
Kicau burung terdengar sangat merdu,sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar.Perlahan Elang membuka matanya karena merasa silau,Dia menoleh kesampingnya dan Rere sudah tidak ada disana.Elang melihat kearah jam yang ada di dinding sudah jam sembilan.
"Ummmhhhh..."
Elang menggeliat,dia merasa pegal di seluruh badan.
Ceklek
Pintu terbuka dan Rere masuk ke dalam kamar.
"Sudah bangun sayang?" tanya Rere sambil berjalan menghampiri Elang.
"Aku kira kau pergi lagi meninggalkanku" ucap Elang.
"Apa kamu berharap aku pergi?"tanya Rere lagi.
"Tentu saja tidak sayang,kamu harus tetap di sampingku dan terus bersamaku sampai tua dan hanya maut yang bisa memisahkan kita" tutur Elang.
"Ih..bangun tidur udah gombal aja si abang.Buruan bangun bang trus mandi Baby twins udah nungguin tuh di bawah" kata Rere.
"Baiklah,tunggu sebentar ya aku mandi dulu setelah itu kita turun sama-sama" pinta Elang.
"Aku menunggumu sayang" kata Rere sambil tersenyum.
"Senyum itu yang selalu menjadi semangatku"ucap Elang.
Cup
Elang mengecup bibir Rere.
"Morning kiss sayang" ucap Elang sambil berjalan kearah kamar mandi.
Sambil menunggu Elang selesai mandi,Rere merapikan tempat tidur dan juga peralatan shalat yang mereka pakai saat shalat subuh tadi yang di biarkan begitu saja oleh Elang,karena dia masih mengantuk dan mengajak Rere untuk kembali tidur.
"Sayang kita jadi pulang hari ini?" tanya Elang setelah selesai mandi.
"Besok saja ya,Mama mendadak demam"jawab Rere.
"Tumben tu robot bisa demam" gumam Elang.
"Hei nggak boleh ngomong gitu ah,Mama sendiri kok di bilang robot" ucap Rere.
"Lagian demam kok bisa dadakan gitu" sahut Elang.
"Kata Papa sih Mama syok gara-gara kejadian semalam"Rere menjelaskan.
"Hahaha...dan kamu percaya itu sayang? Senjata itu sudah jadi mainan Mama sejak dulu sayang jadi nggak mungkin Mama demam gara-gara itu" tutur Elang.
"Ya mana aku tahu Papa yang bilang begitu,sebagai menantu yang baik aku sih yes aja" kata Rere.
Elang sudah selesai berpakaian,karena hari ini tidak ke kantor Rere memilihkan baju santai untuk Elang pakai.Mereka langsung turun ke bawah untuk melihat keadaan Mama.
"Hai anak-anak Daddy sudah cantik dan tampan" sapa Elang saat melewati ruang keluarga dan Baby twins berada disana bersama Sari.
"Sayang lihat Mama dulu gih sana baru setelah itu main sama kembar" kata Rere.
"Baiklah Tuan Putri hamba ikuti perintah Tuan Putri" ucap Elang menggoda Rere.
Elang berjalan ke kamar Orang tuanya,lalu mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Apa Elang boleh masuk?" tanya Elang.
Ceklek
Papa membuka pintu untuk Elang.
"Masuklah" kata Papa.
Elang masuk ke kamar dan melihat Mama sedang duduk bersandar di kasurnya.
"Elang dengar dari Rere katanya Mama demam" ucap Elang sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Mama.
"Mama hanya syok saja melihat Silvy yang menembak Rere malam tadi" kata Mama.
"Hahaha...sejak kapan Mama takut dengan senjata itu.Hanya dalam satu tembakan saja Mama sudah pingsan,biasanya berpuluh-puluh peluru Mama santai saja" celoteh Elang.
"Ini beda Lang,kalo saja Mama tau Rere punya keahlian seperti itu tentu saja Mama akan santai" ucap Mama.
"Aku juga tidak menyangka Rere sangat ahli dalam hal menembak bahkan dia juga sangat ahli dalam menangkap peluru yang di tembakkan lawan" kata Elang.
