Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
130. Raymond Brothers


__ADS_3

Nayya berlari di sepanjang gang sempit yang diapit rumah-rumah kumuh itu. Ia tahu, ada beberapa orang yang melihatnya berlari, tetapi mereka tak peduli seolah hal itu adalah pemandangan biasa.


Dalam pikirannya, ia harus bisa meloloskan diri sejauh mungkin. Ia menoleh ke belakang, tetapi ia sudah tak melihat ada sosok yang mengejar. Apakah dia memang tak berniat mengejarnya? Ia memperlambat langkahnya, seraya menoleh sekeliling. Entah ia salah masuk lorong atau bagaimana, ia melihat banyak laki-laki bertampang tak ramah di sekelilingnya!


“Mau ke mana, Mbak?” tegur salah seorang pria tinggi besar dan bertato yang ada di situ.


Nayya tak menjawab. Kelegaan yang ia rasakan perlahan berubah menjadi kecemasan. Ia melihat setidaknya ada lima pria asing yang menatap dirinya, seolah serigala lapar yang menatap buruannya.


Selain lima pria itu, ada pula seorang wanita muda berpakaian sangat terbuka di bagian dada, sedang mengisap rokok. Seorang pria berkumis melintang mendekati sambil menyeringai.


“Masuk saja ke dalam tempat kami! Di luar nggak aman!”


Pria berkumis melintang itu berbisik perlahan di dekat telinga Nayya. Aroma alkohol tercium dari mulutnya. Nayya menjauhkan kepalanya seketika.


“Nggak usah takut, Mbak. Siang-siang begini kamu lari seperti dikejar setan. Daripada ketangkap lagi mending masuk saja bersama kami!” ucap laki-laki lain yang berada di sana.


“Saya ... saya pergi saja, Pak! Saya mau pulang,” ucap Nayya takut-takut.


“Biasanya orang yang masuk ke lingkungan ini, jarang ada yang bisa pulang. Kusarakan kamu ikut bersama kami. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap pria itu lagi.


Nayya menggeleng pelan, tetapi dengan cepat pria berkumis itu mencengkeram lengannya. Cengkeraman itu begitu kuat, sehingga Nayya tak bisa menepis atau bahkan bergerak. Si pria berkumis tersenyum menyeringai. Nayya hanya pasrah ketika pria berkumis itu menariknya ke dalam sebuah rumah tak jauh dari situ, yang tak kalah berantakan, hanya saja di sana lebih luas.


“Duduklah! Kamu pasti lelah berlari menyusuri gang ini!” ucap pria lain yang ada di sana.


Nayya merasa tak nyaman. Lima pria itu menatapnya dengan liar. Ia merasa bagai seorang gadis lugu yang terperangkap di sarang penyamun. Gadis muda yang ada di sana turut mendekat membawa segelas air.


“Minumlah!”

__ADS_1


Wanita muda itu mengulurkan gelas air kepada Nayya. Tak ada alasan untuk menolak pemberian gadis itu. Nayya segera mereguk air pemberian wanita muda itu, karena ia memang merasa sangat haus.


“Kau temani dia dulu, Tari! Kami akan berpetualang dulu!” ucap salah seorang lelaki besar bertato jangkar di lengannya.


Wanita muda yang disebut Tari itu mengangguk. Kelima pria itu keluar ruangan, meninggalkan Tari bersama Nayya di dalam.


“Jangan khawatir. Kamu aman di sini. Mereka tidak sejahat yang kamu pikir,” ucap Tari.


Nayya terdiam. Ia menyapu pandangan berkeliling. Ia duduk di sebuah kursi dalam rumah yang berantakan, dengan jarum-jarum bekas suntikan dan bong, serta botol-botol minuman keras. Nayya tak bisa merasa tenang di tempat ini.


“Siang begini, mereka ada kerjaan di luar. Nanti malam baru mereka kembali, Jadi kau di sini aman bersamaku. Kamu nggak perlu khawatir. Semua akan baik saja. Oya, namamu siapa?” tanya Tari.


“Nayya.”


“Nayya? Nama yang cantik. Secantik orangnya. Gadis secantik dirimu di tempat seperti ini tentu sangat menarik perhatian. Ketahuilah, di luar sana banyak orang lebih beringas. Kamu harusnya bersyukur kami menemukanmu. Kalau saja kamu masih di luar, bukan tidak mungkin nasibmu lebih akan lebih buruk. Kelima pria itu adalah Raymond Brothers. Kamu pernah dengar? Mereka tidak bersaudara kandung, tetapi membentuk semacam persaudaraan. Sebenarnya mereka baik, tetapi tetap saja tuntutan kebutuhan hidup menjadi satu alasan tersendiri mengapa mereka menjalani bisnis terlarang ini,” terang Tari.


