Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 142


__ADS_3

Malam semakin larut,hujan deras mengguyur kota.Rere masih terjaga dan sedang berdiri di depan pintu sambil melihat ke arah luar rumahnya.


"Elang kemana ya kok belum pulang sudah jam segini" gumam Rere sambil melihat ke arah jam di dinding.


"Nona belum tidur?" tanya Romlah sambil berjalan menuruni tangga.


"Aku menunggu Elang pulang" jawab Rere.


Romlah pergi ke dapur untuk mengambil minum,setelah itu dia kembali ke kamarnya.


Mobil Elang memasuki area rumahnya lalu berhenti tepat di depan pintu.Elang turun dari mobilnya lalu menghampiri Rere.


"Kenapa belum tidur sayang,ini sudah larut malam" kata Elang.


"Aku menunggumu sayang,aku mengkhawatirkanmu" kata Rere.


"Aku terjebak macet tadi,ada pohon tumbang yang melintang di jalan dan aku tidak bisa menghubungimu karena ponselku mati" tutur Elang.


"Sudah makan?" tanya Rere.


"Sudah sayang.Ayo ke kamar,aku belum mandi" kata Elang.


Rere berjalan beriringan dengan Elang menuju kamarnya.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Elang.


"Sudah sayang" jawab Rere.


Elang masuk kedalam kamar mandi,Rere mengambilkan celana pendek untuk Elang lalu meletakkannya di atas kasur.Elang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja.


"Bagaimana hari pertama Revan sekolah?" tanya Elang sambil memakai celananya.


"Lancar sayang dan dia sangat senang sekali,apalagi pujaan hatinya juga ada di situ" jawab Rere.


"Restu maksudmu sayang?" tanya Elang.


"Iya,ternyata ibunya Restu guru yang mengajar di sekolah Revan"jawab Rere.


Elang merebahkan tubuhnya di kasur.


"Tidurlah sayang,aku sudah mengantuk" kata Elang.


Rere merebahkan tubuhnya di samping tubuh Elang,Rere tidur dalam posisi miring lalu dia memeluk tubuh suaminya.


"Tidak terasa ya Revan sudah mulai sekolah,Kiandra dan Winara sudah mulai berjalan dan berlari kesana kemari" gumam Elang sambil mengusap rambut Rere kemudian mengecupnya.


"Kita semakin tua saja" sambung Rere.


"Yah begitulah hidup ini,semua terasa sangat singkat" kata Elang.


Kriing....


Ponsel Elang berdering.


Elang mengambil ponsel di dalam tas kerjanya lalu melihat siapa yang menelponnya.


"Edo,ada apa malam-malam begini menelponku" guman Elang.


"Siapa sayang?" tanya Rere.


Elang memperlihatkan layar ponselnya pada Rere.


"Untuk apa Edo menelponmu jam dua malam begini?" tanya Rere.


"Gak tau" jawab Elang.


Elang langsung menjawab panggilan Edo di ponselnya.


📞"Hallo Do,ada apa? Ganggu orang tidur aja" gerutu Elang.


📞"Lang kemarilah,temani aku" kata Edo dari sebrang telpon.


📞"Emang sekarang kamu lagi dimana?" tanya Elang mulai serius.


📞"Di rumah sakit,Rima mau melahirkan" jawab Edo.


Elang langsung mematikan ponselnya dan mengambil baju di lemari.


"Ada apa sayang?" tanya Rere yang bingung melihat Elang terburu-buru memakai bajunya.


"Rima mau melahirkan dan Edo memintaku untuk menemaninya di rumah sakit" jawab Elang.


"Aku ikut" pinta Rere.


"Kamu di rumah saja ya,setelah mengantar Revan sekolah pagi nanti kamu bisa mampir ke rumah sakit" kata Elang.


"Baiklah sayang" Rere menuruti perintah Suaminya.


"Tidurlah sayang,aku pergi dulu ya.Tidak usah mengantarku" kata Elang.


Rere mengangguk.


Cup


Elang mencium kening Rere lalu pergi.


**


Di Rumah Sakit,

__ADS_1


Edo memeluk tubuh Rima sambil berdiri,Rima menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.Sesekali wajahnya meringis karena merasakan sakit di perutnya.


Cup


Edo mencium puncak Rambut Rima.


