Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
XP 5


__ADS_3

Tang ting....


Bunyi dentingan sendok bertemu piring.Elang dan keluarganya sedang menyantap makan malam.Semua duduk di ruang makan tanpa terkecuali.


"Selesai makan aku harus pergi,Edo memintaku untuk datang ke rumahnya" kata Elang pada Rere.


"Apa ada hal penting Dad?" tanya Rere.


"Daddy juga belum tau,Edo tidak menyebutkan alasan kenapa aku harus datang" jawab Elang.


Mereka melanjutkan makan,setelah selesai Elang pun langsung pergi.


"Mbak Diah nanti tolong bikinin susu untuk Abang ya" pinta Rere.


"Iya Nona" jawab Diah.


"Mommy ke kamar dulu ya Bang,kepala Mommy mendadak pusing" kata Rere pada Revan.


"Iya Mom" jawab Revan.


Kiandra dan Winara sudah tidur di kamarnya.


Rere menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya,dia berjalan sambil memegangi kepalanya.Kepalanya terasa semakin pusing,sejak bangun dari tidur siang tadi kepalanya sudah terasa pusing tapi dia tidak mengatakannya pada Elang.


"Awh" kata Rere sambil memegangi kepalanya.


"Kenapa kepalaku semakin pusing" gumam Rere.


Rere merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu mencoba memejamkan matanya,tapi pusing dikepala tidak juga berkurang.


Rere mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Elang.


Tut...


Panggilan terhubung.


"Hallo Mom,ada apa?" tanya Elang dari sebrang telpon.


"Apa Daddy sudah sampai di rumah Edo," Rere balik bertanya.


"Belum Mommy sayang,Daddy masih di jalan.Ada apa hemmm?" tanya Elang lagi.


"Apa Daddy bisa kembali ke rumah,kepala Mommy mendadak pusing Dad,Mommy tidak sanggup menahannya" jawab Rere.


Tut tut tut


Panggilan terputus.


Ciit...


Elang memutar arah mobilnya lalu melaju dengan kencang menuju ke rumahnya,Dia paling tidak bisa jika mendengar Rere mengeluh sakit.Tidak lama kemudian dia sudah sampai di rumahnya,Elang langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.


Elang menaiki tangga kemudian masuk ke kamar.


"Sayang,kenapa mendadak bisa sakit? tadi siang bukannya baik-baik saja?" tanya Elang sambil duduk di tepi kasur.


"Tadi siang juga sudah sakit,tapi tidak separah ini"jawab Rere.


Elang memijat kepala Rere dengan lembut,Rere memejamkan matanya menikmati pijatan tangan Elang.


Tok tok tok


Ada yang mengetuk pintu.


"Masuk" teriak Elang.


Ceklek


Pintu terbuka dan Om Irfan masuk ke dalam kamar.Elang yang tadi menelponnya dan memintanya datang.


"Kamu kenapa Nak?" tanya Om Irfan.


"Kepala Rere tiba-tiba pusing Om,pandangan pun jadi gelap" jawab Rere.


Om Irfan mengeluarkan alatnya lalu memeriksa Rere.


"Tekanan darahnya Rendah,apa kamu sering begadang Re?" tanya Om Irfan.


"Iya Om,beberapa hari ini Kiandra dan Winara selalu begadang dan susah di ajak tidur" jawab Rere.


Om Irfan memberi Rere beberapa macam obat dan vitamin.


"Apa kamu tadi sudah makan Re?" tanya Om Irfan.


"Sudah Om" jawab Rere.


"Minum dulu obatmu baru setelah itu tidur ya" kata Om Irfan.

__ADS_1


Rere mengangguk.


Elang membantu Rere untuk duduk setelah itu Rere meminum obatnya.


"Apa Om tadi di undang Edo untuk datang ke rumahnya?" tanya Elang.


"Iya Lang,sejak sore Om disana.Mereka mau membahas masalah adiknya Edo yang katanya akan dilamar oleh anak dari rekan bisnismu" jawab Om Irfan.


"Siapa Om?" tanya Elang lagi.


