
Malam yang indah,langit dihiasi oleh rembulan dan bertaburan bintang-bintang.Bunyi deburan ombak semakin menambah suasana damai.Di sinilah Elang sedang duduk,menikmati angin malam.Duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon yang rindang.
"Daddy masuk yuk,udah malem lo.Udara semakin dingin nanti Daddy bisa masuk angin" kata Rere lalu duduk di samping Elang.
"Anak-anak sudah tidur Mom?" tanya Elang.
"Sudah,yang lain juga sudah tidur" jawab Rere.
"Kenapa Mommy belum tidur?" tanya Elang.
"Gak bisa tidur,di dalam terasa gerah" jawab Rere.
"Gerah atau karena gak ada Daddy di samping Mommy,hemmm" goda Elang.
"Nah itu dia salah satu alasannya" kata Rere sambil tersenyum.
Elang mengangkat tubuh Rere dan membawanya kepangkuan Elang.
"Mau berapa hari disini?" tanya Elang.
"Terserah Daddy saja,Mommy mah ngikut aja" jawab Rere.
"Dua hari saja di sini ya,sepulang dari sini kita ke kebun.Kemarin penjaga kebun menghubungi Daddy katanya mereka panen banyak buah sekaligus panen ikan" kata Elang.
"Apa kebun aman untuk Kiandra dan Winara Dad?" tanya Rere.
"Tentu saja aman,disana juga banyak orang yang nanti akan menjaga mereka" jawab Elang.
"Baiklah kalo begitu,tapi bagaimana dengan sekolah Abang?" tanya Rere.
"Daddy sudah meminta izin pada gurunya dan gurunya menyetujuinya" jawab Elang.
Rere menyandarkan kepalanya di dada Elang.
"Mommy kangen sama Bunda" ucap Rere lirih sambil memainkan jarinya di dada Elang.
"Emangnya Bunda belum pulang ya?" tanya Elang.
"Belum,Bunda bilang pekerjaannya di sana belum selesai dan kemungkinan Bunda akan lama di sana" jawab Rere lesu.
"Apa kita pergi ke tempat Bunda saja,tidak usah pergi ke kebun?" tanya Elang.
"Tapi Mommy pengen ke kebun" jawab Rere dengan nada manja.
"Galau melanda hati" kata Elang sambil mencolek hidung Rere.
"Bobok yuk,Mommy sudah ngantuk" ajak Rere.
"Apa ada jatah lembur Daddy untuk malam ini?" tanya Elang sambil menaik turunkan alisnya.
"Terserah Daddy saja,Daddy bosnya" jawab Rere sambil tersenyum.
Dengan semangat Elang membawa Rere ke kamar,sampai ke kamar Elang langsung mengerjakan tugas lemburnya.Sekitar dua jam barulah tugasnya selesai.
"Kapan sih Daddy tu merasa capek?" tanya Rere.
"Emangnya kenapa Mom?" Elang balik bertanya.
"Habisnya setiap hari,gak peduli siang atau malam Daddy selalu ambil jatah" jawab Rere.
"Tidak ada kata capek dalam kamus Daddy,mau tambah jam lembur hemmm?" tanya Elang sambil menyeringai.
"Mati aku" kata Rere sambil menepuk keningnya.
Hahaha...
Elang tertawa melihat tingkah istrinya.
"Apa berbahaya jika dalam waktu dekat Mommy hamil lagi?" tanya Elang.
"Berbahaya sih mungkin tidak,tapi Mommy masih takut" jawab Rere.
Elang manggut-manggut saja,dia cukup mengerti kenapa Rere masih takut.
Elang turun dari kasurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Rere menatap langkah Elang dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Apa Daddy benar-benar ingin menambah momongan lagi?" tanya Rere saat melihat Elang keluar dari kamar mandi.
Elang menoleh ke arah Rere yang sedang duduk di tepi kasur.
"Tidak usah terlalu dipikirkan,Daddy hanya bertanya saja" jawab Elang lalu memakai pakaiannya.
