
Sambutan hangat pun Yura rasakan setiap dia berkunjung ke rumah orang tua Satria.Yura dan Satri turun dari mobil,lalu menghampiri Mama Satria yang sudah menunggunya di teras.
" Sayang,Mama kangen" ujar Mama Satria lalu memeluk Yura.
" Yura juga kangen sama Mama" sahut Yura.
" Apa kabar Cucu Oma?" tanya Mama sambil mengelus perut Yura.
" Sehat Oma" jawab Satria yang langsung mencium perut Yura.Setelah itu dia pun masuk ke dalam rumah orang tuanya.
" Astaga itu bocah,gak ada sopan-sopannya" oceh Mama Satria.
Mama mengajak Yura untuk masuk ke dalam rumah.
" Raisa belum datang Ma?" tanya Yura.
" Raisa gak bisa datang,karena Betrand harus pergi untuk mengurus bisnisnya" jawab Mama.
" Papa mana?" tanya Satria yang muncul dari arah dapur.
" Loh bukannya Papa ada pertemuan sama Ayah dan Daddy ya?" Mama malah balik bertanya.
" Mana Satria tau,Satria kan gak ke kantor hari ini" jawab Satria dengan gaya tengilnya,lalu duduk di samping Yura dan merangkul pundak Yura.
Karena sudah menjadi kebiasaan,setiap kali berdekatan Satria selalu mengelus perut Yura.Matanya melihat kearah TV yang sedang menyiarkan sebuah berita,sedangkan tangannya berada di atas perut Yura.
" Sudah ada persiapan belum?" tanya Mama.
" Belum Ma,Yura masih bingung harus menyiapkan apa saja.Mau nanya sama Bunda,takutnya Bunda kerepotan.Soalnya Bunda lebih fokus ke kak Yuna" jawab Yura.
" Yura sama Mama aja,kan adil tu.Lagipula kalo menurut Mama,sudah semestinya kita lebih memperhatikan Kak Yuna,walaupun selama ini dia tidak pernah mau kita bantu dalam bentuk uang,tapi perhatian dari kita bisa menambah semangat untuknya" tutur Mama.
" Mama bangga sama Yuna,dia tidak pernah mengeluh sedikit pun.Dia selalu tersenyum dan ceria,kebahagiaan yang dia tunjukkan pada kita benar-benar nyata,bukan dibuat-buat" imbuhnya.
" Kak Yuna memang hebat,sedari dulu dia selalu mandiri.Beda jauh sama Yura yang terkesan cengen dan manja" kata Yura.
" Saking cengengnya,malam pertama nangis" ledek Satria.
" Huss...Satria,ngomong apaan sih.Itu mulut asal ngejeplak aja,kayak gak pernah di sekolahin aja" tegur Mama.
__ADS_1
" Memang gak pernah sekolah mulutnya Ma,jangankan makan bangku sekolahan,makan gurunya aja gak pernah" cerocos Satria.
" Yura,kamu gak stres melihat tingkah Satria.Mama aja yang belum sehari melihat tingkahnya,sudah pusing" kata Mama.
" Gimana bisa stres Ma,kalo Satria selalu menghiburnya,membuatnya selalu tersenyum.Iya kan Yank"
" Suka kau lah Bang" sahut Yura sambil beranjak dari duduknya.
" Bah...suka kali lah dek abang ini,adek pun suka kan" goda Satria.
" Ini anak sama menantu gilanya kok bisa kompak gini ya,hadeh" kata Mama sambil menepuk keningnya,sontak Satria pun tertawa melihat tingkah Mamanya.
Yura kembali ke sofa sambil membawa toples yang berisi cemilan.Yura duduk di sofa yang berbeda dengan Satria.
" Makan apaan Dek?" tanya Satria sambil mendekat.
" Kakak duduk di situ aja,kalo kakak mendekat Yura gak bisa menikmati cemilan Yura.Kakak suka usil" kata Yura.
" Rasain tuh" ledek Mama lalu pergi kearah dapur.
" Makan apaan sih?" tanya Satria.
" Keripik buatan Bibik" jawab Yura sambil terus mengunyah cemilan dalam mulutnya.
