Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
Kesedihan Yura


__ADS_3

"Terima kasih ya Kak udah nganterin Yuna pulang" ucap Yuna saat tiba di rumahnya.Kenzi ketua Osis yang di sukainya ternyata kakak teman sekelas Yuna.


"Sama-sama" balas Kenzi.


"Gak masuk dulu Kak?" tanya Yuna.


"Lain kali aja ya,lagian ini udah sore dan kakak juga mau latihan basket" tolak Kenzi dengan halus.


"Oh ya udah,hati-hati di jalan" pesan Yuna.


Kenzi mengangguk lalu pergi mengendarai motornya.


Yuna masuk ke rumah sambil melompat-lompat kegirangan,senyum manis menghiasi bibirnya.


"Anak Ayah kesambet dimana nih,lompat-lompat kayak kelinci sambil senyum-senyum kayak orang gak waras saja" kata Edo yang sedang duduk di teras sambil membaca koran.


"Astaga Ayah bikin kaget aja,untung jantuk Kakak gak copot.Sejak kapan Ayah duduk di situ?" tanya Yuna sambil memegangi dadanya.


"Sejak kamu dan cowokmu yang tadi datang" jawab Edo santai.


"Itu bukan cowok Yuna Ayah,itu kakaknya temen Yuna" kata Yuna.


"Siapa?" tanya Yura sambil membawa kopi untuk Edo.


"Kak Kenzi" jawab Yuna yang langsung berlari masuk ke rumahnya.


"Cieee...yang di anterin pulang sama cowok idaman" ledek Yura.


"Adek gak boleh gitu ah,nanti tu beruang bisa ngambek" tegur Edo.


"Ayah anak sendiri di bilang beruang,nenek Ayah bilang singa,Bunda ayah bilang apa?" tanya Yura.


"Bidadari" jawab Edo.


"Kalo Adek?" tanya Yura lagi.


"Putri tidur" jawab Edo.


"Wah Ayah memang hebat" puji Yura.


"Siapa Gema?" tanya Edo sambil memandang wajah putrinya.


"Gema siapa maksud Ayah?" Yura mendadak lupa ingatan.


"Udah jujur aja gak usah sok amnesia gitu,Ayah tadi baca pesan yang masuk saat Adek tidur dan itu dari Gema" ujar Edo.


"Itu temen Yura Ayah" jawab Yura.


"Temen sekolah?" tanya Edo.


Yura menggelengkan kepalanya.


"Berandalan?" tanya Edo lagi.


"Ayah...gak mungkin lah Yura temenan ama berandalan" jawab Yura.


"Trus siapa dong,temen sekolah bukan,berandalan bukan" ujar Edo.


"Dia kakaknya Raisa Ayah" jawab Yura.


"Masih sekolah,kuliah atau sudah kerja?" cecar Edo.


"Sudah kerja" jawab Yura.


"Sudah dewasa?" tanya Edo lagi dan lagi-lagi Yura mengangguk.


"Kalian sudah pernah jalan kemana aja?" tanya Edo.

__ADS_1


"Bertemu aja gak pernah gimana mau jalan" jawab Yura.


"Pacaran jenis apa itu kok gak pernah bertemu" ejek Edo.


"Ayah jangan gitu dong,adek kan jadi malu tu" kata Rima sambil membawa cemilan.


"Habisnya si Adek lucu Bun,masa pacaran tapi gak pernah ketemu"ujar Edo.


"Lihat Ayah" perintah Edo.


Yura pun menatap wajah Ayahnya.


"Boleh pacaran dengan siapa pun itu Ayah tidak melarangnya tapi Ayah minta Adek harus bisa jaga diri,karena apa karena Adek anak perempuan.Apalagi pacar Adek sudah dewasa,kalo Adek tidak bisa jaga diri masa depan Adek bisa hancur.Apa Adek bisa Ayah percaya?" tanya Edo.


"Bisa Ayah" jawab Yura.


"Anak pintar" puji Edo sambil mengacak rambut Yura.


"Adek ponselmu berdering terus tu,berisik.Cepetan angkat" kata Yuna.


"Pasti dari Gema" goda Edo.


"Apaan sih Ayah" ucap Yura yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Kakak udah punya pacar belum,Adek udah" kata Edo.


"Kakak belum punya pacar" jawab Yuna santai.


"Naksir cowok?" tanya Edo lagi.


"Yang tadi" jawab Yuna jujur,bohong pun percuma karena cepat atau lambat Edo pasti mengetahuinya.


