Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
Kesomplakan Edo dan Satria


__ADS_3

Edo mengemudikan mobilnya dengan wajah ditekuk.Karena Rima yang lama bersolek,akhirnya mereka baru bisa pergi ke rumah Yura selepas sholat maghrib.Edo dan Rima memasuki rumah kediaman Yura dan Satria.Rima membawa sop kesukaan Yura.


" Eh...Ayah dan Bunda datang.Tapi,Satria dan Yura sedang pergi" ujar Bik Emi.


" Pergi kemana Bik?" tanya Edo.


" Yura tadi pengen makan apa gitu katanya,Bibik juga gak terlalu denger tadi.Tunggu aja Yah,mungkin sebentar lagi juga pulang" kata Bik Emi.


" Oya Bik,ini sop kesukaan Yura.Tolong taruh di meja ya" kata Rima sambil menyerahkan sop pada Bik Emi.


" Duh...gimana ya Bun ngomongnya" bik Emi kebingungan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Kenapa Bik?" tanya Edo.


" Semenjak Yura hamil,Yura gak suka sop,dia akan muntah kalo lihat atau cium aroma sop" jawab Bik Emi dengan tidak enak hati.


" Kalo gitu simpan saja untuk Bik Emi dan Mang Joko" kata Rima.


" Baik Bun" jawab Bik Emi.


Bik Emi membawa rantang yang berisi sop ke dapur,lalu menyimpannya.Edo dan Rima menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi.


" Lihatlah,nyawa manusia seperti nyawa ayam saja,main bunuh seenaknya dan buang ke sungai" kata Edo saat melihat berita tentang pembunuhan.


" Halah...ayah juga begitu,apa bedanya" sindir Rima.


" Beda dong Bun,kalo Ayah pembunuh berkelas.Lagi pula tidak satu pun perbuatan kami yang terekspos di televisi.Kami membunuh orang yang membahayakan keluarga kita,kalo tidak kami hanya menghukumnya saja" terang Edo.


" Sama aja,gak ada bedanya" kata Rima.


Tidak lama kemudian terdengar bunyi pintu mobil yang tertutup,dan langkah kaki yang memasuki rumah.


" Dari mana kalian?" tanya Edo.


" Orang tua datang bukannya di sambut malah di tinggal" oceh Edo.


" Ayah gak bilang kalo mau datang.Kalo Satria tahu Ayah mau datang,Satria sewa drum band untuk sambut Ayah" balas Satria.


" Dari mana adek tadi?" tanya Rima.


" Beli asinan yang mangkal di depan sekolah adek dulu" jawab Yura.

__ADS_1


" Sudah berapa bulan usia kehamilannya?" kok hamil gak bilang sama ayah dan bunda.Trus minum susu untuk ibu hamil gak? mualnya parah gak?" Rima mencecar Yura dengan banyak pertanyaan.


Secara bersamaan Edo dan Satria mengeluarkan ponsel masing-masing.


" Kalian mau ngapain?" tanya Rima sambil mengkerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh suami dan menantunya.


" Mau catat pertanyaan Bunda,biar gak susah jawabnya" jawab Edo dan Satria bersamaan.


Pftt....


Ha...ha...ha...


Yura tertawa melihat tingkah suami dan ayahnya.


" Kalian" ujar Rima yang langsung menjewer telinga Edo dan Satria yang kebetulan duduk berdampingan


" Aduh bun,sakit bun" seru Edo.


" Mafia kacang,baru dijewer aja udah kesakitan" ledek Satria lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur.


" Kak Yuna tadi mampir kesini gak dek?" tanya Edo.


" Bunda ingat saat kecil dulu,sering diajak sama Nek Sarah dan Kakek Johan ke sawah.Bunda sama Mommy ambil tutut sampe dapet banyak banget,trus hasilnya nanti dijual keliling kampung" kenang Rima.


" Nek sarah dan Kakek Johan siapa Bun?" tanya Satria yang baru kembali dari dapur.


" Orang tuanya Mommy" jawab Rima.


" Kalo mereka orang tuanya Mommy,trus nek Sintya siapa?" tanya Yura.


" Bundanya Mommy" jawab Rima sambil tersenyum.


