
Sedikit gak nyambung mungkin ya dengan novel yang baru.Othor jelasin sedikit ya biar gak pada bingung hehe...Walau sebenarnya othor lebih bingung🤭
Di novel yang baru ceritanya lompat dua puluh tahun,disini lompat sepuluh tahun dan di akhir cerita Revan berusia delapan belas tahun.Jarak antara Revan dan adik kembar hampir lima tahun atau empat tahunan lebih ya.Jarak kembar sama Yura dan Yuna hampir satu tahunan.berarti jarak usia Revan sama Yura dan Yuna enam tahunan kurang lebih.
Saat ini di sini Yura usianya tujuh belas tahun kelas dua SMA,berarti usia Revan dua puluh tiga tahun dan di usia itu Revan belum bertemu dengan Restu.
Begitulah kira-kira ya,dari pada pusing karena cerita othor yang gak nyambung mending lanjut baca yuk,heheee....
Kelanjutan cerita di sini khusus anak Edo aja ya,kalo anak dari semua takutnya nanti othor pusing dan makin gak nyambung,soalnya othor sering bleng plus othor sedikit pikun😁
❤❤❤SELAMAT MEMBACA❤❤❤
*
*
*
Yura buru-buru menyelesaikan tugasnya,setelah selesai dia menyerahkan tugas itu pada gurunya kemudian keluar dari kelasnya.Raisa hari ini tidak masuk sekolah,jadi Yura pergi sendiri ke rumah sakit,Edo sudah mengizinkannya pergi.
Yura berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat Gema.
"Yura,segitunya mau ketemu yayang ampe gak sempet ganti baju" goda Raisa.
"Yura gak boleh gitu ah,biar begitu dia calon kakak ipar kamu" tegur Papa Satria dan Raisa.
"Om dan Tante mau pulang dulu ke rumah,Gema sudah sadar dan dia ada di dalam.Masuklah,dia pasti senang karena kamu mau menjenguknya" tutur Mama Raisa.
"Bye bye Yura" kata Raisa lalu mengikuti Papa dan Mamanya pulang.
Satria sedang duduk sambil menatap layar laptopnya,dia belum tau kalo Yura datang menjenguknya.
Ceklek
Yura membuka pintu tapi Satria tidak mempedulikannya,dia mengira perawat yang masuk.
"Loh kok Om Satria yang ada di sini,apa Yura salah masuk ya" kata Yura.
Satria terkejut saat mendengar suara Yura,dia pun melihat ke arah Yura.
"Yura ngapain berdiri di situ,sini masuk" kata Satria.
Yura berjalan mendekati kasur Satria,"Om sakit apa?" tanya Yura.
Satria tidak menjawab pertanyaan Yura dia hanya tersenyum geli karena ternyata kekasih udaranya itu belum sadar kalo Satria adalah Gema.
"Adek sudah shalat ashar belum,kalo belum shalat dulu sana.Itu mukena milik Raisa" kata Satria sambil menunjuk mukena yang ada di atas sofa.
Yura meletakkan tasnya kemudian masuk ke kamar mandi untuk berwudhu,setelah itu dia langsung shalat.Selesai shalat Yura meletakkan mukena milik Raisa di tempatnya semula.Kemudian Yura mengambil tasnya.
"Om maaf ya Yura harus pergi" pamit Yura.
"Mau kemana?" tanya Satria.
"Kemaren teman Yura kecelakaan dan di rawat di sini,tapi mungkin dia sudah di pindahkan ke kamar lain" jawab Yura.
Satria tersenyum,"Gema maksud kamu?" tanya Satria.
"Om kenal Gema juga?" tanya Yura dengan wajah berbinar.
Satria mengangguk.
__ADS_1
"Di mana dia?" tanya Yura lagi.
Satria mengambil ponselnya lalu hendak melakukan panggilan melalui ponselnya.
"Om mau telpon Gema?" tanya Yura.
"Mau telpon pacarnya Gema" jawab Satria santai.
Kriiing...
Ponsel Yura berbunyi,Yura melihat nama Gema tertera di layar ponselnya.
"Bentar ya Om,Yura angkat telpon dulu" kata Yura,tapi niat itu di urungkan saat Satria menunjukkan layar ponselnya yang tertuliskan nomor ponsel miliknya yang di beri nama Kekasih kecilku oleh Satria.
Yura membulatkan matanya tidak percaya.
"Apa masih mau panggil Om juga?" tanya Satria.
"Jadi Ayah ngerjain Yura" gerutu Yura sambil memasang wajah cemberutnya tapi terlihat menggemaskan.
"Kemarilah" kata Satria sambil menepuk kasur di sampingnya.
"Gak mau" tolak Yura.
"Kenapa,apa setelah tau wajah Kakak yang asli Adek menyesal karena sudah menjadi pacar udara Kakak?" tanya Satria.
"Kakak jahat,kenapa gak bilang dari kemaren kemaren kalo Om Satria dan Gema itu sama" oceh Yura.
"Ayahmu yang melarang kakak" jawab Satria.
Yura menatap wajah Satria masih dengan wajah cemberutnya.
