
Yura terbaring lemas di atas brankar,Satria terpaksa melarikannya ke rumah sakit karena Yura yang tidak berhenti muntah-muntah.Dokter memasang selang infus di tangannya.
" Kakak kenapa nangis?" tanya Yura pada Satria yang sedari tadi menggenggam tangannya,air mata mengalir dari sudut matanya.
" Kakak gak tega lihat Adek seperti ini,pasti sakit muntah terus" jawab Satria.
" Bik Emi bilang,muntah diawal kehamilan itu wajar kak,itulah perjuangan seorang ibu.Yura seneng bisa hamil dan menjadi seorang ibu,walau harus muntah-muntah seperti ini" tutur Yura.
" Ya Allah,terima kasih atas rezeki yang Engkau berikan padaku.Istri yang baik dan tidak banyak menuntut ini dan itu.Berikanlah istri hamba kekuatan agar bisa melalui semua ini,serta sehatkanlah anak hamba yang ada di dalam perutnya" doa Satria dalam hati.
Satria membelai rambut Yura dengan penuh kasih sayang," Kamu gak menyesal,karena harus menjadi ibu di usia muda.Teman-temanmu yang lain masih asyik bermain,jalan-jalan dan nongkrong bersama teman-temannya,sedangkan kamu sudah harus mengurus suami dan anak?" tanya Satria.
" Kalo mau,Yura juga bisa seperti mereka.Menjadi seorang istri tidak membuat Yura terkekang atau pun terbebani.Selama kita menikah,kakak juga gak pernah melarang Yura untuk melakukan apa yang Yura mau.Yura masih bisa melakukan semua yang mereka lakukan" jawab Yura.
" Kenapa tiba-tiba Yuranya Gema jadi dewasa begini,mana Yura yang dulu manja.Ah kakak jadi kangen Yura yang dulu" goda Satria.
Yura memanyunkan bibirnya,membuat Satria tertawa.
Pintu terbuka,Edo dan Rima masuk ke kamar inap Yura.
" Sayang,kamu gak apa-apa?" tanya Rima yang nampak cemas.
" Yura baik-baik saja Bunda,Kak Satria aja yang lebay bawa Yura kemari" jawab Yura.
" Et busyet dah,jadi salah kakak nih ceritanya" seloroh Satria.
" Oh jadi ini semua karena kamu Satria,sini kamu" kata Edo sambil menarik Satria hingga keluar dari kamar,membuat Yura jadi khawatir.
" Bunda,Ayah mau ngapain kak Satria?" tanya Yura.
" Bunda juga gak tau,biarin aja lah" jawab Rima.
Edo menarik Satria hingga menjauh dari kamar rawat Yura.
" Ada apa Yah?" tanya Satria.
Edo menghela nafasnya,kemudian menatap wajah menantunya itu,Edo mengajak Satria untuk duduk di kursi yang ada di sekitaran lorong rumah sakit.
__ADS_1
" Apa selama ini Kenzi pernah bercerita sama kamu soal Yuna?" tanya Edo.
Satria menggelengkan kepalanya," Enggak pernah tu Yah,lagi pula Kenzi gak terlalu dekat sama Satria.Satria juga sedikit menjaga jarak sama Kenzi,pengen sih lebih dekat dan lebih akrab. Tapi,Satria sadar diri dan Ayah juga sudah tau bagaimana Satria.Kalo udah akrab, ngomong suka gak terkontrol dan Satria takut menyinggung perasaan Kenzi atau pun Yuna" jawab Satria.
Edo manggut-manggut," Berarti kita satu pemikiran,Ayah juga sedikit bingung ingin mendekat pada Kenzi" ujar Edo.
" Emangnya ada apa sih Yah,kok tiba-tiba Ayah membahas soal Kenzi? apa soal kejadian di kampus waktu itu?" tanya Satria.
