Pelabuhan Hati Sang Duda Keren

Pelabuhan Hati Sang Duda Keren
XP 4


__ADS_3

Wildan sibuk dengan layar laptopnya,semenjak mengetahui kalo Arumi hamil dia jarang datang ke hotelnya.Wildan lebih suka bekerja di rumah pribadinya atau bekerja di rumah temannya.Seperti hari ini Wildan sedang berada di rumah Edo,mereka sedang membahas soal permintaan Jatmiko untuk bekerja sama dengan mereka.


"Bagaimana kabar Arumi Wil?" tanya Edo.


"Semua baik-baik saja,hanya perutnya saja yang terlihat makin membesar seperti mau meledak" jawab Wildan sambil tersenyum.


"Sudah mendekati hari persalinan ya?" tanya Rima yang baru datang sambil membawa kopi dan cemilan.


"Kalo menurut perkiraan dokter sih begitu" jawab Wildan.


"Bagaimana dengan para gadismu,apa kamu masih menemui mereka?" tanya Edo sambil meminum kopinya.


"Aku sudah memiliki semua apa yang aku mau,aku tidak butuh mereka lagi" jawab Wildan.


Edo dan Rima hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban Wildan.


"Ayah...Bunda" kata Mimin sambil menggendong Laura.


"Hai...anak Ayah sudah bangun? Sini sama Ayah" kata Edo.


Mimin membawa Laura dan menyerahkannya pada Edo.


"Launa belum bangun Mbak?" tanya Rima.


"Belum Non,Si Kakak tidurnya nyenyak sekali" jawab Mimin.


"Oya Min apa temanmu ada yang mau bekerja,kebetulan aku membutuhkan orang untuk membantu pekerjaan istriku di rumah" kata Wildan.


"Kurang tahu Tuan,nanti Mimin coba tanya ibu di kampung.Siapa tau saja ada yang mau bekerja" jawab Mimin.


"Kabari aku secepatnya" kata Wildan.


Mimin mengangguk.


Broom...broom...


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Edo.


"Siapa yang datang?" tanya Edo.


"Gak tau,temen Ayah kali" jawab Rima.


"Launaaaa....Laura.... Oma datang" teriak Mama Edo dari luar rumah.


"Mak Lampir yang datang,sembunyikan anak-anak" kata Edo pada Rima dengan suara yang keras agar terdengar oleh Mamanya.


"Dasar anak kurang ajar,Mama cantik dan putih mulus begini di bilang Mak Lampir" protes Mama.


"Sendiri aja Ma?" tanya Rima sambil menyalami ibu mertuanya itu.


"Ya enggaklah,pasukan masuuuukkkk" teriak Mama.


"KEJUTAN"


Kata Eyang,Nenek dan Papa Edo bersamaan.


"Eh tunggu tunggu Bian ketinggalan" kata Bianca sambil berjalan tergesa-gesa.


Hahaha...


"Si onty mah riweh ih,makanya jangan banyak gaya pake sepatu kaki panjang segala" celoteh Eyang.


"Ini heels namanya Eyang,bukan sepatu kaki panjang" protes Bianca.


"Sabodo ah,Eyang mah taunya itu sepatu kaki panjang" kata Oma.


"Ante Lusi sama Om Arjuna gak ikut Mah?" tanya Edo.


"Si Ante lagi keluar kota sama Si Om jadi gak bisa ikut" jawab Papa.


"Do aku pamit pulang dulu ya,Arumi pasti sudah menungguku" pamit Wildan.


"Oke,sorry ya kalo mereka datang suka bikin keributan,orang tawuran juga kalah ribut oleh mereka" kata Edo.


Wildan tersenyum lalu pergi dari rumah Edo.


"Si Kakak Mana?" tanya Mama pada Rima.


"Tidur Ma di kamarnya" jawab Rima.


"Sini adek sama Oma" ajak Mama pada Laura.

__ADS_1


Laura memeluk Edo dengan kuat dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Edo.


"Anak kecil juga tau Ma kalo Mama menakutkan" kata Papa.


"Ih si papa mah suka bikin kesel mama aja ah" kata Mama sambil memasang wajah cemberutnya.


Mama beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Launa.


"Ma jangan di bangunin si kakak,dia baru tidur" teriak Edo.


Mama terus melangkah masuk ke kamar cucunya,tidak menghiraukan larangan Edo.


