
Edo dan Rima sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tua Edo.Rima mengunci pintu rumah peninggalan Papanya lalu menitipkan kunci pada Bu Atih.
"Bu Atih Rima mau balik lagi ke rumah suami Rima,Bu Atih tolong Rawat rumah ini ya.Nanti tiap bulan Rima kirim uang untuk Bu Atih" kata Rima.
"Iya Rima,insya allah ibu rawat rumah ini.Kamu dan suami hati-hati di jalan" ucap Bu Atih.
Rima masuk ke dalam mobilnya,Edo langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Peninggalan Papa Ardi.
"Kak Edo emangnya Papa sama Mama asli orang sini ya?" tanya Rima.
"Iya" jawab Edo singkat.
"Kalo emang asli orang sini tapi kenapa Kak Edo nggak tau sama makanan yang namanya seblak" kata Rima.
"Papa Mamaku yang asli sini sayang,kalo aku lahir di kota J, lagipula aku besar di kota J dan aku lebih sering tinggal bersama Papa Danu dan Mama Sofia" tutur Edo.
Rima terdiam mendengar penuturan Edo.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di sebuah rumah berlantai dua yang ukurannya tidak terlalu besar.
"Ini rumah Papa dan Mamamu Kak?" tanya Rima.
"Iya,ayo turun" ucap Edo.
Rima keluar dari mobilnya lalu berjalan ke arah pintu yang tertutup dan Edo mengikuti dari belakang.Edo langsung memencet bel yang ada di samping pintu.
Ceklek
Pintu terbuka.
"Eh Si Aden pulang,mari masuk den" kata ibu paruh baya.
"Mama sama Papa ada Bik Kina?" tanya Edo.
"Nyonya lagi keluar sama Tuan,tapi Neng Bianca ada di kamarnya" jawab Bik Kina.
"Ayo sayang,kita masuk"Edo menggandeng tangan Rima dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Bik Edo langsung ke kamar ya" kata Edo.
"Iya Den"
Edo membawa Rima ke kamarnya,kebetulan sekarang sudah masuk waktu maghrib,Edo dan Rima pun langsung melaksanakan shalat maghrib dikamar.Setelah shalat Edo merebahkan tubuhnya di kasur begitu juga dengan Rima.
"Kak nggak sopan deh kayaknya datang-datang langsung rebahan" ucap Rima.
"Emang kamu mau ngapain di rumah ini,udah santai aja" kata Edo.
"Apa dia belum tumbuh disini?" tanya Edo sambil mengelus perut Rima.
"Bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa hamil Kak?" Rima balik bertanya.
"Berarti Allah nggak kasih kita kepercayaan untuk menjadi orang tua" jawab Edo.
"Bagaimana Papa dan Mamamu,apa mereka bisa terima seperti dirimu?" tanya Rima.
"Orang tuaku bukan tipe orang yang mengharuskan ada anak di dalam pernikahan,mereka tidak akan mempersalahkan itu sayang percayalah" jawab Edo.
"Tapi aku takut Kak,seperti di sinetron yang sering aku lihat ibu mertua menyuruh anaknya menikah lagi karena sang menantu tidak bisa memberinya cucu" tutur Rima.
"Kamu ih korban sinetron,besok ganti chanel jangan nonton sinetron lagi mending nonton film animasi yang anak kembar botak atau spon berwarna kuning dan bintang laut,itu lebih seru" kata Edo.
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu kamar.
"Siapa" teriak Edo.
Ceklek
pintu kamar terbuka dan seorang gadis masuk ke kamar itu.
"Kakak telpon Bian ngapa nggak diangkat" protes Bianca adiknya Edo.
"Kakak malas?" jawab Edo.
Bianca menatap kearah Rima yang berada di samping Edo.
"Ini pasti Rima,istrinya Kak Edo" ucap Bianca.
"Aku Bianca adiknya Kak Edo yang paling cantik,kakak bisa panggil aku Bian" kata Bianca lalu mengulurkan tangannya pada Rima.