" Kamu tau,rumah yang mereka tempati adalah rumah yang ayah hadiahkan pada mereka dan kamu juga sudah tau semua yang ada di rumah itu ayah juga yang beli.Tanpa sepengetahuan mereka,ayah memasang cctv.Bukan untuk memantau kehidupan mereka,tapi hanya untuk berjaga-jaga saja.Secara tidak sengaja,Ayah mendengar percakapan mereka kalo ternyata Yuna menunda kehamilannya.Ayah merasa bersalah soal ini.Yuna menunda kehamilannya karena merasa hidup mereka yang masih terbilang belum mapan.Dia juga sekarang sudah tidak mau lagi Ayah kasih uang jajan.Ayah harus bagaimana?" Edo mengeluh pada menantunya.
" Yuna juga tidak mau menerima pemberian dari Yura,tapi Satria tidak habis akal seperti Ayah" ledek Satria.
" Maksud kamu apa,Bang Sat?" tanya Edo.
" Bisa gak panggil nama lengkap,enggak Bang Sat juga kali Yah" protes Satria.
" Jadi,apa rencana kamu?" tanya Edo,kini dia lebih serius.
" Satria dengar kabar kalo Yuna berminat berinvestasi di kampung orang tuanya Kenzi.Yuna berniat membeli sawah dari warga sekitar.Satria sudah bekerja sama dengan pemilik sawah,agar menjual murah sawahnya pada Yuna.Satria sudah membayar penuh sawah itu.Dengan begitu,Yuna tidak tau kalo kita sudah membantunya" tutur Satria.
" Luar biasa,kamu memang luar biasa.Terima kasih" ucap Edo.
" Sialan,mafia juga kamu ternyata" balas Edo.
" Ayah yang mengajariku" ujar Satria.
" Cepat katakan,kamu mau apa" tantang Edo.
" Beliin Satria kopi dong,Satria lupa bawa dompet.Tadi buru-buru,untung junior gak ketinggalan.Kalo ketinggalan kan bisa gawat" jawab Satria.
" Memang mantu gak ada akhlak,gak ada wibawanya sama sekali mertua di hadapanmu" ujar Edo.
Ha...ha...ha...
" Sekalian bayarin biaya rumah sakitnya ya Yah" pinta Satria sambil berlalu pergi.
Edo berdecak kagum,gak menyangka Satria yang terlihat cuek ternyata begitu peduli pada Yuna.
__ADS_1
" Aku tidak salah karena sudah memilihmu" gumam Edo sambil memandang ke arah Satria yang semakin menjauh darinya.
Satria kembali masuk ke kamar Yura,Yura masih asyik mengobrol dengan Rima.
" Ayah mana kak?" tanya Yura.
" Masih di belakang" jawab Satria.
Satria duduk di sofa sambil memainkan ponselnya,Satria mengirim pesan singkat pada penjual sawah supaya tidak membocorkan rahasia yang sudah mereka sepakati.
Beberapa menit kemudian Edo masuk sambil membawa banyak makanan lalu meletakannya di atas meja.
" Udah malem Bun,kita pulang yuk.Yura dan Satria harus istirahat" ajak Edo.
" Gak jadi mampir ke rumah Yuna Yah?" tanya Rima.
" Besok aja,ini udah malam" jawab Edo.
" Ini Ayah belikan cemilan,biasanya ibu hamil sering merasa lapar di malam hari" ujar Edo.
" Terima kasih Ayah" ucap Yura.
Edo dan Rima pun berpamitan,setelah kedua orang tuanya pulang Satria pun duduk di samping Yura.
" Masih mual gak?" tanya Satria yang dijawab gelengan kepala oleh Yura.
Satria mengambil Kopi yang tadi diletakan oleh Edo di atas meja,dengan perlahan Satria menyesap kopinya.
" Adek mau itu" ujar Yura.
Satria menoleh sambil mengerutkan keningnya," Mau kopi?" tanya Satria.
Yura menggeleng," Bukan kopi,tapi kue itu" jawab Yura sambil menunjuk brownies yang tadi di beli oleh Edo.
Satria mengambil brownies itu lalu menyuapi Yura.
" Yura bisa makan sendiri kak,gak perlu disuapin" ujar Yura.
__ADS_1
" Yura masih lemes,harus banyak istirahat.Sudah biar kakak aja yang suapin" kata Satria.
Yura malas membantah dan berdebat,dia hanya bisa pasrah menuruti semua kehendak Satria yang sangat lebay.Yura mengunyah browniesnya dengan perlahan,Satria bahagia bisa melayani istrinya dengan baik.