Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
302. Para Tamu


__ADS_3

Tak ada suara kokok ayam jago ketika pagi menjelang. Yang terdengar hanya suara cuitan burung yang berloncatan di atas ranting-ranting pohon. Hari masih agak gelap, dengan aroma daun-daun teh yang tertiup angin, ketika Mariah membuka matanya. Ia harus segera bersiap sebelum tamu-tamunya tiba pagi ini. Semua persiapan sudah beres, sehingga ia tinggal mempersiapkan diri saja. Dilihatnya sang suami sudah tidak ada di atas ranjang. Kemana ia pergi sepagi ini? Ia tak mau ambil pusing. ia segera membersihkan diri di kamar mandi.


Sementara, Ammar sedang menikmati limpahan oksigen dari udara pagi yang begitu bersih. Ia menghirup dalam-dalam aliran udara melalui hidung, kemudian ia lepas perlahan. Begitu berulang-ulang. Kualitas udara seperti ini tak akan ia daparkan di kota, jadi ia begitu menikmati pagi ini dengan sepenuh hati.


Setelah membersihkan diri, Mariah menunggu kehadiran teman-temannya dengan gelisah. Ammar seakan tak peduli dengan kegelisahan istrinya. Ia memilih untuk berada di ruang baca, mencari buku-buku yang menarik. Ia masih teringat, di ruang baca ini pun tersimpan misteri, yakni pintu rahasia yang menghubungkan dengan ruangan bawah tanah.


Menjelang pukul sembilan, sebuah minibus berwarna putih memasuki halaman kastil. Seorang wanita muda berusia sekitar 27 tahun turun dari mobil itu sambil menebar senyum lebar. Mariah menyambutnya dengan gembira.


"Lily. sudah lama sekali," sambut Mariah.


"Kau masih saja cantik, Mariah," balas Lily.


Kedua wanita itu saling berpelukan dan menempelkan pipi. Lily Amelia, wanita tinggi semampai dengan rambut lurus tergerai. Rambutnya berwarna coklat keemasan karena diwarna, serasi dengan kulitnya yang putih terawat. Ia adalah seorang manajer di perusahaan asuransi ternama yang mempunyai ribuan nasabah. Sayangnya di usia yang sudah mendekati 30 tahun, ia masih belum mempunyai pasangan. Lily adalah sahabat dekat Mariah, saat mereka berdua masih duduk di bangku SMA.


Kali ini Lily berangkat dengan beberapa teman yang lain. Satu-persatu, mereka turun dari mobil itu dengan gembira. Setelah Lily, ada pasangan suami-istri, Edwin Siregar, bersama Rosita. Pasangan ini adalah teman Mariah pula saat SMA. ia dikenal cerdas, ahli dalam pelajaran Fisika, dan jago bermain basket. tak heran Edwin Siregar adalah idola para gadis di zamannya. Bahkan, Mariah sempat jatuh hati padanya, namun ia sadar untuk menaklukkan hati Edwin bukanlah perkara mudah. Ia harus bersaing dengan selusin gadis lain. Kini Edwin justru menikah dengan gadis yang tak pernah diduga sebelumnya. Rosita Felicia, seorang gadis muda yang usianya sepantaran dengan Mariah dan Lily, tetapi parasnya terlihat jutek dan tak bersahabat. Ia sama sekali tak menebar senyum sesampai di kastil itu. Edwin Siregar kini bekerja di sebuah perusahaan manufaktur. dengan jabatan yang lumayan keren.

__ADS_1


Pasangan kedua yaitu Aditya Permana dan istrinya Lidya Kumalasari. Aditya Permana ini adalah teman satu genk dengan Edwin Siregar. Keduanya memang dijuluki sebagai playboy sekolah waktu itu. Kini seiring berjalannya waktu, saat pesona Aditya turut memudar, ia menikahi seorang gadis baik, seorang kasir di sebuah bank swasta, Lidya Kumalasari. Sedangkan Aditya kini dikenal sebagai seorang pengusaha yang mempunyai bisnis properti.