"Om juga tidak tau Lang,karena kami belum sempat membahas soal itu kamu sudah menelpon dan meminta Om untuk datang kemari" jawab Om Irfan.


Rere sudah tertidur,mungkin efek dari obat yang tadi di minumnya.Om Irfan pun pamit untuk pulang karena memang hari sudah malam,Elang mengantarkan Om Irfan sampai depan rumahnya setelah Om Irfan pulang Elang kembali ke kamarnya.


***


"Ini kopimu Wili" kata Arumi sambil meletakkan segelas kopi di atas meja.


"Terima kasih sayang" ucap Wildan.


"Perutmu semakin besar saja,aku takut perut ini akan meledak" kata Wildan.


"Ada-ada saja kamu Wil,mana ada perut meledak hanya karena hamil" kata Arumi.


"Berapa hari lagi juniorku akan keluar?" tanya Wildan.


"Masih lama Wil,satu bulan lagi" jawab Arumi.


"Kenapa lama sekali,apa tidak bisa di percepat? besok misalnya" kata Wildan.


"Jangan ngaco deh" ucap Arumi.


"Sekian lama aku menyakitimu,membuatmu menderita tapi kamu tetap mau menerimaku,bahkan kamu juga mau mengandung anakku.Terima kasih Arumi" ucap Wildan.


"Setiap orang pasti punya kesalahan di masa lalu,tapi bukankah kita masih bisa berubah dan memperbaikinya demi masa depan.Tidak ada satu pun manusia yang tidak punya salah Wili,tapi tergantung orang itu mau bertobat atau tidak.Jangan memandang orang dari masa lalunya,tapi lihatlah usahanya untuk memperbaiki diri di masa depan.Aku memang terluka,sakit hati bahkan kecewa padamu tapi semua perlahan hilang seiring waktu dan ketika kau membuktikan padaku bahwa kau telah berubah" tutur Arumi.


"Tuhan sangat baik padaku telah memberiku istri yang bisa menuntunku dan merubahku" kata Wildan.


"Bukan aku yang merubahmu! sekuat dan segigih apapun aku berusaha merubahmu jika kamu sendiri tidak berusaha merubahnya itu akan sia-sia,semua percuma.Kamulah yang merubah dirimu sendiri,bukan aku" kata Arumi.


Wildan kagum pada wanita yang ada di depannya,wanita yang dulu hanya ada dalam bayangan kini sudah jadi istri sahnya dalam nyata.


Wildan mengelus perut Arumi kemudian menciumnya.Wildan melingkarkan tangannya di pinggang Arumi lalu mendongakkan wajahnya dan memandang wajah ayu istrinya.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Wildan.


"Baiklah akan aku pikirkan nanti,sekarang Ibu harus tidur karena tidak baik ibu hamil begadang.Lihat jam yang ada di belakangmu sudah menunjukan pukul sebelas malam" kata Wildan.


Arumi mengangguk tapi Wildan tidak melepaskan pelukannya.


"Bagaimana aku bisa berjalan sampai ke kasurku kalo kamu memelukku seperti ini" kata Arumi.


"Aku yang akan membawamu ke kasur" kata Wildan lalu menggendong Arumi dan membawanya ke kasur.


"Wili turunkan,tubuhku sangat berat" pinta Arumi.


"Sudah diam jangan banyak protes" kata Wildan.


Wildan merebahkan tubuh Arumi dikasur,setelah itu Wildan menyelimutinya sampai sebatas dada.


"Tidurlah,aku selesaikan pekerjaanku sebentar setelah itu baru aku akan menemanimu tidur" kata Wildan.


Cup


Wildan mencium kening Arumi dengan penuh kasih sayang setelah itu Wildan kembali ke sofa dan melanjutkan pekerjaannya.


***


Pagi-pagi sekali Elang sudah bangun,Elang melaksanakan shalat subuh sendiri,Rere masih tertidur di kasurnya.Selesai shalat Elang keluar dari kamarnya lalu menuju ke dapur.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Nia.


"Diah Mana?" tanya Elang.


"Sedang shalat di belakang Tuan" jawab Nia.