"Tapi kenapa dulu dia sangat ketakutan ketika pertama kali Sinta menerornya?" tanya Papa.
"Mungkin itu karena dia belum tahu kita siapa Pa,mungkin juga dia takut kita akan mengusirnya jika kita mengetahui keahliannya" jawab Elang.
"Kalo Mama tidak berfikir begitu Lang" Mama menimpali.
"Lalu apa yang Mama pikirkan?"
tanya Elang dan Papa bersamaan.
"Saat itu dia baru bekerja pada Elang dan pekerjaannya juga cuma mengasuh seorang anak kecil berusia tiga tahunan.Atau Rere juga sudah tahu seberapa hebat dan kuat lawannya" tutur Mama.
"Masuk akal juga sih perkataan Mama...Ya sudahlah semua sudah berlalu yang penting sekarang keluarga kita semua selamat.Bukan salah Rere jugakan menyembunyikan keahliannya dari kita semua" tutur Papa.
"Berarti Rere bisa menggantikan Mama dong mengurusi Mawar Putih" ucap Elang sambil menaik turunkan alisnya,Elang hanya ingin menggoda Mamanya saja.
__ADS_1
"Iya benar tuh apa yang di bilang Elang" kata Papa menimpali perkataan Elang.
"Tidak boleh,Rere tidak boleh menggantikanku memimpin mawar putih,Biar yang lain saja menggantikanku.Lagipula sampai kapan kita terus berkecimpung di dunia itu" kata Mama.
"Hahaha...tenang saja Ma kami hanya bercanda" kata Elang sambil tertawa.
"Mama kira kamu serius Lang" ucap Mama.
"Elang tidak mungkin mengizinkan Rere terjun kedunia itu Ma walaupun kita semua tahu Bunda Sintya juga berada di dunia yang sama dengan kita" tutur Elang.
"Papa juga tidak menyangka kalo kami akan berbesanan dengan pendekar hebat seperti Sintya" kata Papa.
"Pantesan saja Irfan begitu mahir dalam memainkan senjata dan sangat mahir dalam mengatur strategi" oceh Mama.
"Ya sudah sekarang Mama lanjutkan istirahatnya,Elang keluar dulu untuk menemui Baby twins" ucap Elang.
Papa dan Mama menganggukkan kepalanya.
Elang keluar dari kamar lalu bergabung bersama Rere dan Baby twins di ruang keluarga.
"Apa mau sarapan sekarang sayang,biar aku ambilkan" kata Rere saat Elang sudah duduk di kursi.
"Nanti saja sayang aku belum lapar,sekarang aku mau bermain dengan Baby twins dulu" sahut Elang.
"Baiklah" kata Rere singkat.
Elang mengajak Baby twins berbicara dan dia sangat senang ketika Baby twins menanggapinya walau hanya membuka mulutnya saja.
"Dia sudah meresponku,lihatlah" ucap Elang senang.
"Mereka tumbuh dengan cepat" sahut Rere.
"Aku semakin bertambah tua" ucap Elang.
Kriiing...
Ponsel Elang berdering.
Elang merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.Lalu menjawab panggilan dari Edo.
📞"Hallo...Ada apa Do?" tanya Elang.
📞"Tadi Bunda Sintya mengatakan padaku jika Sinta bunuh diri di ruang bawah tanah yang berada di rumah Bunda" jawab Edo.
📞"Benarkah?" tanya Elang kaget.
📞"Iya benar,Bunda yang memintaku untuk memberitahumu?" jawab Edo.
Elang memutuskan panggilan Edo lalu melihat kearah Rere.
"Sinta meninggal di ruang bawah tanah rumah Bunda,katanya dia bunuh diri" jawab Elang.
"Bunuh diri bagaimana,Sedangkan Bunda saja mengikat seluruh tangan juga kakinya" kata Rere.
"Apa Bunda juga menutup mulutnya dengan kain atau sejenisnya?" tanya Elang.
"Tidak,Bunda tidak menutupnya.Emang kenapa?" Rere bertanya.
"Nah itu dia,karena Bunda tidak menutup mulutnya bisa jadi Sinta bunuh diri dengan cara menggigit lidahnya sampai putus dan para penjaga terlambat mengetahuinya" tutur Elang.
