
Hujan badai sudah reda,hanya menyisakan kekacauan.Pohon tumbang,sampah-sampah berserakan akibat angin tadi.Jaringan telepon dan listrik sudah menyala.Yuna dan Kenzi langsung menelpon orang tua masing-masing untuk memberi tahu kalo mereka baik-baik saja.
Hari sudah malam,Kenzi dan Yuna memutuskan akan pulang besok pagi,jika cuaca mendukung.
" Kata Ayah kalo masih ada badai,kita disuruh tinggal disini untuk sementara waktu sampai kondisi dan cuaca membaik" tutur Yuna.
"Mudah-mudahan besok pagi tidak hujan badai lagi dan kita bisa pulang" ujar Kenzi.
Malam semakin larut,Kenzi dan Yuna pun memutuskan untuk tidur.Berharap besok tidak hujan badai dan mereka bisa pulang.
...----------------...
Pagi hari yang cerah,
Satria sudah rapi dengan pakaian kantornya,hari ini adalah hari pertamanya menjadi Ceo di perusahaan peninggalan ayah kandung Revan.
" Adek beneran gak mau kuliah?" tanya Satria sambil mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke kantor.
" Adek mau di rumah aja,mau belajar masak sama Bik Emi.Adek mau jadi ibu rumah tangga yang baik dan benar,tidak sombong dan rajin menabung" jawab Yura.
" Beruntung sekali Kakak punya istri seperti Adek" ujar Satria.
Setelah semua persiapan beres,Satria pun pergi ke kantor.Yura mengantarkannya sampai ke depan pintu.
" Nak...Bibik ke pasar dulu ya,stok makanan di kulkas sudah habis" pamit Bik Emi sambil membawa keranjang belanja.
" Yura ikut ya Bik" pinta Yura.
Bik Emi terkejut saat mendengar Yura mau ikut ke pasar dengannya." Gak usah nak,di pasar kotor dan becek.Bibik pergi sendiri saja" tolak Bik Emi halus.
" Gak apa-apa Bik,Yura sudah biasa pergi ke pasar sama Bunda" kata Yura.
" Tapi,izin sama Mas Satria dulu,Bibik takut Mas Satria marah kalo tau Nak Yura ikut Bibik ke pasar" kata Bik Emi.
Yura mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Satria,setelah selesai meminta izin Yura memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya.
" Ayo,Bik" ajak Yura.
Bik Emi dan Yura pergi ke pasar di antar oleh suami Bik Emi.
Bik Emi berdecak kagum saat melihat Yura bersikap santai di pasar,tidak merengek atau pun mengeluh.Yura dan Bik membeli beberapa bahan yang di butuhkan,setelah semuanya lengkap mereka pun langsung pulang.
Sesampainya di rumah Bik Emi mengajari Yura cara menyimpan makanan di kulkas.Ikan,ayam dan daging di taruh di kulkas bagian atas,sedangkan sayur mayur di susun di kulkas bagian bawah.
__ADS_1
Kriiing...
Ponsel Yura berdering.Nama Edo tertera di layar ponselnya.Edo melakukan panggilan video.
" Hallo Ayah" kata Yura.
Edo memasang wajah cemberutnya," Apa Adek sudah melupakan Ayah?" tanya Edo.
Ha...ha...ha...Yura tertawa melihat wajah lucu Ayahnya.
" Tidak mungkin Yura lupa sama Ayah tertampan dan terbaik sedunia" jawab Yura.
" Kakakmu sudah pulang,nanti ajak Satria kemari ya" kata Edo.
" Oke,Ayah.Udah dulu ya,Yura sedang belajar masak nih" ujar Yura sambil mengarahkan ponselnya ke arah sayur dan ikan yang tersusun di kulkas.
" Baiklah sayang,ingat pesan Ayah.Belajar masak sampai pintar dan buatlah Satria gendut kayak boboho" ujar Edo.
" Ah....enggak enggak,kak Satria kurus begitu saja sudah berat apalagi gendut...ups" Yura langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
Ha...ha...ha...Edo tertawa keras," Ya sudah,Ayah matikan ponselnya" ujar Edo dan panggilan pun terputus.
" Kenapa Ayah tertawa?" Hal bahagia apa yang membuat Ayah sampe tertawa begitu kerasnya?" tanya Rima.
" Putri tidur masak,bisa hancur tu dapur" celetuk Yuna.
