Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 139


__ADS_3

Elang,Rere dan anak-anak sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya.Revan bernyanyi dengan riang gembira sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Tadi pagi aku sudah telpon Bunda dan menanyakan tentang Sari" tutur Rere.


"Apa jawaban Bunda?" tanya Elang tanpa menoleh,dia sedang fokus menyetir.


"Bunda bilang,dulu saat Sari masih bersama suami pertamanya memang dia pernah periksa ke Dokter dan Dokter yang bilang kalo Sari mandul" jawab Sari.


"Tapi itu hanya kata Dokter saja kan?" tanya Elang.


"Iya sayang,tapi Bunda juga bilang kalo mantan suami Sari juga tidak punya anak dengan istri pertamanya kalo menurut prediksi Bunda sih mantan suami Sari yang mandul" tutur Sari.


"Mudah-mudah saja begitu" kata Elang.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumahnya,Rere mengajak Revan turun.Elang membawa Baby twins ke dalam rumah.


"Kalian sudah kembali?" tanya Elang saat melihat Romlah,Diah dan Nia sedang membersihkan rumah.


"Sudah Tuan" jawab Mereka bertiga bersamaan.


"Nia itu guci gak usah di elus terus,gak ada mbah jin di dalamnya" seloroh Elang pada Nia yang sedang mengelap guci.


"Siapa tau aja keluar pria tampan Tuan" kata Nia.


"Kamu ya ada-ada saja.Gak perlu di bersihkan tiap hari tu guci,kan gak kotor juga" kata Elang.


"Jadi saya harus kerja apa Tuan?" tanya Nia.


"Bikinin kopi gih" jawab Elang.


"Kalo Nia yang bikin kopi trus Nona ngapain?" tanya Nia.


"Dia bertugas pijit memijit" jawab Elang.


"Maunya kamu itu mah" celetuk Rere.


"Emang kamu gak mau pijitin suamimu yang tampan ini?" tanya Elang.


"Harus ada upahnya" jawab Rere sambil berjalan menuju sofa.


"Apa upahnya?" tanya Elang lalu duduk di samping Rere.


Rere melihat ke arah Elang sambil tersenyum.


"Pasti gak beres nih kalo udah senyum-senyum begini" oceh Elang.


"Mau di pijitin gak nih?" tanya Rere.


"Tapi upahnya apa?" tanya Elang.


"Anterin aku ke makam Ayah dan Bunda Sarah" jawab Rere.


"Itu doang mah gampang,besok juga kita bisa pergi kesana" kata Elang.


"Tapi...." Rere menggantung kata-katanya.


"Tapi kenapa sayang?" tanya Elang.


"Kita nginep ya biar bisa ke pasar malam" jawab Rere sambil cengengesan.


"Alasan aja tuh mau ke makam Ayah dan Bunda Sarah,tujuan utamanya tetap saja pasar malam.Iya kan?" tanya Elang.


"Hehe...Ya sekalian sayang.Lagipula aku udah lama gak ke pasar malam,apa lagi semenjak nikah selalu mall dan mall yang aku datangi" tutur Rere.


"Nia mana kopinya,lama amat.Bikin kopi apa tanam kopi nih?" teriak Elang.


"Kopinya habis Tuan" jawab Nia.


"Astaga...maaf sayang aku lupa membelinya" ucap Rere sambil menepuk keningnya.


"Beli kopi yok,tapi pake motor" ajak Revan yang tiba-tiba muncul.


"Ini bocah girang banget kalo naik motor" celetuk Elang.


"Bagus dong sayang,berarti dia gak sombong dan mau hidup sederhana" kata Rere.


"Ayo lah kalo gitu,ambilin handuk kecil Daddy" kata Elang.


"Untuk apa handuk kecil?" tanya Rere dan Nia bersamaan.


"Untuk ngelap keringet pas jaga parkir nanti" jawab Elang sambil berjalan keluar rumahnya.


"Nona stres gak sih punya suami konyol begitu?" tanya Nia.


"Ya enggaklah,malah asyik kita bisa ketawa terus" jawab Rere.


Nia manggut-manggut.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Rere.

__ADS_1


"Sudah sih tapi ya gitu deh antara serius dan nggak" jawab Nia.


"Kok bisa gitu,emangnya kenapa?" tanya Rere.


"Gak ada apa-apa sih Non,cuma gak terlalu di seriusin aja.Takut kecewa" jawab Nia.


Gantian Rere yang manggut-manggut.


Nia kembali bergabung bersama Diah dan Romlah yang sedang membersihkan rumah.


