Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
Launa dan Laura


__ADS_3

Brakk!!


Launa membanting pintu kamarnya dengan kasar,Rima yang melihat itu langsung bertanya pada Laura.


"Si Kakak kenapa Dek?" tanya Rima.


"Kakak lagi patah hati Bun,cowok yang di sukai oleh kakak terlihat jalan dengan perempuan lain" jawab Laura lalu duduk di sofa.


"Dih kalian masih kecil udah naksir cowok,Bunda bilangin sama Ayah lo" seloroh Rima.


"Yeee Bunda mah sedikit-sedikit ngadu sama Ayah,gak asyik ah" protes Laura.


"Emang cowok mana yang di taksir oleh kakakmu itu?" tanya Rima.


"Kakak kelas Bun,ketua OSIS" jawab Laura.


"Trus Adek gimana,udah punya cowok belum?" tanya Rima.


"Apaan sih Bunda" kata Laura malu-malu.


"Cieee...udah punya cowok ya,siapa? kasih tau Bunda dong" rayu Rima.


"Tapi Bunda jangan bilang Ayah ya" pinta Laura.


"Iya Bunda janji" ucap Rima.


Laura diam,dia melihat raut wajah Rima.


"Tapi Bunda" kata Laura ragu.


"Ada apa? apa cowokmu juga ketauan sedang jalan dengan perempuan lain?" tanya Rima.


"Bukan itu,tapi cowok Yura bukan anak sekolahan" jawab Laura sambil menunduk.


"Udah kuliah?" tanya Rima yang di balas gelengan kepala oleh Laura.


"Trus apa dong,suami orang?" cecar Rima.


"Bunda,ya nggaklah.Bisa mati Laura di tembak sama Ayah kalo pacaran sama suami orang" seru Laura.


"Jadi siapa cowok Adek,bikin Bunda penasaran aja" kata Rima.


"Cowok Yura udah kerja,dia sudah dewasa" jawab Laura.


"Kamu pacaran sama pria dewasa?" tanya Rima kaget.


"Iya Bun,dia kakaknya Raisa teman sekolah Yura" jawab Laura.


Rima memandang Laura yang sedang menunduk di hadapannya,Rima menghela nafasnya.


"Berapa usianya?" tanya Rima.


"Dua puluh lima tahun Bunda" jawab Laura.


"Kalian pernah jalan atau kencan?" tanya Bunda.


Laura menggeleng,"Kami pacaran lewat udara saja,Yura belum pernah bertemu orangnya secara langsung" jawab Laura.


Pfftt....Hahaha....Rima tertawa dengan keras saat mendengar jawaban anaknya,"Kalian pacaran tapi gak pernah ketemu,trus kalo secara gak sengaja ketemu kalian mau ngapain?" tanya Bunda.


Belum sempat Laura menjawab Edo masuk ke dalam rumahnya,"Lagi pada ngomongin apaan sih,sepertinya seru?" tanya Edo sambil membuka dasinya.

__ADS_1


"Ayah mau kopi?" tanya Rima.


"Bunda kebiasaan kalo di tanya malah balik tanya" kata Edo.


"Ini lo Yah Bunda lagi ngobrol gak penting aja sama Adek" jawab Rima.


"Si Kakak mana?" tanya Edo.


"Kakak disini" jawab Launa sambil menuruni tangga lalu menghampiri Edo dan duduk di samping.


"Ada apa anak Ayah ni,kok cemberut?" tanya Edo.


"Lagi M" jawab Launa singkat.


"Marah,malas,menstruasi,manja,M apa?" tanya Edo.


"Is Ayah udah deh,nanya melulu.Kakak lagi kesel ni" protes Launa dengan manja lalu bersandar pada Edo.


"Oh lagi manja" kata Edo sambil mengelus punggung putrinya.


"Oya Bun nanti malam ada teman kerja Ayah yang datang,tolong siapkan cemilan ya" kata Edo.


"Berapa orang Yah?" tanya Rima.


"Cuma satu orang,ya sekedar ngobrolin kerjaan sekalian ngobrol santai aja gak terlalu serius juga" jawab Edo.


"Yura ke kamar dulu ya,Yura mau mandi" tutur Laura.


Rima dan Edo menganggukkan kepala bersamaan.


Laura masuk ke kamarnya lalu meletakkan tasnya begitu saja kemudian dia masuk ke kamar mandi.


Tring...


"Sore adik manis,lagi ngapain nih.Udah mandi belum?" tanya seseorang pada Laura melalui pesan singkatnya.


