Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 166


__ADS_3

Gedung Empat Sekawan sudah selesai dan malam ini adalah malam peresmian gedung yang nantinya akan menjadi apartemen sekaligus pusat perbelanjaan itu.Elang cs sebagai pemilik gedung sudah hadir di sana bersama keluaga mereka.


Banyak tamu undangan yang hadir di sana,kebanyakan dari mereka adalah rekan bisnis juga para petinggi daerah.


"Lang" sapa Wildan yang baru sampai.


"Hai Wil...hai Arumi, selamat datang dan selamat menikmati acara yang ada" kata Elang.


Acara demi acara terus berlangsung,setelah acara sambutan,acara inti selesai kini tiba waktunya acara penutupan yang di isi oleh para artis ternama dan grup band terkenal.


"Wildan" tiba-tiba datang seorang wanita menghampiri Wildan dan Arumi.


"Hai" kata Wildan santai.


Wanita di depannya adalah salah satu dari sekian banyak gadis penghibur Wildan.


"Kenapa sekarang kamu sulit di hubungi sayang,aku merindukanmu" kata Wanita itu.


"Aku sudah menikah sekarang dan aku tidak mau jadi laki-laki brengsek yang meninggalkan istriku di rumah hanya untuk menemui wanita malam sepertimu" kata Wildan.


Plakk!!!


Wanita itu menampar pipi Wildan.


"Kurang ajar kamu Wil,kamu buang aku seperti sampah setelah kamu puas menikmati tubuhku" kata Wanita itu geram.


"Apa kamu bilang,seperti sampah.Bukankah kamu memang sampah yang aku pungut dari tempat hina,aku bawa kau pulang dan meninggalkan tempat menjijikkan itu,apa kamu lupa.Dan perlu kamu tahu,sebejat-bejatnya seorang laki-laki dia tetap akan memilih perempuan baik-baik untuk dijadikan istrinya.Karena apa karena perempuan yang baik akan memberikan keturunan yang baik dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya,bukan kebahagian semu dan sesaat" tutur Wildan.


Wildan menarik tangan Arumi dan langsung mengajaknya keluar dari tempat acara.


"Wili apa bicaramu tidak terlalu kasar padanya?" tanya Arumi.


"Dia memang harus dikasari Arumi" jawab Wildan yang langsung mengemudikan mobilnya.


"Tapi perkataanmu bisa melukai dan menyakiti hatinya Wil" kata Arumi.


Ciiitt...


Wildan mengerem mobilnya secara mendadak.


Wildang mengarahkan tubuhnya ke arah Arumi.


"Lebih baik aku menyakitinya daripada aku harus menyakiti hatimu Arumi.Apa kamu masih belum mengerti Arumi,yang aku Cintai dari masa sekolah dulu bukan Silvi tapi kamu.Silvi hanya aku jadikan pelampiasan saja,karena hatiku sakit melihatmu bersama Leon" kata Wildan sedikit meninggikan suaranya.


"Wildan" kata Arumi,dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Mungkin terdengar gila tapi aku mencintaimu dari sejak kita SMP dulu,sejak Elang berpacaran dengan Alya.Sekarang umur kita sudah tiga puluh tujuh tahun Arumi,berapa tahun aku menantimu,berapa tahun aku menahan sakit hati melihatmu bersama Leon.Aku hancur Arumi,kamu yang membuatku jadi seperti ini" kata Wildan,matanya mulai mengeluarkan bulir beningnya.


"Maafkan aku Wildan,maaf" ucap Arumi lirih.


Wildan kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Wili kita bisa mati" teriak Arumi saat Wildan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Aku tidak peduli" kata Wildan yang sudah di kuasai emosi.


"Tapi aku peduli Wildan,turunkan aku di sini Wildan.Karena aku harus tetap hidup demi Andre" teriak Arumi.


Ciiitt...


