
Acara ulang tahun pernikahan masih berlanjut,suasana malam semakin syahdu diiringi musik yang di putar oleh David.Tapi itu tidak berlangsung lama,karena David langsung memutar film yang sangat seru baginya.
"Nikmatilah senyummu Silvy sayang karena beberapa detik lagi senyum itu akan berubah jadi tangisan yang sangat pilu" ucap David sambil menyeringai.
"Bro cepat laksanakan sekarang" perintah David pada Edo melalui panggilan yang sedari tadi sudah terhubung.
"Oke para hadirin yang terhormat sambil menikmati hidangan yang ada,mari kita saksikan lagi video yang tadi sempat terputus.Kali ini video tentang perjalanan Keluarga Besar Alberto"kata Edo melalui mic.
Video pertama pun mulai di putar,video saat Elang bertunangan dengan Silvy kemudian menikah.Video kedua saat Silvy dan Elang sedang berbulan madu di pulau Dewata.Silvy tersenyum bahagia melihat video itu,dia terus menggandeng tangan Elang.
Video selanjutnya saat Silvy dan Elang kawe tidur bersama di kamar pribadi Elang yang ada di kantor,Silvy tertunduk malu.
"Saksikanlah para hadirin sekalian,ini dia puncak acaranya" teriak David sampai-sampai Rendi yang berada di sampingnya menutup telinga.
Video Silvy di sebuah club malam yang sedang bertransaksi juga video saat dia berencana menjebak Elang.Bukan itu saja ternyata Silvy juga pernah melakukan kejahatan saat masih tinggal serumah dengan Elang.Dia berniat meracuni kedua orang tua Elang.Video langsung di matikan dan semua mata tertuju pada Silvy dan Elang.
"Elang itu semua bohong,jangan percaya sama video ini Lang,ini semua pasti rekayasa" ucap Silvy.
"Benarkah itu semua rekayasa?" tanya seseorang dari belakang Silvy.
Silvy terkejut mendengar suara yang sangat di kenalnya itu,dia memutar tubuhnya dan membulatkan kedua matanya.Bukan hanya Silvy tapi semua tamu yang ada disitupun terkejut melihat ada dua Elang di ruangan itu.
"Bagaimana bisa ada dua Elang?" tanya Silvy.
David memutar video saat mereka di kantor dan juga Elang kawe yang bercinta dengan Silvy di kantor.
"Kamu...kamu menipuku Lang" ucap Silvy.Wajahnya memerah entah menahan malu atau marah.
"Aku tidak menipumu aku hanya mengikuti permainanmu saja agar permainan ini menjadi lebih seru" jawab Elang yang asli.
Mama mendekati mereka lalu memandang wajah dua Elang secara bergantian.
"Mana yang asli dan mana yang palsu?" tanya Mama bingung.
Elang asli memberi kode pada Elang kawe agar membuka topeng karetnya.
Semua ternganga melihat kejadian di depannya,semua para tamu melempari Silvy menggunakan makanan yang ada disitu.
"Huuu dasar wanita gak tau malu"
Bagitu lah kira-kira ocehan para tamu.
Silvy hendak melarikan diri tapi beberapa anggota kepolisian datang lalu menangkap Silvy dan memborgolnya.
"Lepaskan Pak saya tidak bersalah mereka semua sudah menjebakku" kata Silvy meronta dan berusaha melepaskan diri.
"Silahkan anda jelaskan semuanya nanti di kantor Nona" kata salah satu polisi itu.
"Dan untuk para hadirin semua disini saya mewakili keluarga besar Alberto akan memperkenalkan kepada kalian tiga anggota keluarga yang baru di keluarga Alberto.Untuk Nona Rere dan kedua bayinya di persilahkan masuk keruangan ini " kata Edo.
Elang kaget mendengar perkataan Edo,dia tidak tau kalo Rere juga ada disana.Dia menoleh kearah pintu tapi tidak ada satupun orang yang masuk.
Lampu sorot mengarah keatas tangga penghubung antara lantai satu dan lantai dua,Rere berdiri disana bersama Baby twins.Rere menuruni tangga sambil mengendong Baby twins di tangan kanan dan kirinya.Semua mata tertuju pada Rere dan Baby twins mereka bertanya-tanya apa hubungan wanita dan kedua bayi itu dengan keluarga Alberto.
Elang berjalan kearah tangga dan menunggu Rere di bawah.Kemudian Elang mengambil alih Baby Queen dari gendongan Rere.Elang mengajak Rere ke depan lalu mengambil mic dari tangan Edo.
"Selamat malam semuanya...mungkin kalian semua bertanya-tanya siapa wanita yang ada disamping saya ini dan siapa kedua bayi yang berada dalam dekapan kami ini.Saya perkenalkan pada kalian semua malam ini siapa sebenarnya sosok wanita tangguh yang berada di samping saya.Namanya Putri Reina Annisa atau biasa disapa Rere dia adalah istri saya dan kedua bayi ini adalah putra dan putri kami"tutur Elang.
