
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan selama kurang lebih tiga jam, akhirnya Rudi diperbolehkan pulang. Banyak pertanyaan-pertanyaan penting diajukan Reno dan Dimas, sehingga membuat Rudi tak berkutik. Pada akhirnya dia menyodorkan nama-nama temannya yang turut menghadiri pesta sepanjang pukul 00.00 hingga pukul 05.00 pagi.
Reno dan Dimas bukan lah polisi kemarin sore yang mudah dikelabui begitu saja. Mereka tetap merasa ada yang janggal dengan keterangan Rudi. Oleh karena itu mereka berusaha mencari informasi dari sumber lain.
“Anak itu terlihat gugup dan tidak tenang. Ada kesan informasi yang disampaikan cukup berbelit. Mungkin ada yang disembunyikan dari kita. Tadi dia mengatakan sambil bersumpah bahwa dia tidak tahu kalau korban sedang hamil, karena baru dua atau tiga bulan berpacaran, dan itu pun dia tidak pernah menyentuh pacarnya. Kamu percaya?” tanya Dimas.
“Rasanya mustahil kalau dia belum pernah menyentuh Jenny. Tetapi mungkin kita bisa selidiki nanti janin yang berada di dalam rahim gadis itu. Apakah itu hasil perbuatan Rudi atau bukan. Kasus ini masih belum terang, bahkan makin gelap karena banyak yang harus kita periksa. Mungkin juga pembunuh itu bukan dari nama-nama yang disodorkan tadi,” papar Reno.
“Ada berapa nama yang ditulis?”
“Ada sembilan nama, termasuk dia sendiri. Tetapi dia bilang, dia tidak yakin juga mungkin ada yang terlewat, sebab suasana pesta cukup ramai, jadi mungkin ada tamu lain di tempat berbeda. Tapi paling tidak dari kesembilan nama ini, Rudi bilang, punya keterkaitan dengan korban. Mereka sama-sama mahasiswa yang mengenal Jenny,” ungkap Reno.
“Oke, mari kita jabarkan satu-satu!”
“Sembilan nama itu yang pertama adalah Rudi Septian, pacar Jenny, orang terakhir yang melihat korban. Ia mengaku menyuruh Jenny beristirahat di lantai atas, sebelum akhirnya gadis itu menghilang. Entahlah. Nanti kita tanya yang lain mengenai ini, baru kita cocokkan satu sama lain.”
Reno menuliskan nama Rudi di papan tulis. Kemudian dia menuliskan nama lain di nomor dua.
“Yang kedua adalah Gerry Lorenzo, Rudi bilang dia pemilik rumah tempat pesta itu diselenggarakan. Orangtuanya ada di luar negeri, jadi dia bebas di sana, bersama seorang pembantu perempuan. Kadang ia juga minta sepupunya untuk menemani di sana.”
“Lanjut!”
“Yang ketiga adalah Ferdyan Hadinata, sepupu Gerry. Dia satu-satunya yang bukan mahasiswa, dia bekerja di sebuah apotek di pusat kota. Ia sering juga ke tempat Gerry.”
“Oke ....”
“Selanjutnya adalah Adinda Kirana, Miranti Tobing, Lena Amalia dan Dewi Rasty Yunita. Menurut Rudi, keempat gadis ini berteman akrab, mirip sebuah geng. Rudi tadi bilang, kalau ia sempat berprasangka pada Rasty, karena gadis itu menaruh dendam pada Jenny. Ia menganggap Jenny merebut Rudi darinya.”
“Oke, nanti kita akan selidiki perihal ini.”
Reno menuliskan nama-nama tersebut di papan tulis. Kemudian menuliskan pula dua nama terakhir.
“Berikutnya adalah Alex Bastian Widyatama, dia seorang mahasiswa biasa. Rudi tidak menjelaskan lebih jauh tentang dia, tetapi kenal juga dengan Jenny. Nanti kita akan selidiki lebih jauh tentang mahasiswa ini.”
__ADS_1
“Oke.”
“Terakhir ini agak mengejutkan, karena nama terakhir ini baru saja terbunuh kemarin. Ranita Alma Jusuf. Rudi bilang dia adalah pacar Gerry. Nah, kalau dilihat dari keterkaitan ini, jelas-jelas pembunuhan Jenny ini ada hubungannya dengan pembunuhan Alma. Bisa jadi pembunuhnya adalah orang yang sama.”
Reno mencoba menganilisis. Ia melanjutkan ucapannya,”Kamu ingat kan? Pesan misterius yang aku terima beberapa hari lalu. Pengirim pesan itu memintaku menebak, setelah Jenny dan Alma siapa yang berikutnya? Aku menganggap ini adalah pesan serius, bukan pesan main-main. Aku khawatir di antara bersembilan ini ada yang terbunuh lagi, atau bisa jadi orang lain.”
Reno mengusap dagu sambil mengernyitkan dahi.
“Paling tidak kita tahu arah kita selanjutnya. Mungkin kita tidak akan melebar kemana-mana dulu, dan lebih fokus untuk meneliti ke delapan mahasiswa ini, sambil kita lihat perkembangannya. Semoga tidak ada korban jatuh lagi setelah ini,” ucap Dimas.