"Bianca ada yang melamar Kak,menurut Kakak bagaimana?" tanya Bianca pada Edo.


Edo melihat ke arah Bianca,dipandanginya wajah adiknya itu.


"Tapi sampai sekarang Kakak belum berhasil menemukan keberadaan orang tua kandung kamu Neng" kata Edo.


"Mama sama Papa kan ada,lagipula kan bisa pakai wali hakim Kak" kata Bianca.


Edo tidak dapat berkata-kata lagi mendengar perkataan adiknya itu.


"Pria mana yang bernyali besar dan sudah berani melamar adiknya Edo Hemmmm?" tanya Edo sambil mencolek hidung Bianca.


Edo berusaha tetap tersenyum walau di hatinya merasakan pedih.Sedih karena belum berhasil menemukan keberadaan orang tua kandung Bianca.


"Anak pemilik Dewata grup Kak,rekan bisnis Bang Elang" jawab Bianca dengan nada sedikit takut.


"Dewata grup? kalian bertemu dimana? sudah lama kenal?" Edo mencecar Adiknya dengan banyak pertanyaan.


"Satu-satu atuh Kak kalo nanya,rombongan gitu" protes Mama sambil menggendong Launa.


"Eh itu kenapa dibangunin,Mama mah suka bandel" kata Edo.


"Waktu Mama masuk ke kamar Si Kakak udah bangun kok,lagi berdiri di kasur,untung Mama cepet masuk" jawab Mama.


"Dua bulan lalu Bianca mewakili kantor kita untuk menghadiri acara pembukaan kantor cabang Dewata grup,disitulah mereka bertemu dan mulai dekat" jawab Papa.


"Kakak hari itu gak datang karena si Adek sakit kalo gak salah" tutur Edo.


Edo dan keluarganya pun membahas soal lamaran Bianca.Rima hanya menyimak saja,sedangkan Mama sibuk bermain dengan kedua cucunya.Eyang dan Nenek ikut membahas soal lamaran Bianca.


Elang mengemudikan mobilnya menuju ke sekolah Revan,Ayah Thomas sedang pergi mengantar Rere dan Romlah berbelanja jadi siang ini Elang yang menjemput Revan dan Thomas.Pak Harun sedang sakit jadi tidak masuk kerja hari ini.


Elang menepikan mobilnya di depan sekolah Revan,masih ada waktu sepuluh menit lagi.Elang turun dari mobil dan mendekati penjual buah yang ada di depan sekolah.


"Masih banyak buahnya Bang?" tanya Elang.


"Iya Pak,baru sedikit yang laku" jawab Tukang buah sambil tersenyum.


"Berapa lagi sisanya?" tanya Elang lagi.


"Masih banyak Pak sekitar tiga ratusan" jawab Tukang buah itu lagi.


"Bungkus untuk saya dua puluh potong buah,sisanya bagikan pada anak-anak yang pulang sekolah nanti" kata Elang.


"Beneran Pak,Bapak mau borong jualan saya?" tanya Tukang buah dengan wajah gembira.


Elang mengangguk lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya setelah itu Elang memberikan uang itu pada tukang buah.


Dengan senang hati tukang buah itu menerima uang dari Elang.


"Terima kasih Pak" ucap Tukang buah itu.


Elang mengambil buah yang tadi dipesannya lalu kembali ke mobil.


Anak-anak mulai berlarian keluar dari gedung sekolah,tukang buah itupun berteriak pada anak-anak jika ada buah gratis hari ini.Anak-anak pun berkumpul mengelilingi tukang buah dengan wajah senang.


Revan dan Thomas masuk ke dalam mobil,setelah itu Elang mengemudikan mobilnya dengan perlahan.


"Ini buah yang tadi Daddy beli di depan sekolah kalian,makanlah" kata Elang.


Revan dan Thomas pun saling berebut untuk mengambil buah itu,Elang hanya tersenyum melihat tingkah kedua bocah yang duduk di bangku belakang.


"Mommy sama Adik kembar mana Dad,kok gak ikut?" tanya Revan sambil mengunyah buah dalam mulutnya.


"Biasa Mommy lagi shopping" jawab Elang.


"Ayah Thomas mana,kok Daddy yang jemput?" tanya Revan lagi.


"Ayah Thomas nganterin Mommy shopping,karena hari ini Pak Harun sakit dan gak masuk kerja jadi Ayah Thomas yang gantikan Pak Harun" jawab Elang.