Wildan mengerem kembali mobilnya,suara decitan ban yang bertemu aspal jalanan pun nyaring terdengar di telinga.


"Turunkan aku Wildan,aku gak mau mati sekarang....Hiks...." pinta Arumi yang mulai menangis.


"Arumi...maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut.Maafkan aku Arumi" kata Wildan yang langsung menarik tubuh Arumi ke dalam pelukannya.


Setelah Arumi mulai tenang Wildan kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah.Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah dan Arumi langsung turun dari mobilnya.Arumi berlari masuk ke kamarnya dan langsung naik ke kasurnya.


"Arumi,aku minta maaf.Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu Arumi" kata Wildan lalu berjongkok di samping kasur Arumi.


"Sedalam itukah aku menyakiti hatimu Wil?" tanya Arumi.


Wildan menggeleng.

__ADS_1


"Kalo kamu mencintaiku kenapa setelah kita menikah kamu masih menemui wanita-wanitamu di luar sana?" tanya Arumi lagi.


"Aku menemui mereka bukan untuk bercumbu Arumi,aku menemui mereka karena ingin memutuskan mereka secara baik-baik.Dan aku juga menghindarimu Arumi,karena setiap bersamamu aku tidak bisa menahan gairahku.Aku takut kamu berpikir jika aku menikahimu hanya karena ***** belaka bukan karena cinta" jawab Wildan.


Kringg...


Ponsel Wildan berdering.Jam sudah menunjukan pukul dua belas tengah malam.


📞"Hallo Lang" jawab Wildan pada Elang yang menelponnya.


📞"Kamu dimana Wil,acara belum selesai kamu sudah menghilang?" tanya Elang dari sebrang telpon.


📞"Aku sudah pulang Lang,Arumi sudah ngantuk.Lagipula dia tidak boleh terlalu lelah Lang,kamu tau itu" Wildan beralasan.


📞"Okelah kalo begitu,besok jangan lupa temui aku di kantor" kata Elang.


📞"Oke Lang" kata Wildan.


Wildan meletakkan ponselnya dan Arumi sudah tidak ada di kasurnya.


"Arumi" Wildan mencari Arumi di kamar mandi tapi tidak ada.


Wildan keluar dari kamarnya untuk mencari Arumi.


"Arumi" panggil Wildan.


"Aku di dapur" kata Arumi.


Wildan berjalan menuju dapur dan melihat Arumi sedang makan.


"Aku lapar" kata Arumi.


"Maaf karena perempuan tadi kamu jadi gak sempet makan" kata Wildan.


"Tidak masalah.Tapi aku harus berterima kasih padanya karena dia aku jadi tau isi hatimu dan aku tidak perlu khawatir lagi jika kamu keluar dari rumah pada malam hari" celoteh Arumi.


"Bercinta tidak harus malam hari Arumi,aku bisa bercinta kapan saja tidak peduli pagi,siang,ataupun malam" Wildan menggoda istrinya.


"Tau apa?" kata Wildan yang mulai nakal.Wildan melakukan itu karena dia melihat makanan di piring Arumi sudah hampir habis.


Wildan berdiri di belakang kursi Arumi.


"Aku tau kamu gatel" jawab Arumi.


"Karena itu aku memintamu untuk menggarukku sekarang" kata Wildan yang langsung mencium puncak kepala Arumi.


"Wil aku sedang makan" protes Arumi.


"Aku tau" jawab Wildan yang mulai memainkan aksinya.


"Wil..."kata Arumi.


Wildan menghentikan aksinya dan langsung mengangkat tubuh Arumi dan membawanya ke sofa yang ada di ruang keluarga.


"Wildan" kata Arumi.


Wildan tidak menghiraukan Arumi.Dia terus menjelajahi tubuh Arumi.Hingga akhirnya dia berhasil sampai puncak dan mengakhiri permainannya.


Keringat mengucur membasahi tubuh keduanya,nafas terengah-engah.


