
Hujan deras mengguyur kota malam ini,Rere berdiri tegak sambil melihat ke luar jandela kamarnya.Elang sedang membahas urusan kerja bersama David di ruang kerjanya.
"Apa aku ikuti saja saran dari Rima ya...Aku bilang sama Elang kalo aku hamil anak kembar.Tapi nanti dia jadi khawatir dan gak jadi pergi keluar kota,bisa-bisa semua pekerjaannya terabaikan" gumam Rere.
Dia berjalan mondar-mandir di kamarnya,wajahnya terlihat sangat gelisah.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan Elang masuk ke dalam kamar.
"Kenapa belum tidur sayang ini sudah larut malam?" tanya Elang.
"Aku belum ngantuk sayang...Apa urusanmu dan David sudah selesai?" tanya Rere.
"Sudah sayang,tinggal menjalankannya saja" jawab Elang.
"Ini sudah jam sebelas malam,ayo tidur.Jangan begadang tidak baik untuk kesehatanmu" tutur Elang.
"Ya nanti aku akan tidur,sekarang aku belum ngantuk" jawab Rere.
Elang melihat raut wajah Rere yang terlihat gelisah,Elang memegang bahu Rere kemudian mencium kening istrinya.
"Katakan padaku ada apa...Kenapa wajahmu terlihat gelisah.Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Elang.
"Aku tidak apa-apa sayang,mungkin karena usia kehamilanku yang bertambah jadi aku sulit untuk tidur" jawab Rere.
"Kamu membohongiku sayang,apa aku tidak pantas untuk tau masalahmu?" kata Elang.
Rere mengeluarkan ponselnya dan menunjukan artikel yang baru saja di bacanya,Elang membacanya dengan serius.
"Apa pinggangmu juga sering sakit,kakimu bengkak,apa kepalamu juga pusing?" Elang mencecar Rere dengan banyak pertanyaan.
"Itu sudah biasa bagi ibu hamil sayang...Apa kamu sudah ngantuk,ayo kita tidur bukankah besok kamu harus berangkat keluar kota" Rere mengalihkan pembicaraan.
Elang menatap wajah Rere kemudian dia memeluk tubuh istrinya.
"Jika hamil itu terasa sangat menyiksa aku pasti tidak akan membiarkanmu hamil,sayang" ucap Elang sambil meneteskan airmatanya.
"Setiap wanita yang sudah menikah pasti akan bahagia ketika dia dinyatakan hamil,kebahagian seorang wanita akan lengkap ketika dia bisa hamil dan melahirkan sayang...Kamu tidak usah khawatir.Banyak para ibu di luar sana yang merasakan macam-macam masalah kehamilan bahkan lebih parah dari yang aku rasakan.Aku sangat bersyukur memiliki kamu,suami yang perhatian dan begitu menyayangiku" tutur Rere.
Elang melepas pelukannya,pipinya sudah basah oleh airmata.Rere menghapus airmata Elang menggunakan jarinya.
"Muka aja yang sangar,umur tua tapi masih cengeng" kata Rere sambil merangkak naik ke atas kasurnya.Lalu dia menumpuk bantalnya agar posisinya lebih nyaman ketika tidur.
"Kamu mengejekku sayang" kata Elang sambil naik kekasurnya.
"Aku tidak mengejek,aku bicara sesuai fakta" kata Rere sambil memejamkan matanya.
Elang mendekat kearah Rere kemudian berbaring disampingnya,tangannya mengelus perut Rere.
"Entah mengapa aku merasa kalo bayi kita kembar" oceh Elang.
Rere menoleh kearah Elang.
"Emang kalo kembar kamu gak suka?" tanya Rere.
"Tentu saja aku suka sayang,rumah ini akan semakin ramai" jawab Elang.
"Sudah malam tidurlah,besok kamu harus pergi bukan" kata Rere.
"Hemmmm...tapi aku berat untuk meninggalkanmu" kata Elang lesu.