Beberapa menit kemudian Elang dan Revan masuk ke rumah sambil menenteng bungkusan di tangannya.


"Banyak amat beli kopinya?"tanya Rere.


"Ini es teler sayang bukan kopi" jawab Elang.


"Trio wek-wek kemari kalian" panggil Elang pada Diah,Nia dan Romlah.


"Siapa trio wek-wek?" tanya Rere.


"Tu mereka bertiga" jawab Elang sambil menunjuk ke arah Romlah,Diah dan Nia.


"Sembarangan Si Bos ih pake ganti nama orang seenaknya,kalo mau ganti nama harus potong kambing Tuan" celetuk Diah.


"Jangankan kambing,sapi pun bisa kita potong" kata Elang.


"Wah enak tuh,kita bisa bikin sate" kata Romlah.


"Kalian pengen sate?" tanya Rere.


"Iya,tapi yang bikin sendiri bukan yang beli" jawab Romlah.


"Ajak Pak Harun ke pasar,beli daging yang banyak.Nanti malam kita bakar sate" kata Elang.


"Beneran Tuan?" tanya Nia.


"Iya" jawab Elang.


Elang membagi es teler pada ketiga pelayan di rumahnya,setelah itu mereka menikmati es teler bersama-sama.


"Nih uangnya" kata Elang sambil memberi beberapa lembar uang pada Diah.


"Ini serius Tuan?" tanya Diah.


"Serius...Beli agak banyak ya aku akan mengajak Edo,David,dan Haris juga" jawab Elang.


Diah berjalan menuju samping rumah untuk menemui Pak Harun.Diah meminta Pak Harun untuk mengantarkannya beli daging untuk bikin sate.


"Kenal dong,kan Sari dan orang tuanya tinggal di rumah khusus karyawan Bunda" jawab Romlah.


"Apa kamu juga kenal mantan suami Sari?" tanya Elang.


"Kenal sih enggak Tuan,tapi Romlah tau" jawab Romlah.


"Bagaimana orangnya?" tanya Elang.


"Sejauh yang Romlah tau sih orangnya baik...yang kenal deket sama mantan Mbak Sari mah Nia Tuan" kata Romlah.


"Kok Nia sih?" protes Nia.


"kan rumah kamu yang paling dekat sama rumah Mbak Sari waktu Mbak Sari masih tinggal sama mantan suaminya dulu" kata Romlah.


"Iya sih" kata Romlah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bagaimana orangnya?" tanya Rere.


"Baik,ramah trus suka bergaul juga sama orang-orang di kampung" jawab Nia.


"Dia bukan asli kampung kalian?" tanya Elang.


"Kayaknya bukan deh,soalnya Nia kenal dia setelah dia nikah sama Mbak Sari" jawab Nia.


"Tapi ada juga yang bilang kalo mantan suami Mbak Sari itu galak,dia sering marah-marah sama Mbak Sari.Warga kampung sih bilang Mbak Sari gak punya anak bukan karena mandul tapi karena stres dan bathinnya tertekan.Apalagi saat tahu kalo ternyata lelaki yang selama ini bersamanya sudah punya istri sebelum dia menikah dengan Mbak Sari,Mbak Sari jadi sering melamun" tutur Nia lagi.


Elang dan Rere manggut-manggut mendengar penuturan Nia.


"Berarti peluang Sari untuk hamil sangat besar,lagi pula Sari dan David baru sekitar tiga bulan menikah.Masih banyak waktu" kata Elang.


"Mudah-mudahan saja Mbak Sari cepat hamil,apalagi Tuan David sangat baik dan sayang pada Mbak Sari"kata Romlah.


"Ya sudah kalian lanjut lagi ngobrolnya sambil nunggu Diah pulang,aku mau menelpon David dan yang lainnya" kata Elang sambil berjalan menuju ruang kerjanya.


"Kita siapkan bumbu aja yuk,biar gak kelabakan ntar malem" kata Romlah pada Nia.


"Ya sudah pergilah sana ke dapur,anak-anak biar aku yang jaga" kata Rere.


"Revan ikut Mbak Romlah" kata Revan.


"Mau ngapain ikut Mbak Romlah ke dapur?" tanya Rere.

__ADS_1


"Mau bantu Mbak Romlah kupas bawang" jawab Revan.


"Emang Revan tau bentuk bawang ginana?" tanya Rere lagi.


"Tau dong Mommy, Revan sering ikut masak Mbak siska kalo sedang di rumah Oma" jawab Revan.


