Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
234.Pindah


__ADS_3

Malam menyelimuti kota, saat sebagian manusia menggunakan waktunya untuk istirahat, sebagian lainnya menggunakan waktu untuk memuaskan hasrae hedonis mereka. Suasana kota terlihat mewah, bergelimang lampu warna-warni. Di salah satu sudut kota, Ollan turun dari sebuah taksi dengan membawa aneka belanjaan. Ia tidak bisa menahan hasrat belanjanya. Setelah menjalani serangkaian perawatan kulit, ia menyempatkan mampir di mal untuk berbelanja barang-barang incarannya.


Kini, ia merasa sangat lelah dan memutuskan untuk segera istirahat malam ini. Ia berjalan menuju rumah kosnya dengan perasaan riang. Langkahnya tergesa, sambil menenteng tas-tas belanjaan yag jumlahnya tak sedikit. Warung kopi di depan rumah tampak masih ramai. Ada beberapa pria yang masih mengobrol dan menikmati kopi. Ollan merasa sedikit lebih tenang, karena paing tidak jika terjadi apa-apa, maka akan ada orang yang menolongnya.


Awalnya, ia masuk ke dalam kamar kos tanpa perasaan curiga. Namun ia mendapati kamarnya tak dikunci. Jangan-jangan ia lupa mengunci tadi saat berangkat. Jantungnya kembali berdesir.Ia sadar, bahwa dirinya belum sepenuhnya aman dari ancaman pembunuhan. Hal ini sedikit membuatnya khawatir. Ia sadar bahwa si pembunuh di luar sana masih mengincar nyawanya.


Perlahan, ia membuka pintu kamar. Jantungnya hampir lepas saat mendapati seorang pria duduk di sebuah kursi, menunggu kedatangannya. Ollan meletakkan belanjaannya di ranjang segera. Ia merasa canggung dengan kehadiran pria itu di dalam kamar kos nya.


"Pak Dimas," gumam Ollan.


"Iya Ollan. Aku menunggu sejak siang tadi, dan sekarang kamu baru tiba," ucap sosok yang tak lain adalah Dimas.


"Ma-maaf, Pak. Aku tadi keluar bersama teman-teman untuk berbelanja," ucap Ollan takut-takut.


"Kamu tahu Ollan, apa yang kamu lakukan itu adalah suatu kecerobohan yang berakibat fatal. Kamu tahu bahwa posisimu itu belum sepenuhnya aman dan kamu akan menjadi incaran orang yang mempunyai maksud tidak baik. Tadi siang, ada jurnalis yang sedang mencar-cari kos mu. Rupanya dia hendak mengorek keterangan tentang percobaan pembunuhan yang kamu alami di villa milik Henry.    Bukan tidak mungkin pula, bahwa lokasimu juga sudah terlacak oleh si pembunuh," terang Dimas.


"Ma-maafkan aku, Pak. Aku berpikir aku akan keluar sebentar saja kok!"


"Ini bukan masalah sebentar atau lama, Ollan! Bukan! Masalahnya nyawamu itu dalam incaran seseorang. Kalau kamu bukan target pembunuhan, mau kamu keluar dan tidak pulang sampai pagi, tidak ada masalah! Tapi posisimu itu dalam incaran! kamu harus sadar itu!" ucap Dimas dengan sedikit geram.


"Iya, Pak. Aku minta maaf. Aku memang salah. Seharusnya aku tidak keluar dari rumah ini sementara waktu. Jadi sekarang gimana Pak? Aku jadi takut di kamar ini sendirian," ucap Ollan.


Dimas menghela napas. Dilihatnya paras Ollan yang berubah kekanak-kanakan, sseperti seorang bocah sepuluh tahun yang sedang memohon pengampunan hukuman. Dimas menjadi gemas, tetapi ada rasa iba dalam hatinya. Bagaimanapun, Ollan adalah manusia biasa yang harus dilindungi, sama seperti manusia lain. Ya, ia memang punya kekurangan, namun Dimas berusaha untuk berlaku adil pada Ollan.


