
Antony dan Sonya menghentikan langkah, kemudian memalingkan badan ke arah sumber suara. Di balik pintu, berdiri seorang wanita paruh baya memicingkan mata. Antony merasa agak ragu, apakah ia harus kembali ke mobil atau menemui wanita itu. Kalau ia kembali ke mobil, maka ia gagal mendapat pertolongan, padahal satu-satunya harapan adalah penghuni kastil tua ini.
“Ma-maaf Ibu, kami ... kami mau mencari pemilik pemilik kastil ini? Apakah ada?” tanya Antony takut-takut.
“Mengapa kamu mencari pemilik kastil ini?” tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah Helen. Wanita paruh baya itu masih bersikap waspada, menjaga jarak dengan orang asing yang baru ditemuinya.
“Sebenarnya kami sangat mebutuhkan pertolongan. Begini ibu, teman kami sedang mengalami kecelakaan tak jauh dari sini. Mobilnya terperosok di dalam jurang. Kami membutuhkan pertolongan untuk mengangkat teman kami yang ada dalam jurang. Apakah bisa?” tanya Antony.
Ia berusaha berkata sesopan mungkin, karena takut menyinggung perempuan paruh baya yang nyaris tak ada senyum di bibirnya.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa menolong kalian. Tak ada siapa-siapa di rumah ini. Kusarankan kalian mencari pertolongan di tempat lain,” ucap Helen dengan nada dingin.
Antony terdiam sambil mengangguk, kemudian menoleh ke arah Sonya untuk meminta pendapat. Parasnya tampak kecewa karena ia urung mendapat pertolongan. Tiba-tiba, dari sisi samping rumah, muncul seorang wanita tinggi dengan mata sipit. Adrianna Chen, tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Antony dan Sonya di situ. Ia tak menyangka ada orang asing yang masuk ke dalam kastil.
“Kalian mencari siapa?” tanya Adrianna.
“Apakah Ibu pemilik rumah ini?” tanya Antony.
“Bisa dikatakan begitu,” jawab Adrianna
sambil tersenyum.
Sementara di balik pintu, Helen tampak kesal. Segera ia menutup pintu dan masuk ke dalam.
Secara singkat, Antony menceritakan bahwa ada temannya mengalami kecelakaan di jurang dekat kastil. Saat ini kondisi kakinya patah sehingga membutuhkan pertolongan segera. Adrianna mendengar penuturan Antony dengan antusias.
“Kalian tunggu sebentar. Aku akan panggil kawan-kawanku untuk menolong. Semoga saja bisa,” ujar Adranna.
Antony dan Sonya menunggu di kursi taman samping, sementara Adrianna masuk ke dalam untuk mencari para pria yang mungkin bisa menolong. Sayangnya ia tak menemukan mereka, hanya terlihat Hans di dapur. Pria itu berdiri di dekat tingkap yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah.
__ADS_1
“Di mana yang lain, Hans?” tanya Adrianna.
“Aldo dan Michael mencari Cornellio di ruang bawah tanah. Ini tadi Ellina baru saja menyusul. Ada apa memangnya?”
“Aduh. Ini penting sekali. Ada dua orang remaja di depan meminta pertolongan karena ada yang kecelakaan di sebuah jurang dekat sini. Penumpangnya masih hidup, tetapi harus ditarik ke atas. Mereka membutuhkan pertolongan untuk menarik ke atas. Ini masalah nyawa seseorang, Hans. Kita harus bantu,” ucap Adrianna.
“Aku mau saja bantu. Tetapi seperti yang kamu lihat, beberapa teman yang lain ada di dalam ruang bawah tanah sekarang. Kurasa kita harus menunggu mereka naik. Aku tak mungkin sendirian ke sana,” ucap Hans.
“Kurasa kamu kesana saja membawa beberapa peralatan. Kita nggak tahu apakah Aldo dan Michael akan segera naik atau tidak. Aku khawatir nyawa penumpang mobil itu tidak tertolong,” ucap Adrianna.
Hans berpikir sebentar, kemudian melongokkan kepala ke dalam ruang bawah tanah. Di sana hanya ada kegelapan dan kengerian. Ia membuang napas, kemudian mengangguk.
“Baiklah. Aku akan tolong mereka!”
“Cepat! Mereka sudah menunggu di halaman samping!”
