Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
eps 79


__ADS_3

Rima sedang memasak untuk sarapan pagi,sedangkan Edo masih tidur di kamarnya.Rima membuat nasi goreng saja pagi ini.Setelah nasi goreng buatan Rima matang Rimapun menghidangkannya di meja makan.


"Hemmm...semoga saja kak Edo suka" ucap Rima.


Rima berjalan menuju kamarnya untuk membangunkan Edo.


"Kak...Kak Edo bangun,ini sudah siang" kata Rima sambil mengguncangkan tubuh Edo.


Grep


Edo menarik Rima kedalam pelukannya.


"Kak ini sudah siang,apa Kak Edo gak pergi ke kantor?" tanya Rima.


"Ini hari sabtu sayang,aku tidak ke kantor" jawab Edo.


"Jangan banyak bergerak,kamu bisa membangunkan ular pithon yang sedang tertidur" kata Edo.


Rima langsung diam tak bergerak,Edo tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Ternyata benar kata Elang menikah dengan gadis kecil itu menyenangkan" tutur Edo.


"Apa Kakak tidak takut di bilang pencinta daun muda oleh orang di luaran sana?" tanya Rima.


"Aku tidak peduli omongan orang,terserah orang mau ngomong apa.Ini hidupku mereka hanya bisa berkomentar saja" jawab Edo.


"Bangun yuk,Rima udah bikin sarapan nanti keburu dingin" kata Rima.


"Kamu memasak untukku sayang?" tanya Edo.


"Itu sudah tugasku sebagai seorang istri kak,melayani suaminya dengan baik" jawab Rima.


"Tapi aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu pembantuku sayang,aku menikahimu untuk menjadi pendamping hidupku,melengkapi kekuranganku dan menjadikan ratu di hatiku" tutur Edo.


"Hemmm baiklah kalo gitu sekarang ayo bangun dan kita sarapan,setelah itu baru gombal lagi.bukankah menggombal juga butuh tenaga" tutur Rima.


Edo tersenyum mendengar ocehan istrinya.


Cup


"morning kiss sayang" Edo mencium bibir Rima.


Blush...pipi Rima merah merona.


"Aku suka melihat wajahmu ketika kamu tersipu malu" ucap Edo sambil turun dari kasurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Rima mengambilkan baju Edo di dalam kopernya dan meletakkannya di atas kasur,Rima tidak menyusunnya ke dalam lemari karena Edo melarangnya.Edo berniat mengajak Rima pindah ke apartemennya.


Rima keluar dari kamarnya dan menunggu Edo di ruang makan.


Kriiing


Ponsel Rima berdering,nama Papa Irfan tertera di ponselnya.


πŸ“ž"Hallo Pa...Papa kapan pulang?" tanya Rima.


πŸ“ž"Papa masih ada tugas yang harus di selesaikan disini nak,mungkin Papa akan tinggal lama disini,oya apa kamu sedang bersama Edo nak?" tanya Papa Irfan.


πŸ“ž"Kak Edo lagi mandi Pa,ada pesan? Nanti akan Rima sampaikan" ucap Rima.


πŸ“ž"Kemaren Edo izin sama Papa akan membawamu pindah ke apartemennya,apa kamu bersedia nak?" tanya papa pada Rima.


πŸ“ž"Menurut papa bagaimana,Kak Edo bilang jika Papa tidak mengizinkan kami akan tetap tinggal disini"tutur Rima.


πŸ“ž"Kalian sudah menikah nak,sekarang Edo lebih berhak atas dirimu dan sebagai seorang istri kamu wajib ikut kemanapun suamimu membawamu.Ikutlah dengannya nak,jadilah istri yang baik,kalian bisa pindah tanpa harus menunggu Papa pulang" tutur Papa.


πŸ“ž"Baiklah Pa kalo begitu,nanti Rima akan bicara sama Kak Edo" kata Rima.


πŸ“ž"Papa matikan ponselnya ya nak,Papa harus kembali bekerja"


Papa Irfan mematikan ponselnya.


Tap tap tap


Suara langkah kaki mendekat kearah Rima.


"Nasi gorengnya sudah dingin Kak" kata Rima.


"Tidak apa-apa sayang,aku bisa makan yang masih hangat ataupun sudah dingin.Kamu tidak perlu khawatir soal makanan karena aku bisa makan segalanya" tutur Edo sambil tersenyum dan membelai rambut Rima.


Mereka mulai sarapan,Edo memakan nasi goreng buatan Rima dengan lahap.


"Benar kata Papaku,seenak apapun makanan di luar sana tetap masakan istri di rumah yang paling enak" kata Edo sambil menyudahi makannya.


"Benarkah,apa nasi goreng ini enak?" tanya Rima.