"Tumben pake baju?" tanya Rere.
"Udaranya dingin banget,Daddy sampai menggiggil" jawab Elang.
Rere turun dari kasurnya,dia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai.
"Mom" kata Elang saat Rere baru akan masuk ke dalam kamar mandi.
Rere menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Elang.
"I Love You" kata Elang dengan suara pelan.
Rere menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke kamar mandi.Tidak lama kemudian Rere keluar lagi.
"Kenapa tadi geleng-geleng,apa Mommy sudah tidak mencintai Daddy lagi?" tanya Elang sambil menghampiri Rere lalu memeluknya dari belakang.
"Mommy hanya merasa lucu saja melihat tingkah Daddy yang konyol" jawab Rere.
"Tapi Mommy suka kan?" goda Elang yang semakin mengeratkat pelukannya.
"Daddy udah dong,Mommy udah kedinginan nih.Mommy mau pake baju dulu" kata Rere.
"Kalo Mommy kedinginan,dengan senang hati Daddy akan menghangatkan tubuh Mommy" kata Elang.
"Mau nya" kata Rere sewot.
Elang melepaskan pelukannya,dia tidak mungkin membiarkan Rere kedinginan.
Setelah Rere selesai pakai baju,Rere langsung naik ke kasurnya dan merebahkan tubuhnya di samping Elang.Udara malam ini sangat dingin,Rere merapatkan tubuhnya pada tubuh Elang.
"Dingin ya Mom?" tanya Elang.
"Hemmm" jawab Rere.
"Tadi beda" jawab Rere singkat.
"Iya sih tadi beda,Daddy terus dong...Mommy udah gak tahan nih" Elang terus menggoda Rere.
"Daddy...Mommy ngantuk nih,udah dong ngocehnya" kata Rere.
Elang memeluk tubuh Rere dan mereka pun langsung tertidur.
***
Wildan sedang berjalan mondar-mandir di ruang tamu,hatinya gelisah.Bukan karena gak dapat jatah main bola tapi karena bingung bagaimana cara dia memutuskan hubungannya dengan gadis-gadis penghiburnya di luar sana.
Drtt...
Ponsel Wildan bergetar,satu pesan masuk ke ponselnya.Pesan ini bukan yang pertama tapi sudah yang kesekian kalinya masuk ke ponsel Wildan.Dan isinya semua sama,para gadisnya mengajaknya ketemuan dan mengajaknya tempur.
"Belum tidur Wili?" tanya Arumi yang sedang berjalan menuruni tangga.
Wili adalah nama panggilan Wildan dari teman dekatnya saat masih sekolah dulu dan hanya Arumi satu-satunya wanita yang memanggilnya dengan sebutan itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Wildan.
"Aku mau ke dapur untuk mengambil air minum" jawab Arumi.
Wildan terus memperhatikan langkah Arumi yang berjalan menuju dapur.Arumi memakai daster tanpa lengan dan pendek sebatas lutut.
Glek
Wildan menelan air liurnya.
Otaknya sudah traveling kemana-mana.Di tambah lagi saat melihat Arumi berjalan ke arahnya,sangat terlihat jelas kalo kedua benda di depan Arumi tidak berbungkus.
Wildan mengelap keringat yang mulai mengucur di wajahnya,tubuhnya tiba-tiba saja merasa kegerahan.Padahal udara malam ini terasa sangat dingin.
"Kamu kenapa Wili?" tanya Arumi,berpura-pura tidak tau kalo wildan sedang dilanda ***** yang begitu besar.
__ADS_1
"Ah....tidak apa-apa.Aku hanya kegerahan saja" jawab Wildan.
Arumi mendekati Wildan lalu berdiri di depan Wildan.Arumi sengaja sedikit merapatkan tubuhnya pada Wildan.
"Keringatmu banyak sekali Wil,apa pendingin ruangan disini tidak berfungsi?" tanya Arumi sambil mengelap keringat Wildan menggunakan tangannya.