"Pergilah sayang jangan jadi pemalas begitu,kan ada Sari yang akan menemaniku.Lagipula aku sudah bilang sama Bunda kalo kamu mau pergi keluar kota besok" tutur Rere.
"Trus apa kata Bunda?" tanya Elang.
"Bunda bilang sore baru bisa datang,karena pagi harus pergi ke perkebunan dulu" jawab Rere.
"Beneran kamu gak ikut,Rima aja ikut.Mereka sekalian mau bulan madu.Kamu tega aku sendirian disana" rengek Elang.
"Biasanya juga sendiri dulu sebelum nikah sama aku" ucap Rere.
"Tapi..."
"Udah cepetan tidur,jangan banyak drama.Udah besar kok rewel" Rere memotong perkataan Elang.
Akhirnya Elangpun mengalah pada Rere,dan besok pagi dia akan pergi ke luar kota tanpa Rere.Mereka mulai memejamkan matanya untuk menjemput mimpinya.
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu kamar,perlahan Rere membuka matanya dan melihat kesamping ternyata Elang sudah tidak ada di kasurnya.Rere turun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
"Pak Harun ada apa?" tanya Rere.
"Maaf Nona apa Tuan sudah bangun,sudah waktunya untuk berangkat" kata Harun.
"Tunggu sebentar Elang sedang mandi,apa kamu ikut pergi?" tanya Rere.
"Saya hanya mengantar Tuan sampai bandara Nona" jawab Harun.
__ADS_1
Rere kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Elang sedang memakai pakaiannya.
"Sudah siap sayang?" tanya Rere.
"Hem...." Elang hanya mendehem saja.
Rere masuk kedalam kamar mandi,beberapa menit kemudian dia keluar lagi.Buru-buru Rere memakai bajunya setelah selesai dia langsung keluar kamarnya.
"Sari kamu lihat Elang tidak?" tanya Rere kepada Sari karena dia tidak menemukan Elang di depan rumah.
"Tuan ada di ruang kerjanya Nona" jawab Sari.
"Oh...aku pikir dia pergi tanpa berpamitan pada ku" gumam Rere lega.
Rere memilih duduk di ruang tamu untuk menunggu Elang.Tidak lama Elang keluar dari ruang kerjanya dan turun ke bawah.
"Kamu ikut mengantarku ke bandara?" tanya Elang.
"Hemmmm..."jawab Rere.
"Ayo,aku sudah terlambat" ajak Elang.
Rere menggandeng tangan Elang sampai ke mobil.Harun membukakan pintu untuk mereka dan menutupnya kembali setelah mereka masuk.
"Kabari aku jika kamu sudah sampai disana" kata Rere.
"Tentu saja sayang aku akan mengabarimu" ucap Elang.
Harun mengemudikkan mobilnya dengan kecepatan penuh.karena jalanan pun masih sepi hanya ada beberapa mobil saja yang melintas.Tidak lama kemudian merekapun telah sampai di bandara.
"Re kamu tidak ikut?" tanya Rima yang menghampiri Rere di mobilnya.
"Kamu pasti tau alasannya apa" jawab Rere lirih.
"Rima aku titip Elang selama di sana dan tolong tetap rahasiakan tentang anak kembarku ini" pinta Rere.
"Baiklah Re,tapi aku tidak bisa janji" ucap Rima.
"Sudah waktunya berangkat,aku pergi dulu sayang.Jaga dirimu dan juga anak kita" kata Elang berpamitan pada Rere.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku" kata Rere.
Elang memeluk Rere dengan erat seolah tidak ingin berpisah.
"Aku akan secepatnya pulang,tunggu aku" kata Elang lalu melepaskan pelukannya.
Rima memeluk Rere dan berbisik.
"Aku akan mengabarimu" kata Rere pelan.
"Kami pergi dulu Re,jaga dirimu" kata Edo sambil menepuk bahu Rere.
"Jaga dua junior itu baik-baik,aku akan menjaga daddy mereka disana" bisik Edo di telinga Rere.
