
Hari sudah sore menjelang malam,Elang memutuskan untuk kembali pulang ke kotanya,setelah berpamitan pada Bunda Elang langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.Edo dan Rima memilih tinggal karena Rima berniat mengunjungi Papa Ardi.
"Kamu sudah mau berangkat sekarang Rima?" tanya Bunda.
"Iya Bunda"jawab Rima.
"Lalu Edo mana? Apa dia tidak ikut?" tanya Bunda lagi.
"Masih di kamar Bunda" jawab Rima.
Tap tap tap
Suara langkah kaki mendekat kearah mereka.
"Berangkat sekarang?" tanya Edo pada Rima.
"Pergilah mumpung masih sore,apa kalian akan menginap di rumah Ardi?" tanya Bunda.
"Rencananya sih iya Bun,Rima kangen banget sama Papa,Rima pengen ngobrol banyak sama Papa" jawab Rima.
"Ya sudah pergilah,hati-hati dijalan.Sampaikan salam Bunda untuk Ardi" kata Bunda.
Edo dan Rima pun berpamitan pada Bunda dan langsung pergi dari sana.
"Kita mau bawa apa nih ke rumah Papa?" tanya Edo sambil mengemudikan mobilnya.
"Belikan martabak aja kak,Papa pasti suka" jawab Rima.
"Ya sudah kalo gitu kita beli martabak di dekat kantorku saja ya" ucap Edo.
"Kakak punya kantor disini?" tanya Rima.
"Kantor tempat Papa Ardy bekerja itu punyaku tapi adikku yang mengelolanya" jawab Edo.
"Kamu punya adik?" tanya Rima,setau dia Edo adalah anak tunggal.
"Tepatnya adik angkat" ucap Edo.
Edo menepikan mobilnya di depan penjual martabak,Edo langsung keluar dan mendekati tukang martabak itu lalu memesan dua loyang martabak.Setelah martabak pesanannya siap Edo kembali masuk ke mobil dan langsung mengemudikannya kembali.
"Kamu tidak tanya dimana rumah Papa Ardi kak?" tanya Rima.
"Aku sudah tau sayang" jawab Edo sambil tersenyum dan mengacak rambut Rima.
"Kak jadi berantakan nih rambutku" protes Rima.
"Tapi aku suka melihatnya,kamu lebih seksi kalo berantakan seperti ini" goda Edo.
"Kak Edo apaan sih" ucap Rima.
Edo tersenyum melihat tingkah malu-malu istrinya itu.
Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah Papa Ardi,rumah nampak gelap dan sepi seperti tidak berpenghuni.Setelah mobil berhenti Rima langsung keluar dari mobil dan berlari menuju pintu rumah.
Tok tok tok
Rima mengetuk pintu dengan keras.
"Pa buka pintunya,Rima pulang ni" teriak Rima sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Tok tok tok
Rima mengetuk pintu lagi,kali ini lebih keras.
"Pa,buka dong pintunya.Ini Rima Pa" teriak Rima lagi.
Edo menghampiri istrinya.
"Mungkin Papa lagi keluar sayang" kata Edo sambil mengintip kedalam rumah melalui kaca jendela.
Rumah nampak sepi dan gelap.Hanya lampu luar saja yang di hidupkan.
"Neng Rima ya" sapa seseorang dari arah belakang Edo dan Rima.
Rima membalikkan tubuhnya ke arah suara yang menyapanya tadi.
"Eh Bu Atih,Papa kemana ya Bu dari tadi Rima ketok pintu tapi Papa nggak keluar juga,apa Papa lagi pergi ya" tutur Rima.
"Loh emangnya Rima belum tau ya kalo Kang Ardi kan sudah meninggal seminggu yang lalu" tutur Bu Atih.
"Apa Bu,Papa meninggal? gak mungkin Bu Atih,seminggu yang lalu Rima masih teleponan sama Papa kok" bantah Rima.
"Serius Neng,masa hal beginian Ibu bohong" jawab Bu Atih.