***
Di sebuah restoran kecil di sudut kota, Adinda Kirana, dengan tampilan yang casual khas mahasiswa, tengah duduk di dalam dengan gelisah. Suasana restoran tak begitu ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang kebanyakan berpasang-pasangan. Tak heran, karena restoran itu mengusung konsep anak muda, dengan warna-warna cerah dan interior yang menggambarkan kehidupan anak muda yang dinamis.
Seorang pelayang restoran menghampiri, menyodorkan buku menu.
“Nanti saja ya, Mbak. Saya lagi nunggu temen,” ucap Adinda.
Pelayan itu berlalu, bersamaan dengan munculnya Ferdy yang terlihat makin tampan dengan balutan sweater coklat yang elegan. Ia memamerkan senyum indahnya pada Adinda, sehingga gadis itu tersipu malu. Ferdy segera mengambil tempat di hadapan Adinda.
“Iya nggak apa-apa. By the way, aku lagi males ngomongin sesuatu yang ada sangkut-pautnya dengan pembunuhan Jenny atau Alma. Aku udah muak, karena banyak peristiwa buruk menghantui. Aku ingin menikmati malam ini, Fer,” ucap Adinda.
“Oke, Tuan Putri. Kita nggak akan bicara mengenai itu lagi. Kamu sudah pesan?”
Adinda menggeleng. Sejenak kemudian mereka memanggil pelayan untuk memesan sejumlah makanan. Mereka menikmati hidangan malam itu sambil bersenda-gurau. Ferdy banyak melontarkan rayuan-rayuan kecil pada Adinda, sehingga gadis itu merona parasnya. Sejujurnya ia juga mulai terpikat dengan Ferdy.
Saat asyik bercanda, tiba-tiba seorang gadis menghampiri dengan senyum yang dipaksakan. Ada perasaan kesal yang disimpan dalam hati.
“Ferdy? Aku nggak tahu kalau kamu ada di sini? Katamu lagi nggak enak badan,” ucap gadis itu.
“Eh, Vera. Aku udah enakan kok. Kamu sama siapa? Sendirian aja? Aku ... aku ... lagi bersama teman aku, Dinda,” ucap Ferdy sedikit gugup.
Dinda mengangguk, tersenyum kecil pada Vera. Sayangnya Vera tak begitu menyambut baik. Ferdy tak mengira kehadiran Vera yang begitu tiba-tiba di tempat itu. Ia tahu, kalau Vera sebenarnya menyukai dia, tetapi sayangnya dia mengabaikan karena tidak terlalu tertarik dengan gadis itu.
__ADS_1
“Oh, baiklah. Aku lagi cari makan sama teman aku. Ya udah lanjut aja kalo gitu! Sampai ketemu di apotek ya Fer!”
Vera berlalu dari hadapan Ferdy dengan perasaan gelisah. Ketika gadis itu tak terlihat, mendadak Ferdy terdiam, ia merasa canggung untuk memulai pembicaraan, sehingga Adinda merasa heran.
“Dia suka sama kamu kan?” tebak Adinda.
“Oh, nggak kok! Dia adalah teman satu kerjaan. Nggak usah khawatir!” kilah Ferdy.
“Aku kan perempuan juga, Fer. Pasti tahu lah kalau cewek itu tadi sebenarnya suka sama kamu. Ya, mungkin kamu aja yang nggak peka.”
Ferdy terdiam, sampai sebuah panggilan telepon mengagetkannya. Rupanya panggilan dari Gerry. Ferdy sebenarnya malas untuk mengangkat, tetapi pada akhirnya ia menjawab.
“Dari siapa?” tanya Adinda.
“Gerry. Sebentar ya!”
Ferdy mengangkat panggilan itu. Terdengar suara Gerry terburu-buru di seberang. Ia terdengar gusar.
“Kurang ajar sekali Rudi! Sungguh kurang ajar!” ucap Gerry.
“Kenapa Ger? Tenang ... tenang! Nggak usah emosi dulu. Ada apa?” tanya Ferdy.
“Dia membeberkan nama kita semua pada polisi. Aku pusing. Tadi barusan seorang polisi menelepon akan memeriksa rumahku besok, sekaligus meminta keterangan. Mam*pus kan?”
“Tenang Ger! Kuncinya tetap tenang ya. Besok aku ada kerjaan pagi, jadi nggak bisa nemeni. Kamu nggak apa-apa kan sendirian?” ucap Ferdy.
“Nggak tahu lah! Sumpek pikiran gue!”
Panggilan telepon itu tiba-tiba ditutup. Ferdy menghela napas sambil menatap Adinda. Gadis itu mengenyitkan dahi. Ia tahu kalau Gerry pasti membicarakan seputar pembunuhan itu. Sudah pasti suasana makan malam itu sontak berubah.
“Aku nggak mau bahas ini, Fer. Sungguh. Kita pulang aja ya!” ajak Adinda.
Ferdy mengangguk. Ia tak berkata apa-apa lagi. Setelah menyelesaikan makan malam, mereka keluar dari restoran, memanggil taksi dan pulang ke kediaman masing-masing.
__ADS_1
***