
Edo membawa Rima ke dalam kamar dan membaringkannya di atas kasur.Tubuh Rima sangat lemah dan suhu tubuhnya pun terasa panas,Rima demam.
"Parjo,dimana kamu" teriak Edo.
Elang dan Rere yang tadi sudah masuk kamar keluar mendengar teriakan Edo.
"Apa Rima sudah kamu temukan Do?" tanya Rere.
"Hemmm...Dia ada di kamarnya" jawab Edo.
Parjo datang tergopoh-gopoh menghampiri Edo.
"Ada apa tuan?" tanya Parjo.
"Panggilkan dokter yang ada di daerah sini,Rima demam"perintah Edo.
Rere masuk ke kamar Rima setelah mendengar kalo sahabatnya itu demam.Elang mengajak Edo duduk di kursi yang ada di teras.
"Sebenarnya siapa Devi,kenapa dia bisa bilang kalo dia sering bersamamu?" tanya Elang.
"Aku juga tidak terlalu mengenalnya Lang,dia sering datang untuk membantu Bi Romlah,aku juga bingung mendengar penjelasan dari rere tadi" jawab Edo.
"Apa aku juga mengenalnya?" tanya Elang.
"Dia keponakan pak boim Lang yang sering datang kemari,yang kecentilan dan gak mau diem kayak ulet keket.Sudah berulang kali aku melarangnya datang eh dia datang lagi ternyata" jawab Edo.
"hahaha...Dia rupanya.Penggemarmu nomor satu itu Do" kata Elang sambil tertawa.
"Sialan kamu Lang" kata Edo sambil meninju bahu Elang.
Disaat mereka sedang asyik ngobrol,Parjo datang bersama seorang laki-laki.
"Maaf Tuan lama menunggu,pak dokternya tadi lagi ada pasien" kata Parjo.
Edo melihat kearah dokter yang terlihat masih muda itu,wajahnya cukup tampan.
"Apa tidak ada dokter perempuan?" tanya Edo.
"Masuk dok,jangan dengarkan dia.Pasien lebih membutuhkan dokter daripada pria konyol ini" kata Elang menyuruh dokter itu untuk memeriksa Rima.
Parjo mengantar dokter ke kamar Rima,Elang dan Edo mengikutinya dari belakang.
"Jangan masuk kalo cuma mau bikin ribut" Elang mengingatkan Edo sambil mencegah Edo masuk ke kamar Rima.
"Tapi dokter itu laki-laki Lang dan dia masih sangat muda" ucap Edo.
Elang menarik Edo menjauh dari kamar Rima.
"Apa kamu pikir Rima cewek murahan,yang mau kepada setiap laki-laki.Apa kamu pikir dia tidak akan sakit hati melihat sikapmu yang seperti ini,ingat Do kamu hadir untuk menyembuhkan lukanya bukan untuk menorehkan luka yang baru" tutur Elang sambil mengecilkan suaranya,Dia takut Rima atau yang lain mendengarnya.
"Kalo kamu hanya akan menyakitinya dengan alasan cintamu yang konyol itu,lebih baik kamu mundur saja Do.Cinta tidak pernah membuat orang yang di cintainya terluka,pikirkan lagi Do.Kamu mencintai Rima atau hanya terobsesi saja" ucap Elang sambil berjalan meninggalkan Edo.
"Aku hanya tidak ingin milikku di sentuh orang lain,apa aku salah" gumam Edo lirih.
"Sebelum kamu,sudah ada pria yang menyentuh bahkan bercinta dengannya,jangan berlebihan" kata Elang yang mendengar gumaman Edo.
"Itu telinga ceo masih aja denger orang bicara selirih apapun" celetuk Edo sambil mengikuti Elang.
Dokter sudah selesai memeriksa Rima dan memberinya beberapa macam obat.
"Ini semua di minum setelah makan,istirahat yang cukup agar cepat pulih" pesan Dokter.
"Terima kasih Dok" ucap Rere.
Rima terbaring lemah di kasurnya dan menatap kosong ke atas.
Edo masuk ke dalam kamar setelah dia mengantar dokter sampai kedepan rumahnya.
"Sayang ayo kita keluar" ajak Elang pada Rere.
