
Yuna dan Yura menjalani rumah tangganya masing-masing,walau terpisah mereka tetap menjalin komunikasi.Yura yang sibuk belajar masak dan mengurus rumah,sedangkan Yuna memilih ikut Kenzi bekerja di kantor.
Yuna dan Yura,menjalani hidup yang berbeda.Yura bergelimang harta,sedangkan Yuna hidup seadanya.Edo bisa saja membantunya,tapi Yuna dan Kenzi menolak.Mereka ingin hidup mandiri dan memulai semuanya dari nol.
" Kak,jangan sampai orang lain tau kalo Yuna memutuskan untuk menunda kehamilan.Terutama Ayah dan Bunda" kata Yuna.
" Tapi,kakak bingung harus jawab apa kalo mereka bertanya.Kakak tidak bisa berbohong" ujar Kenzi.
Yuna menghela nafasnya," Yuna mau kita punya anak saat hidup kita sudah sedikit maju,tidak lagi dibantu oleh Yura atau pun Ayah" tutur Yuna.
Kenzi memandang wajah istrinya," Terserah Adek saja.Tapi,ingat ya adek gak boleh kecapekan dan stres.Adek cukup bantu kakak di kantor" kata Kenzi.
Yuna tersenyum lalu mengangguk," Besok,Yuna mau ke rumah Abah ya.Yuna mau ikut Abah panen" kata Yuna.
" Iya,besok kita kesana" kata Kenzi.
Kenzi memeluk tubuh wanita yang sudah tiga bulan ini mendampinginya,walau hidup dalam kesederhanaan Yuna tidak pernah mengeluh sedikit pun.Dia selalu terlihat ceria dan bahagia.Tidak pernah sedikit pun dia merasa iri pada kehidupan saudara kembarnya yang hidup mewah,semua serba ada dan Satria sangat memanjakannya.
...----------------...
Satria sedang berada di ruang kerjanya,tiba-tiba Yura datang dan menyembulkan kepalanya di pintu.
" Kak,tolongin Yura dong" pinta Yura.
Satria yang sedang menyusun berkas-berkas yang akan di bawanya ke kantor besok pun menoleh ke arah Yura," Tolong apa sayang?" tanya Satria.
" Beliin obat untuk masuk angin dong.Sepertinya Yura masuk angin deh,perut Yura rasanya begah" jawab Yura.
Satria tersenyum," Tunggu sebentar ya,Kakak bereskan ini dulu" ujar Satria dan Yura pun mengangguk.
Yura kembali ke kamar,sedangkan Satria masih berada di ruang kerjanya.Setelah semua beres,Satria pergi ke kamarnya untuk menemui Yura.
" Begah kenapa perutnya?" tanya Satria saat masuk ke dalam kamar.
" Gak tau,mungkin karena Yura minum kopi tadi" jawab Yura yang sedang duduk bersandar di kasurnya.
" Sini kakak cek dulu" kata Satria.
Yura berbaring dan Satria menekan perut Yura secara lembut dan mengetuk-ngetuk punggung tangannya," Gak kembung kok" ujar Satria.
" Kakak bikinin wedang jahe aja ya?" tawar Satria.
" Boleh deh" jawab Yura.
Satria tersenyum lalu mengusap rambut Yura.Satria melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur.Untung bahan-bahan yang diperlukan semua ada di dapurnya.Setelah wedang jahenya jadi,Satria langsung membawanya ke kamar.
" Minum secara perlahan ya,masih panas" kata Satria.
__ADS_1
Yura meniup wedang jahenya lalu menyesapnya secara perlahan.
" Besok-besok jangan minum kopi lagi,perutnya gak tahan tu" ujar Satria.
" Iya" kata Yura.
" Terima kasih ya Kak" ucap Yura.
Satria mengangguk," Sama-sama, sayang" balas Satria.
Satria meletakkan gelas bekas wedang jahe ke atas meja," Tidur ya,sudah malam.Kalo besok pagi perutnya masih begah,kita pergi ke Dokter" ujar Satria.
Satria menyelimuti tubuh Yura yang sudah berbaring.
Cup...Satria mengecup kening Yura dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Kakak kembali ke ruang kerja ya,masih ada yang harus kakak selesaikan" kata Satria.
