Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 98


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Elang sudah bangun,sehabis shalat subuh dia tidak kembali tidur seperti biasa tapi langsung memakai baju dengan rapi.Hari ini dia ada meeting dengan klien penting dari luar negri.


"Sarapan dulu sayang" kata Rere sambil memasang dasi Elang.


"Untung aja malam tadi nggak jadi main bola,coba kalo jadi pasti kamu bangun kesiangan dan semakin terlambat"oceh Rere.


"Aku sarapan di kantor saja sayang,aku udah terlambat ini semua gara-gara kamu nggak mau di ajak main bola makanya aku telat" balas Elang.


"Terlambat darimananya sayang,baru juga setengah tujuh lagian bukan salah aku juga kan" protes Rere.


"Terserah kamu saja lah,perempuan selalu benar...." ucap Elang.


"Nah tu tau" kata Rere


"Aku sarapan di kantor saja ya kalo aku sarapan di rumah nanti bisa telat sampai kantornya.Aku janji sama klien meetingnya jam tujuh pagi" tutur Elang.


"Nggak sekalian aja meetingnya subuh-subuh" kata Rere.


"Sekarang kamu jadi bawel ya,bikin aku makin gemes aja" ucap Elang sambil menarik hidung Rere.


"Ya udah pergi sana,nanti beneran terlambat lho" kata Rere.


Elang dan Rere keluar dari kamar dan langsung menuju mobilnya.


"Aku pergi kerja dulu ya,kamu hati-hati di rumah.Besok kita baru pulang ke rumah kita ya" ucap Elang.


"Iya sayang,kamu juga hati-hati di jalan.Nyetirnya jangan ngebut-ngebut" pesan Rere.


Rere mencium punggung tangan Elang dan Elang mengecup kening Rere.


Elang masuk ke mobilnya dan langsung mengemudikannya.Rere melambaikan tangannya sampai mobil Elang tidak lagi terlihat.


"Tumben Elang pagi-pagi udah pergi ke kantor Re?" tanya Mama.


"Katanya ada rapat penting Ma,makanya buru-buru pergi" jawab Rere.


Mama manggut-manggut mendengar jawaban Rere.


Rere kembali masuk ke dalam rumahnya dan berjalan menuju kamar Baby twins.


"Sudah mandi anak Mommy" Rere menyapa Baby twins yang sedang minum susu.


"Sari apa kamu tau jika Papa Ardi meninggal dunia?" Rere bertanya pada Sari.


"Tidak Nona,saya baru tau sekarang" jawab Sari.


"Kalau Papa Ardi meninggalnya seminggu yang lalu itu berarti kita masih berada di rumah Kakek dong ya" ucap Rere.


"Iya juga ya,tapi kenapa tidak ada yang menghubungi kita" kata Sari.


"Bisa jadi karena orang kampung nggak punya nomor ponsel kita.Tapi Sari Papa Ardi kan punya nomor ponsel Rima" oceh Rere.


"Mungkin saat Tuan Ardi meninggal warga kampung tidak menemukan ponsel di dekat Tuan Ardi Nona,apalagi Nona Rima sudah mengganti nomor ponselnya yang lama dan warga kampung tidak punya nomor ponsel Nona Rima yang baru" tutur Sari.


"Kamu benar juga Sari" ucap Rere.


Ceklek


Pintu kamar terbuka,Mama masuk ke dalam


"Re kita sarapan bareng yuk,Mama nggak ada temennya nih" pinta Mama.


"Emang Papa kemana Ma?" tanya Rere.


"Anak sama bapak sama sibuknya Re,Papamu juga pergi cepat hari ini" keluh Mama.


"Ya sudah kalo gitu,ayo Ma..." kata Rere.


"Sari kalo kembar udah selesai minum susu kamu turun ke bawah untuk sarapan ya" ucap Rere.


"Iya Nona" jawab Sari.


Rere dan Mama keluar dari kamar dan langsung menuju ruang makan.


"Re setelah makan Mama mau pergi ke rumah Eyang,kamu tinggal di rumah ya" kata Mama setelah mereka berada di ruang makan dan mulai sarapan.


"Rere nggak boleh ikut Ma?"tanya Rere.