Nayya tidak terlalu peduli mendengar cerita Tari. Wanita muda itu bahkan bercerita bahwa dia adalah adik kandung Badi, salah seorang anggota Raymond Brothers. Mereka sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Kehidupan jalanan melemparkan mereka memasuki dunia hitam yang keras dan kejam.


“Aku tidak lapar!” jawab Nayya.


Duk ... duk ... duk!


Tiba-tiba pintu rumah itu diketuk dengan kasar. Paras Nayya berubah cemas. Ia yakin kalau sosok pengejarnya telah berhasil menemukan persembunyiannya. Ia menoleh ke arah Tari, berharap agar wanita muda itu bisa melindunginya.


“Masuklah ke kamar! Biar aku yang urus!” kata Tari.


Tanpa menunggu perintah dua kali, Nayya segera menuju sebuah kamar di bagian dalam rumah, sementara Tari bergegas membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang.

__ADS_1


***


Sebuah mobil van putih melaju lambat ke arah pinggiran kota. Wandi, sang pengemudi melihat ke arah kiri dan kanan, seperti mencari sebuah alamat. Gilda Anwar, yang duduk di sampingnya tampak gusar. Ia merasa lapar, sejak pagi ia hanya menyantap sepotong donat keju dan segelas susu tanpa lemak. Ia sangat khawatir dengan timbunan lemak yang mulai menyusup di pinggangnya. Sayangnya, ia belum bisa menghilangkan kebiasaan buruknya, yaitu ngemil.


“Kita mencari tempat makan dahulu atau langsung menuju Kampung Hitam?” tanya Wandi.


“Kampung Hitam ini tak terdapat di peta kota karena letaknya begitu tersembunyi. Hanya penjahat yang tahu seluk-beluk kampung ini. Kurasa kita sebaiknya mengisi perut terlebih dahulu,” ujar Gilda.


“Apakah Mbak Gilda sudah mendapat informasi terbaru tentang perkembangan kasus Jenny Veronica?” tanya Wandi.


“Sumber yang aku temui tidak bersedia membocorkan lagi informasi dari kepolisian. Jadi kupikir, kita tidak perlu berharap lagi kepada mereka. Tadi baru saja aku menerima pesan baru dari seseorang yang tak diketahui namanya, kalau ia melihat sebuah sedan putih diparkir tak jauh dari Kampung Hitam. Sedan putih ini sedang menjadi buruan polisi sejak hilangnya Nayya, mahasiswi yang diduga diculik atau mungkin dibunuh.”


“Apakah sumber itu terpercaya?”


“Kurasa ada baiknya kita mengecek ke lokasi untuk kebenarannya. Kampung Hitam adalah wilayah yang sangat dihindari oleh siapa pun. Tak ada seorang pun yang mau masuk ke sana tanpa urusan tertentu. Bahkan rumor mengatakan bahwa mungkin kamu nggak akan kembali setelah masuk dari sana,” ucap Gilda.


“Dan anehnya, polisi diam saja mengetahui itu?”


“Polisi di kota ini sungguh mempunyai reputasi buruk, bahkan sejak dulu. Kamu masih ingat dengan pembunuhan para penulis di kastil tua itu? Ternyata itu sudah terjadi sejak lama, dan polisi sengaja menyembunyikan fakta karena suap dari si kaya Anggara Laksono,” ucap Gilda.


“Menurutmu ada oknum dari kepolisian yang menjadi beking dari Kampung Hitam?”


“Entahlah. Tapi menurutku memang Kampung Hitam sangat berbahaya. Berbagai sindikat obat terlarang, penjualan manusia, dan berbagai gangster menghuni tempat itu. Tentu tidak gampang untuk keluar apabila kamu sudah masuk di sana, dan mengetahui sedikit rahasia di dalamnya,” terang Gilda.


“Mengapa Mbak Gilda tidak meliput saja berita tentang Kampung Hitam itu?”


“Aku sudah sejak lama ingin meliput Kampung Hitam, tetapi aku belum menemukan nara sumber yang tepat. Kebanyakan mereka tutup mulut, tak ingin diketahui publik. Tetapi nanti aku akan coba untuk menembus kampung itu. Aku akan fokus dulu di kasus pembunuhan para gadis ini,” ucap Gilda.

__ADS_1


Wandi mengangguk. Mereka sampai di depan sebuah warung makan langganan Gilda yang terletak tak jauh dari kawasan keramaian, sebelum mereka memutuskan untuk mengunjungi Kampung Hitam.


***


__ADS_2