"Tolong kamu bikinkan bubur untuk Mommynya anak-anak ya,kalo sudah matang antarkan ke kamar" pinta Elang.


"Baik Tuan" jawab Nia.


Elang melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya,lalu duduk di samping Rere.


"Mom bangun yuk,udah pagi ni.Mommy belum shalat subuh lo" kata Elang sambil membelai rambut Rere.


"Mommy sedang datang bulan Dad" jawab Rere tanpa membuka matanya sedikit pun.


"Pantesan tidurnya nyenyak begitu kirain efek obat eh ternyata lagi datang bulan" gumam Elang.

__ADS_1


"Apa hari ini Daddy ke kantor?" tanya Rere.


"Buka dulu matanya baru bertanya" kata Elang.


"Mommy ngantuk Dad" kata Rere.


"Apa segitu parahnya sakit kepala Mommy sampe Mommy lupa kalo hari ini hari minggu" kata Elang sambil tersenyum.


Rere membuka matanya lalu mendudukkan tubuhnya dan bersandar di sandaran kasur.


"Masih pusing?" tanya Elang.


"Sedikit" jawab Rere.


Rere turun dari kasurnya.


"Mau kemana?" tanya Elang.


"Mau ke kamar mandi untuk ganti pembalut Daddy mau ikut?" goda Rere.


"Ogah ah" jawab Elang sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


Rere tersenyum saja melihat suaminya.


Rere masuk ke kamar mandi.


Tok tok tok


Ada yang mengetuk pintu.


Elang turun dari kasurnya lalu berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek


Elang membuka pintu.


"Ini bubur untuk Nona Tuan" kata Nia.


"Terima kasih ya" ucap Elang sambil mengambil mangkuk yang berisi bubur untuk Rere.


Elang membawa bubur itu lalu meletakkannya di atas meja.


"Siapa yang datang Dad?" tanya Rere.


"Nia mengantarkan bubur untukmu" jawab Elang.


"Aku merasa seperti sedang sakit parah" ucap Rere lirih.


"Hanya pagi ini saja biar Mommy cepat pulih,makan ya" bujuk Elang.


Rere duduk di tepi kasur dengan kaki tergantung ke bawah,Rere menatap bubur yang ada di meja.


"Daddy suapin ya,selesai makan nanti minum obatnya" kata Elang.


"Mommy makan sendiri saja" kata Rere.


Rere mengambil buburnya lalu memakannya dengan lesu,sungguh makanan yang paling tidak dia sukai saat sakit tapi terpaksa harus di makannya.


"Minum obatnya" kata Elang sambil menyerahkan segelas air dan beberapa butir obat.


"Tunggu buburnya turun dulu baru Mommy minum obatnya" kata Rere.


"Gak usah banyak alasan,kata-kata darimana tu pake turun segala buburnya.Ayo minum obatnya" paksa Elang.


Rere mengambil obat dan segelas air dari tangan Elang kemudian meminumnya.Setelah itu Elang mengambil gelas dari tangan Rere dan meletakkannya di atas meja.


"Istirahatlah biar cepat pulih" jata Elang.


"Tapi Mommy mau lihat anak-anak" rengek Rere.


"Tidak ada bantahan.Untuk hari ini Mommy tidak boleh keluar kamar dan anak-anak juga tidak boleh masuk ke kamar ini.Mommy harus benar-benar istirahat" kata Elang.


Huft


Rere menghela nafasnya.


"Untung gak jadi dokter,kalo jadi dokter bisa mati semua pasien karena ketakutan" gumam Rere sambil berbaring.


"Mommy ngomong apa?" tanya Elang.


"Mommy pengen es cendol" jawab Rere asal.


"Gak boleh" kata Elang.


"Mommy juga tau" kata Rere kesal.


Elang menyelimuti Rere kemudian mencium kening istrinya itu,setelah itu Elang duduk di samping Rere sambil memainkan ponselnya.Elang menjaga ketat Rere agar Rere tidak kabur dari kamarnya.Rere hanya memasang wajah kesalnya dan Elang tidak peduli itu.

__ADS_1


__ADS_2