Rima menerima uluran tangan adik iparnya itu.
"Mama kemana Neng?" tanya Edo.
"Biasa ngabisin duit Papa" jawab Bian santai sambil rebahan.
"Ih turun ih jangan tiduran disini,kotor kasur kakak nanti" seloroh Edo sambil menyepakkan kakinya ke tubuh Bian dengan lembut.
"Hei Tuan Edo yang terhormat,gadis cantik begini dibilang kotor.Pikaseubeuleun" kata Bian sambil mengerucutkan bibirnya.
Rima tersenyum melihat interaksi kedua orang dihadapannya.
"Kak ikut Bian yuk" ucap Bian sambil menarik Rima keluar dari kamar.
"Neng itu jantung hati Kakak mau di bawa kemana" teriak Edo.
Bian menyembulkan kepalanya di pintu.
"Bawa ke kamar Bian,mau gosip" jawab Bian yang langsung menutup pintu.
__ADS_1
"Perempuan,nggak di rumah nggak dipasar nggak di sosmed gosip melulu" gumam Edo sambil tersenyum.
Edo turun dari kasurnya lalu keluar dari kamar menuju ruang keluarga,Papanya sudah duduk disana.
"Eh Do,Papa kira kamu tidur.Rima mana?" tanya Papa.
"Rima di culik" jawab Edo sewot.
"Apa? diculik.Trus kamu malah santai-santai disini" Papa emosi.
"Nggak usah panik gitu deh Pa,biasa aja.Orang yang nyulik Rima tu Bianca kok" ucap Edo santai.
Plakk!!!
Papa memukul kepala Edo.
"Kalo ngomong yang jelas,jangan setengah-setengah.Bikin orang tua jantungan aja kamu" oceh Papa.
"Mama belum pulang Pa?" tanya Edo.
"Udah,lagi mandi tu di kamar.Kalo udah lapar makan aja duluan jangan nungguin Mama,soalnya Mama kalo udah dandan suka lama.Ibarat kata ni ya kalo kita pergi liburan seminggu ke Bali trus pulang lagi kesini itu Mama kamu belum selesai juga dandannya" tutur Papa.
"Lebay amat Pa" kata Edo.
"Makanya jangan biarkan Rima diajarin dandan ama Mama,ribet" ucap Papa sambil berbisik.
"Ribet-ribet gitu Papa tetap cinta kan" kata Edo.
"Beuh itu Mama kamu dulu kan kembang gula eh kembang desa Do,untuk dapetin dia itu saingannya banyak.Rugi kalo Papa nggak cinta lagi,hahaha..." celoteh Papa.
"Serius Pa,ceritain dong" pinta Edo.
"Ogah ah,capek" kata Papa sambil beranjak dari duduknya.
"Mau kemana Pa?" tanya Edo.
"Ngecek Si Demplon dulu udah beres atau belum dandannya,orang hamil keburu melahirkan kalo dia nggak di ingetin.Itu alis bisa pindah ke kumis di buatnya" kata Papa.
Edo menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Papanya.Edo pergi ke kamar Bian untuk mengajak Rima juga Bian makan malam.
Tok tok tok
Edo mengetuk pintu.
"Masuk aja nggak di kunci" teriak Bian dari dalam.
Ceklek
Edo membuka pintu lalu masuk ke kamar Bian.
"Mau ngapain Kak?" tanya Bian.
"Mau ngajak kalian makan,Kakak udah laper nih kalo harus nungguin tu singa" ucap Edo.
"Mama suka melukis?" tanya Rima yang belum mengerti maksud Bian.
"Melukis wajah Kak,Mama suka lama kalo udah dandan.Ayo kita makan duluan aja,yang nggak punya riwayat penyakit maag bisa mendadak punya kalo harus nungguin Mama" oceh Bian sambil turun dari kasurnya.
Rima menatap Edo,Edo hanya tersenyum saja.
Rima mengikuti suami dan adik iparnya menuju ruang makan,lalu duduk dikursi.