__ADS_1


Revan dan Thomas saling berlomba memakan buah yang tadi di beli oleh Elang.Elang terus mengemudikan mobilnya,tidak lama kemudian mereka pun sudah sampai ke rumah.


Revan dan Thomas turun dari mobil di susul oleh Elang.Mereka masuk ke dalam rumah Kiandra dan Winara menyambutnya.


"Daddy" kata Kiandra.


Sedangkan Winara sibuk menarik tas milik Revan.


"Abang...mau" kata Winara.


Revan membuka tasnya lalu mengeluarkan semua isinya,Winara sangat senang sekali apalagi saat melihat ada boneka kecil yang keluar dari tas Revan.


"Abang beli boneka?" tanya Elang.


"Bukan boneka Dad tapi gantungan kunci" jawab Revan.


"Ini punya Kiandra" kata Revan sambil memberikan gantungan kunci berbentuk robot pada Kiandra.


Kiandra dan Winara duduk di lantai sambil memainkan gantungan kunci itu.


"Abang ganti baju dulu ya,nanti baru kita main" kata Revan sambil mengelus kepala kedua adiknya.


Revan dan Thomas pun pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian,sedangkan Elang tetap bersama Kiandra dan Winara di ruang tamu.


"Mommy belum pulang ya Mbak?" tanya Elang pada Diah.


"Belum Tuan" jawab Diah yang sejak tadi berada disitu menjaga Kiandra dan Winara.


Elang beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.Elang membuka semua pakaiannya lalu memakai baju santai,setelah itu Elang kembali ke ruang tamu untuk bermain bersama kedua anak kembarnya.


"Daddy sudah pulang?" tanya Rere yang baru saja sampai.


"Iya Mom,oya mana Romlah kok Mommy pulang sendiri?" tanya Elang karena hanya Rere yang masuk dan tidak ada Romlah bersamanya.


"Romlah tadi izin untuk menemui temannya,sebentar lagi juga pulang" jawab Rere lalu duduk di samping Elang.


"Teman laki-laki atau perempuan?" tanya Elang.


"Teman laki-laki,tapi Daddy tenang saja Ayah Thomas ada bersamanya dan Mommy tadi pulang minta jemput sama Pak Eko" jawab Rere.


Elang pun bernafas lega.Meskipun Romlah hanya asisten rumah tangga Elang tetap mengkhawatirkannya karena semua yang terjadi baik atau buruk semua akan menjadi tanggung jawab Elang.


Elang mengambil ponselnya lalu mengirim pesan singkat pada seseorang,setelah itu dia meletakkan ponselnya di atas meja.


"Daddy sudah makan?" tanya Rere.


"Sudah tadi di kantor" jawab Elang.


"Kalo gitu Mommy ke kamar dulu ya,mau ganti pakaian" kata Rere lalu melangkah pergi menuju ke kamarnya.


"Ikut dong" kata Elang.


Rere tidak menghiraukan Elang,dia terus berjalan lalu masuk ke kamarnya.


Rere meletakkan tasnya di atas meja,lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya setelah itu dia kembali ke kamar.


"Barang belanjaan Mommy mana?" tanya Elang.


"Di mobil yang di bawa Ayahnya Thomas,Mommy lupa memindahkannya tadi" jawab Rere.


Rere naik ke kasurnya lalu berbaring di samping Elang.


"Arumi belum melahirkan ya Dad?" tanya Rere.


"Sepertinya sih belum karena Wildan belum ada kasih kabar" jawab Elang.


"Emangnya ada apa?" tanya Elang.


"Ya gak ada apa-apa,cuma sekedar tanya doang" jawab Rere.


"Si kembar sudah besar,apa tidak ada rencana tambah Baby?" tanya Elang.


"Ngebet banget si abang,emang tiga anak kurang bang?" goda Rere.


"Kalo bisa sih sebelas neng,biar bisa bikin kesebelasan sepak bola" jawab Elang.


"Kenapa gak empat puluh aja bang biar bisa diajak tawuran" kata Rere.


Elang tersenyum mendengar perkataan istrinya Dia sangat suka menggoda istrinya apalagi dengan gaya bicara Rere yang tengil dan ceplas-ceplos disaat sedang bercanda.


Elang mengecup kening Rere kemudian menariknya kedalam pelukannya.Elang mengajak Rere untuk tidur dan Rere pun mengiyakannya walau sebenarnya mata Rere sedang tidak mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2