Laura tetap asyik mandi sambil bermain busa sabun,dia tidak tahu jika sang pujaan hati mengirimkan pesan singkat.


Setelah selesai mandi,Laura keluar dari kamar mandi dan langsung memakai bajunya,karena sudah masuk waktu shalat maghrib Laura pun langsung shalat.


Tok tok tok...


"Dek" panggil Launa dari luar kamar.


"Iya kak masuk aja,gak di kunci" jawab Laura.


Ceklek


Pintu terbuka dan Launa pun menyembulkan kepalanya,"Kakak sama Bunda mau pergi beli cemilan untuk Tamu Ayah nanti malam,Adek ikut gak?" tanya Launa.


"Yura di rumah aja ya Kak,Yura capek" jawab Laura.


Yura adalah nama panggilan yang di sematkan Revan sejak dia bayi.


Laura mengambil tasnya lalu mengerjakan tugas sekolah.


Krucuk...


Perutnya berbunyi tanda dia sedang lapar.


Laura melihat jam yang ada di meja belajarnya,sudah pukul sembilan malam.

__ADS_1


"Pantes saja perutku lapar,ternyata sudah lewat jam makan malam" gumam Laura.


Laura keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga,"Yura sini" panggil Edo.


Edo sedang duduk bersama teman kerjanya,posisi orang itu membelakangi Laura.


"Ada apa Ayah?" tanya Laura.


"Kenalin teman kerja Ayah" kata Edo.


Laura menatap orang yang sedang duduk di sofa,"Kok mirip kakaknya Raisa ya" gumam Laura dalam hati.


"Hallo Om,saya Yura" kata Laura sambil mengulurkan tangannya.


"Satria" kata orang itu datar sambil membalas uluran tangan Laura.


"Ayah,Adek ke belakang ya" pamit Laura.


"Ya sudah setelah itu langsung tidur ya" kata Edo.


"Iya Ayah" kara Laura.


"Mari Om" kata Laura pada Satria.


Satria menganggukkan kepalanya.


"Dia anak kedua saya,namanya Laura tapi dia lebih suka di panggil Yura karena nama Yura pemberian Abangnya" tutur Edo.


Wajah Satria berubah tegang,tapi kemudian dia tersenyum.


"Sudah malam dan urusan kita juga sudah selesai,saya pamit pulang dulu Tuan Edo" kata Satria sopan.


"Silahkan Tuan Satria,mari saya antar" kata Edo.


Edo mengantar Satria sampai ke depan rumahnya,setelah Satria pergi Edo langsung berjalan ke arah kamarnya.


"Sudah pulang tamunya Yah?" tanya Rima.


"Sudah" jawab Edo.


"Ayah tau gak kalo Satria adalah pacarnya Yura?" tanya Rima.


"Bunda ada-ada saja,mana mungkin Yura dan Satria pacaran.Bertemu dimana mereka,lagi pula yang ayah lihat Yura dan Satria seperti orang yang tidak saling mengenal" tutur Edo.


"Tadi sore Yura bilang sama Bunda kalo dia sudah punya pacar dan pacarnya sudah dewasa,trus saat Yuna melihat Satria datang Yuna bilang sama Bunda kalo Satria rekan kerja Ayah itu adalah pacarnya Yura" tutur Rima.


"Tapi kenapa mereka seperti tidak saling kenal?" tanya Edo.


"Mereka belum pernah bertemu,mereka hanya berkomunikasi melalu chating saja" jawab Rima.


"Anak-anakku sudah besar ternyata,dan aku semakin tua" kata Edo.


"Bagaimana tanggapan Ayah?" tanya Rima.


"Biarkan saja mereka,kita tidak boleh terlalu mengekangnya.Selagi masih berada dalam batas wajar dan Ayah lihat Satria juga anak baik Ayah sudah lama mengenalnya" jawab Edo.


Rima merapatkan tubuhnya ke tubuh Edo kemudian Edo pun memeluknya,"Apa secepat itu kita akan punya menantu?" tanya Rima.


"Kalo memang sudah sampai jodohnya,kita mau bilang apa" jawab Edo.


"Waktu berjalan begitu cepat,Bunda merasa baru kemaren menggendongnya dan menimangnya,sekarang mereka akan di pinang orang" tutur Rima.

__ADS_1


"Itulah resikonya punya anak perempuan,tugas kita hanya membesarkannya dan setelah besar dia akan di bawa pergi oleh suaminya" tutur Edo.


__ADS_2