Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXI. Piano


__ADS_3

Ben sedikit terengah-engah ketika kembali ke air terjun menemui teman-temannya. Acara mandi hampir berakhir. Sonya dan Melly sudah berganti baju, dan mengeringkan rambut. Sementara para pria masih asyik menggoda Maira di bawah aliran air yang luruh bergemericik di antara bebatuan. Ben segera menenangkan pikiran sambil duduk di sebuah batu besar. Masih segar dalam ingatan, ketika ia menemukan sebentuk kerangka manusia dalam peti. Pemandangan itu mengganggu pikirannya.


Sebenarnya ia tak terlalu takut, tetapi firasat buruk menyelinap tiba-tiba. Di balik tempat indah ini, ia mencium adanya kengerian yang tersimpan. Kecemasan terlihat dari parasnya, sehingga memicu Sonya untuk bertanya.


“Dari mana saja kamu, Ben?” tanya Sonya sambil mengusap rambut dengan handuk.


“Eh, aku jalan-jalan di sekitar hutan sini saja,” jawab Ben singkat.


“Tapi kamu terlihat takut. Apa ada sesuatu terjadi?” tanya Sonya lagi.


“Tak ada. Tapi sebaiknya kita segera mengakhiri liburan ini,” ujar Ben.


“Mengakhiri liburan? Apa kamu bercanda? Kita baru saja sampai dan kamu bilang kita harus segera mengakhiri liburan ini. Kurasa nggak ada seorang pun setuju dengan ide kamu itu,” ucap Sonya.


“Kamu bilang kayak gitu karena kamu nggak suka berenang kan?” imbuh Melly.


“Bukan. Bukan itu masalahnya. Tetapi aku merasa firasat yang buruk akan terjadi. Entahlah, aku nggak tau itu apa. Biasanya firasatku selalu benar.”


Melly tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Jangan bawa-bawa firasat di sini. Tempat ini begitu indah dan kamu bilang ada firasat buruk. Kurasa satu-satunya firasat yang buruk di sini adalah kamu!” Melly tersenyum sinis.


“Dia hanya ingin mengingatkan kita kali, Mel!” Sonya mencoba membela.


“Dih, kamu belain dia? Pasti ini gara-gara perasaanmu padanya!” cibir Melly.


Ben tak lagi mendebat. Ia malas apabila konflik sudah mulai muncul. Ben adalah sosok yang cinta damai, dan cenderung menghindari masalah. Ia memilih diam agar tidak memicu konflik lebih dalam. Dari arah lain tiba-tiba muncul Aldo yang baru saja tiba di lokasi air terjun. Dokter muda itu berpisah dengan Elina yang sedang ngambek, sehingga gadis itu kembali ke kastil terlebih dahulu.


“Halo!” sapa Aldo.


“Halo Bang! Ini Bang Aldo temannya Michael kan? Tadi pagi kita bertemu di kasti tua itu lho, Bang!” selidik Sonya.

__ADS_1


“Iya, aku masih ingat. Namamu pasti Melly!” tebak Aldo.


“Tentu saja bukan, Bang! Aku Sonya dan itu temanku yang bernama Melly!” ucap Sonya sambil menunjuk ke arah Melly .


Mendengar namanya disebut, Melly melambaikan tangan seraya melempar senyum manis. Jiwa binalnya mulai bergolak melihat seorang pria muda yang terlihat tampan.


“Oh iya, maaf. Kita bertemu sebentar saja di kastil kemarin. Kalian sudah selesai mandi? Wah aku telat ya!” ucap Aldo.


Sementara, rombongan yang lain telah selesai pula mandi. Setelah berganti pakaian, mereka duduk-duduk sejenak menikmati bunyi air yang terasa merdu mengalir di antara bebatuan.


“Loh, mana Kak Hans?” tanya Antony.


“Bukannya tadi dia berenang bersama kita?” jawab Ringo.


“Hans tadi kembali ke kastil duluan, karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Nanti malam kalau ia tidak sibuk, ingin bergabung bersama kalian di tenda. Apakah tempatnya cukup?” tanya Maira.


“Kurasa cukup saja tempatnya,” jawab Antony.


“Mengapa kita nggak pulang setelah ini saja?” cemas Ben.


Ben terdiam. Ia ingin menceritakan kejadian yang ia alami di pondok kayu tengah hutan , tetapi ia putuskan untuk tetap diam, karena mungkin ia hanya akan jadi bahan tertawaan. Sayangnya ia tak dapat menyembunyikan kegelisahan yang bersemayam di hati. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, tetapi bagaimana caranya? Tak ada seorang pun yang mendukung rencananya.


