
Kenzi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang,setelah makan siang tadi Kenzi dan Yuna memutuskan untuk pulang ke rumahnya.Sebelum pulang,mereka mampir ke rumah Yura.
" Apaan ini kak?" tanya Yura saat melihat isi rantang.
" Itu namanya tutut,kakak yang ambil di sawah" jawab Yuna.
Yura menoleh ke arah Satria," Yura boleh makan tutut Kak?" tanya Yura,membuat Kenzi dan Yuna mengkerutkan keningnya.
" Emangnya gak boleh kenapa Dek?" tanya Yuna.
" Ini enak lo,kakak ambil di sawah yang berlumpur" tambah Yuna.
" Makan aja,tapi jangan banyak-banyak,makan secukupnya" ujar Satria.
" Emangnya kenapa sih?" tanya Yuna bingung dan sedikit tersinggung.Yuna pikir karena itu makanan kampung hingga Yura dan Satria tidak mau memakannya.
" Ya sudah kalo gak mau,bawa sini tu gulainya" kata Yuna.
" Yura hamil kak,jadi dia takut untuk memakanya.Bukan gak mau" terang Satria.
Mendengar itu mata Yuna membelalak," Serius dek?" tanya Yuna dan Yura pun mengangguk.
" Selamat ya" ucap Yuna lalu memeluk saudara kembarnya itu.
" Terima kasih kak" balas Yura.
" Oya...Ayah sama Bunda udah tau belum?" tanya Yuna yang dijawab gelengan kepala oleh Yura dan Satria.
" Itu Ayamnya jangan lupa dimasukkan ke dalam kulkas ya,itu titipan dari Abah" ujar Kenzi.
Yura membuka plastik lain dan ternyata ada beberapa potong ayam disana," Terima kasih ya kak,abah selalu saja kirim ayam kalo lagi panen" ucap Yura.
" Kakak pulang dulu ya,mau nganter untuk Bunda juga nih soalnya" ujar Yuna.
Yura dan Satria mengantar Kenzi dan Yuna sampai ke depan rumah,setelah mobil Kenzi sudah tidak terlihat Yura dan Satria pun masuk ke dalam rumah.
Hoeekkk...Yura mengeluarkan semua isi perutnya di westafle yang ada di dapur.
" Kali ini muntah karena apa?" tanya Satria,selama Yura hamil Yura akan muntah pada makanan tertentu saja.Contohnya kemaren Yura muntah hanya karena melihat sambal yang banyak minyaknya.
" Kuah gulai itu" jawab Yura sambil menunjuk ke rantang yang berisi gulai tutut.
" Tadi gak apa-apa,kok baru sekarang muntahnya?" tanya Satria.
" Tadi Yura tahan,takut Kak Yuna tersinggung" jawab Yura.
Satria memijat tengkuk Yura lalu mengoleskan minyak angin agar lebih rileks.
__ADS_1
" Kalo mual gak usah di makan,kasih ke Bik Emi saja" kata Satria.
" Sebagian saja kasih ke Bik Emi,untuk Yura di cuci dulu.Yura pengen cicip" ujar Yura.
Satria mengangguk lalu meletakkan gulai itu jauh dari penglihatan Yura.Satria juga tidak lupa memasukkan ayam ke dalam kulkas.
" Kakak gak balik ke kantor?" tanya Yura.
" Enggak ah,Kakak mau nemenin Adek tidur aja" jawab Satria.
Satria dan Yura masuk ke kamarnya,Satria dan Yura berbaring di tempat tidurnya.
" Selain sambal dan gulai apalagi yang bikin adek mual?" tanya Satria,dia harus tau apa saja yang bisa membuat Yura mual.
" Sop" jawab Yura singkat.
" Sambel jangan di goreng,minyak yang menggenang yang bikin adek mual" tambahnya.
" Hanya itu saja?" tanya Satria dan di jawab anggukkan kepala oleh Yura.
" Tidurlah,ini waktunya tidur siang" ujar Satria.
Yura merapatkan tubuh ke tubuh Satria dan Satria pun langsung memeluk Yura,tidak butuh waktu lama Yura pun sudah tertidur.Dengan perlahan Satria turun dari kasurnya lalu keluar dari kamar.
" Loh Mas Satria gak ke kantor?" tanya Bik Emi.
