Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
Berlian Langka


__ADS_3

Matahari mulai bergulir ke ufuk barat,burung-burung mulai pulang ke sangkarnya.Yura dan Satria masih berjalan-jalan di sekitar Villa.Kebetulan tidak jauh dari villa ada sebuah danau yang sangat indah,sayang jika harus dilewatkan.


" Ke mana semua orang kok sepi?" tanya Yura.


Satria tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Yura kemana semua orang itu pergi," Mungkin mereka sedang berjalan-jalan di sekitaran Villa" jawab Satria.


"Sudah waktunya kita pulang,ayo" ajak Satria mengalihkan pembicaraan.


Yura pun mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Satria mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke arah kota. sebelum sampai ke rumah Satria terlebih dulu mengajak Yura untuk makan malam.Selesai makan malam barulah mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Edo menghampiri mobil Satria saat mobil Satria berhenti tepat di depan rumahnya, Edo yakin pasti Yura sudah tidur di mobil. Satria keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil Yura.


"Pasti dia tertidur kan?" tanya Edo pada Satria.


" Iya Om, tapi Om tenang saja dia sudah makan malam kok"jawab Satria.


" Terima kasih karena telah menjaga putriku,Satria" ucap Edo sambil menepuk bahu Satria.


" Dia calon istriku.Tentu saja aku harus menjaganya dengan segenap jiwaku" balas Satria.


Edo tersenyum bangga mendengar perkataan Satria. dia semakin yakin bahwa Satria adalah pria yang tepat untuk Putri tidurnya itu.


" Tolong bawa dia ke kamarnya,Om tidak bisa menggendongnya karena Om sedang sakit pinggang" pinta Edo pada Satria.


Satria mengerutkan keningnya kemudian menganggukkan kepalanya. Satria menggendong Yura ala bridal style menuju kamar Yura, setelah itu Satria kembali ke teras untuk menemui Edo.


" Sudah malam Om,Satria pamit pulang dulu" berpamitan sambil mencium tangan Edo. Lalu setelah itu Satria masuk ke mobilnya dan dengan perlahan Satria mengemudikan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Edo.


Tidak lama setelah kepergian Satria,Rima datang menghampiri Edo.


" Satria langsung pulang Yah?" tanya Rima lalu duduk di kursi yang ada di teras.


" Iya,karena sudah malam" jawab Edo.


" Yah, Apa tidak sebaiknya Yura dan Satria jangan terlalu sering bertemu dan pergi bersama, Bunda takut mereka melakukan hal diluar batas.Apalagi Yura yang masih dibawah umur, sedangkan Satria sudah dewasa" sebagai seorang ibu Rima sangat mengkhawatirkan putrinya.

__ADS_1


Edo memandang wajah istrinya sambil tersenyum manis," Apa kamu meragukan mereka sayang?"tanya Edo." Aku tahu apa saja yang mereka lakukan.Baik Yura dan Satria ataupun Yuna dan Kenzie" tutur Edo.


" Satria menjaga Yura bagaikan menjaga berlian terlangka di dunia ini, dia akan menjaga Yura sampai waktunya tiba.Dimana dia dan Yura akan menjadi sepasang suami istri dan disitulah baru dia akan mengambil haknya" sambung Edo.


Rima sudah kehabisan kata-kata untuk melawan Edo, dia memilih berjalan masuk ke dalam rumahnya.Kemudian Edo bangkit dari duduknya dan kedalam rumah untuk menyusul istrinya.


" Bunda jangan khawatir, Ayah sudah memasang pelindung di tubuh kedua Putri kita.Jika terjadi bahaya kepada putri kita, pelindung itu akan memberikan sinyal kepada ayah, dan ayah bisa tahu keberadaan mereka berdua" tutur Edo.


Rima mengangguk kemudian bernafas dengan lega setelah mendengar penuturan dari suaminya. Perlahan dia pun mulai memejamkan matanya yang sudah mengantuk. Edo naik ke kasurnya lalu berbaring disamping Rima, kemudian Edo memeluk Rima dengan erat.


*


*


Plak!!!


Satria menampar pipi Raisa dengan keras, matanya memerah karena menahan amarah.


