Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 152


__ADS_3

Papa Danu sedang meminum kopinya,pagi ini Papa dan Mama Sofia akan pergi ke rumah Elang setelah itu mereka akan bersama-sama pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Silvi.


"Bagaimana cara kita menjelaskan pada Revan Pa,Revan masih sangat kecil untuk mengetahui tentang ini" kata Mama.


"Untuk saat ini kita tidak harus bilang ke Revan kalo Silvi ibu kandungnya,yang penting kita bisa merayu Revan agar mau memanggil Silvy dengan panggilan ibu.Hanya itu yang diinginkan Silvi sekarang" kata Papa.


"Mama gak nyangka kalo Silvi bisa sakit seperti ini,kasihan dia" kata Mama.


"Papa juga kaget saat Dokter menelpon dan mengatakan kalo Silvi benar-benar mengidap kanker" kata Papa.


"Tu kopi Papa sudah habis,ayo kita pergi mumpung masih pagi" ajak Mama.


"Ayo" Papa beranjak dari sofa lalu berjalan menuju mobilnya.


Setelah Papa dan Mama masuk Supir langsung mengemudikan mobilnya ke rumah Elang.


"Papa sudah beritahu Elang kalo kita mau kesana?" tanya Mama.


"Sudah,tadi Papa sudah menelponnya dan Papa juga sudah menyuruh Elang untuk bersiap" jawab Papa.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Elang.Papa dan Mama langsung turun dari mobil kemudian masuk ke rumah Elang.


"Assalamualaikum" Papa dan Mama mengucapkan salam bersamaan.


"Waalaikum salam" jawab Rere yang sedang duduk di ruang tamu.


"Elang mana Re?" tanya Papa sambil duduk di sofa.


"Masih di kamar Pa" jawab Rere.


"Elang sudah cerita tentang Silvi ke kamu Re?" tanya Mama.


"Sudah Ma" jawab Rere singkat.


Tap tap tap


Suara langkah kaki Elang mendekati mereka.


"Papa dan Mama sudah lama datang?" tanya Elang.


"Baru saja Lang" jawab Papa.


"Revan mana Lang?" tanya Mama.


"Masih di kamarnya Ma,sebentar lagi juga turun" jawab Elang.


"Rere ikut ke rumah sakit gak?" tanya Mama.


"Ikut Ma" jawab Rere.


Tidak lama kemudian Revan datang ke ruang tamu


"Revan sini sayang" kata Mama.


"Revan mau sama Mommy aja" kata Revan lalu duduk di samping Rere.


"Revan sudah siap untuk pergi?" tanya Elang.


"Sudah Daddy" jawab Revan.


"Revan ingat apa yang Daddy katakan tadi?" tanya Elang lagi.


"Iya Daddy" jawab Revan.


"Daddy bilang apa sama Revan?" tanya Papa.


"Daddy bilang kita mau pergi jenguk Mami yang sedang sakit" jawab Revan.


Papa menatap ke arah Elang dengan tatapan mata yang tajam.


"Apa kamu sudah mengatakan hal yang sebenarnya Lang?" tanya Papa.


"Elang gak tau harus gimana Pa,Elang bingung dan akhirnya Elang mengatakan semuanya" jawab Elang.


"Kan sudah Papa bilang,tunggu Papa datang baru kita ngomong pelan-pelan" kata Papa.


"Maafkan Elang Pa" ucap Elang.


"Yang sudah ya sudah sekarang ayo kita pergi,Revan harus segera bertemu dengan Silvi" kata Mama.


Mereka beranjak dari duduknya lalu menuju mobil masing-masing.Setelah itu mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat Silvi di rawat.Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai ke rumah sakit.


"Revan ayo turun" ajak Rere.


"Revan gak di tinggal disini kan Mom? Mommy sama Daddy akan bawa Revan pulang ke rumah kan setelah ini?" tanya Revan.


"Pasti dong sayang,Mommy dan Daddy akan bawa Revan pulang ke rumah.Mommy gak akan tinggalin Revan disini" jawab Rere.

__ADS_1


"Kalo Revan tinggal di sini nanti siapa dong yang temenin Kiandra sama Winara main" kata Elang.


