Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 74


__ADS_3

Malam berganti pagi,jam sudah menunjukan pukul enam.Cuaca di luar masih gerimis,Edo dan Rima masih tidur di kamarnya.Begitu juga dengan Elang dan Rere,mereka masih berbaring di kasurnya.


"Di luar masih hujan sayang,apa jalanan daerah sini tidak licin?"tanya Rere.


"Sangat licin sayang,tapi harus bagaimana lagi kamu harus cek kandungan hari ini" jawab Elang.


"Di tunda saja sayang,nanti kalo hujan sudah reda baru kita pergi" kata Rere.


"Baiklah,aku hubungi doktermu dulu ya" ucap Elang.


Elang mengambil ponselnya lalu menghubungi dokter kandungan yang biasa menangani Rere.


"Kata dokter minggu depan saja cek kehamilannya sayang,sekarang Dia sedang di luar kota" kata Elang setelah selesai menghubungi dokter lalu duduk di samping Rere.


"oke lah kalau begitu,berarti liburanku disini di perpanjang" ucap Rere.


"Boleh tapi tidak disini,kita bisa ganggu Edo dan Rima kalo tetap disini" kata Elang.


"Trus dimana donk,aku kan maunya disini di tepi pantai"ucap Rere sambil memasang wajah cemberut.


"Di suatu tempat yang lebih indah, kamu mau?" tanya Elang.


"Asalkan selalu bersamamu,kemanapun dan dimanapun aku mau" jawab Rere.


"Siang nanti kita berangkat ya,tunggu hujan reda"


Rere menyandarkan kepalanya di dada Elang,tempat yang sangat nyaman bagi Rere.


"Sayang usia kandunganmu baru enam bulan,tapi kok besar banget ya.Atau jangan-jangan juniorku ada dua di dalam sini?" ucap Elang sambil mengelus perut Rere.


"Setiap orang hamil pasti perutnya besar sayang,kamu ada-ada aja ah.Lagian di keluargaku gak ada riwayat keturunan kembar" jawab Rere.


"Tapi dari pihak keluargaku ada yang kembar" ucap Elang.


"Yah kita lihat saja nanti waktu utun lahir" jawab Rere santai.


"Emang waktu di USG gak keliatan kembar atau enggaknya?" tanya Elang.


"Rahasia" jawab Rere sambil beranjak dari kasurnya,dia berjalan menuju kamar mandi.


Elang termenung mendengar jawaban Rere.


"Dulu waktu Silvy sedang hamil Revan tidak sebesar ini perutnya" gumam Elang.


"Gak usah terlalu dipikirkan sayang,nanti kamu stres trus jadi cepet tua" celetuk Rere yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Apa kamu bilang,aku tua sayang.Tapi tua-tua begini aku masih joss sayang" ucap Elang sambil mendekati Rere yang sedang mengambil sesuatu di kopernya.


"Apanya yang joss?" tanya Rere sambil tetap membongkar isi kopernya.Dia belum sadar jika ancaman sang Elang sedang mengintainya dari belakang.


"Joss sudah membuat dirimu dung dalam sekali genjot sayang" jawab Elang sambil memeluk tubuh Rere dari belakang.


"Kenapa di bongkar lagi isi kopernya?" tanya Elang.


"Aku mencari dalamanku,tadi aku ngompol di celana" jawab Rere lirih.


"Tidak usah pake dalaman,gini aja biar enak" kata Elang sambil mengangkat tubuh Rere dan membawanya ke kasur.


"Sayang mau ngapain ih,udah siang nih waktunya sarapan" kata Rere.


"Ini aku juga mau sarapan sayang sama junior" ucap Elang yang langsung mencumbu Rere.


**


Rima membuka matanya dan yang pertama dia lihat adalah wajah Edo yang sedang tertidur pulas di sampingnya.Rima menatap wajah tampan di hadapannya,hidung mancung,mata sayu,rahang tegas yang di tumbuhi bulu-bulu tipis.


"Sudah puas melihat wajah tampanku sayang?" tanya Edo sambil membuka matanya.


"Ka...kamu sudah bangun kak?" Rima bertanya dengan gugup.


"Sudah sejak tadi,sejak kamu mengagumi wajahku" jawab Edo sambil menyibakkan rambut Rima dan menyelipkannya di belakang telinga.


Cup


Edo mengecup bibir Rima.

__ADS_1


"Morning kiss sayang,kamu harus mulai terbiasa" ucap Edo sambil tersenyum.


