
Dalam gelap yang sangat pekat, dr. Dwi, Elina dan Adrianna merayap menyusuri lorong bawah tanah menuju pintu keluar yang menghubungkan dapur. Mereka harus segera sampai ke atas, agar lebih aman.
“Lebih baik aku periksa sirkuit listriknya. Aku tahu tempatnya ada di ruang bawah tanah sini. Listrik harus menyala agar pergerakan kita makin bebas,” kata dr. Dwi pada para wanita.
“Baik Dokter. Lakukan saja yang menurutmu baik,” jawab Elina.
Setelah meraba-raba dinding, akhirnya mereka tiba di bagian sirkuit listrik, yang mengatur sistem pencahayaan di kastil. Benar dugaan dr. Dwi, bahwa ada yang sengaja menurunkan sirkuitnya, sehingga listrik padam. Segera ia menormalkan kembali sirkuit listrik, tak lama kemudian lampu kastil menyala normal kembali.
“Syukurlah, ayo kita cepat ke atas!” ajak dr. Dwi.
Mereka tak menunggu waktu lama lagi, segera naik menuju ke atas. Bagaimanapun mereka harus tetap waspada karena Tiara masih berkeliaran di sekitar kastil. Sesampai di dapur, mereka merasa lega. Paling tidak, mereka bisa bertahan apabila diserang.
Tepat bersamaan dengan itu mereka bertemu dengan Reno dan Michael. Mereka sebenarnya hendak memeriksa sirkuit listrik, tetapi rupanya sudah dinormalkan terlebih dahulu oleh dr. Dwi.
“Masih ada Mariah di bawah sana. Kalian harus cepat tolong dia!” kata dr. Dwi.
“Di mana? Kami tidak tahu letak tepatnya!” ujar Michael.
“Aku akan temani kalian. Dokter Dwi dan Adrianna kalian masuk aja dulu,” kata Elina.
“Jangan Elina, lebih baik kamu juga masuk. Biar kami cari saja tempat Mariah. Aldo sudah mencemaskanmu dari tadi. Ia ingin segera bertemu denganmu!” kata Michael.
“Aku sudah memberi tanda pada pintunya. Kalian cari saja pintu bilik yang ada tandanya,” kata Elina.
Selain itu, dr. Dwi juga memberi petunjuk arah agar mereka tidak tersesat di bawah sana. Setelah informasi cukup jelas, Reno dan Michael turun ke bawah tanah untuk mencari bilik tempat Mariah disekap. Mereka sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi di bawah sana. Senjata sudah disiapkan.
Dalam waktu singkat, posisi Mariah dapat ditemukan oleh Michael dan Reno. Keduanya segera membawa ke lantai atas. Kondisi Mariah agak lemah, karena tangan dan kakinya habis diikat, jadi harus dibantu untuk berjalan.
Kedatangan Mariah disambut penuh haru oleh Ammar. Dia memeluk istrinya dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Mariah juga tak dapat menahan air mata. Ia menangis, sekaligus bersyukur masih dipertemukan dengan suaminya. Padahal sebelumnya ia mengira akan mati, tak pernah bertemu suaminya lagi.
Demikian juga pertemuan Aldo-Elina. Pasangan yang hendak menikah itu juga berpelukan menahan haru. Hari ini, mereka benar-benar dibuat lelah dengan kondisi yang sangat sulit.
Kini semua berkumpul di ruang tengah, tak boleh terpisah-pisah karena sampai saat ini keberadaan Tiara belum diketahui. Ringo menjemput teman-temannya yang bersembunyi dalam kamar, bergabung dengan penghuni kastil lain.
“Apa Melly sudah ketemu?” tanya Sonya.
“Maaf, sepertinya temanmu itu tidak bisa kami selamatkan,” ujar Dimas pelan.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” tanya Ringo.