Rere melirik ke arah Rima dan Rima hanya menggaruk tengkuknya saja.
Elang,Edo dan Rima pun masuk kedalam bandara,Rere hanya mengantar sampai di depan pintu masuk.Sebenarnya dia bisa mengantar sampai ke dekat pesawat tapi dia takut nanti kelelahan berjalan.Rere melambaikan tangannya sampai Elang tidak terlihat lagi.
"Pak Harun ayo kita pulang" ajak Rere lesu.
Harun membukakan pintu untuk Rere lalu Rere masuk ke mobilnya.
"Pak Harun pernah berpisah jauh dengan istri Bapak?" tanya Rere.
"Pernah Nona,waktu saya ikut Tuan ke daerah pedalaman.Kami disana selama enam bulan" jawab Harun sambil mengemudikan mobilnya.
Rere terdiam sambil melihat ke arah luar.Air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Kita langsung pulang Nona?" tanya Harun.
"Iya pak" jawab Rere singkat.
"Non bisakah saya mampir ke rumah saya sebentar,kebetulan nanti kita melewatinya" kata Harun.
"Tentu saja boleh Pak,dengan begitu Rere bisa berkenalan dengan keluarga Bapak" sahut Rere.
Harun membelokkan mobilnya ke jalan pintas agar cepat sampai kerumahnya.Rere melihat ke arah jalanan yang mulai di padati kendaraan.Tidak lama mobilnya masuk ke komplek perumahan tapi tidak terlalu besar lalu Harun membelokkan mobilnya ke sebuah rumah minimalis yang kecil tapi rapi.
"Ini rumah Pak Harun?" tanya Rere sambil turu dari mobil.
"Rumah Tuan Elang tapatnya Nona" jawab Harun.
"Kok bisa?" tanya Rere bingung.
"Setiap orang yang bekerja pada tuan akan mendapat fasilitas rumah dan kendaraan Nona" jawab Harun.
"Sungguh Bos yang bertanggung jawab" gumam Rere.
"Mari masuk Nona,saya panggilkan istri saya dulu" kata Harun.
__ADS_1
Harun masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil istrinya dan Rere duduk di ruang tamu rumah itu.
"Duh maaf Nona saya tidak menyambut Nona,saya tidak tau kalo Nona datang berkunjung ke rumah ini" kata istri harun yang baru datang dari arah dalam.
"Tidak apa-apa Buk,kebetulan tadi kami lewat arah sini dan Pak Harun mengajak saya untuk mampir" tutur Rere.
"Kita sarapan dulu yuk baru setelah itu lanjut ngobrolnya"ajak istri Pak Harun.
"Panggil saya Rere saja Buk,sepertinya usia ibu tidak jauh beda dengan Bunda saya" kata Rere.
"Baiklah Nak,nama ibu Soraya kamu bisa panggil Bu Aya seperti yang lain memanggil ibu" tutur Bu Aya.
Rere mengikuti Bu Aya ke ruang makan disana Pak Harun sudah duduk di kursinya.
"Silahkan Nona" kata Pak Harun.
"Panggil Rere saja Pak,Kan kita tidak lagi di rumah Elang" pinta Rere sambil tersenyum.
Bu Aya mengambilkan basi untuk Pak Harun dan Rere,lalu mereka makan bersama.Setelah makan Bu Aya mengajak Rere ke halaman belakang.
"Rere suka makan ikan nila gak?" tanya Bu Aya.
"Suka bu,apalagi kalo di bakar trus buat sambel yang pedes" jawab Rere.
"Nanti siang kita bakar ikan bersama ya,Rere pulang ke rumahnya sore aja,gimana?" tanya Bu Aya.
"Boleh bu boleh,lagian di rumah juga sepi gak ada temen" jawab Rere.
"Tunggu sebentar ibu mau suruh bapak tangkap ikannya dulu" kata Bu Aya sambil masuk ke dalam rumah.
Beberapa menit kemudian Bu Aya datang lagi bersama Pak Harun yang hanya memakai celana pendek dan kaos oblong saja.