"Sekarang, kemasi barangmu! Kita akan pergi dari sini!" perintah Dimas.


"Hah! Malam ini juga Pak? Tapi ... tapi aku kan baru saja pindah di tempat ini?" Ollan tampak bingung.


"Jangan banyak tanya, Ollan! Kamu mau selamat atau tidak? Kalau kamu masih sayang dengan nyawamu, maka turuti saja apa yang kukatakan dan jangan banyak tanya. Keberadaanmu di kost ini jelas sudah diketahui banyak orang. Aku tidak menjamin apakah kamu bisa selamat atau tidak, walau kamu berada di tempat yang ramai seperti ini. Pembunuh itu bisa menyamar jadi siapa saja, dan bisa jadi ia akan menyusup tempat ini untuk menghabisimu. Jadi kusarankan, kemasi saja barangmu dan kita pindah! Bagaimana?"


Ollan terdiam. Ia tidak punya pilihan lain. Untuk saat ini, memang yang paling aman adalah menuruti kata Dimas. Ia takut membayangkan kalau-kalau ada orang menyusup rumah kos ini kemudian menghabisinya. Ia bergidik. Segera ia mengangguk cepat, kemudian bergerak untuk mulai mengemasi barang-barang miliknya. Tak ada keinginannya untuk membantah perintah Dimas. Saat ini posisinya memang sedikit terjepit.


"Waktumu lima menit, setelah itu temui aku di luar!"


Dimas beranjak dari tempat duduknya, kemudian keluar kamar. Ia sengaja keluar agar Ollan lebih leluasa dalam menyiapkan barang-barang pribadinya.Ia memilih menunggu di mobil yang diparkir tak jauh dari rumah kos Ollan. ia sedang menyiapkan rencana untuk memindahkan Ollan ke tempat yang lebih aman, tanpa banyak pengawasan polisi.


Sebelum ia memasuki mobil, tiba-tiba, ponselnya berdering. Terlihat nama Niken di layar ponselnya. Sejenak Dimas mengenyitkan dahi. Untuk apa Niken memanggilnya? Apa ada informasi penting yang hendak disampaikan?


"Iya Niken!" sapa Dimas dengan nada datar.

__ADS_1


"Dimas! Kamu ada waktu malam ini? Ada yang perlu kita bicarakan malam ini," ucap Niken di seberang.


"Malam ini? Aku nggak bisa, Niken. Ada tugas penting malam ini harus kulaksanakan. Maaf ya. Kalau ada yang penting sampaikan saja lewat telepon," ucap Dimas.


"Nggak bisa lewat telepon, Dim! Ini penting. Kita harus bicara langsung!" desak Niken.


"Maaf Niken, aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan tugasku!" tegas Dimas.


"Kalau begitu biar aku yang kesana. Sebutkan lokasimu, Dim!"


"Nggak bisa Niken. Ini tugas rahasia dan nggak boleh seorang pun tahu. Tunggu saja sampai aku menyelesaikan tugas ini, baru nanti kita bicara," ucap Dimas.


"Tugas apa sih, Dim? Kok pake rahasia-rahasia segala!" Niken mulai sewot.


"Aku tidak bisa mengatakan padamu," ucap Dimas.


"Baiklah, aku mengerti Dimas. Aku akan tunggu saja sampai kamu menyelesaikan tugasmu," ucap Niken.


"Tunggu Niken! Apakah yang hendak kamu bicarakan ini ada hubungannya dengan kasus yang tengah kita hadapi atau kasus lain?" tanya Dimas.


"Ini ada kaitannya dengan kasus yang kita hadapi Dim. Aku membawa beberapa informasi penting yang mungkin kita butuhkan untuk mengungkap kasus ini," ujar Niken.


"Kalau begitu kita bicarakan besok pagi saja. Aku akan laksanakan tugasku dulu malam ini."