" Oya Bik,itu di rantang ada gulai nanti bibik sisihkan ya,Yura mual katanya kalo lihat gulai" ujar Satria.
" Trus selama Yura hamil,sambel untuk Yura jangan di kasih minyak ya Bik,dia juga mual.Dan juga sayur sop,untuk sementara kita gak usah makan sop dulu,kasihan dia kalo muntah terus" tutur Satria.
" Mas Satria sayang banget ya sama Yura,sampe teliti gitu" ujar Bik Emi sambil tersenyum.
" Sayang dong bik,kan Yura istrinya Satria" kata Satria.
Satria mencuci sebagian tutut itu agar tidak lagi ada santan dan bumbu yang melekat,setelah itu Satria menaruhnya di piring dan meletakkannya di meja makan.
" Bik,ini cara makannya gimana?" tanya Satria.
Bik Emi terseyum lalu mengajarkan Satria cara menyedot tutut.Satria mengikuti cara Bik Emi.
" Emmm...enak Bik" ucap Satria sambil mengunyah tutut dalam mulutnya.
Kriiing...
Terdengar ponsel berdering.
" Ponsel Satria mana ya Bik?" tanya Satria.
__ADS_1
" Ikutin aja suaranya,ntar juga ketemu" jawab Bik Emi.
Satria mengikuti arah suara deringan ponsel dan ternyata ponselnya ada di sofa.Mungkin Satria yang meletakkannya disana saat Yuna dan Kenzi datang berkunjung ke rumahnya tadi.
" Ayah...Pasti Yuna sudah menceritakan tentang kehamilan Yura" gumam Satria.
Satria menggeser ikon hijau di ponselnya," Hallo Yah" ucap Satria.
" Menantu sialan,darimana saja? kenapa harus berjuta-juta panggilan baru diangkat" cecar Edo dari sebrang telpon.
" Sssttt...jangan berisik.Tuan Putri baru saja tertidur,dia sedikit rewel hari ini" kata Satria dengan suara berbisik.
" Oh...oke.Nanti ayah telpon lagi" kata Edo dengan suara pelan,seolah takut suaranya akan membangunkan Yura.Edo memutuskan panggilannya.
Ha...ha...ha...Satria tertawa dengan sangat keras karena sudah berhasil mengerjai ayah mertuanya.
" Maafin Satria ya Yah" ucap Satria lalu berjalan menuju kamarnya.
" Oh lihatlah sang putri kalo sedang tertidur,wajahnya semakin cantik dan imut" ujar Satria sambil membelai pipi Yura yang terlihat sedikit tirus.
Satria berbaring di samping Yura lalu tertidur sambil memeluk tubuh istrinya itu.
...----------------...
" Kok dimatiin Yah,Bunda mau ngomong sama Yura" kata Rima.
" Nanti saja ngomongnya,Yura masih tidur" ujar Edo.
" Anak itu,hamil gak bilang-bilang.Kalo ada apa-apa bagaimana" gerutu Rima.
" Percaya sama mereka dan kalo Ayah dengar cerita dari Yuna tadi sepertinya Satria sangat memperhatikan Yura" tutur Edo.
" Kita harus kesana" kata Rima.
" Ayah jangan kemana-mana,anterin Bunda ke rumah Yura" kata Rima.
" Dari dulu juga Ayah tetap dihati Bunda,gak pernah pergi" goda Edo.
" Tau ah gelap" ujar Rima lalu masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Edo melangkahkan kakinya menuju ke dapur,meminta pada pelayan yang bekerja di rumahnya untuk memasakkan sop kesukaan Yura.Setelah itu Edo berjalan ke kamarnya.
" Bidadari kalo mandi lama,apaan sih yang digosok? udah kayak mama aja,mandi lama,bersolek lama,pake baju kalo belum keluar semua isi lemari gak sah.Ayam bertelur sampe netes tu telur belum juga selesai berhias" monolog Edo.
Edo menuju lemari lalu mengambil baju ganti miliknya dan meletakkannya di atas kasur,setelah Rima selesai mandi barulah Edo masuk ke kamar mandi.
Edo menyembulkan kepalanya di balik pintu," Jangan lama-lama dandannya,gak usah menor-menor,kita mau ke rumah Yura bukan mau mengadakan pertunjukan jaipong" seru Edo dan di jawab cibiran bibir oleh Rima.
__ADS_1