
Malam pekat menyelimuti saat sebuah minibus melaju merayap arteri kota, menuju arah pinggiran. Langit terlihat gelap, tak ada bintang yang bertabur, hanya sebentuk bulan sabit menggantung di pertengahan langit. Laju kendaraan itu terbilang sedang, tak terlampau cepat. Di dalamnya, para penumpang duduk tanpa suara dengan paras lelah. Mereka hanya ingin segera sampai dan beristirahat.
Di belakang minibus. mobil Reno mengikuti, menjaga jarak agar tak terlalu jauh ketinggalan, dan memastikan mereka agar tak terjadi apa-apa di rumah isolasi. Di dalam mobil minibus, ada tiga orang perempuan duduk di kursi tengah, dan tiga orang pria di kursi belakang. Mereka adalah rombongan para artis dan kru film yang sudah siap mejalani isolasi.
"Masih jauh?" celetuk Laura.
Namun, tak ada yang menanggapi pertanyaannya. Widya dan Rianti hanya bergeming. Semua malas untuk buka suara malam ini. Mereka memilih untuk memejamkan mata. Sementara di kursi belakang, para pria sudah tertidur, seolah tak peduli dengan keadaan sekitar.
Beberapa saat kemudian, mobil sampai di kawasan tempat rumah isolasi itu berada. Mobil tidak masuk ke dalam, sehingga hanya bisa parkir di pinggir jalan. Semua penumpang segera tersadar dari mimpi, seraya bangkit untuk membawa barang-barang pribadi mereka. Agak mengherankan, karena mereka tidak melihat rumah isolasi itu dengan jelas. Yang mereka lihat hanya pepohonan dan perkebunan kosong.
"Nggak salah nih?" ujar Riky sambil menatap berkeliling.
"Ini tempat yangs empurna untuk isolasi. Dijamin di sini nggak ada fasilitas internet. Sepi dan pedalaman banget di sini," tambah Guntur.
"Villa-ku jauh lebih baik daripada di sini," keluh Henry.
Mereka mengeluarkan opini yang rata-rata pesimis dan negatif. Apalagi, mereka tak melihat bangunan severa langsung. Reno segera menjelaskan bahwa untuk berkunjung ke rumah isoalsi, mereka harus berjalan terlebih dahulu menyusur jalan kecil. Rumah itu tak terlihat dari jalan raya, karena tertutup pepohonan dan letaknya agak di atas bukit.
Mereka tak membantah. Malam itu pula, mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang kanan-kirinya banya ditumbuhi pepohonan. Tak penerangan sama sekali di jalan sempit itu, sehingga masing-masing dari mereka menggunakan cahaya senter dari ponsel sebagai penerang jalan.
"Ini sih lintas alam namanya," keluh Riky.
"Jangan-jangan kondisi rumahnya juga mengenaskan. Aku nggak bisa tinggal di tempat seperti itu."
Rianti mulai berprasangka.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai juga di depan bangunan tua yang tertutup banyak pepohonan. Bangunan berlantai dua itu berdiri di tengah lahan yang masih banyak ditumbuhi pohon dan semak. Suasana sangat menyeramkan, karena penerangan sangat terbatas. Mereka bergidik melihat bangunan itu. Kesan angker begitu terasa begitu mereka menginjakkan kaki di halaman depan.
"Yang benar saja! Kita ini sebenarnya mau diisolasi atau uji nyali?" komentar Riky dengan nada agak kesal.
"Firasatku nggak enak ya. Mungkin ini tes mental sebelum aku main di film horor," ucap Laura.
"Kenapa juga ya tempatnya seperti ini?" keluh Guntur.
Reno tampak tak bereaksi mendengar aneka celetukan bernada negatif itu. Setela melewati area halama depan yang penuh pohon, mereka langsung diperintahkan untuk masuk melalui pintu depan. Malam sudah sangat larut, bahkan sudah melebihi pukul 12 tengah malam. Mereka merasa letih dan mengantuk, ingin segera istirahat. Namun, Reno menyuruh mereka menunggu di ruang tamu, sebelum Pak Paiman dan Bu Mariyati mengarahkan lebih lanjut. Reno memberi penjelasan singkat, kemudian memanggi; Pak Paiman dan Bu Mariyati untuk dikenalkan pada mereka semua.