"Jadi ... kita akan pindah ke mana, Pak?" kata Ollan sambil menghempaskan diri di kursi depan.


"Kita? Bukan kita! Tapi hanya kamu!"


"Eh, iya maaf, Pak! Maksudnya ... aku akan dipindah kemana, Pak?" tanya Ollan sembari tersipu malu.


"Ikut saja, dan nanti kamu tahu akan pergi kemana!"


***


Malam sudah semakin larut saat Reno pulang ke kediamannya. Fisik dan otaknya terasa lelah karena diporsir untuk memecahkan kasus ini. Seharian ia mengumpulkan data yang mungkin ada hubungannya dengan kasus pembunuhan Daniel dan Anita. Dugaannya tepat, bahwa kematian Anita dan Daniel ini saling berkaitan. Menurut info dari Niken, sosok Margareth Prawira ini sebenarnya adalah Anita Wijaya yang namanya disamarkan. jadi mengapa Daniel mewariskan polis asuransi senilai milyaran rupiah kepada Anita?


Ya, hubungan mereka memang dekat, tetapi tak ada ikatan keluarga antara mereka. Ini agak mengherankan, tetapi sangat mungkin terjadi. Kini kedua orang itu telah tewas, menyisakan sebuah teka-teki baru. Lalu apa hubungannya pula dengan percobaan pembunuhan yang dialami Ollan? Apa sangkut paut Ollan dengan Daniel dan Anita? Hal ini masih berputar-putar di otak Reno.


Belum lagi rahasia itu terkuak, muncul lagi teka-teki aneh yang diyakini itu adalah ancaman pembunuhan. Reno benar-benar merasa tertekan. Ia usap dagunya sambil tatapannya menerawang ke depan.

__ADS_1


"Mau kubuatkan air panas untuk mandi?" tawar Silvia.


Wanita muda itu tiba-tiba muncul saat duduk merenung di depan ruang TV. Reno menghela napas sembari tersenyum. Ia menggeleng. Pikirannya buyar seketika.


"Aku nggak mandi malam ini," ucap Reno.


"Tapi kan kamu seharian beraktivitas. Masa tidak mandi?" tanya Silvia.


"Aku sudah mandi sore tadi di kantor, jadi kurasa aku tak perlu mandi lagi," kata Reno.


"Mandi sore di kantor? Tumben?" Silvia melirik curiga.


Ingatannya melayang pada kejadian tadi siang, saat ia mendapat kunjungan dari Niken. Ia memang tak berpikir bahwa suaminya akan menyukai Niken, tetapi sebagai seorang wanita perasaannya menjadi tak nyaman. Apabila ada seorang gadis cantik dekat dengan suaminya, tentu itu akan menimbulkan sensasi rasa tidak nyaman.


"Kadang aku mandi kok di kantor. Hanya saja, aku tidak bilang padamu, Sil!"


Silvia manggut-manggut, kemudian duduk di hadapan suaminya. Ia tatap mata Reno dalam-dalam.


"Cantik .... " gumam Silvia.


Reno mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Silvia. Tiba-tiba saja istrinya menggumamkan kata 'cantik'. Ini adalah hal yang tak biasa.


"Siapa yang cantik?" tanya Reno penasaran.


"Seorang polisi wanita yang masih muda dan cantik siang ini menemuiku, dan kami ngobrol banyak," kata Silvia.


"Polisi wanita?"


Tentu saja Reno langsung paham kalau yang datang siang tadi adalah Niken, karena polisi wanita yang saat ini banyak berinteraksi dengan dirinya adalah Niken. Namun, ia heran, mengapa Niken menemui Silvia? Apa yang mereka bicarakan?


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Reno.


"Memangnya kamu tahu siapa yang datang?" Silvia balik bertanya.


"Niken?" tebak Reno.


Silvia tersenyum penuh arti. Suaminya bisa menebak siapa yang datang menemuinya siang tadi dengan tepat.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2