"Tentu saja sayang,ini sangat enak" jawab Edo.


Rima membereskan meja dan membersihkannya.Edo duduk di ruang tamu sambil membuka laptopnya.

__ADS_1


"Kakak mau aku buatkan kopi?" tanya Rima saat melihat Edo sedang bekerja di ruang tamu.


"Tidak perlu sayang,duduklah disini" kata Edo sambil menepuk sofa di sampingnya.


Rima mendudukkan tubuhnya di samping Edo...Edo sendiri masih sibuk dengan laptopnya.Tangannya dengan lincah mengetik huruf dan angka di keyboard laptopnya,sesuatu yang Rima tidak mengerti sama sekali.


Kriingg


Ponsel Edo berdering,Elang yang menelponnya


πŸ“ž"Hallo..." kata Edo.


πŸ“ž"Apa kamu baik-baik saja Do?" tanya Elang.


πŸ“ž"aku baik-baik saja,kamu jangan khawatir" jawab Edo.


πŸ“ž"Ya sudah kalo begitu,aku tutup telponnya.Aku hanya menanyakan keadaannmu saja"tutur Elang.


πŸ“ž"baiklah..." ucap Edo.


Edo kembali meletakkan ponselnya di meja.


"Ah akhirnya selesai juga" ucap Edo sambil merentangkan kedua tangannya lalu menutup laptopnya.


Edo menyandarkan kepalanya di sandaran sofa kemudian menoleh kearah Rima.


"Sayang aku penasaran bagaimana bisa kamu menjadi anak Om Irfan dan kapan kalian bertemu,mau kah kamu menceritakannya padaku?" tanya Edo.


"Aku akan menceritakannya,Kakak dengar baik-baik" jawab Rima.


Flashback on


Setelah Mbok Surti yakin bahwa Rima adalah Irma putri adiknya yang hilang,Mbok Surti langsung mengajak Rima untuk bertemu dengan Om Irfan.


"Kamu mau ikut Mbok nak untuk bertemu Ayah kandungmu?" tanya Mbok Surti.


Rima tidak menjawab pertanyaan Mbok Surti,dia masih belum percaya sepenuhnya.


"Apa kamu masih ragu nak?" tanya Mbok Surti lagi.


"Bukan begitu Mbok,Rima hanya masih belum percaya jika sekarang Rima telah menemukan orang tua kandung Rima" jawab Rima.


"Ayo nak kita pergi,aku yakin papamu pasti bahagia setelah hampir putus asa mencarimu" tutur Mbok Surti.


"Rima ambil ponsel Rima di kamar ya mbok" kata Rima.


Rima mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Papa Ardi.


πŸ“¨Rima


πŸ“¨Papa Ardi


"Syukurlah nak,mudah-mudahan saja Sinta segera bertobat.Dan Papa turut bahagia untukmu nak,salam pada orang tua kandungmu"


πŸ“¨Rima


"Setelah ini Rima akan mengunjungi Papa,jaga diri Papa baik-baik.Rima sayang Papa"


πŸ“¨Papa Ardi


"Papa juga menyayangimu nak"


Rima mengambil tasnya dan memasukkan ponsel ke dalam tas.


"Maaf Mbok menunggu lama" ucap Rima.


"Tidak masalah nak,apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Mbok Surti.


"Ayo Mbok"


Mbok Surti dan Rima pergi ke rumah sakit di antar oleh Jono.Rima duduk di kursinya dengan hati yang gelisah.Mbok Surti tersenyum melihat tingkah keponakannya.


Tidak lama mereka sudah sampai di rumah sakit,Mbok Surti mengajak Rima turun dan langsung menuju Ruang kerja Om Irfan.


Tok tok tok


Ceklek...Mbok Surti langsung membuka pintu ruang kerja adiknya itu.


"Apa aku mengganggumu Fan?" tanya Mbok Surti.


"Sebenernya iya,tapi kalo hanya sebentar tidak masalah aku akan menunda pekerjaanku sebentar" jawab Om Irfan sambil tersenyum.


Mbok Surti masuk kedalam ruangan,sedangkan Rima disuruh menunggu di luar.


"Ada hal penting yang ingin kau sampaikan padamu" kata Mbok Surti.


"Katakanlah Mbak,aku tidak punya banyak waktu.Banyak pasien yang membutuhkanku" kata Om Irfan.


Mbok surti mengeluarkan kalung milik Rima dan memberikannya pada Om Irfan.

__ADS_1


"Apa kamu masih mengenali kalung ini?" tanya Mbok Surti.


Irfan terkejut melihat kalung yang di pegang Mbok Surti.


"Kalung ini...Dari mana Mbak mendapatkannya?" tanya Om Irfan.