"Mama pengennya sih kamu ikut,tapi kasian Baby twins Re.Jarak Rumah eyang dari sini cukup jauh" jawab Mama.


"Ma besok kami kembali ke rumah,apa Revan boleh ikut kami?" tanya Rere lagi.


Mama menghentikan makannya lalu menatap wajah menantunya itu.


"Revan biar disini bersama Mama Re,kalo Revan ikut kalian Mama sama siapa? Mama kesepian Re" tutur Mama.


"Tapi Ma Rere maunya Revan ikut kami" Rere kekeh.


"Kamu bicarakan lagi hal ini sama Elang ya Re,Mama hanya nggak mau kamu kelelahan harus mengurusi si kembar sekaligus Revan" tutur Mama.


"Rere nggak akan capek kok Ma,apalagi Revan sekarang sudah besar dan sudah bisa kita kasih pengertian" Rere tetap kekeh.


Huft...


Mama menghela nafasnya.


"Baiklah kalo itu maumu Re,Mama izinkan kamu membawa Revan" Mama akhirnya mengalah.


"Terima kasih Ma" ucap Rere sambil memegang tangan Mama mertuanya.


Mereka melanjutkan lagi sarapan mereka,setelah selesai Mama langsung beranjak dari duduknya dan langsung masuk ke kamar.Sedangkan Rere masih duduk termenung di kursinya.

__ADS_1


"Re Mama pergi ya" teriak Mama.


"Iya Ma,Hati-hati" ucap Rere dengan nada sedikit keras karena Mamanya sudah keluar dari rumah.


Siska menghampiri Rere di meja makan lalu duduk di depannya.


"Mbak lihat kamu duduk sambil melamun Re,ada apa?" tanya Mbak Siska.


"Mama kenapa melarang Rere membawa Revan ya Mbak?" Rere malah balik bertanya.


Siska memandang wajah menantu dari majikannya itu,lalu tersenyum.


"Mungkin Mama takut kamu kecapekan Re karena harus mengurus tiga orang anak sekaligus,apalagi kamu masih sangat muda sekali" jawab Siska.


Rere terdiam mendengar jawaban Mbak Siska,kemudian dia membantu Mbak Siska membersihkan meja makan.


***


Rima dan Edo sudah bersiap untuk pergi ke makam Papa Ardi,Bu Atih yang akan menunjukkan letak makam Papa Ardi pada mereka.


"Bisa pakai mobil nggak ke makamnya Buk?" tanya Edo.


"Sayang mobilnya Den nanti kotor,kita jalan kaki saja.Soalnya makam Kang Ardi berada tidak jauh dari sini" jawab Bu Atih.


"Emang Papa di makamkan dimana Buk Atih?" tanya Rima.Karena setau Rima pemakaman cukup jauh jaraknya dari tempat tinggal mereka.


"Di pemakaman dekat sini saja,Pak RT yang suruh" jawab Bu Atih.


Setelah selesai bertanya jawab merekapun langsung pergi ke makam Papa Ardi yang jaraknya tidak terlalu jauh.Mereka mulai memasuki area pemakaman,Bu Atih menuntun mereka menuju ke makam Papa Ardi yang berada di bagian paling belakang.


"Den Edo ini makam Kang Ardy,kalo begitu ibu pamit dulu ya" ucap Bu Atih setelah menunjukan makam Papa Ardy.


Rima menjongkokkan tubuhnya di dekat makam,satu tangannya memegangi batu nisan.


"Assalamualaikum Pa,Rima datang" ucap Rima dengan suara bergetar.


Edo mengelus punggung istrinya untuk memberi kekuatan.


"Pa Rima datang sama Kak Edo,Rima sudah tepati janji Rima untuk membawa Kak Edo ke hadapan Papa" kata Rima yang mulai terisak-isak.


"Pa,maafkan Rima yang terlambat menemui Papa.Maafkan Rima yang sudah egois dan meninggalkan Papa sendiri.Kalo saja Rima tidak kabur mungkin sekarang Papa masih hidup...hiks..." Rima sudah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Edo menarik tubuh Rima ke dalam pelukannya.


