Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LV. The Looser


__ADS_3

Antony besusah-payah menuruni lereng jurang yang lumayan curam bersama Ringo, disusul Ben. Mobil yang teronggok di dasar jurang itu benar-benar menarik perhatian mereka. Rasa penasaran tak terbendung, apakah memang masih ada penumpang di dalamnya? Dua gadis belia menunggui di pinggir jalan raya dengan cemas. Benarkah begitu? Sepertinya tidak. Seorang di antaranya masih acuh tak acuh.


“Aku harap penumpangnya nggak kenapa-napa,” gumam Sonya. Matanya tak henti melihat ke arah dasar jurang, mencari-cari sosok teman-temannya yang mulai tertutup rimbunan semak.


“Tumben kamu peduli. Adakah sesuatu yang membuatmu peduli dengan kondisi penumpang dalam mobil itu?” tanya Melly dengan tenang. Tak tergambar rasa cemas di raut wajahnya.


“Kecelakaan mobil selalu membuatku takut, Mel. Aku masih ingat mendiang ayahku yang meninggal karena kecelakaan lalu-lintas. Makanya tiap ada kecelakaan, aku biasanya menghindar karena masih menyimpan trauma mendalam,” ucap Sonya.


Melly terdiam. Pandangannya juga masih tertuju di dasar jurang, saat teman-teman prianya sudah berhasil mendarat di sana. Antony melambaikan tangan dengan gembira, kemudian bergegas menuju bodi mobil yang sudah ringsek. Kaca depan pecah berhamburan, dengan posisi terbalik.


“Ini sangat parah. Sungguh ajaib jika penumpangnya masih hidup. Coba kamu cek ke dalam mobil itu, Ringo!” perintah Antony.


Ringo kelihatan ragu untuk melangkah ke depan. Bagaimanapun, ia tidak siap mental untuk melihat pemandangan yang mungkin terlihat mengerikan. Ia menggeleng.


“Kenapa? Kamu takut? Percuma saja tatto di lenganmu kalau ternyata kamu pengecut seperti itu!” ejek Antony.


“Mengapa tidak kamu periksa sendiri?” balas Ringo kesal.


Antony terdiam. Dalam hati, sebenarnya ia merasa bergidik juga. Ia membayangkan kondisi jasad yang mungkin hancur bersimbah darah dalam mobil. Ragu juga untuk memeriksa bagian dalam mobil.


“Biar aku saja yang memeriksa!” kata Ben tiba-tiba.


Di luar dugaan, Ben maju ke depan dengan cepat memeriksa bagian dalam mobil. Di bukanya pintu depan, tetapi tak menjumpai penumpang di sana. Demikian juga dengan bagian tengah. Tak ada tanda-tanda penumpang di sana.


“Kosong!” ucap Ben.


“Kosong? Bagaimana mungkin? Kok kosong?” tanya Antony keheranan.


“Mungkin penumpang di dalamnya selamat dan pergi dari tempat ini,” tambah Ringo.


“Iya, mungkin saja. Tetapi kuduga walaupun penumapang itu pergi, dia nggak bakalan jauh-jauh. Jelas dia terluka,” kata Ben.


“kalau begitu mari kita cari dia di sekitar tempat ini!” perintah Antony. Tanpa menunggu komando dua kali, mereka berpencar ke sekitar tempat penemuan bangkai mobil.


Setelah beberapa menit, tiba-tiba Ringo melihat sesosok tubuh pria terbaring di bawah sebuah pohon, hampir tertutup rerimbunan semak. Pakaiannya kotor karena lumpur, ada beberapa bercak darah di sana-sini. Ia melihat sosok itu tak bergerak.

__ADS_1


“Teman-teman! Cepat kalian ke sini!” Ringo setengah beteriak.


Antony dan Ben segera mendatangi Ringo yang terlihat panik melihat sosok tergeletak beberapa meter di depannya. Antony juga merasa khawatir, hanya Ben yang terlihat lebih tenang.


“Apakah dia sudah mati?” tanya Antony.


“Aku akan cek!” ujar Ben segera melangkah maju. Secara reflek, ia memegang urat nadi di pergelangan sosok yang tergeletak itu.


“Dia masih hidup ....,” kata Ben.


“Kamu yakin?” tanya Ringo.


Ben mengangguk. Tak lama, mereka kembali berunding bagaimana cara untuk mengangkut sosok yang mereka temukan. Tentunya bukan perkara mudah, mengingat lereng yang curam, sedangkan mereka tidak punya alat apa pun untuk mengangkat tubuh tak berdaya itu.


“Sepertinya kakinya patah. Jadi tak bisa berjalan. Jalan satu-satunya harus kita angkut dengan tandu atau tali. Tapi bagaimana mungkin? Kita tidak punya peralatan itu,” ucap Ben.