" Kakak...gak boleh gitu ah.Bagus dong Yura mau belajar masak,berarti dia sudah benar-benar jadi perempuan sejati sekarang" tutur Edo.
" Oya Ayah,kak Kenzi kemana ya? dari tadi Yuna gak lihat dia" tanya Yuna.
" Ciee...baru ditinggalin bentar udah rindu aja" goda Edo.
" Ayah ih,kayak gak pernah jadi pengantin baru aja" kata Rima.
" Emang Ayah dulu begitu ya Bun?" tanya Edo.
" Lebih parah" jawab Rima.
" Ayah sama Bunda ni ya,ditanya malah ribut.Bikin kesel" ujar Yuna lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
" Kenzi pergi ke rumah Abah,mau antar oleh-oleh katanya" ujar Rima.
" Kok gak ngajak Yuna?" tanya Yuna.
__ADS_1
" Kenzi sekalian mampir ke kantor.Lagi pula saat Kenzi pergi,kakak lagi tidur" jawab Edo.
" Oya Yah,rumah untuk Yuna udah dibersihkan belum?" tanya Rima.
" Belum lah,biar pemiliknya yang membersihkan rumahnya sendiri" jawab Edo.
" Ayah sama Bunda kasih Kakak rumah,tapi gak kasih untuk Adek.Kakak takut Adek cemburu dan merasa kalo Ayah sama Bunda pilih kasih" tutur Yuna.
" Ayah sama Bunda sudah membicarakan ini pada Yura dan Satria,Mereka berdua tidak masalah.Lagi pula Satria sudah punya rumah sendiri untuk mereka tinggali" jelas Edo.
" Maafkan Yuna ya Ayah,Bunda.Yuna sudah merepotkan Bunda dan Ayah" ucap Yuna.
" Tidak ada anak yang merepotkan orang tua,sudah kewajiban orang tua memberikan yang terbaik untuk anaknya" kata Edo sambil membelai rambut Yuna.
" Kenzi bukan anak dari keluarga kaya,hidup kami hanya mengandalkan dari gaji Kenzi saja.Apa Ayah tidak merasa malu?" Tidak seperti Yura,Satria berasal dari keluarga orang kaya,rumahnya mewah dan megah.Semua serba ada,berbanding terbalik dengan Kenzi yang hanya anak dari seorang peternak kecil" tutur Yura.
Tanpa sepengetahuan Edo,Rima dan Yuna...Kenzi dan Satria mendengar semua percakapan mereka.
" Apa kamu iri dengan apa yang dimiliki oleh adikmu?" apa kamu menyesal sudah menikah dengan Kenzi yang berasal dari keluarga sederhana?" tanya Edo.
" Yuna tidak pernah iri dan Yuna sangat mencintai Kenzi,sedikit pun tidak ada penyesalan dalam hati Yuna" jawab Yuna.
" Apa kamu bahagia bisa hidup bersama Kenzi?" tanya Edo lagi dan dijawab anggukan kepala oleh Yuna.
" Kebahagiaanmu sudah cukup untuk Ayah dan Bunda.Ayah tidak peduli miskin atau kaya menantu Ayah,karena bagi Ayah semua sama.Kenzi dan Satria tidak ada bedanya sama sekali.Harta bisa dicari sayang,tapi kebahagiaanmu hanya kamu yang tentukan dan kamu yang rasakan.Ayah dan Bunda hanya bisa bantu dan beri semampu kami,selebihnya kalian cari sendiri.Ayah yakin Kenzi laki-laki yang hebat,kamu sangat beruntung karena sudah memilikinya" tutur Edo.
" Terima kasih Ayah" ucap Yuna lalu memeluk Edo.
" Hiks...Ayah pilih kasih,kami tidak dipeluk" ujar Satria dari arah belakang Edo dan yang lainnya.
Edo,Rima dan Yuna menoleh kearah Satria dan Kenzi.
" Kalian,sejak kapan disitu?" tanya Edo.
" Kami baru saja sampai?" jawab Satria.
Edo beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah Kenzi dan Satria," Kalian laki-laki yang hebat" ucap Edo lalu memeluk kedua menantunya itu.
" Ayah yang mengajarkan kami menjadi hebat" ujar Kenzi.
Edo melepaskan pelukannya.
" Tentu saja,kehebatan Ayah tidak ada duanya" kata Edo.
__ADS_1