"Kamu yang kuat sayang,ikhlaskan Papa.Dia sudah tenang disana" ucap Edo.


"Apa suatu saat nanti Kak Edo juga akan meninggalkan Rima seperti Papa?" tanya Rima sambil mendongakkan kepalanya menghadap ke wajah Edo.


Edo tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.


"Di depan makam Papa aku berjanji padamu...Aku tidak akan pernah pergi meninggalkamu,aku akan selalu bersamamu apapun yang akan terjadi" jawab Edo.


"Aku berjanji" jawab Edo lagi.


"Apa itu berarti kamu juga tidak akan pergi bekerja?" tanya Rima sambil tersenyum.


"Kalo aku nggak kerja nanti aku kasih kamu makan apa" ucap Edo sambil mencolek hidung Rima.


"Terima kasih Kak sudah mau menerima aku apa adanya dan Kakak juga mau menerima segala kekuranganku" ucap Rima.


"Sama-sama sayang,mari kita pulang hari sudah semakin siang dan cuaca juga sangat panas" ajak Edo.


"Pa Rima pulang dulu ya,kapan-kapan Rima pasti datang lagi" Ucap Rima.


Edo mengajak Rima untuk berdoa dulu sebelum mereka pulang,baru setelah itu keduanya beranjak pergi dari area makam.Edo menggenggam tangan Rima di sepanjang perjalanan.


"Kak Edo Rima berencana menjual mobil dan motor milik Papa trus uangnya kita sumbangin ke panti asuhan,menurut kakak bagaimana?" Rima meminta pendapat.


"Terserah kamu saja sayang,lakukan yang menurutmu baik.Aku mah iyes aja" jawab Edo.


"Kalo gitu kita sekalian mampir ke rumah Pak RT ya" kata Rima.


"Hemmm..."Edo menjawab Dengan deheman.


Setelah sampai di rumah Pak RT mereka pun langsung mengucapkan salam di pintu masuk,kebetulan pintu rumah Pak Rt sedang terbuka.


"Assalamualaikum"


Ucap Edo dan Rima bersamaan.


"Waalaikum salam"


"Eh Neng Rima, mari masuk Neng" Pak Rt mempersilahkan Rima masuk ke rumahnya.


"Terima kasih" ucap Rima.


Rima dan Edo masuk ke dalam Rumah kemudian duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


"Begini Pak Rt maksud kedatangan Rima kesini,yang pertama Rima mau ngenalin suami Rima sama Pak Rt trus yang kedua Rima mau bahas soal mobil dan motor milik Papa" tutur Rima.


"Rima sudah menikah lagi ternyata,Alhamdulillah berarti sekarang sudah ada yang gantiin Pak Ardi jagain Rima ya.Siapa namanya?" tanya Pak Rt.


"Saya Edo pak" jawab Edo.


"Oya ini rencananya mobil sama motor mau Rima bawa atau mau diapain?" tanya Pak Rt.


"Begini Pak Rt,kami berencana mau menjual mobil dan motor milik Papa Ardi dan rencananya uang hasil penjualan akan jami sumbangkan" tutur Edo mewakili istrinya.


"Kebetulan sekali kalo begitu mah,sebelumnya saya mau bilang kalo mobil sama motornya biar saya beli,hehehe..." kata Pak Rt.


"Kalo gitu bagaimana kalo kita langsung bahas soal harga saja" tambah Pak Rt lagi.

__ADS_1


Cukup lama mereka melakukan tawar menawar,sampai akhirnya mereka menemukan harga yang cocok.


"Alhamdulillah akhirnya kita sudah mendapatkan harga yang cocok,dan untuk masalah pembayaran akan saya transfer" tutur Pak Rt.


"Baik pak" jawab Rima.


"Oya Rima apa Rima juga berniat menjual rumah peninggalan Papa kamu?" tanya Pak Rt.


"kalo soal rumah biar aja begitu Pak untuk kenang-kenangan kalo suatu saat Rima pulang" jawab Rima.


"baiklah kalo begitu keputusan kamu" ucap Pak Rt.


"Karena urusan kita sudah selesai kami mau pamit undur diri Pak,terima kasih Bapak sudah membantu proses pengurusan jenazah juga pemakaman Papa" ucap Rima sambil bersalaman dengan Pa Rt.