" Kakak memberimu kebebasan bukan berarti bebas lepas Raisa, apa yang bisa diharapkan lagi seorang gadis yang sudah tidak perawan. Apa kamu yakin kekasihmu akan bertanggung jawab,hah?" teriak Satria dengan gusar.


" Tapi dia teman Kakak" seru Raisa.


Raisa menangis tersedu,menyesal sudah tidak berguna lagi.


Satria menatap Raisa dengan tajam," Sudah berapa kali kalian melakukannya?" tanya Satria,kini nada bicaranya Lebih lembut dari sebelumnya.


" Sudah sering Kak,semenjak kami menjalin hubungan" Raisa masih menundukkan kepalanya. dia tidak berani menatap wajah kakaknya secara langsung.


Satria menjambak rambutnya sendiri dengan kasar, sungguh dia tidak menyangka adik perempuan satu-satunya telah dirusak oleh temannya sendiri.


" Apa setiap main kalian memakai pengaman?" tanya Satria lagi. Satria semakin gusar dan emosinya pun tidak terbendung saat dia melihat Raisa menggelengkan kepalanya.


Arrggghhhh...


Brak!!!

__ADS_1


Satria membanting pintu kamarnya dengan kasar, tidak lama kemudian dia keluar dari kamarnya dan pergi menggunakan mobilnya.


Raisa masih duduk di sofa sambil menyesali perbuatannya. Raisa Pun Menangis sejadi-jadinya.


Orang tua Raisa yang baru kembali dari luar kota bingung melihatnya Raisa menangis. Mama mendekati Raisa lalu mengusap punggung putrinya itu dengan lembut.


" Kenapa kamu menangis nak? di mana Kakak?" tanya Mama.


" Mama...Huaaaaa..." tangisan Raisa semakin kencang saat dia melihat papa dan Mamanya sudah berada di hadapannya.


Papa mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menghubungi Satria dan menyuruhnya untuk pulang.


"Apa yang terjadi Raisa,tolong jelaskan pada papa" pinta Papa.


Raisa menggelengkan kepalanya, tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya kepada Papanya tentang apa yang sudah diperbuat. Papanya pasti akan lebih marah dari Kak Satria.


Mobil Satria memasuki pekarangan rumahnya, Satria memarkirkan mobilnya begitu saja Kemudian turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah.


" Bukanya minggu depan Papa dan Mama baru pulang?" tanya Satria lalu duduk di samping mama.


" Seharusnya sih begitu, tapi ternyata dugaan Papa meleset dan pekerjaan Papa bisa diselesaikan dengan cepat" jawab Papa.


" Satria, Apa kamu tahu masalah apa yang sedang terjadi kepada Raisa?" tanya Mama.


" Papa dan Mama tanyakan saja langsung padanya, karena hanya dialah yang tahu apa jawabannya" jawab Satria sambil melirik ke arah Raisa.


Papa dan Mama saling bertukar pandang lalu menatap Intens ke arah Raisa" Jelaskan pada Papa apa yang terjadi Raisa?" Papa sedikit meninggikan suaranya.


Dengan deraian air mata Raisa pun menjawab pertanyaan Papanya dan menceritakan semua apa yang sudah dia lakukan bersama kekasihnya.


Mendengar jawaban Raisa Mama pun langsung menangis dan memeluk Putri satu-satunya itu. Sedangan papa tidak tahu apa yang harus diperbuat.Menghajar putrinya itu tidak mungkin,di hajar Sampai matipun keperawanan putrinya tidak akan pernah kembali lagi.


" Bawa kekasihmu besok ke hadapan Papa" titah Papa.


" Itu tidak mungkin Pa, karena Satria kenal betul siapa Betrand" tutur Satria.

__ADS_1


" Tapi Betrand tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya" seru Papa.


" Satria tidak ikut campur, Papa urus aja Raisa. Satria sudah memperingatkannya berulang kali, tapi Raisa tidak mengindahkannya" Satria melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya. Satria merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia mencoba memejamkan matanya Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi yang tidak pernah menjadi nyata.


__ADS_2