Bik Emi datang tergopoh-gopoh berjalan ke ruang tengah," Mas Satria,makan malamnya sudah siap.Mau shalat isya dulu atau makan malam dulu?" tanya Bik Emi.


" Sholat dulu deh" jawab Edo.


" Ayo" Edo mengajak anak dan istrinya shalat,tapi Rima tetap duduk santai di kursinya.


" Ayo Bun" ajak Edo lagi.


" Bunda sedang datang bulan Ayah,Ayah sholat sama anak-anak aja ya" ujar Rima.

__ADS_1


" Ular piton pun berpuasa" celoteh Satria sambil masuk ke ruang yang dikhususkan untuk shalat.


" Menantu sialan" gerutu Edo sambil mengikuti langkah anak dan menantunya.


...----------------...


" Kak,kalo kita punya anak sekarang,apa kakak tidak keberatan?" tanya Yuna.Entah kenapa kabar kehamilan Yura mengganggu pikirannya.


Kenzi yang sedang menonton televisi pun menoleh ke arah Yuna yang sedang berbaring di kasurnya.Kenzi mematikan TV lalu duduk di tepi kasur.


" Terserah Adek saja,kalo adek sudah merasa siap kakak tidak masalah" jawab Kenzi.


Yuna mendudukkan tubuhnya lalu bersandar di sandaran tempat tidurnya," Tapi,Yuna masih pengen kerja.Bantu kakak cari uang" ujar Yuna.


Kenzi tersenyum," Jangan takut kekurangan,seorang anak tidak akan membuat kita miskin.Setiap anak yang lahir sudah bawa rezeki masing-masing sayang,kalo memang Adek putuskan untuk hamil dan punya anak,Kakak dukung.Tapi,kalo adek belum siap jadi seorang ibu,jangan memaksakan diri.Yang ada nanti setelah anak kita lahir adek malah stres dan itu bisa berdampak buruk buat anak kita" tutur Kenzi dengan lembut.


Yuna menghela nafasnya yang terdengar sangat berat,lalu memandang wajah Kenzi dengan tajam.


" Mulai bulan ini Yuna berhenti minum pil penunda kehamilannya ya,urusan cepat hamil atau enggaknya biar Tuhan yang menentukan" ujar Yuna.


" Iya sayang" ucap Kenzi sambil tersenyum.


" Oya Kak,Yuna hampir lupa.Abah kemarin bilang sama Yuna kalo ada orang jual sawah,Abah bilang kalo kita ada uang kita aja yang beli.Sawahnya lumayan luas dan hasil panennya juga selalu banyak,bisa untuk investasi juga kan" ungkap Yuna.


" Kok Abah gak bilang sama Kakak ya,coba deh nanti kakak tanya Abah sekalian tanya harganya" ujar Kenzi.


Kenzi turun dari kasur lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi sekaligus mengosongkan kandung kemihnya.Setelah selesai Kenzi kembali ke kasur dan mengajak Yuna untuk tidur.


" Jangan terlalu dipikirkan,nanti kamu bisa stres.Lebih baik sekarang kita tidur,sudah malam" ujar Kenzi.


Yuna pun merebahkan tubuhnya di kasur,lalu mulai memejamkan matanya.Tapi,kemudian dia kembali membuka mata dan menoleh ke arah Kenzi," Mulai besok Yuna berhenti kerja ya,biar nanti Yuna yang jelasin sama Ayah tentang semua ini" ujar Yuna.


" Iya sayang,Kan sudah sejak awal kakak larang adek kerja,tapi adek tetap ngeyel" oceh Kenzi.


" Maaf" ucap Yuna.


" Tidak ada yang perlu disalahkan.Kakak berterima kasih banget karena adek sudah mau terima kakak apa adanya,terima kekurangan keluarga kakak,mau hidup susah.Kakak merasa bersalah karena belum bisa memberi adek yang terbaik" tutur Kenzi.


" Kakak sudah menjadi yang terbaik untuk Yuna.Kakak harus janji sama Yuna,kakak harus kuliah yang rajin dan harus lulus dengan nilai yang memuaskan.Jangan sampai pekerjaan kantor mengganggu konsentrasi kakak dalam belajar" ujar Yuna.


" Kakak janji,kakak akan berusaha semaksimal mungkin" ucap Kenzi.

__ADS_1


__ADS_2