Revan menatap kedua orang tua di depannya,dalam diam Pak Harun menitikkan air matanya.


Elang dan Rere mengajak Revan turun lalu masuk ke dalam rumah sakit bersama Papa dan Mama.


"Bos" sapa anak buah Elang yang sedang berjaga.


"Apa dia sudah bangun?" tanya Papa.


"Sudah Tuan" jawab anak buah Elang.


Ceklek


Papa membuka pintu lalu mengajak yang lainnya masuk.


Silvi sedang duduk bersandar di tempat tidurnya.Tubuhnya sangat kurus,wajah pucat, mata yang cekung dan rambut panjang yang terurai.


"Kalian datang?" tanya Silvi dengan nada lirih.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mama sambil duduk di kasur Silvi.


"Silvi merasa tubuh Silvi semakin lemah Ma" jawab Silvi.


"Daddy orang ini yang semalam ada di mimpi Revan" tiba-tiba Revan berbicara.


Elang dan Rere saling pandang lalu melihat ke arah Silvi.


"Mimpi apa?" tanya Papa.


"Revan bermimpi kalo Silvi datang menemuinya" jawab Elang.


"Apa ini orang yang Daddy bilang Maminya Revan?" tanya Revan pada Elang.


"Iya Nak,dia Maminya Revan.Namanya Mami Silvi" jawab Elang.


Revan mendekati kasur Silvi lalu berdiri di sampingnya.


"Mami sakit apa?" tanya Revan.


Tik...


Air mata Silvi menetes saat mendengar Revan memanggilnya Mami.


"Revan panggil aku Mami?" tanya Silvi seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kata Daddy sama Mommy begitu,Revan harus panggil Mami" jawab Revan polos.


"Terima kasih Lang...terima kasih Re,kalian sudah mau merawat Revan seperti anak kalian sendiri.Maafkan kesalahan yang aku lakukan pada kalian semua" ucap Silvi lirih.


Elang,Rere,Papa dan Mama pun mengangguk bersamaan.


"Kami semua sudah memaafkanmu Silvi" kata Mama.


"Terima kasih Ma" ucap Silvi.


"Boleh Mami dengar Revan sekali lagi panggil dengan sebutan Mami?" tanya Silvi pada Revan.


"Mami cepet sembuh ya biar bisa main ke rumah Revan.Di rumah Revan ada adik kembar pasti nanti Mami suka" celoteh Revan.


"Iya,nanti kalo Mami sudah sembuh Mami akan berkunjung ke rumah Revan dan bermain dengan adik kembar" kata Silvi sambil menitikkan air matanya.


Mama menaikkan Revan ke atas kasur dan membiarkan Silvi memeluk tubuh Revan.


"Revan jadi anak yang baik ya,Revan harus nurut sama Daddy juga Mommy.Revan harus jadi Abang yang baik untuk adik kembar" kata Silvi sambil mengusap kepala Revan.


"Iya Mami" jawab Revan.


"Lang...Re...aku titip Revan pada kalian.Tolong jaga dan rawat Revan seperti kalian menjaga anak kalian sendiri.Aku percayakan Revan pada kalian berdua" kata Silvi.


"Kita akan rawat Revan sama-sama Mbak,kita akan besarkan Revan bersama" kata Rere.


Silvi menggeleng sambil tersenyum lalu kembali menatap wajah Revan.


Cup


Silvi mencium kening Revan,setelah itu Silvi mencium kedua pipi Revan.


"Apa Mami boleh peluk Revan?" tanya Silvi.


"Boleh Mami" jawab Revan yang langsung memeluk Silvi.


Silvi membalas pelukan Revan dengan erat.Cukup lama Silvi memeluk Revan.


"Oma tolong,Mami berat" kata Revan.


"Silvi...Silvi..." Mama menguncangkan tubuh Silvi tapi tidak ada jawaban.

__ADS_1


Kepala Silvi tertunduk dan masih memeluk Revan.


"Pa tolong" teriak Mama.


Papa dan Elang mendekati Silvi dan Revan.


"Silvi...kamu tidur? Nak bangun nak.Silvi" kata Papa sambil menepuk pipi Silvi,matanya terpejam.