Yura berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya,"Kakak jahat" ucap Yura lalu duduk di samping tempat tidur Satria.
"Kalo gitu laporkan saja Kakak ke yang berwajib" goda Satria.
"Gak lucu" kata Yura.
"Tadi belajar apa di sekolah?" tanya Satria.
"Astaga Yura lupa,Yura ada tugas rumah dan Yura lupa kasih tau Raisa" kata Yura sambil menepuk keningnya.
Yura membuka tasnya kemudian mengambil buku dari tasnya itu kemudian memotret isi dalamnya dan mengirimkannya pada Raisa.
"Sini Kakak lihat tugas sekolahnya" pinta Satria.
"Ini kak" kata Yura.
Satria menerima buku itu lalu melihat tugas sekolah Yura.
"Kerjakan tugasmu sekarang,nanti ke buru malam.Ayah masih lama menjemputmu" kata Satria.
Yura mengangguk lalu mulai mengerjakan tugasnya,sesekali dia bertanya pada Satria soal yang dia kurang paham.Yura menunda tugasnya saat waktu shalat maghrib dan melanjutkan kembali tugasnya setelah selesai shalat.
"Ayah lama banget sih,Yura udah ngantuk" gumam Yura yang sudah menguap berulang kali.
Yura mengemasi bukunya kemudian memasukannya ke dalam tas.Karena sudah tidak sanggup menahan kantuknya Yura pun tertidur di sofa.
"Sungguh gadis yang polos,reaksinya sungguh alami tanpa di buat-buat saat tau kalau aku adalah Gema.Apa aku salah sudah mencintai anak kecil" tutur Satria sambil mengangkat tubuh Yura dan memindahkannya ke kasurnya.
Satria duduk di sofa sambil melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda karena kedatangan Yura.
__ADS_1
Ceklek
Pintu terbuka dan Edo masuk ke dalamnya.
"Maaf Satria,apa dia merepotkanmu?" tanya Edo lalu duduk di samping Satria.
"Tidak Om,dia tidak merepotkan" jawab Satria.
"Bagaimana reaksinya saat dia mengetahui kamu adalah Gema?" tanya Edo penasaran.
"Dia cemberut dan bilang kalo Ayah jahat" jawab Satria.
"Aku sudah menebaknya" ucap Edo.
Edo pun berpamitan pada Satria dan menggendong Yura menuju ke mobil.Edo memasangkan sabuk pengaman Yura baru setelah itu mengemudikan mobilnya ke arah rumahnya.Setelah sampai di rumah Edo langsung membawa Yura ke kamarnya.
Cup
Edo mengecup kening Yura.
"Kamu memang anak Ayah,kamu gunakan kepercayaan Ayah dengan baik" ucap Edo kemudian menarik selimut dan menutupi Yura hingga sebatas dada.
Edo keluar dari kamar Yura kemudian menuju kamarnya.
"Belum tidur Bun?" tanya Edo.
"Yura udah pulang Yah?" Rima bertanya dengan wajah khawatir.
"Sudah,dia sedang tidur di kamarnya" jawab Edo santai.
"Bunda takut terjadi apa-apa pada Yura" tutur Rima.
"Dia anakku,dia tidak mungkin mengkhianati kepercayaanku" kata Edo sambil naik ke kasurnya.
"Tapi Yah tetap aja Bunda takut,Satria sudah dewasa" kata Rima.
Edo membuka ponselnya kemudian menunjukan rekaman cctv yang ada di kamar rawat Satria.
"Hahaha...sepolos itukah anakku" kata Rima sambil tertawa.
"Satria laki-laki berpendidikan,dia tidak mungkin berbuat macam-macam" tutur Edo.
"Jadi dia datang ke rumah sakit hanya untuk mengerjakan tugas sekolahnya" kata Rima yang masih tertawa.
"Bunda pikir dia akan berpelukan lalu bertindak lebih?" tanya Edo.
"Bukan gitu maksud Bunda Yah,ini kali pertama mereka bertemu di dunia nyata.Bunda pikir dia akan senang,bahagia trus secara reflek memeluk Satria bukan malah cemberut trus menggerutu begitu" tutur Rima.
"Ayah juga tadi sempat berpikiran begitu,tapi malah sebaliknya dia malah marah-marah dan lebih parahnya dia bilang Ayah jahat" kata Edo.
"Setelah ini bagaimana Yah?" tanya Rima.
"Bagaimana apanya?" tanya Edo.
"Ya tentang hubungan mereka" jawab Rima.
"Kita lihat saja ke depannya seperti apa,mereka sudah besar dan Satria juga sudah dewasa.Kalo memang Satria benar-benar serius pada Yura pasti dia akan menunggu Yura sampai lulus sekolah.Tapi jika Satria memilih mundur itu sudah menjadi haknya karena anak kita juga masih kecil,kita tidak mungkin memaksa Satria untuk menunggunya" tutur Edo.
"Bunda takut Yura kecewa" ucap Rima.
"Dia anakku,dia pasti tau keputusan apa yang harus di ambilnya" kata Edo.
__ADS_1