Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
244. Bercak Darah


__ADS_3

Situasi menjadi mencekam, setelah hitungan mundur yang dilakukan oleh si sosok misterius itu. Sepertinya Renita dhadapkan pada dua pilihan sulit, antara mencari selamat untuk dirinya sendiri atau memilih menyelamatkan adiknya. Setelah pergulatan batin yang hebat, pada hitungan kelima, ia segera membuka pintu.


"Jangan sentuh adikku!" ucap Renita.


Ia terpaksa memilih keluar, karena bagaimanapun ia tidak mau melihat sang adik dibunuh oleh manusia itu. Ia bulatkan tekad untuk berdiri di hadapan sang sosok yang sudah siap dengan senjata tajamnya.


"Pilihan yang bagus. tetapi aku tak mau membuat semuanya terlihat mudah!" ucap sosok itu.


"Apalagi yang kau inginkan?" tanya Renita.


Tiba-tiba dengan gerakan cepat sosok itu menyergap Renita, dan meletakkan senjata tajam pada leher Renita. Aktris horor itu hanya bisa gemetar dan pasrah. Ia merasakan cengkeraman tangan si sosok di lengannya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab ancaman pisau yang menempel di lehernya.


"Jalan!" perintah sosok itu sambil mendorong tubuh Renita.


Renita tak punya pilihan lebih baik kecuali mengikuti perintah. Ia didorong untuk menuju tangga ke lantai dua, tempat adiknya diikat. Renita sebenarnya merasa sangat takut tetapi ia tetap melangkah dengan penuh percaya diri. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya agar sang adik bisa bebas.


Di lantai dua, adiknya masih terikat di kursi, dengan mulut yang dibekap dengan lakban. Matanya juga memancarkan rasa putus asa yang mendalam. Ia berusaha bergerak-gerak, agar ikatan terlepas. Namun, usahanya itu rupanya berbuah nihil.


"Aku hanya ingin kamu bebaskan dia," bisik Renita.


"Tenang, Ren. Nggak perlu buru-buru. aku nggak akan bunuh adikmu kok. Aku punya pertunjukan lain yang lebih bagus. Aku membuat sebuah drama pembunuhan yang begitu epik, yang dapat dilihat langsung oleh adikmu," ucap sosok itu.


"Ap-apa maksudmu?" tanya Renita.`


Ia mencoba mengartikan kalimat dari sosok itu. Sudah sangat jelas tentu sosok itu akan membunuhnya. Renita ingin menangis, tetapi ia berusaha untuk menguatkan hati, seraya berharap bantuan segera datang. Ia menyesal telah mengabaikan informasi dari Niken, bahkan ia sempat mengejek polisi wanita itu. Kini posisinya benar-benar terjepit. Nyawanya seperti di ujung tanduk.


Sosok itu tak menjawab pertanyaan Renita, ia mengarahkan tubuh Renita ke hadapan Rani, seolah memaksa agar gadis belia yang diikat itu melihat sang kakak.


"Sabar, pertunjukan di mulai. Kuncinya jangan tegang dan panik. Bukankah seperti itu?" kata  sosok itu.


Sosok itu mengenakan kaos lengan panjang warna hitam dan celana dengan warna yang sama. Wajahnya ditutup topeng, tetapi tentu saja Renita dapat mengenali dari suaranya. Sedangkan Rani tak mengenal sosok itu, ia hanya terdiam, sembari berharap semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Renita merasa gemetar. Ia merasakan tajamnya benda yang menempel di lehernya. Peluh dingin mulai menetes dari kening. Sementara sang adik juga tak kalah tegang. Dalam keadaan terikat, ia dipaksa untuk melihat pemandangan yang tak ia harapkan di hadapannya.


"Tenang gadis kecil! Setelah aku mengurusi kakakmu, nanti aku akan mengurusimu," ucap sosok itu.


"Mengapa ... mengapa kau lakukan ini padaku?" bisik Renita.


"Mengapa? Tak ada alasan khusus, yang jelas aku suka melihat darahmu mengalir. Aku suka melihat orang sekarat. Seperti saat Anita memohon kepadaku, atau Daniel yang terjulur lidahnya. Sedangkan Ollan, pasti dia akan mendapat giliran. Semua akan mendapat giliran. Orang-orang yang bersalah harus dihukum," ucap sosok itu.


"Apa salahku? Katakan apa salahku!" kata Renita.


"Salahmu? Jangan pura-pura suci. Semua juga tahu salahmu apa. Tapi jangan khawatir, akan kubuat kematianmu lebih cepat daripada Daniel dan Anita. Atau kamu ingin kematian yang lebih lambat dan menyakitkan?"


Renita terdiam. Rasanya sia-sia berkomunikasi dengan orang yang jiwanya sakit seperti ini. Ia tidak berkata apa-apa lagi.


"Seperti kataku, aku akan buat kematianmu berjalan cepat!"


"Ap-apa yang akan kamu lakukan?" tanya Renita dengan cemas.


Benda tajam yang dipegang sosok itu bergerak cepat menghunjam perut Renita. Aktris muda itu tak sempat terpekik, ia hanya melihat bayangan adiknya yang sedang menutup mata, karena tak tega melihat sang kakak dihabisi di depan mata!