"Bisa ya bunuh diri dengan cara seperti itu?" tanya Rere lagi.
"Bisa sayang,karena lidah merupakan ujung dari pembuluh darah.Dengan dia menggigit lidahnya otomatis darah akan mengucur keluar apalagi jika lidah sampai putus dia bisa kehabisan darah" jawab Elang.
Rere mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ya sudah aku pergi dulu,aku mau ikut Edo dan Rima ke rumah Bunda.Kamu di sini saja ya" pinta Elang.
"Iya sayang,pergilah.Hati-hati di jalan" pesan Rere.
Elang beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Papa dan Mama.Elang berbincang sebentar dengan orang tuanya di dalam kamar.Tidak lama kemudian Elang keluar kamar bersama Papa.
"Aku pergi dulu sayang,Assalamualaikum" ucap Elang.
"Waalaikum salam"jawab Rere.
Elang pergi ke rumah Edo karena mereka akan berangkat dari sana dan Papa pergi tidak tahu kemana.
"Sari sepertinya Baby twins mengantuk,kita bawa ke kamar yuk" ajak Rere.
"Baik Nona" kata Sari.
Rere dan Sari membawa Baby twins ke kamar dan membaringkan tubuh keduanya di atas kasur milik Revan.
"Saya keluar dulu Nona,mau membuat susu untuk Baby twins" Sari meminta izin.
"Hemmm" Rere hanya mendehem saja.
Rere menghidupkan tivi yang ada di kamar Revan tapi tidak menemukan acara kesukaannya.
"Hemmm kartun semua"Gumam Rere.
Sari kembali ke kamar sambil membawa dua botol susu dan langsung memberikannya pada Baby twins.
"Pantesan tubuh kalian makin bohay,kalian kuat menyusu" oceh Rere.
"Betul Nona,biasanya anak yang lahir prematur tubuhnya akan kecil tapi beda dengan Baby twins tubuhnya sangat gemuk dan berisi.Lihatlah pipi mereka begitu gembil" tutur Sari.
__ADS_1
Rere memandangi wajah kedua bayinya dengan bahagia.
"Sari aku tinggal ke kamarku dulu ya,kalo mereka sudah nyenyak kamu istirahat saja" kata Rere.
Rere keluar dari kamar anaknya dan langsung menuju ke kamarnya.Sesampainya di kamar Rere langsung menghidupkan tivi dan betapa kagetnya Rere saat melihat berita di tivi yang sedang menyiarkan tentang Silvy.
"Kasihan dia harus mendekam selama 20 tahun di penjara" gumam Rere.
Rere sangat tidak menyangka jika ternyata Silvy mempunyai pekerjaan yang cukup berbahaya dan termasuk dalam daftar pencarian orang.
"Apa Elang sudah mengetahui berita ini?" Rere bertanya sendiri.
Rere mematikan tivinya karena sudah tidak lagi berminat untuk menonton.
"Kasihan Silvy dan juga kasian Revan...Semoga saja aku bisa merawat Revan dengan baik.Aku berjanji padamu mbak" gumam Rere.
***
Elang,Edo dan juga Rima sudah sampai ke rumah Bunda tepatnya rumah orang tua Bunda,rumah sangat sepi seperti tidak ada kejadian apapun.Mereka masuk kedalam rumah dan disambut oleh anak buah Bunda.
"Silahkan masuk Tuan dan Nona,Bos ada di halaman belakang,mari saya antar" kata Orang itu.
Elang,Edo dan Rima mengikuti orang itu ketempat Bunda berada.Bunda sedang melatih silat para anak buahnya.Rima langsung berlari dan bergabung dengan mereka dan mengikuti gerakan mereka.
"Itu beneran istriku Lang?" tanya Edo.
"Lah elo lakiknya masa gak kenal ama bini sendiri" jawab Elang.
"Salah gak sih kalo aku bilang kita ini seperti beli kucing dalam karung?" tanya Edo sambil terus melihat kearah Rima yang sangat lincah dan luwes.
"Apa kamu menyesal Do?" Elang malah balik bertanya.
