Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 64


__ADS_3

Elang terus menatap layar monitor di depannya.Sedangkan David,orang suruhannya terus bekerja dan mengetik sesuatu di keyboard laptopnya.


Klik


"Selesai" kata David sambil menekan tombol enter.


Dia merentangkan kedua tangannya dan menggerakkannya ke atas dan ke bawah.


"Apa kamu yakin?" tanya Elang.


"Aku jamin,tidak sampai 24 jam dia akan mencari suntikkan dana dan aku pastikan tidak satu orangpun yang akan membantunya" jawab David.


"Terima kasih bro,kamu memang yang terbaik" kata Elang sambil menepuk bahu temannya itu.


"Kita teman bro,sudah seharusnya saling membantu" ucap David.


"Sudah larut dan kita belum makan sama sekali,ayo kita keluar" ajak Elang sambil menekan tombol remot.layar monitor kembali ketempat persembunyiannya.


"Baikklah,aku sekalian cabut" kata David.


Mereka keluar dari rumah Elang dan mengendarai mobil masing-masing.


*


Rere tidak bisa tidur,padahal jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.Dia berjalan mondar-mandir di kamarnya,dia ingin menghubungi Elang tapi ragu.


"Telpon gak ya? Tapi kata Elang tadi jangan menghubunginya sebelum dia yang menelpon duluan" gumam Rere.


Dia duduk di kasurnya,hatinya resah.Ingin keluar kamar takut mengganggu Rima dan juga Om Irfan.


Drtt


Ponsel Rere bergetar


πŸ“±Elang


"Sayang,maaf baru menghubungi mu.Malam ini aku tidak bisa menjemputmu,urusanku baru saja selesai.


πŸ“±Rere


"Iya sayang,aku mengerti


Kriing


Panggilan video di ponsel Rere.


πŸ“ž"Kamu belum tidur sayang?" tanya Elang.


πŸ“ž"Aku mencemaskamu" jawab Rere.


πŸ“ž"Tidurlah,aku akan menemanimu.Jangan matikan ponselnya" perintah Elang.


Rere merebahkan tubuhnya di kasur dan meletakkan ponselnya di depan wajahnya.


πŸ“ž"Apa anak kita rewel hari ini sayang?" tanya Elang.


πŸ“ž" Tidak,dia sangat baik hari ini" jawab Rere sambil menguap.


πŸ“ž"Tidurlah,siang nanti aku akan menjemputmu" kata Elang sambil memandang wajah istrinya.


Rere mulai memejamkan matanya dan tidak butuh waktu lama dia sudah tertidur pulas.


"Selamat tidur sayang,maafkan aku belum bisa memberimu ketenangan.maafkan aku" gumam Elang,matanya mulai mengantuk dan kemudian diapun tertidur di depan ponsel yang masih menyala.


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu di kamar Elang.


Elang membuka matanya dan menengok ke arah jam yang ada di dinding kamarnya,sudah jam sembilan pagi.

__ADS_1


Elang turun dari kasurnya dan berjalan kearah pintu.


Ceklek...


Elang membuka pintu.


"Edo,ada apa?"tanya Elang.


"Masuklah" perintahnya.


Edo mengikuti Elang dan duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Nyalakan tivinya,ada berita heboh.David memang hebat" kata Edo.


"Berita apa?" tanya Elang sambil menyalakan tivinya.


"Bagus, kita tunggu saja apa dia akan menghubungi kita" kata Elang setelah menonton berita.


"Apa yang akan kita lakukan,apa kita harus menolongnya?" tanya Edo.


"Tentu saja tidak,kita akan membuat dia menjual semua sahamnya dan kita akan membelinya" kata Elang.


"Bagus juga idemu,kita tunggu saja"


"Setelah aku mendapatkannya,aku akan mengelolanya dan setelah Revan besar nanti aku akan menyerahkannya pada Revan" tutur Elang.


"Kamu benar Lang,Revan berhak mendapatkannya" kata Edo.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rima?" tanya Elang.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rima" jawab Edo.


"Benarkah? Aku kira kamu menyukainya" ucap Elang.


"Dia sudah milik orang Lang,aku tidak ingin menghancurkan pernikahannya" tutur Edo sambil menyandarkan kepalanya di sofa.


"Mereka hanya nikah siri,lagipula Juragan Eman tewas di hutan malam itu" kata Elang.


"Apa yang terjadi,bukankah dia berhasil lolos?" Edo terkejut mendengar perkataan Elang.


"Ya awalnya dia berhasil keluar dari rumah itu,tapi saat anak buahku mengejarnya dia terperosok ke dalam lubang dan tubuhnya tertancap kayu yang ada di dalam lubang itu" jawab Elang.


"Kasian sekali harus mati dalam keadaan yang mengenaskan" gumam Edo.


"Sudah lah,hari sudah siang.Aku mau menjemput Rere.apa kamu mau ikut?" tanya Elang.


"Tidak,aku di rumah saja.tubuhku sangat lelah" tolak Edo.


"Aku kira lelahmu akan hilang setelah melihat pujaan hatimu" goda Elang sambil masuk ke kamar mandi.