Tubuh Rima langsung lemas dan ambruk,Edo dengan sigap menangkap tubuh istrinya.Edo mendudukan Rima di kursi yang ada di teras itu,Bu Atih juga ikut duduk bersama Rima.
"Ibu turut berduka ya nak,semenjak ibumu pergi entah kemana Kang Ardi jadi sering sakit-sakitan,dan seminggu yang lalu saat Ibu mau mengantar surat undangan pernikahan Si Ecih Ibu menemukan Papamu sudah tergeletak di lantai dan sudah meninggal" tutur Bu Atih.
"Kak ini bohongkan,aku cuma mimpi kan kak,tolong bangunin aku kak,dan jangan bilang kalo Papa udah nggak ada Kak...hiks..." ucap Rima sambil menangis.
"Emangnya Papanya Rima sakit apa Bu?" tanya Edo.
"Kalo menurut dokter sih sakit jantung Den" jawab Ibu Atih.
"Besok bisa tolong tunjukan pada kami Bu dimana makam Papa Ardi?" tanya Edo.
"Besok pagi Ibu antar kalian ke makam sekarang sudah malam,lebih baik kalian istirahat dan ini kunci rumah Kebetulan Ibu yang simpan" tutur Bu Atih sambil memberi kunci rumah pada Edo.
"Untuk mobil dan motor Kang Ardi ada di rumah pak Rt,kalian bisa mengambilnya besok" tutur Bu Atih lagi.
Edo menerima kunci rumah itu lalu membuka pintunya.Edo mencari tombol untuk menghidupkan lampu,setelah lampu nyala Edo pun membawa Rima masuk ke dalam rumah.
"Nak Ibu pulang dulu ya,sudah malam" kata Bu Atih.
__ADS_1
"Silahkan Bu,terima kasih" ucap Edo.
Edo menjongkokkan tubuhnya di depan Rima,tatapan Rima kosong kedepan.
"Aku terlambat datang menemui Papa kak" ucap Rima.
"Nggak usah terlalu dipikirkan,sekarang kamu istirahat dan besok pagi baru kita pergi ke makam Papa" kata Edo.
"Hiks...kenapa Papa ninggalin Rima Kak..hiks...Papa janji mau nunggu Rima pulang,Papa bilang mau ngajak Rima mancing di kolam..huaaaa" Rima menangis.
"Maafkan aku,karena aku yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat mengantarmu kemari" ucap Edo.
Rima memandang wajah suaminya.
"Kenapa Papa nggak bilang kalo Papa sakit kak,kenapa Papa nggak bilang sama Rima,kenapa Kak? Huaaaaa....." tanya Rima dengan nada tinggi.Tangisannya semakin kencang.
Edo memeluk tubuh Rima dan mengelus punggung istrinya itu dengan lembut.
"Hanya Papa yang tahu alasannya sayang" jawab Edo.
"Kak apa aku sudah jadi anak yang durhaka dan tidak tahu balas budi?" tanya Rima.
"Tidak sayang,kamu anak yang baik dan kamu tau doa anak yang baik dan soleh akan dikabulkan Tuhan.Berdoalah untuk Papa" kata Edo.
"Kamu benar kak,yang di butuhkan Papa sekarang adalah doa dariku" ucap Rima lalu menghapus air matanya.
"Hari sudah malam,kita istirahat ya.Besok pagi baru kita pergi ke makam Papa" kata Edo.
Rima beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya,Edo mengikutinya dari belakang.
"Ada surat" kata Edo saat melihat secarik kertas di atas meja rias yang ada di kamar Rima.Rima mengambil kertas itu lalu membacanya.
"Ini tulisan tangan Papa kak" ucap Rima.
"Coba kamu baca" kata Edo.
Rima membaca tulisan demi tulisan yang tersusun rapi dan sangan indah.
"Isi surat Papa Ardi untuk Rima"
Rima putriku...