Rima menelusupkan wajahnya ke dada Edo,wajahnya merona.


"Apa kamu malu sayang?" tanya Edo.


Rima mendongakkan wajahnya dan pandangan mereka saling bertemu.Edo mendekatkan wajahnya ke wajah Rima.Namun tiba-tiba wajah Rima berubah pucat,tubuhnya gemetaran.


"Jangan, jangan lakukan itu.Jangan siksa aku" kata Rima sambil menjauh dari Edo.


Rima duduk di tepi kasur sambil memeluk lututnya.Bayangan Juragan Eman yang menyiksanya setiap akan melakukan hubungan intim terlintas di ingatannya.


Edo mendekati Rima dan memeluknya dari belakang.


"Aku harus menyembuhkan traumanya secara perlahan" gumam Edo dalam hati.


"Aku keluar dulu,bersiaplah.Ini sudah waktunya sarapan,aku tunggu di meja makan" ucap Edo lalu turun dari kasur Rima dan melangkah ke arah pintu.


"Kak..."


Edo menoleh dan tersenyum ke arah Rima.


"Maaf" ucap Rima.


"Mandi dan bersiaplah,jangan terlalu dipikirkan" kata Edo.


Rima turun dari kasurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.Dia menghidupkan kran air dan mengisi bak mandi.


"Ampuni dosaku Ya Allah telah menolak keinginan suamiku,Ampuni aku" Rima menangis di kamar mandi.


Cukup lama dia menangis di kamar mandi,sampai matanya sembab.


Tok tok tok


Rima mengusap air matanya.


"Siapa" terian Rima dari dalam kamar mandi.


"Rere"


"Rima kamu habis menangis,ada apa? Apa Edo menyakitimu?" tanya Rere.


"Re...huaaaaa" Rima menangis dalam pelukan Rere.


"Hei ada apa ini,kenapa kamu jadi seperti ini.Katakan padaku Rima kamu ada masalah apa?" kata Rere lagi.


"Aku sudah berdosa Re,aku berdosa" ucap Rima.


"Berdosa ? karena apa?" tanya Rere bingung.


"Aku sudah menolak keinginan Kak Edo Re,aku menolaknya.Aku takut Re,aku takut kejadian dulu terulang lagi" jawab Rima sambil terisak.


"Rima lihat mataku,Percaya padaku kalo Edo itu tidak sama dengan juragan Eman.Tidak semua laki-laki punya kelainan seksual seperti itu" tutur Rere.


"Kamu tau Re,setiap tidurku aku selalu bermimpi kejadian itu Re.Kejadian itu menyiksaku" kata Rima.


Rere memeluk Rima dan mengusap punggung Rima dengan lembut.Edo dan Elang yang sedari tadi berdiri di dekat pintu mendengar semua percakapan Rere dan Rima.


"Kamu harus sabar menghadapinya Do,aku yakin kamu bisa mengobati traumanya" kata Elang sambil menepuk bahu Edo dan keluar dari kamar itu.Edo mengikuti elang yang berjalan menuju ke ruang tamu.


"Aku jadi paham dan mengerti kenapa Om Irfan memintaku menikahi Rima tanpa sepengetahuan Rima" kata Edo.


"Karena apa?" tanya Elang.


"Karena jika Rima tau dia pasti akan menolaknya dan Om Irfan takut Rima semakin terjerat oleh rasa traumanya" jawab Edo.


"Masuk akal juga alasanmu,lakukanlah secara pelan-palan Do jangan terburu-buru.Aku yakin perlahan nanti rasa traumanya pasti akan hilang" saran Elang.


"Serius amat ngobrolnya,lagi bicarain apaan sih?" tanya Rere sambil duduk di samping Elang.


"Rima mana,kok gak bareng sama kamu Re?" tanya Edo.


"Lagi bersiap di kamarnya,sebentar lagi juga keluar" jawab Rere.


"Parjo sama Bi Romlah gak datang hari ini sayang,jadi belum ada sarapan.Kamu mau makan apa pagi ini,biar aku keluar untuk mencarinya" kata Elang.

__ADS_1


"Ada stok bahan makanan gak di kulkas,kalo ada biar aku sama Rima yang masak" kata Rere.


"Coba cek aja,siapa tau ada" kata Edo.


Rere berjalan menuju dapur dan membuka kulkas,cuma ada beberapa butir telur dan sedikit sawi di dalamnya.Rere membuka lemari yang ada di dapur dan melihat ada beberapa bungkus mie instan.