“Tadi kami menemukan Melly di dalam kamar mandi belakang, dalam keadaan tak bernyawa. Kami menemukan bekas cekikan di lehernya. Maaf,” ucap Dimas.
Semua terdiam. Tak ada yang berkomentar lagi. Serentetan pembunuhan yang terjadi kastil itu, membuat mereka kebal dengan berita terbunuhnya seseorang. Mereka berharap agar tidak ada lagi yang terbunuh.
“Sekarang apa langkah kita? Apakah bertahan hingga pagi? Kita nggak ada kendaraan untuk ke kota. Jadi bagaimana?" tanya Hans.
Pertanyaan Hans membuat Dimas ingat akan mobil yang diparkir di depan. Ia segera keluar untuk memeriksa, jangan sampai Tiara menguasai mobil itu. Sayangnya, ketika hendak membuka pintu depan, pintu itu terkunci. Demikian pula semua pintu yang menghubungkan dengan luar terkunci.
“Astaga! Tiara mengunci semua akses keluar! Kita terperangkap!” ucap Dimas.
“Dia bukan Tiara. Tiara Laksmi, penulis yang sebenarnya itu sudah meninggal. Nama psikopat yang sebenarnya adalah Tivany. Dia adalah saudara kembar Tiara,” kata Reno.
Belum lagi mereka memutuskan langkah selanjutnya, tiba-tiba mereka mencium bau asap mengepul dari dapur. Mereka segera menyadari bahwa Tivany sengaja membakar dapur sebelum mengunci semua pintu. Tivany menginginkan para penghuni tewas dalam kobaran api dengan cara mengunci semua akses keluar.
“Cepat ke ruang baca sebelum api membesar! Kemarin aku sempat memecahkan kaca jendela di sana. Kita keluar sebelum api membesar!” ajak Reno.
Sontak mereka berlarian ke ruang baca. Ya, jendela besar di ruang baca masih menganga karena Reno berhasil memecahkan saat ia dikunci oleh Helen di dalam sana. Reno turun terlebih dahulu dengan cekatan, agar bisa membantu yang lain di bawah. Satu-persatu, mereka turun dengan susah payah karena jarak jendela dengan tanah masih cukup tinggi. Para perempuan sengaja didahulukan, mengingat api semakin berkobar, mulai menjilat ruang baca.
Kepanikan jelas terasa, tetapi akhirnya mereka semua turun dengan selamat. Mereka segera menghambur ke halaman depan, menuju mobil polisi yang dibawa oleh Dimas dan Reno. Ternyata, benar dugaan Dimas, di dalam mobil mereka melihat Tivany alias Tiara berusaha menstarter mobil dengan kunci mobil curian.
Tivany kaget. Ia melongok keluar. Ia tak menyangka semua penghuni kastil kini mengepung, tak membiarkan lolos. Michael segera menutup gerbang kastil agar Tivany tidak lolos keluar.
“Minggir atau kutabrak kalian!” ancam Tivany.
“Silakan tabrak aku! Kau tak bisa kemana-mana. Percuma saja kamu kabur!” tantang Michael.
Mendengar itu, Tivanu merasa gentar juga. Ia hendak menginjak gas, tetapi percuma gerbang tertutup. Kalaupun ia nekat menabrak gerbang itu, tentu sia-sia. Gerbang baja itu sedemikian kuat, walau terlihat tua. Mungkin mobil yang akan hancur.
“Menyerah saja! Kamu nggak akan bisa kabur!” ucap Reno.
Kini, semua penghuni kastil mengelilingi mobil, siap menghadang Tivany yang hendak kabur. Wanita itu merasa gugup dikelilingi seperti itu, tetapi ia tak mau menyerah. Ia tetap bertahan di dalam mobil.
“Aku akan membalaskan dendam Cornellio, sekaligus menghukumnya karena telah memfitnahku dengan parfum! Biar saja kubunuh dia!” bisik Adrianna tak sabar.
