Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
209. Makan Siang


__ADS_3

Reno segera masuk ke dalam mobil, diikuti Anita yang yang duduk di bagian depan. Gadis muda sedikit merasa canggung karena duduk semobil dengan seorang polisi senior yang sudah terkenal kehebatannya dalam memecahkan kasus. Untuk sesaat, ia hanya bisa terdiam, bingung harus berkata apa. Untunglah, Reno segera tanggap dengan kecemasan Anita. Ia berusaha untuk mencairkan suasana.


“Kamu sudah makan siang?” tanya Reno.


“Eh, be-belum, Pak!” jawab Anita agak gugup.


Walaupun Anita sudah sering menghadapi banyak orang dengan berbagai karakter, dan juga ia sering berhadapan dengan kamera, tetapi tetap saja ia merasa canggung berhadapan dengan polisi. Reno segera mengajak Anita untuk pergi ke sebuah restoran kecil di sisi lain kota yang tak begitu padat, agar mereka bisa mengobrol dengan leluasa.


Sebenarnya Anita merasa tidak enak menerima ajakan Reno, tetapi yang terpenting baginya adalah menyampaikan apa yang sedang dialaminya. Ia khawatir, apabila terlambat menyampaikan akan berakibat fatal. Ia menurut saja ketika Reno mangajaknya makan.


Mereka duduk di sudut restoran yang agak sepi, kemudian mulai memesan makanan. Reno yang lambungnya sudah menjerit, segera makan. Sedangkan Anita tak memesan makanan, hanya memesan minuman. Dalam keadaan gundah seperti itu, ia tak bisa makan dengan nyaman.


“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Reno.


Anita mengangguk pelan. Sebelum dia berbicara, dia menghela napas dalam, kemudian mulai berbicara.


“Sungguh, saya benar-benar tidak menyangka, Pak! Kematian Pak Daniel mengubah semuanya. Aku ... aku merasa kehilangan pegangan. Pak Daniel sudah seperti ayahku sendiri. Beliau banyak memberi hal berharga dalam hidupku. Pelajaran hidup serta materi. Kematiannya benar-benar membuatku terpukul, Pak.”


Anita berkata pelan, tetapi cukup terdengar. Sebentuk kristal bening tampak meluncur menuruni pipinya yang merona. Reno minum air mineralnya sebelum berbicara. Ia tatap dalam-dalam gadis yang sedang berduka itu.


“Jadi sedekat itu hubunganmu dengan Pak Daniel?” tanya Reno.


“Iya, Pak. Kami sangat dekat. Bahkan orang-orang sering mengira bahwa aku benar-benar anak kandung Pak Daniel. Dia sering memberi hadiah kepadaku, walau tidak sedang berulang tahun. Kadang ia menjemputku untuk sekedar makan malam atau nonton film garapannya. Ia banyak meminta saran kepadaku tentang proyek-proyek film, dan pemilihan artis yang akan berperan dalam film-nya,” terang Anita.


“Aku mengerti, Anita. Pasti berat kehilangan orang yang membuat kita bersemangat menjalani hidup. Jadi apakah kamu ada info penting terkait terbunuhnya Pak Daniel ini? Atau mungkin kamu mempunyai orang-orang yang mungkin kamu curigai mungkin?” selidik Reno.


“Awalnya aku mengira Faishal Hadibrata pelakunya, karena beberapa saat sebelum Pak Daniel terbunuh, Faishal sempat dimarahi oleh Pak Daniel habis-habisan karena aktingnya yang buruk. Ini disebabkan karena banyak artis yang tidak suka dengan si pemeran utama yaitu Laura Carmellita. Mereka menganggap pemilihan peran utama itu tidak tepat, karena Laura adalah artis televisi yang belum pernah main film seperti mereka,” kata Anita.

__ADS_1


“Apakah terpilihnya Laura Carmellita ini atas saranmu juga?”


“Mungkin iya, walau aku tidak menyebut nama Laura Carmellita. Aku pernah bilang ke Pak Daniel, mengapa kita nggak pakai artis berbakat yang namanya belum terkenal di dunia film, seperti misalnya artis sinetron? Maksudku, biar ada sedikit penyegaran, sehingga penonton tidak bosan melihat artis yang itu-itu saja. Aku kan juga sering main di film-nya Pak Daniel, jadi mungkin dengan adanya Laura di film baru ini akan memberi sedikit warna baru. Kemarin begitu sih pertimbanganku,” papar Anita.


“Hmmm, jadi pendapatmu ternyata begitu penting ya. Pak Daniel pada akhirnya benar-benar memakai Laura sebagai pemeran utama dalam film-nya. Lalu apa lagi yang hendak kau sampaikan terkait ini?”


“Jujur Pak, aku tidak tenang setelah Pak Daniel terbunuh. Aku tinggal sendiri di rumah, dan aku merasa selalu ada orang yang mengawasi. Mungkin itu hanya perasaanku, tetapi ternyata kecurigaanku itu terbukti benar,” ungkap Anita.


“Apa maksudmu?”