"Teman sekolah Kakak?" tanya Edo.


Yuna yang sedang membaca buku pun menoleh,"Dia Kakak kelas Yuna Ayah" jawab Yuna.


Edo manggut-manggut saja mendengar jawaban Yuna.


"Ada apa nak,kenapa wajahmu murung begitu? memang siapa yang menelponmu?" tanya Edo.


"Gema Ayah...hiks...Gema..." ucap Yura dengan suara bergetar.


Kriiing...


Ponsel Edo berdering,Elang yang menelponnya.


"Hallo Lang,ada apa?" tanya Edo.


"Aku dapat kabar kalo Satria mengalami kecelakaan,sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit" jawab Elang dari sebrang telpon.


Edo menoleh ke arah Yura yang sedang bersedih.


"Ada apa Ayah?" tanya Rima dan Yuna bersamaan.


"Bersiaplah nak,Ayah akan mengantarmu ke rumah sakit" kata Edo pada Yura.


Yura langsung berlari menuju kamarnya.


"Siapa yang sakit?" tanya Rima.


"Satria kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit" jawab Edo.


"Ayo Ayah,Yura sudah siap" kata Yura.


"Kalian tetap di rumah,kami pergi dulu" pamit Edo.


Edo dan Yura masuk ke mobil dan Edo pun langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat Satria di rawat.

__ADS_1


"Dari mana Ayah tau kalo Gema kecelakaan?" tanya Yura.


"Daddy yang memberi tau Ayah" jawab Edo.


"Dari mana Daddy tau,apa Ayah dan Daddy mengenal Gema?" tanya Yura lagi.


"Nanti juga kamu akan tau" jawab Edo.


Edo memarkirkan mobilnya di parkiran lalu mengajak Yura masuk ke rumah sakit.


"Yura" kata Raisa.


Kedua orang tua Raisa sedang duduk di kursi tunggu,wajah keduanya sudah sembab karena menangis.


"Bagaimana bisa terjadi kecelakaan?" tanya Edo pada Papanya Satria.


"Saya juga tidak tahu persis,sepulang dari cafe tadi dia menjemput adiknya dan setelah mengantar adiknya pulang dia pamit pergi lagi,katanya ada perlu sebentar.Tapi tidak lama kemudian polisi menelpon dan mengatakan kalo dia kecelakaan" jawab Papa Satria.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Edo lagi.


"Kami juga belum tau Tuan Edo,karena saat kami datang kemari Dokter sudah menanganinya" jawab Papa Satria.


Yura berdiri di belakang Edo sambil memeluk Raisa,Mama Satria sudah tidak berdaya lagi,dia sudah tidak punya tenaga untuk berbicara sekalipun.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka,Dokter keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Papa Satria.


"Syukurlah benturan di kepalanya tidak terlalu parah jadi kalian tidak perlu khawatir" jawab Dokter.


"Apa kami boleh menengoknya?" tanya Papa Satria.


"Kalian bisa menengoknya setelah kami memindahkannya ke ruang perawatan"jawab Dokter.


Perawat mendorong brankar Satria menuju kamar perawatan.


Yura tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh Perawat dan juga Papa Satria.


"Gema belum siuman,jadi biarkan pihak keluarganya saja yang masuk.Kita tunggu di luar" kata Edo pada Yura.


"Baik Ayah" kata Yura.


Edo dan Yura duduk di kursi yang ada di luar ruangan itu.


"Jangan khawatir,dia akan baik-baik saja" hibur Edo.


Yura duduk bersandar di bahu Edo.


"Ayah,apa Ayah pernah merasa takut kehilangan?" tanya Yura.


"Tentu saja Ayah pernah merasakan itu,dan yang paling Ayah takutkan adalah kehilangan kalian" jawab Edo.


"Yura sayang Ayah" ucap Yura.


"Ayah juga menyayangimu nak" balas Edo.


Edo memeluk tubuh anaknya yang baru mulai beranjak remaja itu.


"Apa kita pulang saja,pasti Bunda dan Kakak sudah menunggu kita" ajak Edo.


"Tapi Gema bagaimana Ayah" kata Yura.


"Besok kita datang kemari lagi" kata Edo.


"Ayah janji?" tanya Yura.

__ADS_1


"Iya Ayah janji" jawab Edo.


Edo dan Yura meninggalkan rumah sakit setelah Edo mengirim pesan singkat pada Papa Satria.Sepanjang perjalanan pulang Yura hanya diam sambil memandang keluar jendela.


__ADS_2