
Elang membuka matanya lalu mendudukkan tubuhnya di tempat tidur.Dia melirik jam yang terpasang di dinding,sudah jam lima pagi.Elang turun dari kasurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya,setelah selesai mandi dia mengambil air wudhu lalu keluar dari kamar mandi dan berpakaian.
"Terasa hampa hariku tanpamu sayang...biasanya setiap pagi disaat aku membuka mata senyummu yang pertama kulihat" gumam Elang lirih.
Elang mengambil sajadah lalu membentangnya kemudian dia mulai shalat subuh.
"Ya Allah ampuni aku jika hal yang nanti aku lakukan adalah sebuah dosa dan tolong jaga istri dan anakku dimanapun mereka berada.Kuserahkan semua padaMu Ya Allah,Aamiin" Doa Elang setelah selesai shalat.
Elang mengemasi alat shalatnya dan menaruhnya ditempat semula.Lalu dia berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju mobil yang ada di parkiran kantor.Elang masuk ke mobilnya dan mulai mengemudikan mobil menuju rumahnya.
"Shitt...Ponselku tertinggal" umpat Elang.
Elang terus mengemudikan mobilnya tanpa menghiraukan ponselnya yang tertinggal di kamar.Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumahnya karena jalanan masih sepi.
"Tuan" sapa Harun saat Elang keluar dari mobilnya.
"Kamu sudah kembali?" tanya Elang.
"Sudah Tuan" jawab Harun.
Elang melangkah masuk ke rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamar.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu di kamar Elang.
"Elang ini Mama...Boleh Mama masuk?" tanya Mama dari luar kamar.
"Tunggu sebentar Ma,Elang sedang berganti pakaian" jawab Elang sambil mengeraskan suaranya.
Elang cepat-cepat memakai pakaiannya,setelah selesai dia langsung membuka pintu.
"Masuk Ma" ucap Elang.
Mama masuk kedalam kamar,aura dingin yang pertama dirasakan oleh Mama saat memasuki kamar Elang.
"Sepi ya Lang gak ada Rere" ucap Mama.
"Ada perlu apa Mama kesini?" tanya Elang.
"Kenapa semalam kamu gak pulang Lang,Revan mencarimu"kata Mama.
"Aku malas untuk pulang Ma,dan urus saja semua kebutuhan Revan" kata Elang.
"Apa karena kesalahan ibunya sehingga kamu membenci Revan nak?" tanya Mama.
Huft...
Elang menghela nafasnya,suaranya terdengar berat seolah banyak beban yang sedang dipikulnya.
"Elang lelah Ma menghadapi tingkah Silvy,Elang muak.Silvy selalu saja menggangguku dan sekarang gara-gara ulahnya yang menjebakku aku harus kehilangan istri dan anakku Ma.Kalau Revan yang dia inginkan serahkan saja anak itu padanya" jawab Elang sambil meninggikan suaranya.Airmatanya mulai jatuh menetes di pipinya.
"Elang hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran Ma,aku juga punya hati dan perasaan.Aku ingin bahagia Ma,aku ingin hidup tenang bersama istri dan anakku" tutur Elang di sela-sela tangisnya.
"Mama mengerti nak,Mama cukup mengerti perasaanmu,tapi Mama mohon jangan korbankan Revan.Jangan serahkan Revan pada Silvy,kalo memang kamu sudah tidak menginginkannya biarlah Mama yang akan membawanya pergi dari sini" ucap Mama sambil mengelus punggung Elang.
Tok tok tok
"Siapa?" teriak Mama.
"Harun Nyonya" jawab Harun dari luar.
"Masuklah" kata Elang.
Ceklek
Harun membuka pintu kamar,bukan Harun yang masuk tapi Revan.
"Daddy,Mommy sama adik kembar mana?" tanya Revan yang langsung memeluk kaki Elang.
Elang menjongkokkan tubuhnya lalu memeluk tubuh mungil itu.
"Maafkan Daddy sayang...maafkan Daddy" ucap Elang sambil menangis.
"Daddy kata Mommy laki-laki ndak boleh nangis" kata Revan sambil menghapus air mata Elang menggunakan jarinya.
"Daddy gak nangis kok nak,Daddy baik-baik saja" kata Elang.
"Apa Revan sudah sarapan?" tanya Elang.