"Sakit?" tanya Edo.


Rima mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.


Cup


Edo mencium kening Rima.


Edo membimbing Rima untuk bershalawat.


Tadi dokter sudah memeriksanya dan baru pembukaan lima.


"Mau berbaring sayang?" tanya Edo dengan lembut.


Rima menggelengkan kepalanya.


"Awh...." Rima merintih sambil memegang perutnya.


"Andai saja rasa sakit itu bisa ku pindahkan,biarlah aku yang menanggung sakitnya" ucap Edo sambil menitikkan air matanya.


Ceklek


Pintu ruangan itu terbuka.


Elang dan David masuk ke ruangan itu,tadi sewaktu di jalan Elang menghubungi David dan meminta David untuk datang ke rumah sakit.


"Do" sapa Elang dan David bersamaan.


Elang meringis saat melihat Rima merintih menahan sakit.


"Kenapa tidak di sesar saja Do,apalagi Rima akan melahirkan dua anak" tanya Elang.


"Aku sudah menyarankannya Lang,tapi Rima bersikeras ingin melahirkan secara normal" jawab Edo tanpa melepas pelukannya pada Rima.


"Semangat....kamu pasti bisa" kata Elang sambil mengusap punggung Rima.


"Makasih Mas" kata Rima lirih.


"Awh...Sayang..." kali ini Rima merintih lebih lama dari yang tadi.


"Rima ngompol" seru David saat melihat air mengalir di kaki Rima.


"Ketubannya pecah...panggil dokter" kata Elang.


David keluar dari ruangan itu dan berlari ke ruangan Dokter,tidak lama kemudian David kembali lagi bersama Dokter dan beberapa perawat.


"Tolong yang lain keluar,bayinya sudah mau lahir" pinta Dokter.


"Kamu wanita kuat...kamu pasti bisa" kata David pada Rima.


Lalu Elang dan David pun keluar dari ruang bersalin dan duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu.


"Haris tidak datang?" tanya David.


"Dia sedang keluar kota" jawab Elang.


"Oh..." kata David.


"Bagaimana Sari,apa masih sering muntah-muntah?" tanya Elang.


"Sari muntah di waktu pagi saja,setelah itu tidak lagi" jawab David.


"Sudah berapa bulan?" tanya Elang.


"Sari sudah dua puluh lima tahun Lang" jawab David sambil tersenyum.


"Garing lu...maksud aku kehamilan Sari sudah berapa bulan bukan umur Sari yang aku tanya" protes Elang.


"Memasuki dua belas minggu" kata David.


"***** makannya bagaimana? Kalo Rere dulu ***** makannya meningkat bisa tiga kali lipat tapi permintaannya aneh-aneh" kata Elang.


"Aneh bagaimana?" tanya David sambil mengkerutkan keningnya.


"Dia pernah minta nasi padang di campur pecel ulek,trus pernah juga dia minta di beliin motor matic berwarna cewek banget dan dia memintaku yang mengendarainya.Aku sempet menolak eh dia malah ngambek" tutur Elang.


"Sari sih kalo soal makan masih normal seperti biasa tapi kalo lagi minta sesuatu aku bisa syok di buatnya" kata David.


"Syok kenapa?" tanya Elang.


"Dia minta bakso malang dan aku harus langsung membelinya di kota Malang.Sampai sini tu bakso udah basi Lang.Pernah sekali dia mengidam ingin mengelus kumis tukang sate Lang,untung tukang satenya baik dan mengizinkan Sari mengelus kumisnya" tutur David.


"Parah gila" ucap Elang.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan.


"Alhamdulillah" ucap Elang.


"Baru satu Lang,kan bayinya dua" kata David.


"Ya sabar dong,nanti juga keluar yang satu lagi" kata Elang.


Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi lagi.

__ADS_1


Elang dan David pun saling peluk,lalu mereka berdua berdiri di depan pintu untuk menunggu Edo keluar.


Di dalam ruangan,


Edo menangis haru saat melihat kedua putrinya lahir dengan selamat.Dia mengecup kening Rima.


"Terima kasih sayang" ucap Edo.


Setelah di bersihkan perawat menyerah kedua anak Edo untuk di adzani.Setelah selesai perawat meletakkan kedua bayi di boxnya.


