
Satria berjalan dengan cepat menuju ruang kerjanya,Yura sudah duduk di sofa sedang menunggunya.
" Tadinya Yura mau bikin kejutan,eh gak taunya kakak sedang keluar" oceh Yura.
" Kakak pergi ke kantor Daddy tadi,menyerahkan laporan bulanan" ujar Satria.
" Emangnya mau kasih kejutan apa sih,sayang?" jangan terlalu heboh ya kejutannya,nanti kakak bisa pingsan" goda Satria.
" Setelah kakak pergi ke kantor pagi tadi,perut Yura melilit..." belum selesai Yura bercerita,Satria sudah memotong perkataannya.Satria terlihat sangat cemas.
" Mana yang melilit?" Apa sekarang masih sakit?" tanya Satria sambil mengelus perut Yura.
Yura mengerucutkan bibirnya," Makanya,kakak dengar dulu cerita Yura,jangan asal potong aja.Udah kayak angkot rebutan penumpang aja,main potong" gerutu Yura.
" Kakak khawatir sayang,takut kamu kenapa-kenapa" ujar Satria.
Satria duduk di samping Yura,dengan manjanya Yura bersandar di bahu Satria.
" Karena sakit perutnya bertambah,akhirnya Bik Emi dan Paman Joko membawa Yura ke rumah sakit.Sepulang dari rumah sakit,Yura mampir ke sini deh" tutur Yura.
" Trus Dokter bilang apa?" Apa ada masalah di perut Adek?" tanya Satria.
" Kata Dokter,Yura hamil.Usia kehamilannya baru tiga minggu" jawab Yura tanpa ekspresi bahagia,dia terlihat datar dan santai.
Satria mengerutkan keningnya sambil memandang wajah Yura.
" Kenapa kakak lihatin Yura seperti itu?" tanya Yura.
" Adek hamil tapi kelihatannya Adek tidak suka" kata Satria,wajahnya terlihat sedikit kecewa.
" Yura kan harus tanya sama kakak dulu,harus bahagia atau enggak.Kata Dokternya,jangan ngapa-ngapain,jangan melakukan apapun sebelum izin suami" tutur Yura.
Satria langsung memeluk Yura sambil menangis bahagia," Dasar gadis bodoh,maksud Dokter bukan seperti itu,sayang.Yang harus izin suami itu,misalnya bekerja atau melakukan hal-hal yang bisa membahayakan kehamilan" tutur Satria.
Wajah Yura murung," Kakak gak bahagia ya kalo Yura hamil?" Yura pikir kakak sama bahagianya seperti Yura" kata Yura yang salah mengartikan tangisan Satria.
" Kakak bahagia sayang,sangat bahagia" ujar Satria.
" Tapi,kenapa kakak menangis?" tanya Yura.
" Ini tangis kebahagiaan sayang,kakak sudah tidak bisa berkata-kata lagi untuk mengungkapkan kebahagiaan ini" jawab Satria.
" Huft....untunglah" kata Yura sambil bernafas lega.
__ADS_1
" Apanya yang untung?" tanya Satria bingung.
" Untung Yura bisa menahan emosi saat menyampaikan kabar gembira ini,kalo tidak bisa saja sekarang kakak sudah pingsan" jawab Yura.
" Jadi...?"
" Tadinya,Yura mau menyampaikan berita ini sambil lompat-lompat,tapi kata Dokter Yura gak boleh lompat-lompat.Yura mau menyampaikannya secara heboh,tapi kakak melarang Yura karena takut pingsan" tutur Yura.
" Ah...sayang...kenapa kamu begitu polosnya" ujar Satria,membuat Yura terkekeh.
" Polos tapi kakak suka kan?" tanya Yura.
" Aku sangat menyukainya,sangat-sangat menyukainya.Jangan pernah berubah"
Satria memeluk tubuh Yura dengan erat,tapi kemudian dia melepaskan pelukannya.
" Mulai hari ini Adek gak boleh masak" kata Satria dengan tegas.
" Kenapa gak boleh?" tanya Yura.
" Nanti adek bisa kecapekan.Lagipula ibu hamil biasanya akan mual dan muntah saat mencium aroma masakan atau pun makanan" jawab Satria.
" Tu di rantang ada makanan dan itu Yura yang masak.Yura gak mual juga gak muntah tuh,yang ada Yura selalu lapar" tutur Yura.
" Pokonya,Kakak gak mau tau.Adek gak boleh masak atau apapun itu" ujar Satria.