__ADS_1
Rere mengikuti suaminya keluar kamar,Edo duduk di tepi kasur.Dia membelai rambut Rima lalu mengecup kening Rima.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu" ucap Edo lirih.
Rima menatap mata Edo,kemudian dia tersenyum.Rima bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Kamu tidak salah Kak,akulah yang salah terlalu berharap lebih padamu" ucap Rima lemah.
"Sudah nanti lagi ngobrolnya,kita makan dulu yuk" ajak Rere yang tiba-tiba masuk lagi kedalam kamar.
"Kamu ya Re ganggu orang lagi pacaran aja" kata Edo kesal.
"Pacaran darimananya,ngomong udah kayak lagi lebaran aja,maaf-maafan" celetuk Rere.
Rima tersenyum melihat perdebatan dua insan di depannya.
"Aku keluar dulu ya,mau ambil makan malammu.Tunggu disini" kata Edo.
"Kak aku makan di luar saja,aku sudah agak baikan kok" kata Rima sambil turun dari kasur.
Edo langsung menggendong Rima menuju ruang makan dan mendudukannya di kursi.Devi kebetulan masih ada disitu,matanya terlihat sinis melihat kearah Rima.
Rere duduk di samping Elang lalu dia menyenggol Elang pakai sikunya.
"Bang Edo,Devi ambilkan ya makanannya" kata Devi dengan nada genit.
"Bi Romlah...Bi" teriak Edo tanpa menghiraukan perkataan Devi.
Bi Romlah berlari tergopoh"Tuan memanggil saya,ada apa tuan"
"Saya mau makan dan saya paling tidak suka ada yang mengganggu makan saya,mengerti.Dan siapa yang sudah mengizinkan dia masuk ke rumah ini" kata Edo sambil menunjuk ke arah Devi.
"Maaf tuan dia yang memaksa masuk" jawab Bi Romlah ketakutan.
"Bawa dia keluar atau kamu saya pecat" ucap Edo tegas.
"Awas aja kamu ya Bang Edo,aku gak akan nyerah.Dan kamu perempuan gatel tunggu pembalasanku" gumam Devi sambil meninggalkan rumah Edo.
"Besok pagi kita pulang ya" kata Elang.
"Tapi aku masih pengen disini sayang" rengek Rere.
"Tapi Rima sedang demam sayang dia harus di rawat,dia tidak bisa sembuh jika hanya minum obat saja" kata Elang beralasan.
"Aku tidak apa-apa Mas Elang,aku hanya butuh istirahat saja.Lagipula aku juga masih betah disini" tutur Rima.
"Ya sudah kalo itu keputusan kalian,kami para laki-laki ini bisa apa,ayo lanjutkan makannya" ucap Elang.
Mereka melanjutkan makan malam sambil bercanda,Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di luar.
"Woy orang kota,keluar kalian.Jangan bikin kotor kampung kami" teriak orang di luar sana.
"Ada apa kok rame-rame,Parjo coba kamu lihat mereka" kata Edo.
Parjo langsung melihat keributan yang terjadi di depan rumah dan menanyakan apa yang terjadi.
"Suruh majikan kamu keluar Parjo,mereka sudah mengotori kampung kita" teriak salah satu bapak yang ada di situ.
"Ada apa ini" tiba-tiba Edo dan Elang sudah ada disitu.
"Nah ini dia orangnya Bapak-Bapak yang sudah berzina di kampung kita" teriak Devi.
"Maaf nak Edo,Bapak mendengar dari salah satu warga katanya nak Edo membawa perempuan masuk ke rumah ini dan tidur bersama,apa benar demikian nak?" tanya Pak Komar selaku ketua Rt di lingkungan itu.
Edo menghela nafasnya.
"Saya mau bertanya sama pak Rt,apa di rumah pak Rt tidur terpisah dengan bu Rt? apa suami yang tidur dengan istrinya disebut berzina?" tanya Edo.
Mereka yang berada disana terkejut mendengar pertanyaan Edo,termasuk Elang,Rere juga Rima.Mereka tidak mengerti maksud perkataan Edo.
__ADS_1
"Halah jangan dengarkan dia pak komar,jelas-jelas mereka belum menikah" kata Devi berapi-api.