"Aku ambil sendiri aja sayang,di keluargaku tidak ada tradisi istri harus melayani suami ini dan itu.Semua di kerjakan sendiri" kata Edo saat Rima akan mengambilkannya makanan.
"Kakak nggak suka aku layani?" tanya Rima.
"Aku suka,tapi cukup di kasur aja" bisik Edo.
Blush
Wajah Rima merah merona tersipu malu.Bian yang melihat rona wajah Rima pun bingung.,dia mengira kakak iparnya mendadak sakit.
"Kakak kenapa,sakit ya?" tanya Bian.
"Nggak Bian,emang kenapa?" Rima balik bertanya.
"Tapi kenapa wajah kakak memerah tadi"ucap Bian.
"Wajah siapa yang merah?" tiba-tiba Mama sudah ada di situ bersama Papa.
"Bukan wajah siapa-siapa Ma" jawab Edo.
Mama dan Papa duduk di kursi dan mengambil makanan untuk mereka masing-masing.
"Rencananya mau berapa hari kamu disini Do?" tanya Papa di sela-sela makan mereka.
"Belum tau Pa,yang pasti besok belum pulang.Karena rencananya besok Edo mau ke kantor" jawab Edo.
"Kenapa Kakak nggak pindah kesini aja Kak,kenapa harus bekerja ama kak Elang?" tanya Bian.
"Kakak nggak mungkin ninggalin Elang Neng,Kalo nggak ada Elang kakak nggak mungkin bisa punya kantor sendiri,punya usaha sendiri seperti sekarang walaupun usaha kecil-kecilan" tutur Edo.
"Laipula ada kamu disini yang mengurusnya Neng"sambung Edo lagi.
"Rima kamu kenapa diam saja,kamu sakit?" tanya Mama.
"Nggak kok Ma,Rima nggak sakit" jawab Rima.
"Kita ngobrol di ruang tengah aja yuk biar enak" kata Mama.Kebetulan mereka sudah selesai makan.
Mereka pun beranjak dari duduknya lalu menuju ruang keluarga.
__ADS_1
"Rima udah ada tanda-tanda belum?" tanya Mama setelah mereka sudah berada di ruang keluarga.
Rima menatap Edo lalu kembali melihat kearah ibu mertuanya dan menggelengkan kepalanya.
"Edo kurang pinter tu maenya,coba kayak Papa dulu sekali tembus langsung jadi" oceh Mama.
Rima hanya bisa tersenyum kecut mendengar ocehan ibu mertuanya.
"Emang Mama udah ngebet banget pengen punya cucu?" tanya Edo.
"Atuh pasti lah" jawab Mama.
"Kalo ternyata Rima nggak bisa hamil gimana Ma?"tanya Edo lagi.
Mama menatap tajam wajah Edo,Rima hanya menundukkan kepalanya.Mama pindah posisi duduknya mendekati Rima.
"Rahim kamu bermasalah Rima?" tanya Mama.
Rima mengangkat kepalanya.
"Rima belum pernah periksa Ma" jawab Rima.
"Edo tanya kan kalau Ma,bukan berarti rahim Rima benar-benar bermasalah" ucap Edo.
"Walaupun Rima tidak bisa hamil dan kalian tidak bisa punya anak,Mama harap kalian tetap terus bersama.Jangan jadikan ini alasan untuk kalian berpisah,ada anak atau tidak kalian harus tetap saling mencintai.Anak itu titipan Tuhan,teruslah berusaha.Lagipula kalian kan baru tiga bulan menikah masih banyak waktu untuk mencetak gol" tutur Mama.
Rima meneteskan airmatanya mendengar penuturan mertuanya,dia pikir mertuanya akan marah dan memintanya untuk berpisah dengan Edo.
"Jangan menangis nak,semua sudah di atur sama Tuhan.Rezeki,jodoh,maut itu rahasia Tuhan,kita hanya wayang yang mengikuti apa kata dalang saja" kata Mama sambil menghapus air mata Rima lalu memeluk tubuh menantunya Itu.