Pasangan ketiga dalam deretan para tamu adalah pasangan Jeremy Adam dan Stella Andini. Keduanya memang berpacaran sejak masih SMA, dan tak disangka mereka melanjutkan ke jenjang pernikahan hingga sekarang. Mereka adalah gambaran pasangan idaman. Jeremy Adam adalah sosok pria yang baik, dengan sifat kalem kebapakan, sedangkan Stella adalah wanita muda yang cukup menarik dan banyak bicara. Yah, rupanya benar apa kata orang, bahwa pasangan saling melengkapi. Perpaduan keduanya terlihat sangat serasi. Mereka berdua mempunyai usaha resto dan cafe di tengah kota, serta toko busana.


Pasangan keempat, Ryan Prasetya dan Nadine Athalia Putri. Mereka pasangan yang baru menikah sebulan lalu. Ryan adalah teman SMA  Mariah yang berbakat dalam urusan tarik suara. Sampai sekarang, ia masih aktif sebagai seorang  wedding singer. Sementara Nadine, bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang akunting. Nadine merasa jatuh cinta dengan suara Ryan saat menghadiri pernikahan temannya. Kedekatan Ryan dan Nadine berujung pada pernikahan.


Tamu yang lain adalah Farrel Bintang Irawan. Dia seorang lajang, sahabat SMA Mariah yang konyol dan menyenangkan. Tubuhnya agak gendut, tetapi dia adalah tipikal pria yang sangat menyenangkan. Ia pandai berbicara dan merayu, tetapi anehnya sampai saat ini belum ada gadis yang memikat hatinya.


Orang terakhir yang keluar dari mobil adalah, Maya Larasati. Kalau Edwin adalah seorang yang cerdas versi laki-laki, maka Maya Larasati adalah versi perempuannya. Ia ahli kimia, dan sekarang menjadi seorang peneliti di sebuah badan pemerintah. Tampilannya memang sangat sederhana, dengan rambut kepang dan kacamata. tak ada kesan mewah. Namun, terlihat aura cerdas dari paras mukanya. Mungkin karena itu lah sedikit pria yang mau dekat dengannya. sampai saat ini masih betah menyendiri. Sejak SMA, Maya memang suka menyendiri.


Mereka segera ditunjukkan ke kamar masing-masing. Seperti biasa, para wanita akan menempati kamar di lantai atas. sedangkan para pria akan menempati kamar di bawah. Kastil terlihat begitu luas untuk menampung tamu-tamu itu. Namun, hal itu malah membuat mereka gembira. Mereka malah memuji arsitektur bangunan yang begitu eksotis, sehingga hari itu pula mereka tertarik untuk menjelajah seluruh ruangan.


Namun, Mariah tentu saja merahasiakan keberadaan ruang bawah tanah bagi mereka. Sebab, ruang bawah tanah itu mengandung aura negatif, sehingga mungkin mereka akan terganggu atau takut apabila mengetahui keberadaan ruang bawah tanah itu. Mereka hanya berjalan-jalan di dalam kastil, dan tentu saja menikmati pemandangan sekitar kastil yang dikelilingi kebun teh.


"Di sini nggak ada jaringan ya!" keluh Rosita.

__ADS_1


Wanita muda itu tampak asyik memainkan ponsel, saat yang lain tengah mengagumi kastil. Tak ada seorang pun yang peduli dengannya. Ia terlihat sangat jutek.


"Untuk siang dan malam nanti kalian tidak perlu memasak, karena aku sudah menyiapkan untuk kalian," terang Mariah.


Kali ini, Mariah bertidak sebagai penunjuk jalan, sembari menerangkan ruangan-ruangan apa saja yang ada di dalam kastil. Mariah sengaja tidak mengungkit kejadian buruk yang pernah terjadi dalam kastil. Ia tidak mau merusak suasana reuni ini dengan cerita-cerita seram.


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2