" Hemmm...baiklah kalo begitu Tuan Raja,dinda permaisuri akan melaksanakan titah Tuan raja" seloroh Yura.
Satria membelai rambut Yura," Kakak gak mau Adek dan calon anak kita kenapa-kenapa,jadi Kakak harap adek mengerti.Kakak tidak melarang adek untuk melakukan apa yang adek suka,kakak hanya takut kegiatan adek membuat adek capek dan lelah" tutur Satria dengan lembut.
" Yura mengerti,itu semua kakak lakukan karena kakak sayang Yura kan.Yura janji,Yura akan menjaga calon bayi kita" kata Yura.
" Dih...dewasa banget ya" goda Satria.
" Kakak...." Yura memasang wajah cemberutnya.
" Kalian adalah hidupku,belahan jiwaku" ujar Satria lalu memeluk tubuh Yura.
...----------------...
Yuna sedang membantu Abah memanen hasil ternak.Hari ini mereka panen ayam cukup banyak.Kenzi melihat Yuna dengan mata berkaca-kaca,bagaimana dia bisa membawa seorang Yuna yang dulunya bergelimang harta,anak dari orang terpandang,kini harus rela berkotor-kotoran.Berada di kandang kumuh,becek dan bau,kandang yang dipenuhi oleh kotoran ayam.
" Apa Kenzi bukan suami yang baik,Ambu?" tanya Kenzi pada ibu yang sedang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
" Kenapa kakak bertanya begitu?" Ambu balik bertanya.
Kenzi menghela nafasnya," Lihat Yuna,dia harus ikut panen ayam,harus kotor dan bau" jawab Kenzi.
" Kakak lihat wajah Yuna,tidak ada beban saat melakukannya.Dia terus tersenyum bahkan kadang tertawa.Bukan kakak yang tidak baik,tapi Yuna yang terlalu baik karena sudah menerima kita apa adanya" tutur Ambu.
Brugh...
Tiba-tiba Yuna terpeleset dan jatuh,bukannya kesakitan Yuna malah tertawa dengan sangat kencang.Kenzi,Ambu dan Abah menghampiri Yuna.
" Adek gak apa-apa kan?" Mana yang sakit?" tanya Kenzi cemas.
" Bukan Yuna yang sakit,tapi ayam yang ketimpa tubuh Yuna yang mati" jawab Yuna.
" Yah...mati ayamnya.Abah ayamnya mati,penyet" seru Yuna.
Ha...ha...ha...Ambu dan Abah tertawa melihat ayam yang tadi tertimpa oleh Yuna.Ayam yang bernasib nahas,karena harus mati dengan cara yang mengenaskan.
" Abah sama Ambu malah ketawa,itu ayamnya mati Abah,ih" ujar Yuna kesal.
" Kasihan ayamnya euy,mati dengan cara tidak wajar" seloroh Abah.
" Emang sekarang Yuna gendutan ya?" kak coba lihat,Yuna gendut ya?" tanya Yuna.
" Enggak,Yuna mah tetap langsing dan seksi juga bohay" jawab Ambu.
Kenzi hanya senyum-senyum saja melihat tingkah Yuna.
" Bener kata Ambu,adek gak gendut kok.Malah semakin seksi dan bohay" kata Kenzi.
Yuna kembali masuk ke dalam kandang untuk membantu para pekerja memanen ayam.Tidak lama Yuna kembali keluar sambil menenteng beberapa ekor ayam di kedua tangannya.
" Kenapa kalian tertawa?" tanya Yuna pada orang-orang yang ada di luar kandang.
" Itu Neng Yuna mau ikut festival ya?" tanya orang yang sedang menimbang ayam.
Yuna melihat ke dalam drum yang berisi air dan dia pun langsung tertawa saat melihat banyak bulu ayam di rambutnya.
" Istri kang Kenzi lucu ya Bah" kata Orang yang sedang menimbang ayam.
" Lucu kenapa?" tanya Abah.
" Biasanya mah kalo anak orang kaya suka jijik sama kotoran,neng Yuna malah ketawa-ketawa dan mau ikut panen.Hebat neng Yuna teh,biar pun anak orang kaya tapi gak sombong,gak belagu" jawab Tukang timbang.
__ADS_1
" Lihat dulu atuh siapa bapak mertuanya...Abah.." ujar Abah sambil tersenyum dan menepuk-nepuk dadanya.