“Tadi pagi ... aku mendapati sebuah buket bunga di depan pintu. Awalnya aku pikir itu adalah kiriman dari penggemarku, tapi ternyata aku menemukan hal aneh dalam buket bunga itu. Ada seekor tikus mati di dalamnya. Ini sungguh mengejutkanku. Aku juga menemukan kartu ucapan aneh di dalamnya.”


Anita mengeluarkan sebuah kartu ucapan kepada Reno. Polisi itu segera membaca tulisan yang tertulis di situ. Tulisan di dalam kartu itu terketik rapi, dan bukan tulisan tangan.


Selamat menikmati hari ini, Bintang kesayangan Matahari. Berhati-hatilah, dengan buah-buah tropis yang berharga mahal. Mungkin itu tak cocok untukmu. Selalu ada mata memandangmu, salam cinta, FH.


“ FH? Apakah ini nama inisial?” tanya Reno.


“Saya awalnya menduga ini adalah inisial nama Faishal Hadibrata. Tetapi ketika saya menanyakan, dia bersumpah tak tahu-menahu perihal kartu ucapan ini. Tentu saja hal ini membuat bingung. Bahkan Faishal menyarankan agar saku menghubungi polisi. Aku berpikir, ini sebuah ancaman atau apa, yang jelas aku merasa takut,” ucap Anita.


“Baik Anita, langkahmu untuk menghubungi polisi terkait masalah ini sudah tepat. Kita nggak boleh meremehkan sekecil apapun ancaman. Kami belajar dari masalah-masalah terdahulu, bahwa meremehkan ancaman berakibat fatal. Kami akan melindungimu, dan kamu nggak usah khawatir terkait ini. Kusarankan, untuk sementara ini kamu nggak usah menyendiri dulu, atau ... di sini tertulis buah tropis berharga mahal. Menurutmu apa?” tanya Reno.


Anita menggeleng. Ia benar-benar tak punya bayangan apapun tentang buah-buahan, apalagi buah-biahan yang membahayakan.


“Buah tropis yang berharga mahal? Mungkin durian ... atau entahlah! Nanti coba aku analisa. Kartu ini aku pegang sebagai barang bukti. Ingat pesanku, jangan pernah sendirian!” pesan Reno.


“Baik, Pak!”

__ADS_1


Setelah pembicaraan berakhir, Reno langsung mengantar sendiri Anita ke kediamannya yang terletak di kompleks perumaham. Rumah Anita memang tak terlalu besar, tetapi cukup artistik dengan gaya minimalis. Rumah ini memang cocok untuk ditempati sendirian. Honor akting yang ia kumpulkan pasti cukup untuk membeli rumah seperti ini. Mengingat harga properti yang terus naik.


“Terima kasih sudah mengantar pulang, Pak.”


“Boleh aku masuk ke dalam rumahmu?”


“Oh, Pak Reno mau mampir? Silakan saja. Aku akan buatkan kopi dan .... “


“Bukan, bukan itu, Anita. Kamu nggak perlu repot. Tak perlu menyediakan apapun untukku. Aku hanya ingin memastikan bahwa rumahmu dalam keadaan aman. Kita kan nggak tahu apakah ada penyusup atau tidak selama kamu tinggal. Ingat! Orang yang punya niat jahat pasti akan melakukan apapun untuk melaksanakan kejahatannya. Jadi kita perlu waspada,” ucap Reno.


“Oh iya, Pak. Saya sangat berterimakasih kalau Bapak bisa mengamankan rumah saya. Nanti malam aku mendapat undangan makan malam dari Pak Govind Punjabi. Semoga semuanya aman,” kata Anita.


“Nanti akan kukirim orang untuk menemani,” ucap Reno.


Mereka berdua masuk ke dalam untuk memerika setiap sudut rumah yang tak begitu besar itu. Interior rumah terlihat rapi dan minimalis, jadi rumah itu memang berkesan nyaman untuk ditinggali. Reno memeriksa mulai dari ruang tamu, kamar tidur, ruang santai, hingga kamar mandi dan dapur. Saat di halaman belakang, Reno melihat ada sebuah tangga besi melingkar yang menghubungkan dengan lantai atas.


“Apa yang ada di atas sana?” tanya Reno.


“Di atas hanya gudang kecil dan tempat jemuran, Pak. Nggak ada ruang khusus. Ada pula beberapa tanaman hias. Kadang aku menghabiskan waktu di sana,” ucap Anita.


Reno manggut-manggut. Ia segera naik ke atas untuk memeriksa. Suasana memang sepi. Warga perumahan kebanyakan bekerja pada siang hari, dan mereka pulang menjelang malam. Reno berpikir, kalaupun kalau ada kejadian di salah satu rumah di lingkungan ini, pasti tak ada yang tahu.


Setelah memastikan keamanan rumah, Reno kembali berpesan.


“Kunci setiap pintu, dan jangan biarkan siapapun masuk kalau tidak kenal. Setiap akses keluar harus diperiksa. Aku akan mengirim personel polisi dalam waktu yang tak terlalu lama. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” ucap Reno sambil menyerahkan selembar kartu nama miliknya.


Anita mengangguk. Dalam hati ia merasa cemas, karena Reno menganggap ancaman itu benar-benar serius. Ia berharap agar tak terjadi apa-apa dengan dirinya.

__ADS_1


***


__ADS_2