"Nak Rere tidak apa-apa berada disini sampai sore?"tanya Pak Harun.
"Gak apa-apa Pak,lagian Elang juga kan gak ada di rumah" jawab Rere.
"Ya sudah kalo gitu,ayo ikut ke kolam belakang"ajak Pak Harun.
Bu Aya mengambil ember dan tangguk untuk menangkap ikan.
"Ayo Re" kata Bu Aya.
Rere mengikuti Bu Aya dan Pak Harun menuju kolam ikan yang ada di balik tembok halaman belakang rumahnya.Kolam yang tidak terlalu besar tapi cukup banyak ikannya.
"Bapak bekerja tapi masih sempat pelihara ikan" celoteh Rere.
"Bapak hanya membuat kolam saja,selebihnya Ibu yang mengurusnya" kata Pak Harun sambil masuk ke dalam kolam yang dalamnya hanya diatas lutut orang dewasa.
"Ini pak tangguknya" kata Bu Aya sambil menyerahkan tangguk kepada Pak Harun.
Pak Harun mulai menangguk ikan dan tidak lama dia sudah menangkap beberapa ekor ikan.
"Wah ikannya besar-besar" kata Rere senang.
"Sudah cukup belum Bu?" tanya Pak Harun.
"Sepertinya sudah Pak,ayo naik.Nanti rematik Bapak bisa kumat karena terlalu lama berendam dalam air" kata Bu Aya.
"Sejak kapan aku punya rematik?" tanya Pak Harun.
Hahaha...Rere tertawa melihat sepasang suami istri di depannya.
Rere dan Bu Aya kembali ke dapur untuk menyiangi ikan.
"Bu Rere bantu menyiapkan bumbu saja ya,Soalnya Rere sudah payah untuk jongkok" kata Rere.
"Iya nak tidak apa-apa,lagipula ibu bisa mengerjakannya sendiri.Tapi kalo Rere mau bantu bikin bumbu juga boleh,sebentar ibu ambil bumbunya dulu" kata Bu aya.
Bu Aya meletakkan berbagai macam bumbu di atas meja dan Rere duduk di kursi.Pak Harun menyiapkan bara api untuk membakar ikannya.
"Apa sudah siap Bu,bara apinya sudah jadi ni" kata Pak Harun dari belakang rumah.
"Tunggu sebentar lagi pak" teriak Bu Aya.
"Nah Re sudah siap mencampur bumbu dan ikannya,kita tinggal bakar saja" kata Bu Aya.
"Rere saja Bu yang bawa ke belakang,Ibu bikin sambelnya tapi jangan pake terasi ya Bu" pinta Rere.
"Iya nak ibu tau,Bapak pernah cerita kalo istri majikannya alergi udang dan segala macam olahan yang berbahan udang"tutur Bu Aya.
Rere tersenyum lalu membawa ikan kebelakang untuk di bakar.Pak Harun dan Rere membakar ikan sambil mengobrol.Bu Aya memperhatikan mereka dari pintu dapurnya.
"Sungguh jarang sekali istri seorang pengusaha kaya mau berbaur dengan pekerjanya dan bersikap ramah seperti Rere"gumam Bu aya.
Pak Harun dan Rere sudah selesai membakar ikan lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Taruh saja ikannya di meja Re,kamu bersihkan dulu badanmu di kamar mandi,ibu akan siapkan baju untukmu" kata Bu Aya.
Rere masuk ke kamar yang di tunjukan Bu Aya sedangkan Bu Aya masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti yang akan di pakai Rere.
__ADS_1
"Ini Re bajunya dan juga **********,semua masih baru.Dan baju ini Ibu yang menjahitnya sendiri,mudah-mudahan aja cocok" kata Bu Aya.
Rere menerima baju itu dan langsung masuk kedalam kamar mandi.Setelah selesai mandi dan berpakaian Rere menemui Pak Harun dan Bu Aya di ruang makan dan merekapun makan siang bersama.