Yura memberi Satria secuil keripik itu," Nih" kata Yura sambil meletakkan keripik berukuran sangat kecil,lebih kecil dari kuku orang dewasa.
" Astaga,Dek.Gak salah nih?" tanya Satria.
" Kakak tadi minta sedikit kan,ya udah Yura kasih sedikit" ujar Yura.
Satria pun menyeringai,entah rencana apa yang ada diisi kepalanya.
" Mama" teriak Yura saat tiba-tiba Satria merebut toples yang sedang dipegang oleh Yura.
Bukan memakan isi toples itu,Satria malah meletakkan toples itu di atas meja lalu menggendong Yura dan membawanya ke dalam kamar.
" Kakak mau ngapain?" tanya Yura saat Satria mengungkungnya.
" Mau makan keripik" jawab Satria.
__ADS_1
" Keripiknya kan di luar" kata Yura.
" Kakak gak mau keripik yang di toples,kakak maunya yang dari mulut Yura" kata Satria yang langsung menyesap bibir Yura dengan lembut tapi hanya sekilas.
" Waktunya tidur siang,udah jam dua tuh" kata Satria setelah melepaskan sesapannya.
Satria merebahkan tubuhnya di samping Yura lalu mengusap perut Yura.
" Sepertinya dia suka dielus sama Ayahnya" kata Yura saat merasakan pergerakan di perutnya.
" Dia tau jika ayahnya begitu mencintai dan menyayanginya" kata Satria.
Satria meletakkan satu tangannya di atas perut Yura,lalu mulai tertidur. Mumpung libur,Satria memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,karena tidak setiap hari Satria bisa tidur siang bersama istrinya.Jika sudah asyik bekerja,jangankan tidur siang,makan pun terkadang Satria lupa.
...----------------...
" Bik,tolong bikinin soup kesukaan Yura ya,malam ini Yura dan Satria menginap" pinta Mama.
" Mbak Yura udah gak mual lagi Buk?" tanya Si Bibik.
" Enggak.Dia mual waktu diawal kehamilan aja" jawab Mama.
" Stok daging sama bahan lainnya masih ada kan Bik?" tanya Mama.
" Masih Buk" jawabnya.
Mama membantu Si Bibik untuk menyiapkan makanan.Mama juga tidak lupa membuat tahu isi sayur kesukaan Satria,sudah lama Mama tidak membuat makanan yang satu ini.Karena Satria dan Raisa beda selera.Kalo Raisa lebih suka makanan yang manis-manis dan Satria lebih suka yang gurih dan sedikit pedas.
" Buk,mau sekalian bikin sambel kecapnya gak?" tanya Bibik.
" Boleh juga tu Bik,nanti biar saya minta Papa untuk beli ikan Bakar di tempat biasa.Kita harus bikin menu yang spesial malam ini" jawab Mama.
" Mbak Yura pasti bahagia banget punya mertua seperti ibu,udah baik penyayang pulak" kata Bibik.
" Satria meminang Yura dan menjadikannya istri,secara otomatis Yura menjadi anak saya.Kedua orang tuanya menyayanginya dan merawatnya sedari dia lahir sampai dia besar.Mereka memberikan Yura pada kami secara gratis,tanpa meminta imbalan ataupun ganti rugi.Jika saya tidak menyayangi Yura,bagaimana perasaan kedua orang tuanya,bukan hanya Yura yang akan sakit hati,tapi kedua orang tuanya juga akan merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya.Lagipula,saya tidak punya alasan untuk membenci dan menyakitinya.Yura anak baik dan Satria menemukan kebahagiannya bersama Yura" tutur Mama.
" Masyaallah,seandainya semua mertua berhati mulia seperti ibu,pasti tidak ada menantu yang tersakiti" kata si Bibik.
" Ah bibik mah terlalu memuji saya,jadi lebar ni kuping" kata Mama sambil tertawa.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari,Yura dan Satria mendengar semua percakapan antara Bibik dan Mama.Yura meneteskan air mata bahagianya,Satria merangkul pundaknya lalu mencium puncak kepalanya.
" Kamu menambah kebahagiaan di rumah ini,dan setelah bayi kita lahir,kakak yakin kebahagian kita semua akan semakin bertambah" kata Satria.