Revan menggelengkan kepalanya,Elang langsung menggendong tubuh Revan dan membawanya keluar dari kamar.
"Ayo sarapan sama Daddy" ajak Elang.
"Oke" kata Revan sambil tersenyum.
Elang mendudukkan tubuh Revan di kursi lalu Elang mengambilkan makanan untuk Revan.Elang memandangi wajah polos anaknya itu.
"Maafkan Daddy nak,Daddy janji sampai kapanpun Daddy nggak akan menyerahkanmu pada Silvy" ucap Elang dalam hati.Lalu dia mulai menyantap makanannya.
"Apa makanannya Enak?" tanya Elang sambil membelai rambut Revan.
"Hemmm..."Revan hanya mendehem saja.
Elang kembali menyantap makanannya sampai tak bersisa,begitu juga dengan Revan.Semenjak bersama Rere Revan sudah bisa makan sendiri tanpa harus disuap.
"Daddy harus ke kantor,Revan di rumah sama Oma ya" kata Elang.
Revan menatap wajah Elang kemudian menunduk.
"Ada apa?" tanya Elang lembut.
"Apa Mommy marah sama Revan karena Revan sering ganggu adik kembar?" tanya Revan.
__ADS_1
Elang tersenyum mendengar pertanyaan putranya itu.
"Mommy nggak marah kok sama Revan,Mommy sayang sama Revan" jawab Elang.
"Tapi kenapa Mommy pergi dan hanya membawa Adik kembar saja?" tanya Revan lagi,matanya mulai berkaca-kaca.
"Mommy nggak mungkin bawa Revan pergi,Revan sekarang umurnya sudah empat tahun dan sebentar lagi mau sekolah,kalo Revan ikut Mommy nanti Revan nggak sekolah dong" tutur Elang menghibur anaknya.
Revan turun dari kursinya dan langsung meninggalkan Elang dengan langkah gontai.
"Revan nggak mau sekolah kalo nggak ada Mommy" kata Revan sambil menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya.
Brakkk!!!
Revan membanting pintu kamar lalu menguncinya.
Elang menghela nafasnya lalu beranjak dari kursi.Mama hanya melihat mereka dari lantai dua,tanpa berbicara sepatah katapun.
"Begitu besar kasih sayangmu padanya sampai-sampai anak sekecil Revan pun merasa kehilanganmu Re" gumam Mama dalam hati.
Mama menuruni tangga lalu menghampiri Elang yang sedang berdiri di depan pintu.
"Lang..." kata Mama.
"Aku akan menangani masalah ini sendiri dan aku akan secepatnya menjemput Rere" kata Elang.
"Apa kamu tahu Rere sekarang ada dimana Lang?" tanya Mama.
"Aku mungkin belum tau Rere berada dimana Ma,tapi aku punya David yang bisa ku andalkan" jawab Elang sambil masuk ke mobilnya.
"Ayo jalan" kata Elang pada Harun.
Harun langsung mengemudikan mobilnya dan meninggalkan Mama yang terdiam mendengar jawaban Elang.Mama masuk ke dalam kamar lalu menghubungi Papa.
Tut tut tut
Panggilan terhubung tapi Papa tidak juga mengangkat panggilan Mama.
"Papa kemana sih,apa iya belum bangun jam segini.Inikan sudah jam delapan pagi" Mama mengomel sendiri.
Papa dan Mama tinggal berpisah sementara.Papa di rumah induk sedangkan Mama masih tinggal di rumah Elang.
Mobil yang dinaiki Elang sudah sampai di depan kantor,Harun turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Elang.
"Harun tolong kamu ambil beberapa setel pakaianku di rumah dan antar keruanganku" perintah Elang.
"Baik Tuan" jawab Harun.
Elang masuk ke dalam kantor tanpa mempedulikan sapaan dari karyawannya.Edo yang baru saja sampai langsung menghampiri Harun.
"Bosmu kenapa Pak Harun,mukanya kusut gitu?" tanya Edo.
"Biasa Mas Edo nggak ada yang nyetrika mukanya" jawab Harun sekenanya.
Harun masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikkannya.Harun kembali ke rumah Elang untuk mengambil beberapa baju milik Elang.
"Neti apa jadwal hari ini?" tanya Elang saat melewati meja Neti.
"Jadwal kosong,tapi Bos di ruanganmu ada Silvy" jawab Neti.