Semua tamu kaget mendengar penjelasan dari Elang,karena yang mereka tahu selama ini Elang masih menduda dan belum menikah dan kabar terakhir yang mereka dengar Elang akan kembali rujuk dengan Silvy,mantan istrinya.
"Dia adalah sosok wanita yang hebat,dan perlu kalian semua ketahui dialah sosok wanita yang berada di balik kesuksesan saya selain kedua orang tua saya.Dialah penyemangat dalam hidup saya,dia juga yang membuat saya sadar dan keluar dari kegelapan.Kami menikah sekitar sepuluh bulan yang lalu,dan Bayi kami lahir prematur karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk istri saya melahirkan secara normal" tambah Elang lagi.
Semua tamu yang hadir satu persatu mendekati Elang kemudian bersalaman sambil mengucapkan selamat pada Elang dan Rere.Silvy yang menyaksikan itu menjadi sangat murka dalam keadaan tangan terborgol dia masih bisa merebut senjata yang ada di pinggang polisi.
__ADS_1
"Cukup" teriak Silvy sambil menodongkan senjata kearah Rere.
Rere menyerahkan Baby kiandra pada Edo yang dari tadi berdiri di belakang Elang.Rere berjalan kearah Silvy,semua mata memandang kearah Rere dengan tegang.
"Jangan mendekat atau kamu aku tembak" Silvy menggertak Rere.
Tangannya gemetaran karena baru kali ini memegang senjata,Rere terus berjalan mendekati Silvy.Polisi hendak merebut senjata itu dari tangan Silvy tapi Silvy juga mengancamnya.Bunda Sintya hanya tersenyum saja menyaksikan itu begitu juga dengan Rima,mereka duduk dengan santai dikursi.
"Tembak saja kalau kamu bisa" tantang Rere.
Silvy menarik pelatuk lalu mengarahkan kearah kepala Rere,Elang menyerahkan Baby Queen pada Papa lalu berjalan kearah Rere hendak mencegah keduanya tapi Rere mengangkat tangannya kearah Elang supaya Elang berhenti dan tidak ikut campur.
"Berhenti dan diam di tempatmu Lang" perintah Rere.
Seperti terhipnotis Elangpun menghentikan langkahnya dan berdiri tegak disitu.
Dor!!!
Suara tembakan menggema di seluruh ruangan.Semua orang menutup mata dan tidak ada yang berani melihat,termasuk Elang,Edo dan Papa Danu.Mama Sofia berteriak histeris lalu pingsan,Papa Danu menyuruh anak buahnya membawa Mama ke kamar.Setelah beberapa detik kemudian barulah semua orang memberanikan diri membuka matanya dan melihat Rere masih berdiri tegak dan tidak ada setetes darah pun mengalir di tubuhnya.
"Hanya itu kemampuanmu?"Kata Rere sambil menyeringai dan membuang peluru yang tadi di tangkapnya kelantai.
Semua terkagum-kagum melihat keahlian Rere,Silvy gemeteran saat Rere semakin dekat kearahnya.Rere berdiri di hadapan Silvy yang berjarak sekitar satu meter saja.
"Kalo mau belajar menembak belajarlah pada ahlinya" ucap Rere sambil mengeluarkan senjata yang sedari tadi disembunyikan di balik gaunnya.
Rere mengarahkan senjata ke arah Silvy dan tidak ada yang berani mencegahnya.Rere mengerakkan sedikit tangannya ke samping lalu menarik pelatuk dan melepaskan tembakan.
Dor!!
Tembakan melesat kearah bunga yang ada di belakang Silvy tanpa melukai siapa pun,padahal banyak orang yang berada di belakang Silvy.
Elang tertegun melihat keahlian Rere dalam hal menembak.
Rere memutar tubuhnya dan kembali berjalan kearah Elang sambil tersenyum smirk.
Dor!!!
Sekali lagi Silvy menembakkan senjatanya kearah Rere,semua terkejut dan berteriak histeris.Rere menggerakkan tangannya secepat kilat dan peluru yang di tembakkan Silvy tadi sudah berada di antara jari telunjuk dan jari tengah Rere.
"Tembakanmu masih meleset Nona,coba lagi" kata Rere sambil terus berjalan kearah Elang tanpa menoleh sedikitpun pada Silvy.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Elang dengan wajah pucat.
Rere memandang wajah Elang lalu tersenyum.
"Apa kamu sedang sakit sayang,wajahmu pucat sekali?" Rere balik bertanya.
Elang menarik tubuh Rere kedalam pelukannya,semua tamu yang ada disitupun bertepuk tangan.
Polisi segera meringkus Silvy dan membawanya keluar dari ruangan itu.Semua tamu merasa lega lalu satu bersatu mereka mulai berpamitan untuk pulang karena hari sudah larut malam.
