Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
321. Musik dari Loteng


__ADS_3

Tak ada kokok ayam jantan untuk menyambut pagi yang hening. Embun masih berserak di rerumputan, kabut tipis menyelimuti suasana kastil. Burung berkicau bersahut-sahutan, mendendangkan tembang pilu mengawali hari yang muram. Para penghuni kastil mulai terbangun dari lelap tidurnya. Sedari pagi, Mariah sudah berjalan di sekitar kastil, sambil melihat taman bunga yang tersusun rapi. Ia berusaha melupakan kejadian semalam yang sempat membuatnya terpukul sambil berjalan di halaman depan kastil, ditemani sang suami, Ammar Marutami.


Mariah memetik daun-daun yang telah layu, kemudian mengumpulkan di kantong plasttik. Ia juga menata ulang pot-pot kecil yang ia atur sedemikian rupa, hingga menjadi susunan yang cantik. Ia ingin sejenak nmelupakan kejadian semalam, tetapi rasanya tak mudah. Ammar juga berusaha tak mengungkit kejadian itu.


"Siapa kira-kira orang gila yang meletakkan karung beras itu?" gumam Mariah kemudian.


"Salah satu dari temanmu, Mariah. Namun, siapa pun itu, dia adalah psikopat sadis tak berperasaan. Ia sanggup menghabisi teman sendiri dengan begitu brutal, nyaris seperti manusia barbar tanpa perasaan. Siapa yang seperti itu di antara mereka? Apa kamu mempunyai informasi tentang mereka satu persatu?" tanya Ammar.


Mariah menggeleng sambil menarik napas. Ia berkata,"Kami lama tidak pernah bertemu selepas SMA. Namun ada pula yang bertemu kembali karena kuliah di kampus yang sama, ada yang masih memendam cinta lamanya. Dulu waktu SMA kami sangat akrab. Rasanya tak percaya apabila ada kejadian mengerikan seperti ini. Rasanya tak percaya kalau temanku sanggup melakukan hal gila ini."


"Apakah di antara mereka ada korban bully atau pernah disakiti secara mental di masa lalu?" tanya Ammar.


"Setahuku tidak. Hanya saja, kadang dahulu kami suka mengerjai Maya, karena dia yang paling lugu di antara kami. Dia memang cerdas, tetapi ia terlihat cupu dan berbeda, sehingga kami suka saja menggodai dia. Namun, tak ada maksud kami benci atau apa. Kami sayang dengan Maya, karena dia adalah sahabat kami. Maya sendiri pun sepertinya nggak ada masalah dengan ini," terang Mariah.


"Bagaimana dengan kisah cinta mereka? Apakah waktu di SMA ada kisah-kisah cinta monyet di antara mereka?"


"Waktu SMA, kami sering hang out bersama-sama. jadi bisa dikatakan persahabatan kami tak lagi memandang rasa cinta. Semua terlihat begitu tulus dan murni, bukan hanya sekedar cinta antara laki dan perempuan. Kami bersama menembus batas itu. Aku tak bisa memastikan apakah ada cinta terpendam di antara kami, karena semua berjalan begitu akrab dan normal," ungkap Mariah.

__ADS_1


Ammar hanya manggut-manggut mendengar penuturan istrinya. Ia ingin tahu, apa yang sebenarnya tersembunyi dari ikatan persahabatan yang sekilas terlihat sangat erat dan harmonis, namun menyimpan kebusukan-kebusukan di dalamnya. Bahkan, ada yang hendak merusak ikatan persahabatan itu dengan cara kotor dan keji.


"Hari ini siapa yang menyiapkan sarapan?" tanya Ammar berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Hari ini Rosita bilang dia akan membuat sarapan spesial. Entahlah, kukira dia tidak pandai memasak, semoga makanannya pagi ini bisa diterima oleh lidah," ucap Mariah.


Pasangan itu meninggalkan halaman depan, menuju halaman samping melalui lorong yang tertutup oleh gondola yang dipenuhi tanaman merambat, sehingga membentuk atap alami. Angin pagi masih bertiup lembut, membawa aura positif ke seluruh penjuru kastil. Kejadian mengerikan tadi malam perlahan mulai terkikis. Para penghuni berusaha melupakan kejadian itu.