"Sama-sama Rima,itu sudah kewajiban kita sebagai umat muslim dan sesama tetangga kita juga harus saling bantu" tutur Pak Rt.


"Kami permisi Pak,Assalamualaikum" ucap Rima dan Edo bersamaan lalu keluar dari rumah Pak Rt.


Rima dan Edo kembali berjalan menuju rumahnya,sesampai di rumah Rima langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu lelah sayang?" tanya Edo.


"Sedikit" jawab Rima sambil memejamkan matanya.


"Apa kita akan pulang hari ini juga?" ranya Rima tanpa membuka matanya.


"Kita mampir kerumah Papa sama Mama dulu ya,mumpung kita lagi di kota ini" jawab Edo.


"Hemmm" jawab Rima.


Edo keluar dari kamarnya lalu duduk di ruang tamu.


"Rumah yang nyaman tapi sayang penghuninya penuh dengan rasa dendam"gumam Edo yang mengingat sifat Sinta.


Tiit


Terdengar bunyi klakson dari luar rumah,Edo bangkit dari duduknya dan menuju halaman depan,begitu juga dengan Rima dia langsung keluar dari kamarnya saat mendengar bunyi klakson dari depan rumahnya.


"Siapa yang datang Kak?" tanya Rima.


"Supir Papa,tadi aku menyuruhnya mengantar makanan dan minuman kemari.Aku malas keluar untuk membelinya"jawab Edo lalu berjalan menghampiri mobil yang datang dan mengambil pesanannya.Mobil itu langsung pergi setelah urusannya dengan Edo selesai.


"Kitakan bisa mampir ke warung makan Kak sekalian pergi kerumah Papa kamu" oceh Rima.


"Kita pergi nanti sore saja,habis makan aku mau tidur dulu" jawab Edo.


Edo meletakkan makanan dan minuman di atas meja,Rima pergi ke dapur untuk mengambil piring dan air cuci tangan.Setelah itu mereka langsung menyantap makanannya.


"Kita shalat dzuhur dulu baru tidur ya" kata Rima.


"Kamu sudah selesai datang bulannya?" tanya Edo.


Rima mengangguk.


Edo pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya baru setelah itu dia berwudhu,Rima membereskan bekas makan mereka baru setelah itu membersihkan tubuhnya.


Edo membentangkan dua sajadah di kamar Rima,sambil menunggu Rima selesai bersiap Edo duduk di tepi kasur.


"Ayo Kak kita shalat" ajak Rima.


"Kamu terlihat lebih cantik tertutup begitu" tutur Edo yang langsung berdiri diposisinya.


Mereka mulai melaksanakan shalat dzuhur,setelah selesai shalat mereka berdua langsung tidur siang.


Kriiing...


Ponsel Edo berdering,Rima perlahan membuka matanya lalu membangunkan Edo.


"Kak bangun udah sore nih,tu ponselnya bunyi terus" ucap Rima.


Ummppphhh...


Edo menggeliat lalu membuka matanya.


"Udah jam berapa sayang?" tanya Edo.


"Angkat dulu tu telponnya siapa tau penting" Kata Rima.


Edo melihat nama yang tertera di ponselnya lalu mengabaikannya.


"Kok gak di angkat?" tanya Rima.


"Biarin ajalah tu si rempong" jawab Edo yang membuat Rima bingung.


"Si rempong tu siapa?" tanya Rima lagi.


"Bianca adik aku sayang,paling cuma mau tanya kakak dimana,jadi pulang gak,jam berapa pulangnya bla bla bla" ucap Edo


pffttt!!!


"Kamu lucu kak kalo lagi ngomong kayak gitu,hahaha...kayak emak-emak yang suka gosip" kata Rima sambil tertawa.


Edo tersenyum melihat Rima tertawa bahagia.


"Teruslah tersenyum dan tertawa seperti ini sayang,jangan ada lagi air mata" ucap Edo.


Rima terharu mendengar ucapan suaminya,dia langsung memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Aku akan selalu tersenyum untukmu Kak" ucap Rima.


"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu sayang" janji Edo dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2