"Masak mie instan aja deh biar cepet" Gumam Rere.


Rere mengeluarkan telur,sawi dan mie instan.


"Masak apa Re?" tanta Rima.


"Cuma ada ini di kulkas" jawab Rere.


"Eh tu ada kerupuk mentah,bikin seblak yuk " kata Rima sambil menunjuk bungkusan kerupuk mentah yang ada di rak bumbu.


Rere dan Rima akhirnya membuat seblak untuk menu sarapan pagi ini.Beberapa menit kemudian seblak mereka sudah jadi.


"Akhirnya menu sarapan sudah siap" kata Rima.


"Sarapan dari mananya,lihat tu jam udah hampir jam sepuluh" kata Rere.


"Kalian berdua masak menu sarapan atau bikin dapur sih,lama amat" Protes Elang.


"Kalian masak apa?" tanya Edo sambil mendudukan tubuhnya di kursi.


"Bahan yang ada hanya telur dan mie instan.Jadi kami masak seblak aja" jawab Rere.


"Apaan tuh seblak?" tanya Edo yang baru mendengar nama makanan satu itu.


"Sayang mie instan kurang baik untuk kesehatanmu,apalagi kamu lagi hamil" ucap Elang.


"Sesekali gak masalah sayang apalagi keadaannya darurat.Emang kamu mau aku dan utun mati kelaparan" tutur Rere.


"Bisa aja markonah cari alesan" celetuk Edo.


"Mau makan gak ni,kalo gak mau gak usah ribut di depan makanan.Itu sama aja kalian gak bersyukur dengan apa yang ada" celetuk Rima.


Elang dan Edo langsung terdiam dan menyantap seblak dari piringnya masing-masing.Tidak butuh waktu lama seblak merekapun habis tak bersisa.


"Gak enak" ucap Edo sambil bangkit dari duduknya dan pergi dari ruang makan.


"Iya nih gak enak piringnya" imbuh Elang sambil berjalan mengikuti Edo.


"Gak enak kok habis ampe licin begitu" gumam Rere.


"Kan aku bilang piringnya yang gak enak sayang" teriak Elang dari ruang depan.


"Itu beruang kutub bisaan aja becandanya Re,dulu pertama ketemu jantung aku mau copot lihatnya" tutur Rima.


"Iya Rima,dia tidak seperti beruang kutub lagi sekarang.Malah sebaliknya dia begitu hangat,lembut dan penuh perhatian.Apalagi setelah dia tau aku hamil,kemanapun dia pergi pasti pulang bawa oleh-oleh dari tempat yang dia kunjungi dan apapun yang aku pinta selalu di turuti" jawab Rere.


"Beruntung kamu bisa menjadi istrinya Re" ucap Rima.


"Seribu kali sangat beruntung Rima" jawab Rere.


"Rima mulailah buka hatimu untuk Edo,belajarlah mencintainya.Apapun itu alasannya aku yakin Om Irfan tidak akan salah memilih Edo untuk jadi suamimu" kata Rere.


"Akan aku coba Re,aku juga tidak ingin mengecewakan papa Irfan" jawab Rima lirih.


"Rima apa kamu pernah menghubungi papa Ardi,aku sudah lama tidak mendengar kabarnya?" tanya Rere.


"Terakhir aku bertemu papa waktu pulang untuk meminta surat kematian Juragan Eman dan mengurus surat-surat di pengadilan" jawab Rima.


"Bagaimana kabar papa?"tanya Rere lagi.


"Alhamdulillah kabar papa baik,Aku mengajak papa untuk ikut dan tinggal bersamaku disini tapi papa nggak mau Re.Oya Re Papa turut bahagia mendengar kamu sudah menikah dengan mas Elang" jawab Rima.


"Kita harus sering mengunjungi papa ardi Rima,agar dia tidak merasa kita lupakan dan agar dia juga tidak kesepian" tutur Rere.


"Ya nanti aku akan mengajak Kak Edo untuk berkunjung dan mengenalkan pada papa kalo Kak Edo sudah menjadi suamiku dan juga akan merayunya lagi agar Papa mau tinggal bersama kami disini" kata Rima.


Rere tersenyum melihat sahabat sekaligus sepupu yang ada di hadapannya.


"Aku yakin suatu saat Edo pasti bisa menghapus dan mengobati traumamu Rima" gumam Rere dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2