Kini tinggalah keluarga Alberto,Bunda Sintya,Om Irfan,Rima Dan Edo di ruangan itu.Sedangkan David dan Rendi masih berada di ruang kerja Papa Danu.
"Rere Papa tidak menyangka kamu punya keahlian seperti itu" ucap Papa kagum.
"Johan adalah penembak jitu,mungkin dia yang mengajarkan itu pada Rere" sahut Bunda.
"Ayah Johan Sering melatih aku dan Rere saat kami sedang libur" ucap Rima menimpali.
"Kamu bisa menembak juga sayang?" tanya Edo pada istrinya itu.
"Tentu saja,makanya kamu jangan berani berbuat macam-macam padaku atau juga di belakangku" jawab Rima.
__ADS_1
Semua yang ada diruangan itupun tertawa.
Elang terus memandangi istrinya,dia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Rere sejak kapan kamu disini dan sama siapa kamu datang?" tanya Papa Danu.
"Rere datang bersama Bunda Pa,tapi Rere tidak ikut turun.Rere turun dan langsung naik ke lantai dua bersama Rendi tadi melalui pintu samping saat kalian sedang sibuk menyantap hidangan" jawab Rere sambil tersenyum.
"Danu ini sudah malam,aku pamit pulang dulu" kata Om Irfan.
"Baiklah Fan,terima kasih sudah datang" ucap Papa Danu.
Begitu juga Edo,Rima dan kedua orang tua Edo mereka juga berpamitan karena hari sudah pukul satu dini hari.
"Mas Sintya juga pamit dulu,ini sudah malam" Bunda berpamitan.
"Lho kamu mau pulang kemana,kenapa tidak menginap saja Sintya?" tanya Papa Danu.
"Lain kali mungkin saya bisa menginap Mas.Tapi saya tadi sudah berjanji pada Mas Irfan kalo malam ini saya akan menginap di rumahnya" jawab Bunda.
"Baiklah kalo begitu,hati-hati di jalan" kata Papa.
Bunda berpamitan pada Rere dan juga Elang lalu keluar dari rumah itu bersama beberapa anak buah yang datang bersamanya tadi.
"Kalian istirahatlah ini sudah malam,pasti kalian sangat lelah" kata Papa.
Elang membawa Rere ke kamarnya sedangkan Baby twins sudah tidur bersama Sari di kamar Revan.
"Oya sayang aku tidak melihat Revan tadi" kata Rere saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Revan di ungsikan Mama kerumah eyang" jawab Elang.
"Kenapa?" tanya Rere.
"Agar dia tidak melihat semua kejadian tadi sayang,Kejadian malam ini tidak bagus jika dilihat oleh Revan" jawab Elang sambil membuka bajunya dan hanya menyisakan celana pendeknya saja.
Elang masuk kekamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi,sedangkan Rere duduk bersandar di kasurnya.Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi Elang keluar dan langsung naik keatas kasur lalu merebahkan tubuhnya di samping Rere.
"Bukankah kamu sudah lewat masa nifasmu,ini sudah lebih dari empat puluh hari" kata Elang.
Rere tersenyum dan sangat mengerti apa yang dimaksud suaminya.Rere membelai rambut suaminya dengan lembut.
"Aku memang sudah lepas dari masa nifas,tapi aku masih takut untuk melakukannya sayang,aku harap kamu mengerti" ucap Rere.
"Cie...kamu kangen ya pengen sayang-sayangan sama aku" Elang menggoda istrinya.
Rere menundukkan kepalanya karena malu,dia kira maksud dari perkataan Elang tadi adalah tentang keinginannya untuk melakukan hubungan suami istri.
"Kalo kamu sudah lepas masa nifas berarti kamu sudah bisa shalatkan.Ayo kita shalat isya berjamaah kebetulan aku tadi belum sempat shalat isya"tutur Elang.
"Baiklah tunggu sebentar,aku mau berwudhu dulu"kata Rere.
Rere turun dari kasur lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu,Elang mengikutinya dari belakang.Setelah berwudhu mereka langsung melaksanakan shalat isya yang tadi sempat tertunda.Setelah selesai shalat mereka merebahkan tubuhnya masing-masing di atas kasur.
"Mudah-mudahan tidak ada lagi yang berniat mengganggu dan merusak rumah tangga kita" ucap Elang.
"Iya sayang aku juga berharap demikian" balas Rere.
"Apa kamu yakin ini semua sudah berakhir?" tanya Elang.
"Jangan berakhir disini dulu sayang masih ada beberapa episode lagi,kalo berakhir disini sekarang nanti para readers pada protes" jawab Rere.
Elang tersenyum mendengar jawaban istrinya lalu mereka pun tertidur dengan nyenyak hingga pagi menjelang.
__ADS_1