Elang memegang pergelangan tangan Silvi lalu mengecek denyut nadinya,sudah tidak ada.


"Pa,Silvi sudah pergi" kata Elang.


Papa langsung menekan tombol darurat dan tidak lama kemudian Dokter pun datang dan langsung memeriksa Silvi.


"Maaf Tuan,Pasien ini sudah meninggal" kata Dokter.


Mama dan Rere mendekati jasad Silvi.


"Pergilah dengan tenang nak,kami akan menjaga Revan seperti yang kamu minta" ucap Mama sambil membelai rambut panjang Silvi.


"Telpon Siska dan suruh dia menyiapkan semuanya,kita bawa Silvi pulang" perintah Papa.


"Baik Pa" kata Elang.


Elang pun menelpon Siska dan yang lainnya setelah itu dia keluar untuk mengurus kepulangan Silvi.


"Mommy,Mami kenapa?" tanya Revan.


"Mami Revan sudah pergi ke syurga sayang" jawab Rere sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Apa Mami Revan meninggal?" tanya Revan lagi.


"Iya nak,Mami Revan pergi ke syurga.Revan doain Mami ya supaya Mami Revan tenang disana" jawab Mama.


"Iya Oma" kata Revan.


Setelah mengurus semuanya,akhirnya jenazah Silvi pun di bawa pulang ke rumah Papa Danu.


"Kalian pulang pakai mobil,biar Papa yang bersama Silvi di ambulans" kata Papa.


Mama,Rere dan Elang pun mengangguk bersamaan dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Kita ikuti ambulans itu Harun" perintah Elang.


"Baik Tuan" jawab Harun.


Harun mengemudikan mobilnya dan mengikuti ambulans yang membawa jenazah Silvi dari belakang.Rere duduk di belakang sambil memeluk tubuh Revan.Tidak lama kemudian mereka pun sudah sampai di rumah.


"Mommy kenapa rumah Oma ramai sekali,apa kita mau pesta?" tanya Revan saat melihat rumah Papa sudah ramai.


"Bukan pesta sayang,tapi mereka mau melihat Mami Revan" jawab Elang.


Elang dan Rere mengajak Revan untuk turun.


"Apa orang tuanya sudah kamu beritahu Lang?" tanya Papa.


"Elang tidak punya kontak Om Surya Pa,tapi Elang tadi sudah menelpon Bunda dan kata Bunda dia yang akan menghubungi Om Surya" tutur Elang.


Drtt


Ponsel Elang bergetar,satu pesan masuk ke ponselnya.Elang langsung membacanya.


đŸ“¥Bunda


"Surya tidak bisa datang,dia berpesan agar Silvi segera di makamkan dan tidak usah menunggunya"


Elang memasukkan ponselnya ke saku celananya lalu membisikkan sesuatu pada Papa.


"Baiklah,Papa akan langsung mengurus pemakamannya" kata Papa.


Elang masuk ke dalam rumah untuk mencari Rere.


"Mbak Siska lihat Rere gak?" tanya Elang.


"Tadi masuk kamar bersama Revan Tuan dan Baby twins juga sudah ada di kamar" jawab Siska.


Elang berjalan menuju kamarnya lalu membuka pintu.


"Kalian ternyata ada disini" kata Elang.


Rere mengamati Revan dan sedang bermain dengan Kiandra dan Winara,sesekali terdengar tawa dari mulutnya saat melihat hal yang menurutnya lucu.


"Dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa artinya meninggal dan dia juga masih terlalu kecil untuk tau apa artinya ditinggalkan" kata Elang sambil duduk di samping Rere.


"Kasihan Revan,harus ditinggal pergi oleh ibunya di saat dia masih sekecil ini" kata Rere.


Elang memeluk tubuh Rere lalu mencium puncak kepalanya.

__ADS_1


"Kita orang tuanya sekarang,benarkan?" tanya Elang.


Rere mengangguk lalu membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Elang.Rere menagis terisak dalam pelukan suaminya.Bayangan saat meninggalnya Ayah Johan dan Bunda Sarah terlintas kembali diingatannya.Elang mengelus punggung Rere untuk memberinya kekuatan.


__ADS_2