***


Reno sengaja tidak tidur, padahal Dimas sudah terkantuk-kantuk di depan mejanya. Secangkir kopi hitam juga telah tandas diminumnya, tetapi rupanya tak mengurangi rasa kantuk. Reno mengetuk-ngetuk meja dengan cemas. Ia merasa detik demi detik berjalan dengan cepat. Ia merasa khawatir, sebuah aksi kejahatan telah terjadi di luar sana. Apalagi dari tadi Niken tak mengabarkan apa pun tentang kondisi terakhir pengintaiannya.


Dimas yang terkantuk hanya memicingkan mata sejenak melihat Reno yang tampak bingung dan gelisah.


"Ada apa? Minumlah kopi dulu untuk mengurangi rasa gelisahmu!" kata Dimas.


"Tidak Dim! Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Ini sudah larut, dan firasatku mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu di luar sana!" kata Reno.


"Bukankah ada Niken yang bertugas memantau Renita?"

__ADS_1


"Ya, dan dia sangat sangat amatir dalam hal ini. Kupikir aku salah menyerahkan kasus ini kepadanya, karena aku hanya ingin mematahkan rasa ingin tahunya yang berlebihan. Ia sangat angkuh, ingin mengatasi kasus ini. Aku khawatir ia gagal!" ucap Reno.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?"


"Aku akan pastikan dulu keberadaannya, apakah aman atau tidak. Kalau memang ada apa-apa, kita harus segera bergerak ke sana. Aku masih teringat kertas teka-teki itu, bahwa korban kali ini mungkin dibunuh dengan cara yang sedikit mengerikan. Jari-jari dipotong, aku tak bisa membayangkan itu!"


"Kalau begitu kita harus hubungi Niken segera!"


Reno yang dilanda gundah, berpikir bahwa ia harus segera bergerak kalau terus-terusan seperti ini. Ia menghubungi nomor telepon Niken. Polisi wanita itu rupanya tengah mengintai kediaman Renita. Hanya saja, sejak tadi ia tidak melihat hal mencurigakan. Rumah itu tampak lengang dan sepi. Telepon dari Reno menyadarkannya, sehingga segera ia mengangkat panggilan itu.


"Iya Pak, ini aku lagi mengawasi kediaman Renita Martin. Kurasa semua aman, karena di sini sepi dan lengang. Tak ada satu pun yang mencurigakan," ucap Niken.


"Apa kau sudah memeriksa keadaan di dalam rumahnya?" tanya Reno.


"Sampai saat ini aku sedang ada di luar sih. Aku sudah menawarkan untuk melakukan penjagaan di dalam rumah tetapi, Renita menolak. Katanya ia sudah tinggal bersama adiknya, jadi ia merasa aman saja,"  kata Niken.


"Ingat, adiknya itu hanya gadis manja berusia belasan tahun. Kalau ada seseorang yang berniat jahat kepadanya, maka dengan amat mudah ia akan dibekuk. Kalau begitu sekarang kamu harus mengecek ke dalam rumah Renita segera. Ingat! Si pembunuh ini bisa saja menyusup masuk ke dalam rumah seseorang tanpa sepengetahuanmu, seperti saat ia menyusup di rumah Anita. Jadi jangan mengambil risiko apa pun. Segera periksa rumahnya dan laporkan kepadaku segera keadaan Renita!" perintah Reno.


"Baik, Pak!"


Niken menghela napas. Setelah pembicaraan dengan Reno berakhir, tiba-tiba rasa khawatirnya menyeruak. Ia baru saja menyadari bahwa kedua penghuni rumah itu dalam bahaya besar.  Memang, kalau dilihat dari luar, rumah megah itu seperti hening dan aman. Kondisi dalam rumah tidak dapat dipastikan. Niken segera menyiapkan senjatanya, bersiap masuk ke dalam rumah megah itu.


Rasanya berbeda antara bertugas sendirian dengan ditemani petugas lain. Niken merasakan detak jantungnya berdetak lebih kencang. Saat memasuki area halaman depan. ia sudah merasa tegang luar biasa. Ia masih berpikir apakah akan masuk rumah melewati pintu depan atau belakang, sebab bisa saja ada orang lain di dalam rumah yang akan mencurigainya. Ia memutuskan untuk memutar lewat pintu belakang rumah megah itu.


Setelah melewati area samping  yang sempit, ia sampai di bagian belakang rumah yang cukup luas, bahkan ada kolam renang di sana. Suasana begitu sepi, ia merasa begitu tegang. Ia khawatir kedatangannya sudah diintai oleh orang lain. Niken melihat beberapa pintu yang menghubungkan dengan ruangan di dalam. Ia memilih salah satu pintu di antaranya yang menghubungkan dengan sebuah selasar.


Kini ia masuk ke dalam areal rumah bagian belakang. Lampu di bagian belakang dimatikan, sehingga sedikit gelap. Kondisinya masih begitu sepi. Niken tidak yakin, apakah ada orang lain di rumah itu atau tidak. Namun, tiba-tiba matanya mencurigai bercak-bercak dekat wastafel. Ia mengambil ponsel dan menyinari bercak-bercak itu, dan ia sangat terperanjat ketika ia melihat banyak bercak darah di areal wastafel!


Brak!


Tiba-tiba ia mendengar seperti suara pintu dibanting. Suara itu berasal dari garasi. Niken tak membuang waktu, segera ia berlari mendatangi arah sumber suara.

__ADS_1


***


__ADS_2