Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
177. Wanita Berambut Merah


__ADS_3

Di salah satu ruas jalan kota, sebuah mobil keluaran tahun 2000-an melaju membelah kepadatan kota pagi itu. Badi sedang berbunga-bunga, dengan tampilan barunya yang rapi, menyetir mobil itu untuk mengantar Nayya yang kelihatan berseri-seri. Kegembiraan yang dirasakan Nayya tentu saja tak bisa digambarkan. Setelah berhari-hari ia disekap oleh psikopat misterius, kini ia bisa bernapas lega karena akhirnya bisa pulang ke rumahnya sendiri. Tak terbayangkan sebelumnya. Padahal ia sudah pasrah, dan mengira dirinya akan mati mengenaskan di tangan sosok itu.


“Kamu pasti sangat bahagia, Nay,” ucap Badi, memecah kesunyian di dalam mobil.


“Pastinya Bang. Sebelumnya aku mengira aku akan mati di tangan pembunuh itu. Tetapi rupanya, Tuhan masih sayang denganku. Tuhan mengirim penyelamat melalui Abang. Kalau tidak ada Abang, mungkin aku sudah mati dibunuhnya. Aku banyak berhutang budi pada Abang, dan tentu saja pada Tari,” ucap Nayya dengan nada sedih.


“Nggak usah dipikirkan , Nay. Sudah menjadi kewajibanku menolongmu, karena manusia hidup di dunia harus saling tolong-menolong. Kematian Tari adalah takdir yang tak bisa dielakkan, dan sekarang aku sudah ikhlas menerima itu,” ucap Badi.


“Abang percaya adanya Tuhan?” tanya Nayya.


“Dahulu aku sempat tidak percaya dengan adanya Tuhan, karena kemalangan yang selalu menimpa keluarga kami. Aku pikir, Tuhan itu tidak ada, karena tidak pernah membela kami. Ibu kami meninggal karena bunuh diri sejak aku berumur tujuh tahun, dan waktu itu Tari masih berusia lima tahun. Ayah kami kawin lagi dengan wanita pemabuk dan nyaris tak pernah mengurusi kami. Kami tertekan dengan keadaan itu, sehingga memutuskan kabur dari rumah, hidup di jalanan, sampai saat ini. Sekarang, aku percaya mungkin Tuhan sedang mengujiku. Aku banyak mendapat kemurahan yang tak pernah kurasakan sebelumnya,” papar Badi.


Nayya terdiam mendengar penuturan Badi. Ia tidak menyangka kalau pria ini mempunyai latar kehidupan yang gelap dan keras. Ia terharu, kemudian membayangkan dengan kehidupan dirinya yang begitu nyaman sejak dia masih kanak-kanak. Mungkin Nayya tidak terlahir di keluarga kaya, tetapi ia tidak pernah mengalami kesulitan hidup yang berarti. Ia beryukur akan hal itu.


“Aku turut sedih, Bang,” gumam Nayya.


“Sudahlah. Aku sudah melupakan masa lalu hidupku yang kelam. Kini, aku lebih fokus ke masa depan. Aku ingin memperbaikinya. Tak selamanya aku hidup di dunia seperti ini. Aku ingin menata ulang kehidupanku, mempunyai keluarga, dan hidup normal seperti orang lain,” ucap Badi dengan tatapan menerawang.


“Abang pasti bisa. Aku akan mendukungmu, Bang,” lirih Nayya.


Tak lama kemudian, mobil berbelok ke sebuah kawasan kompleks perumahan tempat keluarga Nayya tinggal. Nayya tersenyum lebar. Tak sabar ia bertemu dengan keluarganya.


“Ingat Nay, nanti jangan singgung tentang identitas pembunuh itu, walau kita berdua sama-sama tahu siapa dia. Aku takut, hal itu akan membuat keluargamu panik dan bicara pada orang lain. Pembunuh itu adalah milikku. Aku sendiri yang akan menghukum dia,” pesan Badi kepada Nayya sebelum turun dari mobil.


Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan taman kecil di depannya. Rumah itu tampak lengang, pintunya tertutup. Nayya merasakan kerinduan yang mendalam. Bunga-bunga yang di taman tampak layu, mungkin tidak ada yang menyiram semenjak dia pergi. Ia menghela napas.


“Ayo Bang, ikut!” ajak Nayya.