“Oke, kalau begitu aku balik ke kastil duluan. Aldo kamu mau bareng aku nggak?” tanya Maira.


“Ntar kamu ninggalin aku lagi. Males ah!” ucap Aldo.


Maira tertawa. Ia beranjak pergi meninggalkan sekumpulan anak muda yang masih menikmati hari di pinggiran sungai. Bagaimanapun, Aldo tak mau tinggal sendiri di situ, ia mengikuti langkah Maira dari belakang menuju kastil.


“Tunggu!” tiba-tiba Ben berteriak.


Maira dan Aldo menoleh ke arah Ben, seraya menghentikan langkah.

__ADS_1


“Aku ikut bersama kalian saja. Bukankah dalam kastil kalian ada polisi? Boleh tidak aku menumpang di kastil? Aku akan segera pulang, kumohon!” pinta Ben.


Maira dan Aldo saling berpandangan. Sekejap, Aldo memberi isyarat agar Ben ikut langkah mereka menuju kastil. Sementara, teman-teman Ben menatap dengan kesal.


“Tuh kan, itu akibatnya kalau kamu mengajak si anak mama. Dikit-dikit minta pulang!” gerutu Melly.


“Sepertinya ada yang baru ia alami. Sebelumnya tadi dia baik-baik saja kok,” bela Sonya.


“Sudahlah! Biarkan saja dia pergi. Kalau dia nggak nyaman di sini ya mending dia pergi saja.” Antony menambahkan.


Sayup-sayup, terlihat Maira, Aldo dan Ben meninggalkan area air terjun, menaiki lereng menuju kastil yang terletak di balik hutan dan kebun teh.


***


Senja mulai menapak bukit yang diselimuti kebun teh itu. Awan semburat merah di kaki-kaki langit, seolah mengantar tenggelam matahari. Maira, Aldo dan Ben baru saja tiba dari kawasan air terjun dengan perasaan lelah. Kastil masih terlihat lengang, dengan penghuni yang menyibukkan diri masing-masing. Aldo segera menyusul Elina yang tengah minum teh bersama Adrianna di dekat kolam renang. Sementara, Ben untuk sementara mendapat kamar belakang, bekas kamar yang dipakai oleh Yoga. Helen menyiapkan kamar tersebut, karena ia merasa iba pada Ben yang terlihat cemas dan takut.


Di bagian kastil yang lain, Maira segera mengurung diri di dalam kamar, ingin merebahkan tubuh sejenak guna melepas lelah. Sayup-sayup terdengar denting piano dari ruang tengah kastil melantunkan sebuah simfoni yang akrab di telinganya.


“Pasti Hans ....” Maira mulai tertarik dengan denting piano itu.


Ia bergegas ke ruang tengah untuk menjumpai Hans. Rasa lelah tak dirasa, ia ingin mendengar suara denting piano dengan lebih jelas. Baru beberapa langkah keluar kamar, alunan musik terhenti. Saat ia beranjak menuju ruang tengah, ia melihat di sana tak ada seorang pun.


“Hans?” ucap Maira sambil menyapukan pandangan berkeliling.


Beberapa menit lalu, dengan jelas ia mendengar denting piano yang cukup indah. Anehnya, ia tak menemukan siapa pun di ruang tengah. Bahkan suasana ruang tengah terlihat sunyi, seolah tanpa penghuni. Bulu kuduknya meremang. Rasa takut menyeruak. Dalam pikirannya, hanya Hans yang bisa bermain piano seindah itu, tetapi mendadak tak ada seorang pun terlihat.


Rasa cemas segera menghantui pikirannya. Ia mengambil langkah seribu untuk meninggalkan ruang tengah. Ia naik tangga dengan cepat, tetapi tiba-tiba denting piano itu terdengar lagi dari ruang tengah.


“Siapa sebenarnya yang hendak bermain-main denganku?” gumamnya. Ia bimbang, apakah ia harus kembali ke ruang tengah atau tidak. Karena penasaran menghebat, ia memutuskan untuk kembali ke ruang tengah. Denting piano terhenti, tetapi ia melihat sekelebat bayangan hitam berlalu cepat menuju ruang baca.


“Siapa itu?” pekiknya.

__ADS_1


Kembali ia didera rasa bimbang. Haruskah ia mengejar sosok itu di ruang baca atau kembali ke kamarnya?


***


__ADS_2