Romlah menggandeng tangan Revan menuju dapur.Tidak lama kemudian Diah datang sambil menenteng bungkusan daging di tangannya.Diah membawa daging itu ke dapur untuk di bersihkan.


Malam pun tiba,


Selesai shalat isya Elang,Rere dan yang lainnya pergi ke halaman belakang.Sesuai rencana siang tadi kalo malam ini mereka akan bikin sate.


"Mana David dan yang lainnya,kok belum datang?" tanya Rere.


"Mungkin masih di jalan" jawab Elang.


"Aku bantuin mereka ya?" kata Rere.


"Iya sayang" jawab Elang.


Rere menghampiri Diah,Nia dan Romlah yang sedang mempersiapkan panggangan.


"Perlu bantuan gak?" tanya Rere pada ketiga pelayan di rumahnya itu.


"Telaaaattt!!!" jawab Romlah,Diah dan Nia bersamaan.


"Dih gitu amat,jangan sewot-sewot ntar cepet tua lo" seloroh Rere.


"Yang lainnya belum datang Non atau gak jadi datang?" tanya Romlah.


"Mungkin mereka masih di jalan" jawab Rere.


Rere membantu Diah membuat sambal,Nia bertugas menghidupkan bara api sedangkan Romlah bertugas menusuk satenya.Tidak lama Edo,Rima,Haris dan Rianti pun datang.


"Hai kok bisa barengan gitu datangnya,"tanya Elang


"Tadi ketemu di depan jadi sekalian aja barengan masuknya" jawab Haris.


"David belum datang" tanya Edo.


"Belum,mungkin sebentar lagi" jawab Elang.


Rima dan Rianti bergabung bersama Rere.


Tidak lama David dan Sari pun datang.


"Duh sorry Bro,kejebak macet" kata David.


"Gak apa-apa,lagipula kita juga belum mulai kok" kata Elang.


"Emangnya ada acara apa Bang?" tanya Sari.


"Bukan acara apa-apa sih,cuma tadi siang tu trio wek-wek pingin bikin sate,ya udah Abang undang aja kalian biar rame" jawab Elang.


"Pantesan betah orang-orang yang bekerja padamu Lang,kamu baik gitu" kata Haris.


"Harus dong,membuat orang bahagiakan pahala.Coba kamu lihat wajah mereka bertiga,terlihat sangat bahagia kan?" kata Elang.


Rere dan tiga pelayannya mulai memanggang sate.Harumnya bumbu dan gurihnya daging mulai tercium dan menusuk ke dalam hidung.Rima mengipasi bara Api,Rianti membagi sambal ke beberapa wadah.


Howek...howek...


Tiba-tiba Sari mual dan muntah.


Sari berlari ke kran air yang ada di sekitar situ.


"Sayang kamu kenapa?" tanya David.


"Entahlah,tiba-tiba aku mual mencium aroma sate itu" jawab Sari.


"Kamu kenapa Sari?" tanya Elang dan Rere bersamaan.


Rima,Rianti dan yang lainnya hanya melihat dari kejauhan sambil melanjutkan memanggang satenya.


"Gak tau Bang,tiba-tiba aja Sari mual saat mencium aroma sate yang sedang di kipasi Rima" jawab Sari.


"Jangan-jangan kamu hamil Sari.Soalnya setau Abang kamu pecinta sate,gak mungkin kan tiba-tiba mual hanya karena mencium aroma sate" kata Elang.


"Iya Mbak Sari,bukannya Mbak suka banget sama sate ya" Rere menimpali.


"Gak mungkin Re Mbak hamil,Mbak aja baru selesai datang bulan" jawab Sari.


Aroma sate terbawa angin dan tercium oleh Sari.Sari kembali mual dan muntah.


"Kita pulang aja ya?" ajak David.


Sari mengangguk lemas.


"Maaf ya Lang,aku gak bisa gabung sampe selesai.Aku harus pulang,kasian Sari kalo di sini terus" kata David.

__ADS_1


"Pulanglah dan kamu Sari langsung istirahat" kata Elang.


David menggandeng Sari lalu pergi dari situ.David dan Sari masuk ke mobilnya setelah itu David langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.Sari duduk bersandar di kursinya,tubuhnya terasa sangat lemas sekali.Setelah sampai di rumah David langsung turun dari mobilnya dan menggendong tubuh Sari menuju kamarnya.Sesampainya di kamar David merebahkan tubuh Sari di kasur dan Saripun langsung tertidur.


__ADS_2