Badi sedikit ragu-ragu, apakah ia harus ikut Nayya atau bertahan di dalam mobil. Namun, karena Nayya mendesak, pada akhirnya ia mengikuti langkah Nayya turun dari mobil. Nayya memencet bel yang berada di dekat pintu, berharap ibunya mendengar suara bel itu.


“Siapa yang ada di dalam?” tanya Badi.


“Mama,” jawab Nayya cepat.


Tak lama, pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita berusia setengah abad berdiri di depan pintu, sambil membetulkan letak kacamatanya. Ia mengernyitkan dahi, menatap Nayya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia seolah tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Anak gadisnya yang dikabarkan menghilang telah hadir di hadapannya dalam keadaan sehat. Ini seperti mimpi baginya.

__ADS_1


“Mama ... “ gumam Nayya.


“Nay ... Nayya?”


Wanita itu masih terdiam dalam keraguannya. Ia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Padahal dalam pikirannya, anak gadisnya itu mungkin sudah mati. Ini sungguh suatu keajaiban.


Dalam waktu beberapa detik, drama pertemuan antara anak gadis dan ibunya dimulai. Mereka saling berpelukan dengan derai air mata yang membanjir. Masing-masing saling melepas kangen dalam pelukan. Tak banyak kata yang terucap,tetapi air mata mewakili semua kata-kata. Mereka masih larut dalam pelukan kerinduan itu.


Badi hanya menghela napas melihat itu. Ia terlalu lama berkecimpung dalam dunia gelap, sehingga hampir mematikan nuraninya. Ia tidak bisa berkata apa-apa saat ibu dan anak itu saling berpelukan. Ia hanya membungkam seribu bahasa, tak tahu pula apa yang hendak ia lakukan.


Setelah puas melepas rindu, wanita setengah abad itu mengajak Nayya masuk. Badi tak lupa ikut diajak. Entah apa yang harus disiapkan wanita itu untuk menyambut anak gadisnya. Ia terlalu gembira hari ini. Ia hanya menyuguhkan dua cangkir teh hangat dan sepiring singkong goreng, karena hanya itu yang siap disajikan. Ia sangat ingin tahu cerita dari putrinya selama ini menghilang.


Wanita itu duduk di sofa, sementara Nayya duduk di sampingnya. Tatapan mata Nayya menerawang, mengingat potongan-potongan peristiwa sejak ia berbelanja di supermarket pada malam itu. Ia bingung harus memulai dari mana, tetapi ibundanya sudah menunggu ia bercerita.


Setelah menarik napas, Nayya memulai cerita dengan kalimat terbata-bata. Diawali dengan peristiwa penyekapan saat ia selesai berbelanja di sebuah supermarket, kemudian ia dibawa ke sebuah gudang yang gelap di pinggir kota, kemudian dipindahkan ke sebuah rumah kecil di Kampung Hitam, kemudian melarikan diri, sehingga menyebabkan Tari terbunuh. Ia tertangkap kembali sosok itu lagi, kemudian dibawa ke sebuah apartemen kecil, disekap bersama Gerry. Ia sudah berusaha beberapa kali untuk meloloskan diri tetapi selalu gagal, sedangkan Gerry sendiri dibawa entah kemana. Untunglah, ada seseorang yang menyelamatkan waktu itu, yaitu Badi dan teman-temannya.


Cerita itu mengalir dari mulutnya dengan perlahan. Wanita itu tak kuat menahan tangis, membayangkan penderitaan yang dialami putrinya. Ia tak bisa berkomentar apa-apa, yang penting putriya pulang dalam keadaan selamat.


Ia juga tak peduli siapa pelakunya atau apa motif pelaku itu menculik putrinya, ia hanya ingi putrinya pulang dalam keadaan selamat. Itu saja.


***


Setelah acara sarapan selesai, para penghuni rumah isolasi dipersilakan untuk bersantai sejenak, sebab sesuai jadwal yang dibuat oleh Dimas, mereka akan ada pelatihan pertahanan diri langsung dari Reno pada pukul sepuluh. Reno mempunyai kecakapan dalam bela diri yang cukup baik. Ia ingin berbagi hal itu pada penghuni rumah isolasi, karena mungkin berguna di saat seperti ini. Reno juga ingin tahu, sejauh mana mereka menguasai ilmu pertahahan diri, sebab bukan tidak mungkin si pembunuh itu telah menguasainya terlebih dahulu.