"Aku tidak menyesalinya sedikitpun Lang,yang jadi pertanyaanku adalah kalo memang Rima ahli dalam beladiri kenapa dulu dia tidak melawan saat di siksa oleh Sinta dan juga Juragan Eman?" tanya Edo.
"Apa kamu lupa bahwa Rere dan juga Rima ajaran agamanya sangat kuat.Jika Rima melawan dan menolak keinginan Juragan Eman dia berpikir dia akan berdosa Do" Elang menjelaskan.
"Kalo aku mah lebih baik berdosa dari pada tersiksa" celetuk Edo.
"Itukan prinsipmu,beda dengan Rima.Dia lebih memilih tersiksa di dunia daripada harus tersiksa di akhirat" kata Elang.
Bunda meminta Rima untuk memimpin para anak buahnya lalu Bunda menghampiri Elang dan Edo.
"Rere tidak ikut bersama kalian?" tanya Bunda.
"Tidak Bunda,Elang menyuruhnya untuk istirahat" jawab Elang.
"Ya sudah kalo begitu...Kamu Do gak berniat ikut ke dalam barisan?" Bunda bertanya pada Edo.
"Nggak Bunda..hehehe" jawab Edo sambil cengengesan.
"Edo nggak menguasai beladiri Bunda,dia lebih ahli dalam mengatur strategi perang" imbuh Elang.
"Oya Bunda bagaimana dengan jenazah Sinta apa sudah di kebumikan?" tanya Elang.
"Subuh tadi saat Bunda sampai jenazahnya langsung dikebumikan oleh mereka" jawab Bunda sambil menunjuk sekelompok orang yang sedang berteduh di bawah pohon.
"Maaf nyonya bisakah ikut saya sebentar" tiba-tiba seorang pelayan datang dan meminta Bunda untuk ikut dengannya.
"Ada apa?" tanya Bunda.
Pelayan itu tidak menjawab pertanyaan Bunda,dia hanya melihat kearah Elang dan Edo.
"Mereka berdua menantuku,bicaralah" kata Bunda.
"Nona Silvy di tuntut hukuman 20 tahun penjara Nyonya,itu beritanya sedang tayang di tivi" jawab Pelayan itu.
"Kenapa sudah di putuskan,bukankah Silvy belum menjalani sidang" kata Bunda.
"Iya Bunda benar,apalagi ini hari minggu.Bukankah pengadilan atau apapun itu semua tutup" kata Edo.
"Mungkin Papa yang mengajukan tuntutan dan meminta untuk mempercepat prosesnya.Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh anak Alberto yang satu itu" celetuk Elang.
"Woy...biar begitu dia itu Papamu" kata Edo sambil menepuk kepala Elang.
"Hahaha...Iya juga ya" ucap Elang sambil tertawa.
Bunda menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua menantu di depannya.Bunda mengangkat tangannya ke udara lalu mengepalkan tinjunya dan bersamaan dengan itu semua yang sedang latihanpun berhenti.
"Sudah cukup untuk hari ini,kalian boleh istirahat" Bunda memberi perintah
Rima membubarkan barisan lalu menghampiri Bunda.
"Wih segeran badan Rima Bunda setelah latihan,sudah cukup lama Rima nggak pernah latihan lagi"tutur Rima.
"Kamu harus sering-sering latihan agar tidak lupa,Bunda perhatikan tadi gerakanmu sedikit kaku" kata Bunda.
"Kaku Bunda? Edo lihat Rima tadi gerakannya sangat luwes" kata Edo.
"Tau apa kamu" kata Bunda sambil menonyor kepala Edo.
Hahaha
Elang dan Rima tertawa melihat Bunda dan Edo.
"Ayo masuk hari sudah siang dan sebentar lagi sudah jam makan Siang.Rima bersihkan dulu tubuhmu di kamar,kami tunggu di ruang makan,Kita makan siang bersama" kata Bunda.
Mereka masuk ke dalam rumah,Bunda beserta Elang dan Edo langsung menuju ke ruang makan sedangkan Rima masuk ke kamar untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.Setelah selesai membersihkan diri Rima langsung menuju ruang makan bergabung bersama Bunda,Edo dan Elang.
__ADS_1