"Mau ngapain dia kemari lagi?" tanya Elang sambil melihat kepintu ruang kerjanya.
"Mana ku tahu,kangen mungkin" jawab Neti.
"Kangen kepala lu peyang...ayo ikut aku" ajak Elang.
"Ogah ah ketemu perempuan nggak tau diri,nggak tau malu" celoteh Neti.
"Ikut masuk atau aku pecat" gertak Elang.
"Lebih baik aku kamu pecat daripada aku harus ketemu ular berkepala dua" balas Neti.
"Ayolah Neti aku mohon,bulan ini gaji naik tiga kali lipat" rayu Elang.
"Oke deal,lima kali lipat" jawab Neti sambil membuka pintu ruang Kerja Elang.
"Dih kenapa jadi dia yang ngatur gajinya sih...Tapi bodo amat ah yang penting aku aman dari tu ular" gumam Elang sambil masuk keruangannya.
"Elang kamu baru datang?" tanya Silvy.
"Ngapain kamu datang kemari?" Elang balik bertanya.
"Mamamu yang menyuruhku datang" jawab Silvy.
"Mama yang menyuruhmu datang kenapa kamu tidak ke rumah saja,ngapain kesini?" tanya Elang lagi.
"Maksudku Mama yang menyuruhku datang kemari untuk menemuimu Lang" tutur Silvy.
"Neti kamu keluar...ganggu saja" kata Silvy.
"Elang Bosku,aku akan keluar jika dia yang menyuruhnya" kata Neti santai.
"Berani kamu melawanku..kamu tidak tau ya kalo sebentar lagi aku akan jadi nyonya Elang lagi" tutur Silvy dengan sombong.
"Cih...baru mau kan belum jadi,bisa aja batal" balas Neti.
"Cukup jangan bikin keributan di kantorku dan kamu Silvy pergilah" kata Elang.
"Kamu mengusirku Lang?" tanya Silvy.
"Silvy ayolah,bagaimana aku busa bekerja dengan tenang kalo kamu disini dan kalo aku tidak bekerja darimana aku akan mendapatkan uang.Pergilah nanti aku akan menemuimu" tutur Elang.
"Baiklah,aku tunggu kamu nanti pas jam makan malam di cafe favorit kita dulu" kata Silvy lalu keluar dari ruangan Elang.
__ADS_1
"Lang aku nggak salah dengerkan Kamu mau balikan sama ular betina itu? Rere kamu kemanain Lang?" tanya Neti.
"Lihat saja nanti,kamu akan tau apa tujuanku" jawab Elang sambil bersandar di sandaran kursinya.
"Yang aku tahu kamu menghianati Rere Lang,aku sebagai sahabatmu sungguh kecewa padamu" ucap Neti sambil keluar dari ruang kerja Elang.
"Kamu salah menilaiku Neti" gumam Elang.
Elang membuka laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.Tetapi dia terus kepikiran kata-kata yang diucapkan Neti tadi.
"Benarkah aku sudah menghianati Rere?" Tidak,aku tidak mungkin menghianati bidadariku" Elang bermonolog.
Elang mencari ponselnya tapi tidak ketemu...
"Oh iya aku lupa,aku meninggalkannya di kamar" ucap Elang sambil menepuk keningnya.
Elang berjalan kearah kamar untuk mengambil ponselnya,lalu dia membuka ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari David.Elang langsung membaca pesan itu.
📥David
"Jln.X no.9 kota B"
Elang tersenyum setelah membaca pesan dari David.
"Ternyata kamu berada disana sayang...Tunggu aku,aku akan menemuimu secepatnya" gumam Elang.
Elang keluar dari kamar dan kembali duduk di ruang kerjanya,wajah Elang terlihat sangat bahagia sekali.
***
Rere dan Baby twins sedang duduk di ruang keluarga,Rere menonton sinetron kesukaannya sambil meminumkan susu pada Baby twins memakai dot.Semenjak kejadian kemarin Rere tidak lagi memberi Asi pada kedua anaknya karena tiba-tiba Asinya tidak mau keluar.
"Re kamu di rumah sama Sari ya Bunda mau keluar sebentar" kata Bunda.
"Iya Bunda,apa Bunda sudah mau pergi sekarang?" tanya Rere.
"Iya,karena Bunda ada janji ketemu seseorang pas jam makan siang ini" jawab Bunda.