Sebelum Dimas pergi dari rumah isolasi, ia menyempatkan untuk berbincang sejenak dengan Reno secara empat mata di kamar yang biasa mereka pakai untuk tidur. Dimas masih penasaran dengan identitas wanita yang menyewa mobil putih yang digunakan untuk melakukan sejumlah penculikan.


“Jelas penyewa itu erat kaitannya dengan Jenny, sebab ia memiliki KTP Jenny. Mungkin sebelum membunuh Jenny, ia mengambil identitas Jenny, dan memfotokopinya. Bukankah waktu jasad Jenny saat ditemukan dalam keadaan setengah tak berbusana?” terang Reno.


“Aku juga berpikir begitu. Perempuan yang menyewa mobil itu bisa jadi ada hubungannya dengan Jenny, tapi bisa juga tidak. Bisa jadi ini akal-akalan si pembunuh itu. Kalau melihat sketsa gambar ini, tak ada seorang pun dari mereka yang mirip dengan gambar ini. Jadi siapa sebenarnya wanita berambut marah itu?”


Dimas mulai penasaran sambil terus memperhatikan gambar sketsa yang ditunjukkan oleh Reno.


“Atau jangan-jangan dia sengaja memakai rambut palsu berwarna merah?” gumam Reno.


“Bisa jadi begitu. Kita tidak tahu. Aku sudah perintahkan tim untuk mengungkap identitas wanita ini dari database yang ada di bagian SIM. Siapa tahu ada kemiripan. Dalam hal ini kita harus mencoba segala kemungkinan,” ucap Reno.

__ADS_1


Tiba-tiba saat mereka bercakap-cakap, telepon Reno berbunyi. Polisi itu segera mengangkat karena si penelepon adalah Pak Andika. Ia berharap agar pemilik rental mobil itu memberikan tambahan info yang penting, sehingga identitas wanita berambut merah itu cepat terungkap.


“Iya Pak! Ada tambahan info apa?” tanya Reno cepat.


“Maaf Pak Reno, saya ingin menyampaikan tambahan info saja. Saya baru ingat kalau wanita yang menyewa mobil itu mengenakan jaket yang berlogo. Tapi saya tidak tahu logo apa itu. Yang jelas gambar logo itu adalah gambar ular, seperti simbol sebuah perusahaan atau apalah. Tapi saya tidak yakin sih, Pak. Mungkin info ini bisa sedikit membantu,” kara Pak Andika di seberang.


“Baik, terima kasih Pak. Nanti akan kami telusuri gambar simbol itu. Apakah Bapak bisa menggambar kembali gambar simbol itu, kemudian mengirim gambarnya pada kami?” tanya Reno.


“Tapi saya tidak pandai menggambar, Pak!”


“Sebisanya saja, Pak. Nanti kami akan telusuri lebih dalam. Siapa tahu logo itu tidak asing, sehingga kami bisa dengan cepat menelusuri.”


“Baik Pak. Nanti akan saya kirim!”


“Terima kasih, Pak, informasinya!”


Dimas memperhatikan percakapan itu dengan saksama. Ia merasa penasaran dengan keterangan yang diberikan oleh Pak Andika.


“Gambar ular .... “ gumam Reno.


“Ular?”


“Pikirkan sesuatu, apa yang dilambangkan dengan ular. Wanita itu mengenakan jaket yang bergambar ular. Ini membuatku semakin penasaran,” ucap Reno.


“Ular bisa berarti macam-macam. Kejahatan, kelicikan, racun, atau yang lain. Mungkin kita harus melihat gambar itu secara detail. Ada beberapa perusahaan juga yang menggunakan ular sebagai lambangnya, tetapi entahlah. Kurasa kalau kita mencari identitas berdasarkan gambar jaket yang dipakai seseorang agak terlalu sulit.”


Dimas sedikit pesimis dengan keterangan yang diberikan Pak Andika.


“Tapi tidak ada salahnya kita coba kan?”


“Benar. Tak ada salahnya. Aku juga mendapat pesan aneh terkait dengan Albert Einstein dan Marilyn Monroe. Nanti akan mendalami lebih dalam terkait dengan ini,” kata Dimas.


“Pesan seperti apa?”


“Nanti akan kujelaskan. Lebih baik kamu fokus dulu dengan wanita berambut merah itu,” kata Dimas sambil tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2