Maafkan Papa yang telah menyembunyikan tentang siapa dirimu yang sebenarnya,
Tapi sungguh Papa benar-benar tidak tahu siapa orang tua kandungmu,
Maafkan atas keegoisan Papa yang inginkan kamu selalu ada disisi Papa,
Papa takut jika Papa memberitahumu yang sebenarnya kamu akan pergi dari Papa dan kamu akan membenci Papa.
Papa sangat menyayangimu nak...
Rima putriku...
Papa sangat bahagia sekali setelah mendengar kabar kalo kamu sudah menikah,
Doa Papa semoga kamu selalu bahagia bersama Nak Edo,
Papa tau dia pria yang baik nak,
Rima putriku
Ketika kamu membaca surat ini berarti Papa sudah pergi jauh dan tidak akan kembali,
jangan menangisi kepergian Papa nak,berjanjilah
Papa tidak suka melihatmu menangis
Karena anak Papa bukan wanita cengeng dan lemah
Papa sayang kamu nak...
Semoga kita dapat bertemu lagi di surga...
Begitulah kira-kira isi surat Papa Ardi untuk Rima.
"Maafkan Rima Pa,Rima janji nggak akan nangis lagi" ucap Rima lirih.
Rima membaringkan tubuhnya dikasur sambil memeluk surat dari Papa,karena kelelahan menangis Rima pun akhirnya tertidur.Edo keluar dari kamar dan mengeluarkan ponselnya,lalu mengirim pesan pada Elang.
📤Edo
"Besok aku belum bisa masuk kantor,aku masih di kampung Rima dan tolong sampaikan pada keluarga yang lain kalo Tuan Ardi sudah meninggal seminggu yang lalu"
Edo masuk lagi ke dalam kamar lalu berbaring di samping Rima.Edo memeluk tubuh Rima lalu diapun tertidur.
***
Elang sedang duduk santai di ruang keluarga bersama Rere,Papa dan Mamanya,sedangkan Baby twins sudah tertidur dan Revan masih di rumah Eyang.
Drttt
Ponsel Elang bergetar,satu pesan singkat masuk ke ponselnya.Elang membuka ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
📥Edo
"Besok aku belum bisa masuk kantor,aku masih di kampung Rima dan tolong sampaikan pada keluarga yang lain kalo Tuan Ardi sudah meninggal seminggu yang lalu"
Elang terkejut setelah mendapat kabar dari Edo.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun" ucap Elang.
Semua yang berada di situ kaget mendengar ucapan Elang.
"Siapa yang sedang terkena musibah Lang?" tanya Papa.
__ADS_1
"Rima Pa yang sedang berduka" jawab Elang.
"Rima berduka kenapa sayang?" tanya Rere.
"Tuan Ardi meninggal dunia seminggu yang lalu,aku baru saja mendapat kabar dari Edo"jawab Elang.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun"
Ucap Papa,Mama dan Rere secara bersamaan.
"Aku harus menelpon Rima" kata Rere.
"Besok saja sayang,mereka sedang istirahat" kata Elang.
"Baiklah"kata Rere.
"Kita berdoa saja semoga amal ibadah Tuan Ardy di terima oleh Allah dan dosa-dosanya di ampuni" kata Papa.
"Aamiin"
Ucap mereka bersamaan.
Elang menghubungi keluarga yang lain untuk memberi kabar kalo Tuan Ardi meninggal dunia.
"Pa...Ma Rere ke kamar dulu ya,Rere udah ngantuk banget nih" kata Rere.
"Pergilah istirahat nak,lagipula ini juga sudah larut malam" kata Papa.
Rere beranjak dari duduknya dan langsung berjalan menuju kamarnya,sedangkan Elang masih duduk bersama Papa dan Mamanya.
"Pa...apa Papa yang mempercepat putusan hukuman untuk Silvy?" tanya Elang saat Rere sudah tidak lagi disana.
"Tidak Lang,emang kenapa?" tanya Papa.
"Siang tadi Elang mendengar kabar kalo Silvy dijatuhi hukuman 20tahun penjara" jawab Elang.