__ADS_1
Pak Paiman dan Bu Mariyati sebenarnya hendak menjelaskan sedikit tentang ruang-ruang yang ada di rumah bergaya Belanda itu, tetapi karena malam sudah terlampau larut, dan mereka harus istirahat, Pak Paiman menunjukkan ruang-ruang tidur yang mereka gunakan. Seperti yang terdahulu, para wanita akan menempati kamar-kamar yang ada di lantai dua, sedang para pria akan menempati kamar yang ada di lantai bawah.
Mereka segera menempati kamar masing-masing tanpa banyak komentar, karena kondisi tubuh sudah lelah. Masing-masing dari mereka sudah dibagi kunci-kunci pribadi, dan disarankan untuk mengunci pintu selama berada di kamar, dan tidak meminjamkan kunci pada siapa pun, walau kepada teman sendiri.
"Semoga semua aman malam ini," gumam Reno sambil menghempaskan diri di sofa depan.
Tak dapat dipungkiri, ia juga merasa sangat letih, baik fisik ataupun pikiran. ia hanya ingin duduk dantai sambil menikmati secangkir kopi malam ini.
"Kita tidak boleh kecolongan lagi, Pak. Semoga semua dapat berjalan lancar dan pelaku dari pembunuhan ini dapat segera dibekuk," kata Pak Paiman sambil menemani duduk.
Bu Mariyati keluar dari ruangan dalam, membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi panas untuk menemani mereka berjaga pada malam ini. Ia sadar, bahwa malam-malam berikutnya akan berbeda. Mereka harus lebih waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
"Bu Mariyati harus hati-hati juga dalam hal makanan. Karena si pembunuh ini mempunyai akses terhadap racun sianida. Kalau memang perlu, kita pesan makanan saja dari luar," pesan Reno.
"Jangan khawatir, Pak. Saya akan tangani masalah makanan mereka dengan baik. Saya tak lagi kepasar, tetapi semua bahan makanan akan dikirim melalui jasa online," kata Bu Mariyati.
Reno hanya mengangguk-angguk. Ada rasa khawatir terselip, tetapi berusaha ia tenangkan dirinya. Malam ini, ia tidak akan tidur, karena harus berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang akan terjadi. Apalagi, kondisi saat ini mereka dalam keadaan lelah, tentu akan sangat mudah dimanffatkan seseorang yang punya niat jahat.
***
"Rani ... Rani. Ka-kamu masih bertahan kan?" bisik Niken, polisi wanita yang terikat itu.
Ia menggunakan sisa-sisa energi yang ia punyai untuk bergerak. Maklum, seharian ini sosok misterius yang mengikat mereka tak menampakkan diri, sehingga asupan makanan dan minum juga tak mereka dapat. Kini, tubuh mereka benar-benar terasa lemas. Bahkan Niken menduga Rani dalam keadaan tak sadarkan diri. Gadis belia itu pasti mengalami dehidrasi parah.
"Rani! Bangunlah ... ba-bangun!" Niken berusaha berteriak, tetapi suaranya amat lemah.
Sosok Rani masih terkulai, dengan sebagian rambut menutupi mukanya. Tubuhnya yang lemah tersandar di dinding, seolah pasrah dengan keadaan yang berlaku. Niken merasa sangat sedih melihat itu. Saat ini, seolah kematian membayang di pelupuk mata. Ia tidak bisa membayangkan apabila nasibnya berakhir dalam rumah kosong ini. Ia tidak yakin ada orang yang datang untuk menyelamatkannya.
Niken sadar, kali ini ia tidaj bisa mengandalkan Rani. karena gadis belia itu sudah tak sadarkan diri. ia hanya berharap agar gadis itu masih bertahan hidup. Ia kembali menggunakan sisa-sisa kekuatan untuk merayap perlahan, menggeser seluruh tubuhnya untuk bergerak ke arah jendela kaca. Ia akan menendang-nendang jendela itu, agar menarik perhatian siapa saja yang kebetulan lewat atau bila mungkin, jendela kaca itu bisa pecah.