"Siaran langsung nih sinetronnya" celetuk Papa.
Hahaha...
Semua tertawa mendengar celetukan Papa.
"Sudah malam,kalian istirahat lah" kata Papa.
"Kami ke kamar dulu Pa,Ma" ucap Edo dan Rima bersamaan.
Edo dan Rima langsung pergi ke kamarnya,sementara Papa,Mama dan Bianca masih duduk di situ.
"Ma besok-besok jangan bertanya lagi soal hamil,kasian Rima nanti jadi kepikiran" nasihat Papa.
"Iya Pa,maaf.Mama kan cuma sekedar bertanya saja" jawab Mama.
"Tapi pertanyaan Mama menusuk jantung, merontokkan empedu dan meretakkan ginjal" celetuk Bian sambil berjalan menuju kamarnya.
"Parah amat" gumam Mama.
"Emang" ucap Papa sambil berjalan ke kamarnya.
"Sesadis itukah diriku" ucap Mama lirih.
"Eh...Pa tungguin dong,masa Mama udah cantik-cantik begini di tinggalin" kata Mama yang baru sadar kalo Papa sudah tidak berada di situ lagi.
***
Edo masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi,sedangkan Rima memilih duduk di sofa panjang yang ada di balkon.Setelah Selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi Edo pun menyusul Rima.
"Kamu masih kepikiran soal anak?" tanya Edo.
"Enggak kok Kak,aku hanya sedang ingat sama Papa Ardi" jawab Rima.
"Jangan membohongiku" kata Edo yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Rima.
Rima menghela nafasnya.
"Jangan terlalu dipikirkan sayang,nanti kamu bisa stres" ucap Edo.
Rima tersenyum menanggapi ucapan Edo.
"Sepertinya aku harus lebih sering-sering goyang lokal sayang" ucap Edo sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaain sih Kak,nggak lucu ah" kata Rima.
"Ada anak atau nggak ada anak aku akan tetap mencintamu sayang,begitu juga Papa dan Mama mereka akan tetap menyayangi kamu" tutur Edo.
"Tapi apa kata orang nanti Kak,apa kata mereka jika tahu bahwa putra praditya tidak mempunyai penerus" kata Rima.
"Kamu tau sebelum kamu masuk ke keluarga ini sudah banyak gunjingan di luar sana,terutama tentang Bianca.Tapi apa tanggapan Papa dan Mama,biasa aja tu dan Bianca juga cuek walau dia tau dia cuma anak angkat di keluarga kami.Dia tetap happy,tetap ceria dan keluarga Praditya tetap menyayanginya.Jangan terlalu mendengar omongan orang sayang,nanti kamu bisa gila"Kata Edo panjang lebar.
"Terima kasih Kak,aku bahagia sekali menjadi bagian dari keluarga ini" ucap Rima.
"Masuk yuk,dingin nih" Edo mengajak Rima masuk.
"Aku masih ingin disini Kak" kata Rima.
Edo mendudukkan tubuhnya lalu mendekati Rima tanpa basa-basi Edo langsung mengecup bibir Rima.
"Jangan membantah,nanti kamu sakit" ucap Edo lalu dia menggendong tubuh Rima dan membawanya masuk ke kamar.
Edo merebahkan tubuh Rima di kasur,lalu mulai menciumi wajah Rima.
"Kak..." kata Rima.
"Apa sayang" ucap Edo tanpa berhenti sedikit pun.
"Pintunya masih terbuka" Rima mengingatkan.
"Emangnya kalo tu pintu tertutup aku boleh melakukannya?" tanya Edo.
__ADS_1
Rima menjawab pertanyaan Edo dengan anggukan.Edo tersenyum lalu berjalan menuju pintu dan langsung menutupnya.Sambil kembali kekasur Edo melepas pakaian yang ada di tubuhnya.
Edo naik keatas kasur lalu mengungkung tubuh Rima dari atas,Goyang lokal pun terjadi.