"Dari seorang gadis yang juga memiliki tanda lahir di bahunya" jawab Mbok Surti dengan tenang.


"Dimana sekarang gadis itu Mbak,aku ingin menemui anakku" ucap Om Irfan.


Mbok Surti berjalan kearah pintu lalu membukanya.


"Rima masuklah,ayahmu ingin bertemu" perintah Mbok Surti.


"Tapi Mbok Apa Papa kandungku mau menerimaku?" tanya Rima lirih.


"Masuklah kamu akan menemukan jawabannya di dalam" jawab Mbok Surti.


Mbok Surti kembali masuk kedalam ruangan,Rima mengikutinya dari belakang.


"Ini dia putrimu" ucap Mbok Surti.


Om Irfan mendekati Rima lalu memeluknya sambil menangis haru.


"Akhirnya aku menemukanmu nak,Terima kasih Tuhan" ucap Om Irfan.


"Apa Tuan yakin kalau aku ini putri Tuan,bisa saja papaku menemukan kalung itu dan kebetulan aku punya tanda lahir di bahu?" tanya Rima.


"Melihat wajah dan tatapanmu yang mirip dengan ibumu saja aku sudah yakin" jawab Om Irfan.


Om Irfan membelai rambut Rima,kebetulan ada rambut Rima yang tersangkut di tangan Om Irfan.Mbok Surti yang berada di belakang Rima pun mengambil rambut itu dari tangan Adiknya.


"Duduklah nak"


Om Irfan mengajak Rima duduk di sofa.


"Nak boleh Aku tanya sesuatu,karena hanya aku dan istriku yang tau itu" kata Om Irfan.


"Boleh saja Tuan,aku akan menjawabnya" kata Rima.


"Apa kamu juga punya tahi lalat di dekat pangkal pahamu,jika itu benar bararti kamu memang anak kandungku?" tanya Om Irfan.


Rima membulatkan matanya mendengar pertanyaan Om Irfan,kemudian dia meneteskan air matanya.


"Papa" kata Rima yang langsung menghambur kepelukan Om Irfan.


"Anakku...hiks..."Kata Om Irfan dia memeluk Rima dengan Erat.


"Jangan pergi lagi nak,Papa tidak akan sanggup kehilanganmu lagi" kata Om Irfan sambil membelai rambut putrinya.


"Rima akan selalu bersama papa sampai kapanpun" jawab Rima.


Om Irfan kembali menarik tubuh Rima kedalam pelukannya.


Flashback off


Rima mengakhiri ceritanya.


"Berarti sekarang bukan hanya Papa dan ibumu yang mengetahui tanda itu,karena ada aku yang juga mengetahuinya" kata Edo menggoda Rima.


"Kak Edo apaan sih,gak lucu ah" kata Rima sambil berlari masuk ke kamarnya.


Edo tersenyum melihat tingkah Rima kemudian dia menyusul Rima kekamarnya.


"Sayang kamu dimana?" tanya Edo yang pura-pura tidak melihat Rima bersembunyi dibalik selimut.


Edo berjalan mengendap-endap mendekati Rima kemudian menarik selimut Rima.


"Hahaa...aku menemukanmu" kata Edo sambil tertawa terbahak-bahak.


Rima memasang wajah cemberutnya.


"Bersiaplah,kita akan pulang ke rumah kita" kata Edo sambil membelai rambut Rima.


"Kakak tidak menunggu Papa pulang dari luar kota?" tanya Rima.


"Papa sudah mengirim pesan padaku tadi,jangan pura-pura gak tau.Bukankah papa tadi sudah menelponmu" tutur Edo sambil memencet hidung Rima.


Edo naik ke atas kasur dan mengungkung tubuh Rima.


"Apa aku boleh melihat tanda itu lagi" kata Edo sambil tersenyum simpul.


Rima menutup wajahnya memakai kedua tangannya.


Edo menyingkirkan tangan Rima dari wajahnya yang ayu,Edo mendekat kewajah itu.Rima memejamkan matanya dan Edo tersenyum melihat itu.


"Apa kamu berharap aku menciummu?" tanya Edo.


Blush...pipi Rima merona malu.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya nanti setelah kita sampai di rumah kita,bersiaplah dan tidak perlu membawa pakaianmu karena aku sudah menyiapkannya disana.Bawa barang-barangmu yang penting saja,Aku menunggumu di bawah" tutur Edo sambil turun dari kasur lalu melangkah keluar dari kamar.


Rima memukul kepalanya merutuki kebodohannya,lalu dia tersenyum mengingat kejadian tadi.Rima turun dari kasurnya dan mulai mengemasi barang-barang yang harus di bawa ke rumah Edo,lebih tepatnya rumah mereka.


__ADS_2