Jam menunjukan pukul tiga pagi,


Wildan menggendong Arumi menuju ke kamarnya dalam keadaan polos.Dan sesampainya di kamar Wildan kembali mengajak Arumi tenggelam ke dalam lautan yang penuh kenikmatan.Mereka menyelam,meneguk manisnya kenikmatan.Sejam kemudian barulah mereka selesai.


"Wili sudah,aku lelah" kata Arumi.


"Istirahatlah" kata Wildan yang langsung berbaring di samping Arumi.Karena kelelahan akhirnya mereka berdua tidur.


Pagi harinya,


Arumi membuka matanya saat mendengar bunyi bel.


"Wil...Wili bangun.Sepertinya ada tamu tu" kata Arumi.

__ADS_1


Wildan membuka matanya.


Ting tong


Bunyi bel terdengar sampai ke kamar.


Wildan bangkit dari tidurnya lalu memakai celananya saja,setelah itu Wildan keluar dari kamarnya.Arumi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Ceklek


Wildan membuka pintu.


"Enak ya pengantin baru jam segini baru bangun" cerosos Edo yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Tubuhku lelah sekali Do" kata Wildan.


"Habis berapa ronde memangnya Wil?" tanya Elang yang langsung duduk di sofa.


"Banyak" jawab Wildan asal.


Edo langsung membuka tas kerjanya dan mengeluarkan berkas-berkas yang akan mereka bahas.


"Elang...Edo...kalian datang" sapa Arumi yang baru keluar dari kamarnya.


"Ini semua gara-gara suamimu tu Rumi,janji mau datang pagi,sampai siang bolong gak nongol-nongol,makanya kami datang kemari" oceh Elang.


"Mau kopi" kata Arumi.


"Boleh tu,sekalian sama cemilannya ya Rumi" kata Edo.


"Kita mau bahas apa?" tanya Wildan


"Masalah kerja sama hotel kita Wil,sesuai perjanjian jika kamu menikah maka secara resmi hotel itu jadi milikmu seutuhnya" kata Elang.


"Tidak bisa begitu dong Lang,saham terbesar di hotel itu kamu kenapa bisa jadi milikku" kata Wildan.


"Tidak peduli saham siapa yang paling besar Wil,perjanjian dari awal sudah seperti itu" Edo menambahkan.


Arumi datang membawa kopi dan beberapa cemilan.


"Silahkan" kata Arumi.


"Terima kasih Arumi" kata Ketiga lelaki di depan Arumi.


Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.


Arumi pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Arumi" Wildan memanggil Arumi.


Arumi mematikan kompornya lalu menghampiri Wildan.


"Ada apa?" tanya Arumi.


"Kami pamit pulang dulu Arumi,sudah siang.Masih banyak yang harus kami kerjakan" kata Elang.


"Gak makan siang dulu Lang...Edo, aku sudah masak lo" kata Arumi.


"Maaf Arumi mungkin lain kali saja,aku harus menjemput Revan dan aku juga tadi sudah janji dengan Rere untuk makan siang di rumah" kata Elang.


Elang dan Edo keluar dari rumah Wildan dan langsung pergi dari sana.


"Aku lihat sepertinya mereka sudah mulai baikan Lang" kata Edo sambil mengamudikan mobilnya.


"Mudah-mudahan saja begitu" kata Elang.


"Aku dengar malam tadi Wildan bertemu salah satu gadis penghiburnya dan mereka adu mulut disana,makanya Wildan dan Arumi pulang sebelum acara selesai" tutur Edo.


"Benarkah,kenapa aku tidak tahu" kata Elang.


"Malam tadi kamu sedang menenangkan Kiandra yang sedang menangis" kata Edo.


Mereka sampai di sekolah Revan dan Revan sudah menunggu di pos satpam.Setelah Revan masuk ke dalam mobil Edo kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah Elang.

__ADS_1


__ADS_2