“Tenanglah Adrianna! Dia akan merasakan pembalasan yang setimpal!” dr. Dwi berusaha menenangkan.
__ADS_1
Tivany mulai panik. Para penghuni kastil telah mengepung. Mustahil bagi dirinya untuk kabur. Segera ia raih sebuah pistol yang ia curi dari kamar Ammar sebelumnya. Pistol itu segera ia arahkan ke arah kepalanya dan ....
Dooorrr!
Pistol itu meletuskan sebutir peluru yang langsung meledakkan kepalanya!
***
Pagi baru saja menyingsing. Api yang membara di kastil telah padam , karena para pria telah mengambil kunci dari Tivany, kemudian berusaha memadamkan api agar tak menjalar kemana-mana. Para penghuni kastil terduduk di rerumputan, merasa lelah dengan kejadian semalam.
Dimas mengambil alih mobil. Ia sudah pergi ke kota untuk meminta bantuan kendaraan agar bisa mengangkut penghuni kastil yang bertahan hidup. Mereka lega, seolah baru telepas dari sebuah mimpi buruk yang menakutkan. Tak ada obrolan, karena mereka terlalu lelah. Mereka hanya ingin segera sampai ke rumah masing-masing.
Menjelang siang, Dimas kembali dengan sebuah minibus yang mampu menampung mereka semua. Mereka masuk ke dalam mobil dengan langkah lelah, bersiap kembali ke kota. Sebelum pulang, mereka saling berpamitan, saling memeluk satu sama lain, seraya menatap kastil dengan sedih.
“Kastil tak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku. Selamat jalan!” gumam Michael.
***
Dua bulan selepas peristiwa kastil itu, sebuah pesta pernikahan digelar di sebuah gedung mewah di pusat kota. Pernikahan antara Aldo Riyanda dan Elina Agustin berlangsung meriah. Banyak tamu undangan berdatangan, termasuk para penulis lain yang sempat selamat dari pembunuhan di kastil tua. Mereka mengucapkan selamat atas kebahagiaan Aldo dan Elina.
Maira, Hans, Adrianna, dan Michael, mereka berfoto bersama di panggung. Aldo sempat berkata pada mereka,” Setelah ini aku tak akan menjadi penulis lagi. Aku akan fokus sebagai seorang dokter.”
“Menjadi penulis tidak semudah yang dikira orang kan?” Maira menanggapi.
“Tepat sekali!” jawab Hans.
Ia masih sibuk dengan kebiasaan lama, mengerling gadis-gadis yang hadir di pesta pernikahan itu.
Malam beranjak larut. Mereka menutup rapat-rapat peristiwa di kastil yang kini ditutup itu. Mariah, selaku ahli waris yang tersisa sengaja menutup kastil. Setelah berdiskusi dengan pengacara Anggara, ia mendapatkan warisan yang jumlahnya tak sedikit.
Para polisi mendapatkan penghargaan atas keberhasilan mengungkap kasus yang sengaja ditimbun puluhan tahun, termasuk pembunuhan para penulis di masa lampau. Upacara pemberian penghargaan dilaksanakan secara resmi, dengan disaksikan oleh seluruh anggota kepolisian.
Para anak muda kembali melanjutkan aktivitasnya setelah menghadiri pemakaman Melly. Ben merasa trauma, tak ingin lagi mengikuti kegiatan berkemah dan semacamnya. Sedangkan Antony tetap suka berpetualang seperti biasa. Banyak perubahan setelah peristiwa di kastil itu. Sonya lebih suka mengurung diri sekarang.
Dokter Dwi masih melanjutkan profesinya sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama di kota. Reputasinya kian menanjak naik. Ia juga mendapat bintang peghargaan khusus, karena berjasa besar dalam kasus kastil tua.
Arvan, kembali dengan selamat, disambut penuh suka-cita oleh istri dan anaknya, setelah beberapa lama dikabarkan menghilang.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG ke KASUS BERIKUTNYA!