"Mungkin pendinginnya rusak" jawab Wildan,suaranya terdengar bergetar.
Arumi tersenyum sangat tipis sampai-sampai Wildan tidak menyadarinya.
"Ah...kamu benar pendinginnya rusak karena aku juga mulai kegerahan" kata Arumi dengan nada sedikit mendesah dan menggoda.
Wildan memandangi wajah Arumi dengan tatapan penuh damba.Arumi pura-pura tidak mengetahuinya.Arumi tetap sibuk mengelapi keringat yang membasahi wajah Wildan.
"Kenapa menatapku seperti itu,apa ada kotoran dimataku?" tanya Arumi.
"Ah...eh tidak ada" jawab Wildan salah tingkah.
Kriiing
Ponsel Wildan berbunyi,
Panggilan video masuk ke ponsel Wildan,terpampang foto profil wanita polos tanpa sehelai benang pun di ponsel Wildan.Dan Arumi melihat itu.
"Wanitamu sudah menunggumu,pergilah" kata Arumi.
Arumi berjalan menuju kamarnya meninggalkan Wildan sendirian di ruang tamu.
SAKIT!
Itu yang Arumi rasakan,walau belum sepenuhnya Arumi mencintai Wildan tapi sebagai seorang istri dia juga punya hati dan perasaan.
Arumi merebahkan tubuhnya di kasur lalu tidur dengan posisi miring.Tidak ada air mata,yang ada hanya kepedihan dalam hatinya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka.
Wildan masuk ke dalam kamarnya lalu naik ke kasur dan berbaring di samping Arumi.Wildan memeluk tubuh Arumi yang membelakanginya.
"Maafkan aku Arumi,aku tidak bermaksud menyakiti hatimu.Aku berjanji akan meninggalkan mereka semua" tutur Wildan.
Arumi pura-pura tidur dan seolah tidak mendengar perkataan Wildan.
Dari awal Arumi sudah tau kalo Wildan pemain wanita,dia menerima Wildan hanya karena Andre.Dia tidak berharap banyak dari pernikahannya,yang penting baginya adalah kebahagiaan Andre anaknya.
"Arumi" bisik Wildan.
Arumi diam saja tak bergeming.
"Aku tau kamu belum tidur" kata Wildan lagi.
"Ada apa sih Wil,aku ngantuk" kata Arumi tanpa merubah posisinya.
"Apa malam ini aku boleh keluar?" tanya Wildan.
Bukan hendak mendatangi para gadisnya untuk bercinta tapi Wildan ingin memutuskan hubungan dengan para gadisnya secara baik-baik.
"Pergilah,bukankah tadi aku sudah menyuruhmu pergi" jawab Arumi.
"Tapi..." perkataan Wildan menggantung karena Arumi memotongnya.
"Pergilah,jangan hiraukan aku.Aku sudah ngantuk Wil,aku mau tidur" kata Arumi.
Huft...
Wildan turun dari kasurnya lalu mengambil bajunya di lemari,setelah selesai memakai bajunya Wildan mendekati Arumi lalu mengecup kening Arumi dengan lembut.
"Aku akan segera kembali" kata Wildan lalu keluar dari kamarnya.
"Haruskah aku tersakiti lagi dipernikahanku kali ini,apa aku tidak pantas untuk bahagia...hiks" Arumi mulai menangisi nasibnya.
Arumi duduk di kasurnya sambil memeluk kedua lututnya.Hatinya terasa sangat hancur.Dulu dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya selingkuh dengan sahabatnya dan sedang bergumul diatas kasurnya dan sekarang dia harus rela melepaskan suami dari pernikahan keduanya pergi menemui para gadisnya.
"Apa aku salah jika aku bilang dunia ini sangat kejam" gumam Arumi lirih.Suaranya terdengar bergetar karena menahan tangisnya.Tidak lama kemudian diapun tertidur dengan posisi duduk sambil memeluk lututnya dan kepala yang bertumpu pada lutut.
__ADS_1