Dimas dan Reno sudah bersiap untuk berangkat ke air terjun, melacak keberadaan Stella dan Nadine. Segala perlengkapan mereka persiapkan, termasuk air minum dan beberapa lembar roti yang sedang disiapkan Rosita di dapur. Mereka berharap, agar kedua wanita itu bisa ditemukan dalam keadaan selamat.


"Kalian tidak menunggu sarapan?" tanya Rosita sambil mengoles lembaran roti dengan margarin, kemudian memasukkanya ke dalam pemanggang.


Rosita mengangguk. Setelah persiapan bekal untuk Reno dan Dimas siap, Rosita membungkus roti itu dengan kertas pembungkus makanan, kemudian menyerahkan kepada mereka. Reno dan Dimas tak ingin berlama-lama. Mereka segera menjalankan tugas mereka untuk menjelajah hutan dan sekitarnya. Sementara, para penghuni lain masih belum terlihat bangun, masih asyik di dalam kamar masing-masing.


Rosita melanjutkan aktivitasnya di dapur. Pagi ini, ia menggantikan tugas Mariah untuk menyiapkan makan pagi. Ia akan mencoba kebolehannya dalam memasak nasi goreng. Ia selalu penasaran dengan masakannya sendiri. Selama ini, yang memuji masakannya adalah Edwin, sang suami. Ia ingin ada orang lain yang memuji masakannya. Ia akan melakukan pembuktian itu.


Bahan-bahan untuk membuat nasi goreng sudah ia siapkan, temasuk bumbu-bumbu yang harus ia haluskan dan ia potong kecil-kecil. Tentu ini agak merepotkan, karena biasanya ia masak hanya untuk dua porsi, namun kali ini ia masak dalam porsi banyak. Ia menerja-nerka takaran yang pas, agar rasa masakannya tidak terlalu hambar atau berlebihan.

__ADS_1


Suasana kastil masih lengang. Rosita memasak sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Ia tidak boleh lambat, agar bisa menyajikan tepat waktu. Dalam hal masak-memasak, ini tentu bukan pertama kali. Namun, tetap saja ia ingin menhidangkan yang terbaik buat penghuni kastil yang lain.


Saat asyik memasak, sayup-sayup terdengar suara denting musik yang sepertinya terdengar dekat. Sekilas mirip denting piano, tetapi Rosita memastikan bahwa suara yang ia dengar bukan suara piano. Ia mematikan kompor, kemudian kembali menajamkan pendengaran. Bunyi denting musik itu melantunkan sebuah lagu anak-anak yang populer. Sepertinya ini adalah bunyi sebuah kotak musik!


"Siapa yang memainkan kotak musik pagi-pagi begini?" gumam Rosita.


Ia menyusur ke ruang belakang yang terdapat sebuah tangga menuju loteng. Suara denting musik itu sepertinya datang dari arah loteng. Rasa penasarannya semakin menggeliat. Sejenak ia terlupa dengan bumbu nasi goreng yang sudah ia tumis di atas wajan. Ia lebih tertarik dengan bunyi denting musik yang terdengar merdu di telinganya.Tak biasanya ada suara musik pagi-pagi begini.


Ia berdiri di depan tangga yang menhubungkan dengan loteng. Suara musik masih mengalun, semakin mengusik rasa penasaran. ia melangkah perlahan menaiki loteng. Namun, di pertengahan tiba-tiba denting musik itu berhenti. Hal itu tak menyurutkan langkah Rosita untuk terus menaiki tangga hingga ujung. Kini ia sampai di ruangan loteng yang gelap.


"Siapa di sini?" tanya Rosita.


Ia melangkahkan kaki, masuk ke dalam ruang loteng yang lapang. Hanya saja, loteng itu terlihat pengap dan berdebu. Satu-satunya cahaya berasal dari pantulan sinar di jendela kaca besar yang berada di sisi loteng. Denting musik terdengar kembali, kali ini lebih jelas terdengar. Namun, Rosita tak dapat memastikan darimana sumber suara itu. Sepertinya begitu dekat, tetapi Rosita tak melihat apa pun di situ.


"Ros!"


Tiba-tiba terdengar suara memanggil. Rosita memalingkan muka ke kanan dan ke kiri, mencari siapa gerangan yang memanggilnya. Namun, ia tidak menemukan seorang pun di sekitar situ. Sontak bulu kuduknya meremang. Ia segera membalikkan badan, berniat untuk meninggalkan area loteng!

__ADS_1


***


__ADS_2