Sekuat tenaga ia bergeser, inchi demi inchi ia lalui dengan sekuat tenaga. Niken sangat tersiksa dengan keadaan itu, tetapi ia berusaha menguatkan diri. Ia ingin menangis, tetapi air mata tak membuatnya bertambah kuat. Ia bukan gadis cengeng yang mudah menyerah. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang keras, dengan latar belakang ayahnya seorang anggota militer. Pasti ia bisa mencari jalan keluar dari rumah besar ini.
Sayup-sayup, dilihatnya di luar sana seorang petugas keamanan perumahan sedang lewat sambil berjalan kaki menyortkan senter ke segala arah. Semangat Niken langsung bangkit. Ia mempercepat merayap menuju jendela sekuat tenaga. Satu meter lagi, ia akan bisa meraih jendela kaca besar itu. Ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"To-toloong!
__ADS_1
Niken berusaha berteriak, tetapi sepertinya suaranya hanya bisa bertahan di tenggorokan. Ia kehilangan seluruh energi, dan seluruh tubuhnya terasa lunglai. Ia berusaha menendang jendela dengan kaki, tetapi rasanya itu pun terlalu sulit ia lakukan. Petugas keamanan yang sedang patroli itu sudah menjauh. Niken hanya bisa menangis melihat itu. Air matanya luruh tanpa ia ia sadari. Pada saat ini ia merasa sebagai polisi paling malang di dunia.
***
Dimas terpekur sendiri dalam ruang kerja di rumahnya, sambil terus meneliti setiap nama artis yang punya aset di kompleks perumahan mewah itu. Satu fakta berhasil ia ketahui, bahwa nama-nama artis yang tercatat sebagai pemilik rumah itu, hanya menggunakan bangunan sebagai aset, bukan sebagai tempat tinggal. Jadi sebenarnya mereka tidak benar-benar tinggal di sana. Hanya Renita Martin saja yang mengguakan rumah sebagai tempat tinggal utama.
Rencananya esok hari, ia akan mengecek langsung ke lokasi rumah-rumah milik para artis itu. Malam ini sudah cukup larut, sehingga tidak mungkin ia mengecek langsung ke lokasi. Ia menutup data yang ada di meja, seraya meminum kopi yang sudah dingin. Matanya sudah terasa perih, karena terlalu lama memelototi catatan-catatan. Mungkin ini waktunya untuk beristirahat sejenak, mengingat saat ini jarum jam sudah melaju kencang meninggalkan angka 12.
Ia bergegas hendak ke toilet untuk membersihkan muka dan mengosok gigi, ketika ia melihat ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dini hari, ia menduga pasti panggilan itu dari Reno, karena ia tahu bahwa saat ini Reno sedang berjuang sendirian mengungkap kasus di rumah isolasi. Bagaimanapun, ia tidak tega kalau rekan kerjanya itu menangani ini sendirian. Ia harus tetap menolong, kapan pun ia butuh.
Ia mengecek panggilan itu, ternyata bukan dari Reno, melainkan dari Gilda. Astaga! Perasaannya tak enak tiap kali jurnalis itu menelepon. Pasti ia sedang memburu data atau ingin melibatknnya dalam sebuah urusan yang maha pelik. Ia tidak mengangkat panggilan itu, walau ia sepenuhnya sadar kalau Gilda akan marah. lagi ya
Karena panggilan Gilda tak diangkat, jurnalis wanita itu mengirim pesan kepada Dimas.
"Dimas, apa benar pihak kepolisian melakukan isolasi kepada para tersangka lagi? Wah, kalau memang benar aku bisa berkunjung lagi ke sana dan mendapat informasi lagi ya. Bagaimana menurutmu?"
Demikian bunyi pesan Gilda. Dimas hanya menghela napas. Ia tak berniat membalas pesan itu. Gilda selalu saja datang tak diundang, dan selalu dalam waktu yang tidak tepat. Ia bagai hama tanaman yang harus dibasmi. Dimas tak lagi ambil pusing dengan pesan Gilda. Segera ia matikan ponsel, menarik selimut, dan membaringkan diri di atas ranjang. Otaknya terasa penat, dan membutuhkan istirahat yang berkualitas malam itu.
***
__ADS_1