
Elang tertawa lalu menggendong tubuh Rere menuju ke kamar tidurnya.Setelah sampai di kamar Elang merebahkan tubuh Rere di kasur.
"Tidurlah,aku berjanji tidak akan mengganggumu" ucap Elang.
"Beneran ya...Awas kalo bohong" kata Rere.
Elang mengangguk.
Elang merebahkan tubuhnya di samping Rere,Elang memiringkan tubuhnya lalu tidur sambil memeluk tubuh Rere.
Haris sedang sibuk di dapur,dia sedang memasak nasi goreng permintaan Rianti.Semenjak kehamilannya bertambah besar Rianti semakin sering merasa lapar.
"Mas udah mateng belum nasi gorengnya?" tanya Rianti yang sedang duduk di kursi menunggu Haris yang sedang memasak.
"Sudah dong,tunggu sebentar ya" jawab Haris tanpa menoleh.
Haris membawa nasi goreng ke hadapan Rianti.
Glek
Rianti menelan ludahnya.
"Makanlah,setelah itu tidur lagi.Hari masih terlalu pagi untuk bangun,lihat tuh masih jam dua pagi" kata Haris.
Rianti mulai menyantap nasi goreng di hadapannya.
"Emmm...enak Mas" puji Rianti sambil mengangkat ibu jarinya.
Haris tersenyum bahagia melihat istrinya makan dengan lahap.
Setelah nasi gorengnya habis Rianti bersandar di kursinya.
"Terima kasih Mas" ucap Rianti.
"Sama-sama sayang...Ayo kita tidur lagi.Ini nanti saja kita bersihkan" kata Haris.
"Hemmm..."Rianti mengangguk.
Haris menggandeng Rianti menuju ke kamarnya.
"Minggu depan terakhir periksa ya?" tanya Haris.
"Iya Mas" jawab Rianti.
"Sebenarnya Dokter sudah melarangku makan banyak,tapi aku selalu lapar dan tidak bisa menahannya" kata Rianti lirih.
"Tidak apa-apa,gak usah sedih gitu ah nanti dedek bayinya ikutan sedih lo" kata Haris.
__ADS_1
"Mas sudah siapkan nama untuk anak kita?" tanya Rianti.
"Sudah sayang" jawab Haris sambil tersenyum.
Rianti mulai memejamkan matanya,Haris mengelus perut Rianti sampai Rianti tertidur.
"Semoga proses persalinanmu nanti lancar sayang" ucap Haris sambil mencium kening Rianti.
Haris tidur sambil memeluk tubuh Rianti.
Pagi harinya.
Haris membuka matanya secara perlahan,lalu bangun dari tidurnya.Haris merentangkan kedua tangannya,untuk meregangkan otot-otot yang tegang.
"Rianti sudah bangun" gumam Haris saat melihat tempat Rianti sudah kosong.
Haris turun dari kasurnya dan melangkah keluar dari kamarnya.
"Sayang" Haris memanggil Rianti.
"Di dapur Mas" jawab Rianti.
"Kok bangun sendiri sih,Mas gak di bangunin" kata Haris.
"Tadi Rianti lihat Mas tidurnya nyenyak banget.Rianti gak berani ganggu" kata Rianti.
Haris mencuci mukanya dengan air kran yang ada di dapur.
"Sudah selesai masaknya" tanya Haris saat melihat Rianti sudah menyusun makanan di atas meja.
"Sudah Mas" jawab Rianti.
"Jam berapa mulai masak,ini baru jam enam pagi tapi udah beres semua?" tanya Haris.
"Habis shalat subuh tadi Rianti langsung masak Mas,mau tidur lagi gak bisa.Tiba-tiba aja pinggang rasanya sakit" jawab Rianti.
"Sakit kenapa,kamu kecapekan?" tanya Haris dengan panik.
"Enggak kok Mas,kecapekan apa sih kan Rianti gak pernah kerja" jawab Rianti.
"Trus kenapa pinggangnya bisa sakit?" tanya Haris lagi.
"Mungkin efek dari hamil tua kali Mas" jawab Rianti.
"Kita nanti siang ke Dokter ya,kita harus segera memeriksakannya.Mas gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan bayi kita" kata Haris.
"Iya Mas" jawab Rianti.
"Mau makan dulu atau jalan pagi dulu?" tanya Haris.
"Jalan pagi aja dulu yuk" kata Rianti.
Haris menggenggam tangan Rianti keluar dari rumahnya.Seperti biasa kalo pagi,Haris akan menemani Rianti berjalan-jalan keliling komplek.Katanya itu bagus di lakukan saat hamil tua,agar proses persalinan berjalan lancar.
"Awh..." Rianti merintih sambil memegang pinggangnya.
"Kenapa sayang,sakit lagi pinggangnya?" Haris panik.
"Tiba-tiba saja pinggangku berdenyut" jawab Rianti.
"Kita pulang saja,tidak usah dilanjutkan lagi jalan paginya" ajak Haris.
Rianti mengangguk saja.
Sesampainya di rumah Rianti duduk bersandar di sofa,sambil mengelus perutnya.
"Apa perutnya juga sakit?" tanya Haris lalu duduk di samping Rianti.
"Nggak Mas,cuma terasa nyaman aja kalo perutnya di elus" jawab Rianti sambil tersenyum.
"Sini Mas yang elus,kalo soal elus mengelus Mas jagonya" kata Haris.
Rianti membiarkan Haris mengelus perutnya.
Cup
Haris mengecup kening Rianti.
Rianti bersandar di bahu Haris,tempat bersandar paling nyaman menurutnya.
__ADS_1