Edo tersenyum mendengar ucapan Elang,tidak bisa di pungkiri jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat menyukai Rima.Edo keluar dari kamar Elang kemudian dia pergi ke kamar pribadinya yang ada di rumah Elang.


"Kemana perginya bujang lapuk itu?" tanya Elang pada diri sendiri saat dia keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Edo di sofa.


Elang cepat-cepat memakai bajunya dan langsung keluar dari kamar.


"Do...Edo..." teriak Elang memanggil Edo.


"Berisik,kayak di hutan aja teriak-teriak" gumam Edo sambil membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Tarzan,berisik...ganggu orang mau tidur aja" oceh Edo.


"Hahaha...sewot aja bujang lapuk.Nggak bagus tidur pagi-pagi,ayo ikut aku jemput Rere.Lagipula aku belum tau rumah Om Irfan yang baru" Elang beralasan.


"Banyak alasan lo Lang,kan lo bisa telpon Om Irfan" tolak Edo.


"Aku gak punya pulsa" jawab Elang santai.


"Jual tu hape buat beli pulsa,susah amat sih" gerutu Edo.

__ADS_1


"Ayolah kawan,nanti tu muka cepet keriput kalo ngomel mulu" kata Elang sambil merangkul pundak sahabat sekaligus asistennya itu.


"Terserah dirimu saja,aku ambil ponselku dulu" kata Edo sambil masuk kembali ke kamarnya.


Tidak lama Edo keluar lagi dari kamar,kali ini dia memakai baju santai tidak memakai kemeja ataupun jas.


Edo mengemudikan mobilnya ke rumah Om Irfan,mereka pergi memakai mobil milik Edo.


"Aku tidak melihat Sari,kemana dia?" tanya Edo.


"Aku menyuruhnya pergi,tidak mungkin aku membiarkan dia melihat David bekerja" jawab Elang.


"Betul juga,jadi kapan dia kembali?" tanya Edo lagi.


"Aku tadi sudah menghubunginya,katanya besok pagi dia akan mulai bekerja lagi"jawab Elang.


"Sepertinya kamu harus menambah pegawai di rumahmu Lang,kasian Sari kalo hanya sendiri.Apalagi sebentar lagi Rere akan melahirkan,otomatis pekerjaannya akan bertambah" saran Edo.


"Akan aku pikirkan,atau nanti aku suruh Rita untuk mencari pegawai yang baru" kata Elang.


Tidak lama mereka sampai di rumah Om Irfan.Rumah nampak sepi,hanya ada beberapa pelayan saja yang terlihat.


"Apa Om Irfannya ada?" tanya Elang pada salah satu pelayan di rumah itu.


"Tuan Irfan baru saja keluar bersama putrinya,tapi ada Nona Rere temannya Non Irma di atas" jawab pelayan itu.


Elang dan Edo masuk ke rumah kemudian duduk di sofa.


"Tunggu sebentar Tuan,saya panggilkan Non Rere" kata pelayan itu.


Elang dan Edo mengangguk bersamaan.


Pelayan yang tadi ke kamar tempat Rere sedang beristirahat.


Tok tok tok...


Pelayan itu mengetuk pintu kamar.


Ceklek...


Pintu terbuka.


"Ada apa bik?" tanya Rere.


"Maaf Non Rere,di bawah ada dua orang laki-laki datang berkunjung.Tapi bibi tidak kenal mereka" jawab pelayan itu.


"Loh,kenapa Bibi izinkan masuk.bagaimana kalo mereka orang jahat bik" kata Rere cemas.


"Kalo penjahat tidak mungkin bisa melewati gerbang depan Non" jawab Bibi itu lagi.


"Ya sudah,biar Rere temui mereka.Bibi temani Rere ya" pinta Rere.


"Iya Non,ayo"


Rere dan pelayan itu turun ke lantai bawah.Rere melihat dua orang duduk di sofa, dia tidak bisa melihat wajah orang itu,karena posisi mereka membelakangi Rere.Tapi Rere mengenali salah satu dari dua orang itu.


"Sayang" panggil Rere.


Elang menoleh ke arah Rere kemudian bangkit dari duduknya.


"Ah akhirnya aku bisa melihat wajah bidadariku lagi" kata Elang sambil menghampiri Rere dan memeluknya.


"Bik ini suami Rere,namanya Elang" kata Rere pada pelayan di rumah Om Irfan.


"Oh maaf Tuan Elang,saya tidak mengenal Tuan" kata pelayan itu.


"Tidak apa-apa Bik,oya Bik kami langsung pamit ya karena masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan" kata Elang.


"Tolong sampaikan pada Om Irfan dan Rima ya Bik,kalo Rere pulang dan sampaikan juga rasa terima kasih Rere" kata Rere.

__ADS_1


"Baik Non,nanti Bibik sampaikan"jawab pelayan itu


Elang,Edo dan Rere keluar dari rumah Om Irfan dan langsung masuk ke dalam mobil.Edo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang,sedangkan Elang dan Rere duduk di kursi belakang.


__ADS_2