"Mama yang memintanya" ucap Mama sambil bangkit dari duduknya dan pergi kekamar.
Haaaaaa...
Papa dan Elang membuka mulutnya lebar.
"Mama bisa melakukan itu?" tanya Elang.
"Kamu jangan lupa Lang dia itu siapa" ucap Papa.
"Lah emang dia siapa?" tanta Elang dengan wajah polosnya.
"Lah ni anak dasar kurang ajar sama emak sendiri lupa" oceh Papa.
"Kalo itu mah Elang nggak lupa Pa,maksud Elang kenapa Mama bisa meminta pengadilan memutuskan hukuman untuk Silvy dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam dan di hari libur dan pengadilan langsung menyetujuinya" tutur Elang.
"Kamu mau tau alasannya?" tanya Papa.
"Apa Pa?" tanya Elang.
"Karena dia menantu Alberto" jawab Papa sambil menyeringai lalu meninggalkan Elang sendiri di ruangan itu.
"Tapi Pa..." ucapan Elang menggantung karena dia tidak melihat Papanya berada disitu.
"Sialan tu Pak Tua main pergi aja"umpat Elang.
Akhirnya Elang pun pergi ke kamarnya dan berbaring disamping tubuh istri yang sangat di cintainya.
"Kamu sudah tidur sayang?" tanya Elang.
"Hmmmm..." Rere mendehem.
"Tidur kok bisa dengar dan jawab pertanyaan" kata Elang.
"Apa sih sayang,aku ngantuk nih jangan berisik" tutur Rere.
"Tapi aku belum ngantuk sayang" ucap Elang.
"Terus kalo kamu belum ngantuk aku juga harus ikutan nggak ngantuk gitu?" tanya Rere.
"Ya seenggaknya kita main bola dulu kek" jawab Elang asal.
"Tengah malam main bola,kamu sakit ya?" tanya Rere sambil memegang kening Elang.
"Sayang bukan itu maksudnya" protes Elang.
"Udah ah aku mau tidur,kalo kamu mau main bola main aja sendiri.Lagian akukan perempuan masa diajak main bola,ngaco kamu" oceh Rere.
"Mana ada orang main bola sendiri sayang,gak seru tau.Enakan berdua aku pemainnya kamu yang jaga gawang,gimana..." ucap Elang sambil menaik turunkan alisnya.
"Enggak ah aku ngantuk,main sama Papa atau Pak Harun saja sana" Tolak Rere,dia belum paham apa yang dimaksud oleh Elang.
"Kalo sama Papa atau Harun bukan main bola namanya tapi main pedang sayang" celetuk Elang.
Rere mendudukkan tubuhnya lalu memandang wajah cemberut suaminya,kantuk yang tadi pun jadi hilang akibat ulah Elang yang menjengkelkan bagi Rere.
"Ini maksudnya apaan sih ha?" tanya Rere kesal.
"Tadi ngajak main bola,aku saranin sama Papa atau Pak Harun kamu bilang malah main pedang.Ini sebenernya kamu mau main pedang atau mau main bola sih,berbelit-belit amat" Rere mengomeli Elang.
Elang tidak mampu berkata-kata lagi mendengar omelan Rere.Dia pura-pura memejamkan matanya agar Rere berhenti mengomel.
"Elang...kok malah tidur sih" ucap Rere.
"Udah tidur aja,jangan ngomel melulu.Aku udah nggak berminat main bola atau main pedang lagi" kata Elang dengan malas.
"Emangnya kenapa?" tanya Rere.
"Lapangan di tutup pemiliknya" jawab Elang.
__ADS_1
"Ya jelas tutuplah,udah tengah malam gini.Lagian ya kamu tu aneh jadi orang,kayak orang lagi ngidam aja pengen main bola tengah malam" kata Rere.
Elang diam saja tidak menghiraukan ocehan Rere.Rere kembali merebahkan tubuhnya lalu mulai memejamkan matanya dan langsung tertidur,Elang yang tadinya hanya berpura-pura tidurpun jadi ikut tidur beneran.