Edo masuk ke dalam rumah kemudian keluar lagi dan menyerahkan sesuatu pada Pak Komar.Wajah pak Komar memerah saat melihat benda yang di berikan Edo padanya.
"Jadi kalian sudah menikah,Kalian sepasang suami istri?" tanya Pak Komar.
"Bapak bisa lihat sendiri di buku itu dan Bapak bisa mengecek keasliannya" jawab Edo.
"Devi,kamu sudah menipu kami.Dasar perempuan gak tau malu.Boim kamu ajari keponakanmu yang satu ini.Selalu saja bikin masalah" kata Pak Komar emosi.
Devi kabur dari kerumunan.
"Maaf bapak-bapak,ternyata Nak Edo dan wanita yang di maksud oleh Devi tadi sudah menikah.Ini buktinya" kata Pak Komar sambil mengangkat buku nikah yang ada di tangannya.
"Huuuu...bubar bubar,bikin malu saja" celoteh bapak-bapak yang ada di situ lalu pergi meninggalkan rumah Edo.
"Nak Edo maafkan keponakan bapak ya,bapak tidak tau apa maksud di balik semua ini" kata pak Boim mendekati Edo.
"Tidak apa-apa Pak Boim,untuk kali ini saya maafkan tapi tidak untuk lain kali" ucap Edo.
"Kalo begitu kami permisi dulu Nak Edo,maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya" kata Komar sambil berlalu pergi.
Edo masuk ke dalam Rumah diikuti Elang,Rere dan Rima.
"Do kapan kamu menikah dengan Rima?" tanya Elang penasaran.
Edo duduk di sofa ruang tamu.
Rima mengambil buku nikah yang di pegang Edo.Dia membolak-balik buku yang ada di tangannya.
"Asli dan ini tanda tanganku juga asli,kapan aku menandatanganinya Kak?" tanya Rima.
"Apa kamu ingat Papa irfan memintamu untuk menandatangani buku ini?" tanya Edo balik bertanya.
"Tapi kata Papa itu buku nikah aku dan Juragan Eman agar aku bisa mendapatkan surat dari pengadilan yang menyatakan kalo kami sudah bercerai?" kata Rima bingung.
"Gimana caranya kamu bercerai dengan orang yang sudah meninggal Rima?" tanya Rere dengan wajah polosnya.
"Aku hanya perlu datang ke pengadilan dan membawa surat pernyataan bahwa Juragan Eman sudah meninggal,dan nanti pengadilan yang mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa aku sudah janda.Itu kalo dalam bahasa sehari-hari namanya cerai mati Re" jawab Rima.
"Trus tu buku nikah kapan bikinnya?" tanya Elang.
"Seminggu sebelum aku membawa Rima kemari itupun atas permintaan Om Irfan dan Om irfan pun menyaksikan aku mengucapkan ijab kabul" jawab Edo santai.
"Tapi Papa tidak mengatakannya padaku" kata Rima.
"Berarti sekarang kalian sudah sah suami istri dong?" kata Rere.
"Begitulah kira-kira,Tapi jika Rima meragukan Pernikahan ini jami bisa menikah ulang atau membatalkan pernikahan ini" jawab Edo sambil melirik kearah Rima.
"Ehmm...sayang mataku sudah mengantuk,ayo kita tidur" ajak Elang pada Rere.
"Nanti dulu sayang,aku masih penasaran" kata Rere.
Elang langsung mengangkat tubuh Rere tanpa izin dan membawanya masuk ke kamar.
"Jangan ganggu mereka,biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka.Dan kamu juga harus membantu aku untuk menyelesaikan masalahku" kata Elang sambil merebahkan tubuh Rere di kasur.
"Kamu ada masalah sayang,masalah apa?" tanya Rere panik.
"Masalah surat izin untuk menjenguk junior" jawab Elang sambil langsung mengecup bibir Rere singkat.
Rere tersenyum sambil menangkup pipi Elang.
"Surat izin sudah keluar sayang"ucap Rere dengan nada genitnya.
"Hajar Jon" kata Elang langsung menciumi Rere dan melepaskan satu persatu kancing baju Rere.
Rere membalas ciuman Elang dan malam yang panas penuh cinta pun terjadi.
__ADS_1