"Kamu jangan terlalu stres Re,gara-gara kamu streskan makanya Asimu tidak keluar" kata Bunda.
"Iya Bun,Rere mengerti" ucap Rere.
"Ya sudah Bunda pergi dulu ya" kata Bunda.
Bunda keluar dari rumahnya dan langsung masuk ke dalam mobil.Supir mulai mengemudikan mobilnya dak keluar dari area rumah itu.
"Kita mau kemana ini Bos?" tanya supir.
"Ke restoran yang ada di batas kota" jawab Bunda.
Supir langsung menancap gasnya dengan kecepatan sedang.
Kriing...
Ponsel Bunda berdering,Bunda langsung menjawab panggilan di ponselnya.
📞"Hallo Mas,sudah dimana?" tanya Bunda pada seseorang yang menelponnya.
📞"......."
📞"Baiklah,tunggu disana.Sebentar lagi aku sampai" kata Bunda lalu memutuskan panggilan di ponselnya.
"Lebih cepat lagi,Dia sudah menungguku" perintah Bunda pada supir.
"Baik Bos" jawab supir itu.
Supir melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh,tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tujuan mereka.Bunda turun dari mobilnya dan langsung masuk ke restoran itu.
"Sudah lama menunggu Mas?" tanya Bunda Sintya Pada Papa Danu.
"Baru saja datang" jawab Papa.
"Ada apa Mas? kenapa menemuiku? Kalo ada yang mengikuti Mas bagaimana?" Bunda mencecar Papa dengan pertanyaan.
"Aku hanya ingin membahas soal Elang saja Sintya,Aku kasihan padanya.Apa kita sudahi saja permainan ini.Tadi Sofia bilang padaku kalo Elang sangat bersedih sekali,aku belum pernah melihat Elang sekacau ini.Dulu waktu dia dikhianati dan ditinggalkan oleh Silvy dia tidak terpuruk seperti sekarang" tutur Papa.
"Tapi Rere belum pulih sepenuhnya Mas,aku takut Silvy menyerang Rere.Kalo saja Rere sudah sembuh aku bisa melepasnya dengan leluasa.Setinggi apapun ilmu beladirinya Rere tetap tidak bisa melawan Silvy dalam kondisi seperti sekarang" kata Bunda.
Papa terdiam mendengar perkataan Besannya itu,tidak lama Mama Sofia datang menghampiri mereka.
"Mbak Sofia ikut kemari ternyata" ucap Bunda sambil cipika cipiki sama Mama.
"Tadinya aku kira kami akan kerumahmu Sintya tapi ternyata hanya bertemu di sini" kata Mama.
"Kalian bisa datang kerumahku jika ingin bertemu dengan Rere dan Baby twins" kata Bunda.
"Oya Sintya,bagaimana kabar Menantu dan kedua cucuku?" tanya Mama pada Bunda.
"Mereka baik-baik saja Mbak,jangan khawatir" jawab Bunda.
"Aku percaya jika Rere baik-baik saja,tapi tidak dengan Elang" ucap Mama sambil memperlihatkan rekaman di ponselnya yang diambilnya tadi pagi tanpa sepengetahuan Elang.
Bunda melihat rekaman video yang ada di ponsel Mama,lalu membulatkan matanya.
"Elang tidak boleh menyerahkan Revan pada Silvy Mbak,akan jadi apa Revan besok kalo berada dalam genggaman Silvy" kata Bunda.
"Kamu benar Sintya,maka dari itu jalan satu-satunya adalah membawa Rere kembali pada Elang" kata Papa.
"Baiklah Kalo menurut kalian itu yang terbaik,aku akan cari satu bukti keburukan Silvy lagi dan minggu depan kita bongkar semuanya di depan para tamu" kata Bunda Sintya.
"Apa tidak cukup satu bukti saja Sintya?" tanya Papa.
"Masih ada satu hal yang belum kalian ketahui,siapkan saja pesta perayaan ulang tahun pernikahan kalian minggu besok.Aku yang akan memberi kejutan untuk Silvy dan para tamu" kata Bunda sambil menyeringai.
__ADS_1
Akhirnya setelah mendapat kesepakatan Bunda,Papa dan Mama pun mengakhiri pertemuan ini.Bunda pulang kerumahnya sedangkan Papa dan Mama kembali ke kota J.