“Bagaimana kalau kita tinggalkan saja dia?” usul Ringo.


“Jangan!” larang Antony.


“Begini saja. Aku akan naik terlebih dahulu. Kalian berdua tetap di sini menunggui pria itu. Aku akan mencari pertolongan. Siapa tahu di depan ada rumah atau orang yang bisa dimintai pertolongan. Yang jelas, aku tidak bisa kembali ke arah kota, karena terlalu jauh. Lebih baik mencari pertolongan ke arah perkebunan,” ujar Antony.


“Kamu yakin ada rumah di depan sana? Kupikir hanya ada perkebunan saja di sana!” Ringo terlihat cemas.


“Sepertinya ada bangunan tua di depan sana. Dahulu aku pernah berkunjung di daerah sini bersama kakakku. Aku melihat di depan sana ada kastil tua. Semoga ada orang yang bisa dimintai pertolongan,” ucap Antony.


Tanpa membuang waktu, semua setuju dengan usul Antony. Ringo dan Ben menunggui sosok yang tak lain adalah Ammar Marutami di dasar jurang, sedangkan Antony kembali naik. Ia menceritakan secara singkat apa yang dilihatnya di bawah sana kepada Melly dan Sonya.


“Ada yang mau menemaniku mencari bantuan? Satu orang saja!” tanya Antony.


“Aku saja ya! Mel, kamu jaga-jaga di sini saja ya? Siapa tahu, Ringo dan Ben butuh sesuatu,” ucap Sonya.


“Baik, aku akan berjaga di sini saja!” jawab Melly.


***

__ADS_1


Selepas makan pagi, Michael mengajak Hans dan Aldo untuk mencari keberadaan Cornellio di ruang bawah tanah. Rencana itu disambut dengan kebimbangan oleh Hans.


“Aku sebenarnya tidak ingin masuk ke dalam sana lagi, Michael!” ucap Hans.


“Saat ini sepertinya kita harus masuk lagi ke sana. Helen mengatakan bahwa terakhir melihat Cornellio memasuki ruang bawah tanah. Pasti ada yang menarik perhatiannya, sehingga ia kesana. Siapa tahu kita bisa menemukan Cornellio. Apapun keadannya. Aku berharap, ia masih bisa ditemukan dalam keadaan hidup!” ujar Michael.


“Tidak! Terserah apapun anggapanmu kepadaku, Michael. Aku akan menunggu di atas saja. Aku tidak mau masuk ke dalam ruangan bawah tanah!” Hans berkata dengan gugup.


“Kamu mirip para wanita di kastil ini!” cibir Aldo.


“Aku nggak peduli, Aldo! Aku tak ingin masuk ke sana lagi!” tolak Hans.


“Oke Aldo! Kita akan masuk ke dalam sana. Persiapkan dirimu!” perinta Michael. Aldo mengangguk.


Setelah mempersiapkan lampu senter, Michael dan Aldo masuk ke dalam ruang bawah tanah melalui tingkap yang ada di dapur. Selain Hans yang menunggui, ada sosok Elina Agustin yang juga menunggu kekasihnya dengan perasaan cemas.


“Aku sama sekali nggak menyangka. Kamu begitu berapi-api menggoda wanita, tetapi mempunyai sisi gelap yang memalukan,” sungging Elina.


“Apa maksudmu, Elina?” tanya Hans.


“Harusnya kamu berada di dalam sana bersama para pria yang lain, bukan di atas sini bersama para wanita. Bukankah menurutmu itu sedikit memalukan?” tambah Elina.


Hans merasa tersinggung dengan ucapan Elina yang menohok, tetapi ditahannya amarah karena ia berhadapan dengan seorang gadis belia. Ia hanya ka dalam-dalam.


“Tidak turun ke dalam ruang bawah tanah, bukan berarti aku takut atau pengecut, Elina. Menerjang api, berhadapan dengan binatang buas atau apapun yang mengerikan mungkin aku sanggup, tetapi tidak dengan ruang bawah tanah itu!” Hans menjelaskan.


“Memangnya ada apa di sana?” tanya Elina penasaran.


“Kapan-kapan kamu harus masuk sendiri untuk membuktikan ucapanku! Kau boleh mengambil gambar sepuasnya di sana, dan menerbitkan dalam majalahmu. Aku menjamin, kamu akan membuat pembacamu ketakutan!” jawab Hans.


Elina sedikit bergidik. Memang, walau dia berada di luar ruang bawah tanah, ia bisa merasakan kengerian di dalamnya. Bagaimanapun, ia penasaran dengan cerita Hans. Kengerian macam apa yang tersembunyi dalam ruang bawah tanah ini?


“Aku akan menyusul ke bawah!” gumam Elina.


***

__ADS_1


__ADS_2