***
Dalam hati, Cornellio mengutuk kebodohannya, karena kurang hati-hati sehingga mudah terpedaya. Wajar, karena instingnya tidak terasah sebagai seorang detektif. Percuma ia menyesali kebodohannya. Ia hanya berharap suatu keajaiban agar bisa keluar dari bilik ini. Yang bisa ia lakukan hanya duduk meringkuk di sudut ruangan, dengan pikiran kosong. Bahkan rasa lapar hampir dilupakannya.
Tak jauh dari biliknya, Michael dan Aldo menyusuri ruang bawah tanah dengan waspada. Bayangan kengerian tergambar dari aneka properti di sepanjang lorong. Banyak borgol bergelantungan. Aldo mulai terasa tak nyaman. Perutnya mual dan kepalanya pening.
“Kurasa Cornellio tidak ada di sini. Lihat di ujung sana! Ada sebuah bilik yang tergembok. Kita nggak bisa masuk ke sana!” ujar Aldo.
“Justru itu yang membuatku penasaran, Aldo. Apa yang tersembunyi dalam bilik yang digembok itu? Mari kita lihat!” Michael segera menuju bilik yang berada di ujung lorong. Pintunya yang terbuat dari baja tampak tergembok.
“Kamu lihat gembok ini, Aldo? Gembok ini terlihat seperti baru. Seandainya ruang bawah tanah ini dibangun puluhan tahun lalu, maka dapat dipastikan gembok yang digunakan sudah berkarat. Tetapi kamu lihat ini!” ujar Michael sambil memegang gembok yang tertaut di pintu.
“Iya. Tak dapat dipungkiri ini adalah gembok baru. Maksudmu, ada seseorang yang sengaja keluar masuk di sini baru-baru ini?” tanya Aldo.
__ADS_1
“Tepat sekali, Aldo. Dapat kupastikan di balik pintu ini ada sesuatu yang menarik perhatian. Mungkin tempat penyimpanan mayat atau apalah itu. Bagaimana kalau kita bobol gembok ini?” Michael meminta pendapat kepada Aldo. Sesaat, Aldo tampk ragu, ia hanya mengangguk cepat.
“Masalahnya, dengan apa kita membuka gembok ini?” tanya Aldo.
“Kalian akan membutuhkan ini ....” Tiba-tiba sosok Elina sudah berada di belakang mereka sambil membawa sebuah linggis, dan menyerahkan pada Michael.
“Elina? Mengapa kamu ikut ke bawah sini?” tanya Aldo dengan khawatir.
“Hans mengatakan padaku bahwa mungkin aku akan menemukan objek foto menarik di bawah sini. Hal itu sangat membuatku penasaran. Ternyata benar, di ruang bawah tanah ini bisa menjadi objek foto bernuansa kelam yang mempunyai nilai jual tinggi!” ucap Elina.
“Maaf aku menyela! Darimana kamu dapat linggis ini?” tanya Michael.
“Ada selusin linggis di ujung ruangan sebelah sana. Mungkin ini adalah salah satu alat penyiksaan yang pernah dipakai di sini. Aku juga melihat rantai, cambuk dan pisau besar. Ini sungguh mengerikan. Manusia macam apa yang melakukan kejahatan sekeji itu?” ucap Elina.
“Sudahlah, Elin! Mending kamu nggak usah bahas itu. Sekarang kembalilah ke atas, dan tunggu kami di sana. Biar para pria yang menyelesaikan ini,” saran Aldo.
Elina menggeleng sembari tersenyum,”Maafkan aku, Sayang! Sepertinya aku lebih suka melihat kalian di sini. Mungkin kalian akan menemukan suatu hal yang menarik,” ujar Elina dengan santai.
“Di sini berbahaya, Elin!” Aldo berusaha memperingatkan kekasihnya itu.
“Sudahlah Aldo! Biarkan saja dia! Bantu aku untuk membuka gembok pintu baja ini!”
Michael mulai berusaha membuka paksa gembok yang mengunci pintu dengan linggis di tangannya.
Braaak!
Setelah beberapa kali pukulan, gembok terlepas dari engsel pintu. Michael merasa puas, sedangkan Aldo tampak cemas, demikian juga Elina. Tiba-tiba gadis itu merasakan nuansa seram. Pintu bilik terbuka! Aroma kengerian menguar. Kegelapan menghantui lorong di depan mereka.
“Astaga! Sebuah lorong lain yang gelap. Berani masuk ke dalam?” tawar Michael.
__ADS_1
***