" Iya,kalo udah selesai langsung tidur ya" kata Yura,Satria hanya mengangguk.
Satria keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ke ruang kerja.Satria mengecek kembali semua berkas-berkas yang tadi dia susun ke dalam tas kerjanya.
" Semua sudah lengkap,besok tinggal menemui Daddy dan menyerahkan ini semua" gumam Satria.
Glek...
Satria keluar dari ruang kerjanya lalu menuju dapur,dia membuka lemari untuk melihat stok mie instan.
" Untung ada sisa sebungkus" gumamnya.
Satria menghidupkan api kompor lalu merebus air untuk memasak mie instan.Setelah beberapa menit kemudian mie instan buatannya pun matang.
" Gila...hanya melihat semangkuk mie instan,air liurku sampai menetes" gumam Satria.
Satria mulai menyantap mie instan kuah buatannya,setelah mie instannya habis barulah Satria masuk ke kamarnya.Satria yang memang sudah sangat mengantuk pun langsung merebahkan tubuhnya di samping Yura,Satria melingkarkan tangannya di atas perut Yura dan dia pun mulai tertidur.
...----------------...
Keesokan harinya,
Satria melangkahkan kakinya memasuki gedung kantor milik Elang,Satria masuk ke dalam lift lalu menekan tombol angka yang ada disana.
Ting
Pintu lift terbuka,Satria keluar dari lift dan langsung berjalan menuju ruang kerja milik Elang.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Satria mengetuk pintu ruang kerja Elang.
" Masuk" terdengar suara Elang dari dalam ruangan.
" Pagi Dad!" sapa Satria.
" Hai...ternyata kamu.Duduklah" titah Elang.
Satria duduk di sofa lalu mengeluarkan setumpukan kertas dari dalam tasnya.
" Ini laporan yang Daddy minta" kata Satria.
Elang menghampiri Satria lalu mengecek satu persatu kertas yang diberikan oleh Satria padanya.
" Semua sudah lengkap,terima kasih" ucap Elang sambil menepuk pundak Satria.
" Sama-sama Dad" balas Satria.
" Kamu memang hebat,selalu bisa Daddy andalkan" puji Elang.
" Semua berkat bimbingan Daddy dan juga ayah Edo" ujar Satria.
" Bagaimana kabar Yura?" tanya Daddy.
" Semenjak kalian menikah Daddy lihat dia lebih betah di rumah" tambahnya.
" Dia sedang belajar jadi istri yang baik katanya Dad,dia juga sedang serius menggeluti hobi barunya" jawab Satria.
" Memangnya apa hobi barunya selain tidur?" tanya Daddy.
" Yura sekarang hobi memasak,setelah beberapa bulan dia belajar masak dan kini dia mulai mahir dalam membuat menu makanan.Dia bilang saat punya anak nanti,dia bisa membuatkan makanan kesukaan untuk anaknya" jawab Satria dengan bangga.
" Daddy kira dia akan bersikap manja selamanya,ternyata setelah menikah sifat keibuanya mulai muncul.Daddy bangga padamu,kamu bisa merubah Yura yang manja dan kekanak-kanakan menjadi dewasa" tutur Elang.
" Kami masih sama-sama belajar Dad,belajar saling memahami sifat masing-masing" ujar Satria.
Satria dan Elang melanjutkan lagi perbincangannya soal pekerjaan.Satria menjelaskan konsep kerja yang baru di perusahaan yang di pimpinnya dan Elang langsung menyetujuinya.
Setelah semua urusan selesai,Satria pun pamit untuk kembali ke kantornya.
Kriing...
Ponsel Satria berdering,Satria mengabaikannya karena dia sedang menyetir.Tetapi,ponselnya terus berdering membuat Satria terpaksa menepikan mobilnya dan melihat siapa yang menelponnya berkali-kali.
" Yura,kenapa dia menelponku berkali-kali,apa perutnya sakit lagi?" gumam Satria.
Satria menelpon balik istrinya,takut ada hal yang sangat penting.
__ADS_1
" Sayang,kamu menelponku berkali-kali.Apa perutmu sakit lagi?" tanya Satria pada Yura.