"Tuan bisa tolong keluar,kami akan membersihkan tubuh istri anda dan membawanya ke ruang perawatan"tutur Perawat pada Edo.


Edo mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


"Do kenapa acak-acakkan begitu penampilanmu?" tanya Elang saat melihat Edo keluar dari ruangan dengan kondisi baju kusut dan rambut acak-acakkan.


"Rima yang melakukannya" jawab Edo lalu duduk di kursi.


"Dulu waktu Rere melahirkan gak gitu-gitu amat" kata Elang.


"Rere sesar Lang,dia di bius.Rima melahirkan secara normal,Aku ngeri melihatnya.Dia meraung kesakitan,aku hambis di jambaknya" tutur Edo.


"Eh tu anak bedua udah di adzanin belum?" tanya David.


"Sudah" jawab Edo sambil menguap.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka dan beberapa perawat mendorong brankar Rima menuju ruang perawatan dan perawat yang lain menggendong kedua anak Edo.


Edo,Elang dan David mengikuti perawat yang membawa Rima dari belakang.


"Selamat ya Rima,kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang" kata Elang saat mereka sudah berada di ruang perawatan.


"Terima kasih Mas" ucap Rima.


"Lihatlah mereka lucu sekali" kata David saat melihat kedua anak Edo.


"Nanti kamu juga akan memilikinya" kata Elang.


"Tapi punyaku cuma satu" kata David.


"Satu juga lumayan dari pada gak ada" Edo menimpali.


"Lang kita pulang yok,biarkan Rima dan Edo istirahat.Siang nanti baru kita kesini lagi" ajak David.


Elang mengangguk lalu pamit pada Edo dan Rima.


Kini tinggallah Edo,Rima dan kedua bayinya berada dalam ruangan itu.


"Istirahatlah sayang,kamu pasti lelah setelah berjuang untuk melahirkan anak kita" kata Edo.


"Terima kasih sudah mendampingiku" ucap Rima.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu sayang" balas Edo.


Rima tersenyum lalu mulai memejamkan matanya yang terasa sangat mengantuk.Setelah Rima tertidur Edo masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya,setelah itu dia melaksanakan shalat subuh karena memang sudah waktunya.


"Ayah bisa tolong ambilkan minum?" kata Rima saat melihat Edo sudah selesai shalat.


"Kamu memanggilku Ayah sayang?" tanya Edo.


"Aku tidak mungkin memanggilmu kakak setelah ada mereka" jawab Rima sambil tersenyum lalu mendudukkan tubuhnya di kasur.


Edo mengambilkan air minum untuk Rima lalu memberikannya pada Rima.


"Terima kasih" ucap Rima.


"Siapa nama mereka?" tanya Edo lalu duduk di kursi yang ada di tengah-tengah antara kasur Rima dan Box kedua bayinya.


"Kamu Ayahnya,kamu yang kasih mereka nama" jawab Rima.


Edo terdiam sejenak.


"Bagaimana kalo Celin dan Celena,artinya bulan dan bintang" kata Edo.


"Bagus,Kakak Celin dan adik Celena" kata Rima.


Hemmm...Edo mendehem sambil mengangguk.


"Jadi Ayah harus panggil Bunda atau Ibu nih?" tanya Edo sambil membelai rambut Rima.


"Terserah Ayah saja,mana yang lebih Ayah suka?" tanya Rima.


"Panggil Bunda saja ya?" tanya Edo.


Rima mengangguk sambil tersenyum.


"Tidurlah,kamu pasti mengantuk" kata Edo.


Oek...


Tiba-tiba salah satu bayi Edo menangis.


"Tolong Yah bawa sini,Bunda mau memberinya Asi" pinta Rima.


"Ini Celin atau Celena?" tanya Edo sambil menyerahkan bayinya pada Rima.


"Ini adik Yah,Celena" jawab Rima.

__ADS_1


Rima memberi Asi pertama pada Celena setelah Celena tidur Edo meletakkan kembali bayinya di boxnya.Kini giliran Celin yang menangis dan Edo memberikan Celin pada Rima dan Rima pun memberinya Asi.


Edo menitikkan air matanya lalu mengecup puncak kepala Celin yang sedang menyedot asi dari pabriknya,hati Edo sangat bahagia sekali.


__ADS_2